Broken Angel

Broken Angel
Episode 327 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


~Someday you'll find that you are brighter than the star, Just be strong, Just be brave, And be sure, Yes you can, Kaulah bintang hidupmu, Lupakanlah semua yang lalu, Kita sambut yang baru, Janganlah kau ragu tuk maju, Kejar semua impianmu, Hadapi semua rintangan, Kuatkanlah tekadmu, Gapailah semua anganmu, Yakinkanlah dirimu, It's a brand new day~


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 72


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️...


Lucas diluar dugaan mampu melumpuhkan pasukan Dans dengan mudah saat ini, padahal banyak dari teman-temannya yang sudah terkapar di jalan akibat kondisi mereka yang masih belum pulih. Bahkan Lucas saat ini tengah mencekik leher Dans sembari melayangkan ancaman pada pria tersebut, Lucas tak ingin ada penyerangan kembali dan ia lebih memilih untuk menjalin perdamaian dengan mereka.


Alan, Geri, Jack serta anggota wild blood yang lainnya tampak terkejut melihat Lucas berhasil mengalahkan pasukan Dans biarpun mereka sudah terkapar saat ini. Akhirnya mereka sangat yakin kalau memang benar Lucas dan Aldi telah membantai anggota geng the darks hanya berdua, karena terbukti sekarang ini Lucas sendiri saja berhasil mengalahkan Dans serta pasukannya itu.


"Hey, sekarang gue minta sama lu buat nyerah! Kita jangan ribut-ribut lagi kayak gini! Gue lebih senang kalau kita semua berdamai tanpa adanya keributan, karena itu cuma bikin korban aja!" ucap Lucas.


"Ogah! Gue gak sudi berdamai sama orang kayak lu! Lebih baik gue mati, daripada gue harus berdamai dengan musuh gue sendiri!" ucap Dans.


"Sekali lagi gue tegasin sama lu, lu nyerah sekarang juga dan mau damai dengan para anggota wild blood! Kita sesama geng motor itu harusnya saling berdamai dan bersaudara, bukannya malah ribut dan saling bantai kayak gini! Mau sampe kapan sih kita masih ribut-ribut kayak gitu, ha?" ujar Lucas.


"Kenapa lu malah ngajak gue damai? Kenapa lu gak abisin gue aja?" tanya Dans.


"Sebenarnya bisa aja gue langsung abisin nyawa lu saat ini, tapi entah kenapa gue gak tega buat ngelakuin itu. Gue masih berharap lu sama yang lain mau berdamai dengan anggota wild blood, kita bisa sama-sama kumpul nantinya!" jawab Lucas.


"Cih! Gausah sok suci Lo!" bentak Dans.


Lucas tersenyum tipis mendengar perkataan dari Dans yang menganggap dirinya sok suci, ia tak mengerti mengapa sulit sekali mengajak orang untuk berdamai dan kembali ke jalan yang benar. Padahal Lucas sudah bersusah payah mengendalikan emosi dalam tubuhnya untuk tidak menghabisi Dans, namun pria itu justru kembali membuatnya emosi.


"Oke, kalo emang lu gak mau damai sama gue, kali ini gue bakal nurut sama lu dan gue sendiri yang akan habisi nyawa lu!" ucap Lucas.


Dans pun ketakutan saat Lucas menambah kekuatan cekikan di lehernya, ia gelagapan mencoba berontak untuk melepaskan diri dari cekikan Lucas itu, namun usahanya sia-sia karena Lucas sudah sangat emosi akibat jawaban dari Dans yang membuatnya kesal dan ingin segera menghabisinya, semakin lama Dans semakin merasa lemas karena ia kesulitan untuk bernafas setelah lehernya dicekik cukup kuat.


"Boss...??" ujar salah seorang teman Dans.


Mereka semua berniat membantu Dans, namun Lucas terlebih dahulu mengancam mereka sehingga orang-orang itu tidak berani mendekat dan hanya bisa menyaksikan bosnya itu mati secara perlahan di tangan Lucas yang masih terus mencekik leher Dans dengan sangat kuat tanpa ampun dan tidak mengurangi tenaganya sedikitpun.


...•••...


Sementara itu, Diandra beserta yang lainnya hendak pamit pulang dari rumah Sahira setelah hampir setengah hari mereka main di rumah bidadari itu bersama-sama. Hari yang sudah malam serta film yang telah usai ditonton, membuat mereka berpikir untuk segera pamit pada Sahira serta Nur disana untuk pulang ke rumah mereka masing-masing.


Tentu saja Diandra dan Tasya masih sempat untuk menghabiskan cemilan milik Sahira, memang kedua gadis itu adalah tukang makan yang senang sekali mencomot makanan dimanapun itu. Barulah setelah makanan disana habis, kini mereka berdiri dari sofa tempat mereka duduk untuk siap berpamitan pada Sahira serta Nur yang ada di dekat mereka.


