
...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...
..."BROKEN ANGEL"...
...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...
...~Ganteng dan cantik itu mudah didapat, asalkan ada duit pasti kita bisa glow up. Jadi, mari giat bekerja supaya dapet duit banyak dan bisa glowing~...
...×××...
#BROKEN ANGEL S3 EPS. 49
...•...
...HAPPY READING....🎉🎉🎉...
...❤️❤️❤️❤️❤️❤️...
Seluruh orang kini sudah sampai di tempat pemakaman umum, kebetulan jenazah Saka juga sudah dimakamkan disana dan mereka semua tampak sedang mendoakan agar Saka bisa tenang disana serta mendapat tempat yang terbaik di sisi Tuhan.
Tangis kesedihan terdengar di setiap orang yang hadir, bukan hanya keluarga melainkan juga saudara serta para teman-teman yang hadir disana. Cukup banyak orang yang mendoakan Saka, itu artinya semasa hidup memang Saka adalah pria yang baik dan jarang membuat masalah dengan siapapun yang ada di dekatnya.
Sang ustadz memimpin doa tersebut dan semua yang hadir tampak mengaminkan, mereka berharap jika Saka bisa tenang disana dan semua kenangan tentang pria tersebut akan selalu tersimpan di hati mereka. Sampai kapanpun, mereka pasti sulit untuk bisa melupakan Saka yang selalu membuat kehidupan mereka lebih berwarna.
Setelah doa selesai, tampak orang-orang mulai bubar dan pulang dengan kendaraan mereka masing-masing, termasuk sang ustadz. Hanya menyisakan beberapa dari pihak keluarga, serta para teman-teman sekolah Saka dan guru-guru yang hadir dalam pemakaman tersebut.
Para ketua geng motor yang ikut mengawal pemakaman Saka tadi, kini menghampiri Lucas dan mereka pamit kepada Lucas untuk pergi dari sana karena proses pemakaman juga telah selesai. Tentu saja mereka masih sedikit merasa sedih, biarpun mereka tidak terlalu kenal dengan Saka.
"Kas, kita pamit ya? Kalau lu butuh bantuan kita lagi, lu tinggal sms aja!" ucap ketua geng Andraks.
"Iya bener, sorry ya kita gak bisa lama-lama. Soalnya masih ada beberapa yang harus kita urus," sahut ketua geng Rangers.
"Gapapa, lagian pemakamannya juga udah selesai kok. Makasih ya, kalian udah mau hadir dan ikut dalam pemakaman Saka!" ucap Lucas.
"Sama-sama, santai aja!" ucap ketua geng Rangers.
Setelah berpamitan pada Lucas serta para anggota wild blood lainnya disana, mereka semua pun langsung pergi dari pemakaman tersebut dan kembali ke markas atau daerah mereka masing-masing.
Sementara Grey masih tampak menangis bersama Damini dan seluruh keluarga Saka di dekat makam pria tersebut, bahkan Damini sampai terus memeluk nisan Saka dan menangis disana. Begitupun dengan Grey yang dengan sedihnya, membasuh mukanya dengan tanah makam yang masih basah itu.
Kia dan Zefora tampak saling memandang dan merasa sangat kasihan pada sahabat mereka, kedua gadis itu tak menyangka sama sekali jika Grey bisa sampai melakukan hal tersebut karena kesedihan mendalam yang ia rasakan disana.
"Kia, kok si Grey bisa sampe segitunya ya? Itu kan tanah kuburan kotor tau!" bisik Zefora.
"Ssshhh! Diem aja! Kita jangan ganggu Grey! Biarin dia keluarin semua kesedihannya, udah sekarang kita tunggu aja sampe dia tenang!" ucap Kia.
"Iya iya, gue kan cuma heran." ujar Zefora.
Sahira yang berdiri tak jauh dari mereka, tampak tersenyum lalu mendekat ke arah Kia dan Zefora untuk berbicara pada mereka. Sahira ingin meminta agar Kia dan Zefora tidak berisik, karena Grey pastinya butuh waktu untuk bisa tenang.
"Kia, Zefora. Kalian jangan berisik! Nanti kalau Grey denger, dia bisa marah loh!" ucap Sahira.
"Eee iya Sahira, ini tuh si Zef gak bisa diem!" ujar Kia menyalahkan Zefora.
"Ish, apaan sih? Kok jadi gue?" ujar Zefora.
"Udah udah! Kalian jangan ribut!" ucap Sahira.
Dua gadis itu pun menurut dan menutup mereka untuk tidak berisik.
❤️
"Hiks hiks... aku masih gak nyangka kamu pergi secepat ini, Saka. Kalau tau ini semua akan terjadi, aku pasti gak akan usir kamu kemarin! Maafin aku Saka, aku emang bukan wanita yang baik!" ucap Grey menangis di makam mantan kekasihnya itu.
Damini dan Jericho (ayah Saka) menoleh secara bersamaan ke arah Grey yang masih saja menangis sesenggukan di depan makam putra mereka.
"Grey...." Damini menguatkan dirinya, ia menghapus air mata yang berlinang lalu mendekat ke arah Grey dan perlahan memegang pundak gadis tersebut. Tampaknya Damini ingin membalas jasa Grey yang tadi sempat menghiburnya ketika di rumah.
Sontak Grey menoleh saat namanya disebut dan tubuhnya disentuh oleh Damini, ia masih terisak dengan kondisi wajah berlumuran tanah.
"Kamu yang kuat, ya!" ucap Damini pelan sambil tersenyum dan mengusap punggung Grey.
__ADS_1
Grey belum dapat berbicara apa-apa lagi saat ini, ia sangat bersedih dan hanya bisa memejamkan mata untuk menahan air mata yang ingin keluar. Sesekali Grey kembali melirik ke arah makam Saka, ia masih saja belum bisa menghilangkan kesedihannya.
Damini pun perlahan mendekap tubuh gadis itu dan memeluknya sembari mengusap-usap bahu Grey yang masih menangis itu, mereka berdua tampak sama-sama menumpahkan kesedihan mereka dalam pelukan tersebut di hadapan orang-orang banyak termasuk Jericho sang ayah dari Saka.
Jericho memang tak menampakkan kesedihannya dengan air mata, namun suasana hatinya saat ini sangat hancur karena kehilangan sosok anak alias jagoannya, Jericho pun bangkit menahan kesedihan dengan memijat hidungnya.
Pandangan Jericho tertuju pada sosok Lucas yang berdiri tak jauh dari sana, ia bergerak menghampiri pria tersebut dan meninggalkan sang istri yang masih tampak bersedih bersama Grey disana, tampaknya Jericho ingin bertanya pada Lucas apa sebenarnya yang terjadi pada putranya.
"Hey!" ucap Jericho menyapa Lucas dan berdiri di dekatnya.
"Eh om," Lucas yang tengah melamun tampak terkejut dengan datangnya Jericho, ia langsung mencium tangan ayah dari sahabatnya itu untuk menghormatinya.
"Saya mau tanya sama kamu, apa sebenarnya yang terjadi pada Saka? Kenapa ini semua bisa terjadi sama dia? Apa karena efek geng motor kalian?" tanya Jericho penasaran.
"Eee bukan om, saya juga belum tau siapa pelaku yang tega melakukan itu ke Saka. Tapi, yang pasti ini gak ada hubungannya sama geng motor. Karena Saka itu udah lama keluar dari geng kita, makanya kami akan berusaha buat cari tau." jawab Lucas.
"Libatkan om dalam pencarian kalian! Om ingin tau siapa pelakunya yang sudah melakukan ini pada Saka!" ucap Jericho tegas.
"Baik, om! Rencananya, kami juga akan langsung mencari tau tentang itu setelah pergi dari sini. Om tenang aja, kami pasti beri kabar kok kalau kami mendapat sesuatu." ucap Lucas.
"Yasudah, om permisi." ucap Jericho pelan.
Setelahnya, Jericho pun kembali ke dekat istrinya untuk coba menenangkan dan mengajak sang istri pulang ke rumah. Bagaimanapun juga, hari sudah semakin sore dan mereka harus segera kembali pulang karena tak mungkin mereka akan terus berada disana sampai malam.