"Sahira, Nur, kita semua pamit pulang dulu ya? Makasih banyak loh atas suguhannya, kita jadi kekenyangan tau karena makanan di rumah kalian tuh rasanya enak banget!" ucap Diandra.


"Hehehe, iya bener. Buktinya si Diandra aja sampe makan berpiring-piring tuh, banyak banget dia!" ucap Tasya sambil nyengir.


"Heh! Lu ngaca dong ngaca! Lihat tuh siapa yang paling banyak makan, gue atau lu Maemunah?!" ucap Diandra tidak mau dibilang yang paling banyak makan oleh sahabatnya itu.

__ADS_1


"Hahaha, intinya kan makan lu juga paling banyak diantara Tiara sama Andini." ujar Tasya.


"Udah lah, gausah ribut gitu! Gapapa kok kalian pada makan banyak, gak masalah! Justru kita berdua seneng kalau kalian pada suka sama makanan kita, kan sebagai tuan rumah emang udah tugasnya buat menyuguhi tamu-tamunya dengan makanan serta minuman yang banyak." ucap Sahira.


"Iya bener, malah kalo kalian masih pada kurang nih, boleh kok ditambah lagi tuh masih ada banyak di dapur tinggal ambil aja!" sahut Nur.


"Ah gausah deh Nur! Kita kan udah makan banyak tadi, lagian gak enak juga sama kalian berdua kalo kita disini cuma makan-makan doang gak bantu nyuci piringnya." ujar Diandra nyengir.


"Hahaha, tenang aja guys! Untuk nyuci menyuci itu kan udah ada yang tanganin, kalian mah sebagai tamu ya tinggal makan aja!" ucap Sahira.


"Iya sih, tapi tetep gak enak dong kita! Udah deh kita pada mau pamit pulang aja, udah malem juga nih takut kita nantinya dicariin orang tua kita. Kapan-kapan lagi deh kita main kesini dan numpang makan sama kalian, hehehe." ujar Tasya.


"Hilih, emang orang tua lu pada nyariin lu apa Tas?" cibir Diandra.


"Ya iyalah, gue kan anak kesayangan! Emangnya lu, gak pernah diperduliin sama orang tua!" balas Tasya.


"Yeh enak aja! Gue gini-gini juga anak kesayangan orang tua gue tau, buktinya gue selalu dikasih uang jajan paling banyak diantara saudara-saudara gue yang lain!" ucap Diandra.


"Haish, udah lah! Kalian ini ribut mulu deh, tadi masalah makan sekarang masalah kasih sayang orang tua! Besok-besok kalian mau pada ribut tentang apa lagi, ha? Cowok?" ucap Sahira.


"Tau ih! Pada kurang kerjaan banget, ribut mulu perasaan dari tadi!" sahut Tiara yang juga ikutan kesal melihat Diandra dan Tasya ribut terus.


"Hehe, ya maaf!" ujar Diandra nyengir.


"Yaudah guys, kita pulang yuk!" ucap Tiara.


"Iya, Sahira Nur sekali lagi makasih banyak ya!" ucap Diandra tersenyum.


"Iya Sahira, Nur, makasih banget loh udah bolehin kita main kesini!" ucap Tasya.


"Tenang aja!" ucap Sahira.


Setelahnya, Diandra serta ketiga temannya yang lain pun keluar dari rumah Sahira untuk pergi pulang.


...•••...


Aldi kini mengajak Kania makan malam bersama di sebuah restoran mahal, gadis itu tampak terkejut lantaran Aldi membawanya pergi ke restoran yang sangat berkelas dan mahal. Kania tak menyangka jika Aldi ternyata orang yang kaya dan tidak takut uangnya habis karena makan disana, padahal yang ia tahu Aldi adalah anak kos-kosan yang miskin.


Aldi sendiri sengaja mengajak Kania makan di restoran mahal itu, ya karena ia senang sekali setelah mendapat jawaban 'iya' dari Kania ketika mereka berada di hutan tadi. Tentu saja Aldi ingin merayakan kesenangan nya itu dengan mengajak Kania makan malam bersama disana, biarpun Aldi sendiri belum tahu harus membayar pakai apa.


"Al, lu serius ajak gue makan disini?" tanya Kania sembari memotong daging di piringnya.


"Ya iyalah, udah makan aja yang lahap! Biar nanti semuanya aku yang bayar buat kamu, anggap aja ini tanda terimakasih aku karena kamu udah mau terima aku buat jadi pacar kamu! Aku seneng banget loh pas dengar jawaban kamu tadi," ucap Aldi.