Sementara Lucas juga mengajak anak-anak wild blood yang lain untuk pamit pada pihak keluarga Saka dan mulai mencari informasi mengenai meninggalnya Saka dengan mengenaskan itu.
•
•
Kania tampak terdiam sembari melipat dua tangannya di depan dan memandang ke arah makam Saka, ia ikut merasa sedih ketika melihat Grey serta para keluarga Saka yang menangis disana. Ingin rasanya ia juga menangis disana, karena bagaimanapun Kania lumayan dekat dengan Saka walau belakangan ini mereka tak terlalu dekat.
Diandra dan yang lainnya menghampiri Kania, lalu memeluk tubuh gadis itu untuk membantu menenangkannya karena mereka tau jika Kania juga tengah bersedih saat ini walau tanpa menampakkan air mata kesedihan di wajahnya.
"Kania, sabar ya!" ucap Diandra.
"Iya Kania, kan ada kita." sahut Tiara.
"Iya, bener banget. Gue juga gak tega ngeliat mereka, kasihan banget sampe segitunya!" ucap Diandra.
"Yaudah, kita pamit yuk! Ini udah sore, takutnya keluarga gue nyariin. Pasti lu juga kan, Kania?" ucap Andini mengajak pamitan.
"Oh iya, gue tadi belum bilang ke bang Valen kalo gue mau ikut ke pemakaman Saka." ucap Kania.
"Nah kan, pamit yuk! Lagian tuh anak-anak wild blood juga udah pada pamitan sama keluarga Saka, kita sekalian aja ikut pamit juga!" ucap Andini sembari menunjuk ke arah depan.
"Yaudah, yuk!" ucap Kania tersenyum.
Saat mereka hendak melangkahkan kaki menghampiri Damini dan Jericho, tiba-tiba Aldi justru menghadang mereka dengan berdiri di hadapan kelima gadis cantik tersebut. Tentu mereka terpaksa menghentikan langkahnya, lalu berbicara sejenak dengan Aldi.
"Kenapa, Aldi?" tanya Kania malas.
"Kamu pasti mau pamit pulang kan?" Aldi justru balik bertanya pada Kania.
"Iya," ucap Kania singkat.
"Nah pas banget, aku udah wakilin tadi. Sekarang kamu tinggal pulang aja sama aku, biar aku anterin kamu pulang ke rumah!" ucap Aldi.
"Ohh, yaudah." ucap Kania.
"Eh eh, tunggu! Lu udah wakilin kita juga tadi?" tanya Diandra penasaran.
"Ya belum lah, kalian mah pamit sendiri sana ke tante Damini sama om Jericho!" jawab Aldi.
"Yeh dasar lu!" ujar Diandra kesal.
Akhirnya Diandra serta ketiga sohibnya pergi meninggalkan Kania dan Aldi untuk menghampiri keluarga Saka dan pamitan pada mereka, karena keempat gadis itu juga akan pulang.
Sementara Aldi kini tersenyum dan mendekati gadisnya, ia bahkan langsung meraih tangan Kania dan menggenggamnya lalu membelai rambut Kania yang hanya diam tanpa ekspresi.
"Yuk, kita pulang!" ajak Aldi.
__ADS_1
Kania hanya mengangguk tanpa berbicara apapun, sedangkan Aldi mengajak gadis itu pergi keluar dari pemakaman dan menuju tempat parkir.
Saat di tempat parkir, Aldi langsung saja memakaikan helm di kepala Kania sambil tersenyum manis dan mengusap wajahnya.
Anak-anak wild blood yang lain disana, hanya mengamati Aldi dan Kania sambil senyum-senyum. Mereka tak menyangka jika saat ini yang bersama Kania adalah Aldi, padahal dulu tentunya mereka tau jika Kania berpacaran dengan Lucas.
"Yuk naik!" ucap Aldi pada Kania.
"Iya..." ucap Kania pelan.
Kania pun naik ke motor Aldi, namun ekspresinya masih sama seperti sebelumnya yakni jutek dan tidak mau banyak bicara pada Aldi.
"Pegangan dong, cantik!" ucap Aldi.
"Haish, iya iya..." ucap Kania mendengus pelan lalu berpegangan pada pinggang Aldi.
Setelahnya, Aldi pun langsung menancap gas sesudah pamitan pada anak-anak wild blood.
•
•
Sementara itu, Lucas juga menggandeng tangan Sahira berjalan keluar setelah berpamitan kepada Damini dan Jericho. Mereka juga sudah menitipkan Grey kepada Kia dan Zefora selaku temannya, karena mereka tampak khawatir dengan kondisi Grey.
"Kas, abis ini kamu mau lanjut pergi lagi?" tanya Sahira sembari menatap wajah kekasihnya.
"Iya sayang, aku mau cari tau siapa yang udah bunuh Saka sampai kayak gitu. Aku jujur gak terima, gimanapun juga Saka kan mantan anggota wild blood!" jawab Lucas.
"Yaudah, kamu hati-hati ya!" ucap Sahira.
"Iya cantik, yaudah yuk kita pulang!" ucap Lucas tersenyum sembari mengecup kening Sahira lalu lanjut berjalan menuju parkiran.
Sesampainya di tempat parkir, mereka melihat Alan dan Nur juga ada disana dan bersiap pulang. Namun, yang menjadi perhatian mereka adalah Diandra serta Tasya yang tengah menggoda Geri dan Daffa disana.
"Hey Diandra, Tasya! Kalian semangat ya godain Geri sama Daffa nya!" ucap Sahira sambil terkekeh.
"Eh Sahira, ya iya dong kita pasti semangat! Supaya bisa dibonceng sama cowok-cowok macho ini, kan jarang-jarang kita bisa dibonceng mereka!" ucap Diandra sambil memeluk lengan Daffa.
"Hahaha, bagus deh!" ucap Sahira.
Setelahnya, Sahira pun tampak menghampiri Nur dan mengajaknya bicara sejenak mengenai kematian Saka yang memang mengerikan.
"Nur, nanti di rumah kita bahas soal ini." bisik Sahira.
"Iya Sahira, pasti." ucap Nur tersenyum.
"Hey, Sahira! Ayo buru naik!" ucap Lucas memanggil gadisnya yang masih berbincang dengan Nur disana, Lucas juga menyodorkan helm untuk dipakai oleh sang kekasih itu.
"Iya iya, sabar dong ih! Yaudah ya Nur, aku pulang dulu!" ucap Sahira.
"Iya Sahi, aku juga kan mau pulang." ucap Nur.
Sahira pun menghampiri kekasihnya disana, lalu memakai helm di kepalanya. Sedangkan Nur juga pergi mendekati Alan yang telah siap disana dengan motornya, Nur tampak tersenyum sembari memakai helm di kepalanya seperti Sahira.
"Ayo Lan, kita juga langsung pulang!" ucap Nur.
"Iya cantik, yaudah naik!" ucap Alan tersenyum.
Kedua gadis itu sama-sama naik ke atas motor kekasih mereka, lalu melaju menuju rumah mereka dan meninggalkan tempat pemakaman serta para teman-temannya disana.
Sahira tampak lengket memeluk pinggang Lucas tanpa mau melepasnya, bahkan Sahira juga menaruh wajahnya tepat di punggung sang kekasih dan sesekali menghirup aroma tubuh Lucas yang menarik perhatiannya.
"Sayang, nyaman banget ya peluk tubuh aku?" tanya Lucas sambil menoleh ke belakang.
"Diem ah, sayang! Aku lagi mau nikmatin momen tiduran di punggung kamu, rasanya nyaman banget tau!" jawab Sahira dengan nada manjanya.
"Hahaha, iya iya sayang!" ujar Lucas.
Akhirnya Lucas fokus mengemudi saja, ia khawatir kalau terus menoleh ke belakang akan terjadi kecelakaan yang mengakibatkan luka pada tubuh kekasihnya itu.
...~Bersambung~...
__ADS_1
...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...