"Eee ya bagus deh! Tapi, maaf nih sebelumnya.... emang lu ada uangnya buat bayar ini semua nanti? Bukannya lu anak kos-kosan ya? Kan biasanya kalau anak kos itu hidupnya serba kesusahan, makan aja mie terus sama kadang-kadang cuma minum promag. Lah ini lu malah ngajak gue makan di restoran mahal dengan alasan sebagai tanda terimakasih sama gue, aneh banget!" ucap Kania.


"Kamu gausah mikirin tentang itu sayang! Aku ini keturunan Sultan Arab kok sebenarnya, jadi uang aku ya gak akan habis-habis hehe!" ujar Aldi nyengir.


"Ohh, baguslah!" ucap Kania.


"Iya sayang, yuk lanjut lagi dimakan itu makanan kamu! Kalau kurang atau apa, tinggal bilang aja ya! Biar nanti aku pesenin lagi yang banyak buat kamu, ini kan malam pertama kita sebagai seorang kekasih yang saling mencinta!" ucap Aldi.


"Hah? Lu gak salah ngomong kan? Gue ini masih belum tau cinta atau enggak sama lu, orang lu sendiri yang maksa-maksa gue buat terima lu jadi pacar gue!" ujar Kania.


"Hehehe, ya gapapa lah. Yang penting aku senang banget karena kamu sekarang ini udah jadi pacar aku dan kita resmi terikat dalam sebuah hubungan, aku penasaran reaksi teman-teman di sekolah besok kayak gimana ya?" ujar Aldi.

__ADS_1


"Udah gausah dibayangin!" tegur Kania.


Tak lama kemudian, keduanya telah menyelesaikan makan mereka disana dan kini tiba saatnya untuk pembayaran atas semua yang sudah mereka pesan dan makan tadi. Aldi pun meminta bill pada seorang pelayan disana dengan gayanya, ia ingin membuat Kania terkesan dan menganggap dirinya memang benar-benar seorang keturunan Sultan Arab.


Namun, alangkah terkejutnya Aldi saat melihat total biaya yang harus ia bayar saat ini mencapai sekitar satu juta seratus. Tentu saja Aldi tak memiliki uang sebanyak itu dan ia pun tampak panik saat ini, Aldi sangat-sangat kebingungan harus membayar bagaimana karena uangnya pasti kurang dan tak cukup untuk membayarnya.


"Mampus gue! Mana uang gue cuma tujuh ratus lagi, masih kurang banyak banget!" batinnya.


Kania pun heran dengan tingkah si Aldi.


"Kenapa Al...??" tanya Kania.


"Eee hehehe..." Aldi nyengir sembari menggaruk puncak kepalanya.




Singkat cerita, akhirnya Aldi telah mengantar Kania ke depan gerbang rumahnya dan melepas helm dari kepala gadis yang tengah cemberut itu akibat kejadian di restoran tadi. Aldi pun masih berusaha terus untuk membujuk Kania dan meminta maaf kepada gadis tersebut, namun ya itu dia Kania masih sulit untuk memaafkannya Aldi.


Aldi pun ikut turun dari motornya dan menggenggam dua tangan Kania sembari menatapnya, Aldi tidak mau tentunya jika Kania terus ngambek seperti itu padanya dan cuek dengannya. Aldi berharap Kania bisa segera memaafkan dirinya dan kembali tersenyum seperti tadi, ia tak menyerah biarpun Kania masih tetap pada pendiriannya untuk cuek.


"Sayang, maafin aku ya! Kamu jangan ngambek begini dong sayang!" bujuk Aldi.


"Gimana gue gak ngambek coba? Lu yang ngajakin gue makan di restoran mahal, tapi duit lu malah kurang dan gue harus nombokin! Mana kurangnya banyak lagi, kan gue malu tau! Kalo emang lu gak ada duit, gausah sok ngajak gue makan disana!" bentak Kania kesal.


"Iya iya maaf sayang! Nanti biar aku ganti deh duit kamu yang lima ratus ribu itu, kamu jangan marah ya sayangku!" ucap Aldi.


"Ya iyalah harus itu mah! Asal lu tau aja ya, itu uang jatah bulanan gue dari bang Valen!" ucap Kania.


"Iya sayang, nanti aku ganti ya? Sekarang kamu please dong jangan cemberut terus sama aku kayak gitu! Kan aku jadi gak bisa tenang sayang, aku bakal kepikiran terus nanti pas tidur!" ucap Aldi.


"Bodoamat! Makanya lain kali tuh dipikir-pikir dulu sebelum ngelakuin apa-apa! Jangan main ngajak gue makan di restoran mahal, terus ujung-ujungnya malah gue sendiri yang harus bayar tuh makanan!" ucap Kania masih kesal.


"Aku minta maaf ya sayang! Kamu mau kan maafin aku Kania cantik?" ucap Aldi memohon.


"Haish, yaudah iya!" ujar Kania.


"Nah gitu dong, eh tapi kamu senyum juga lah cantik! Biar supaya aku yakin kalau kamu beneran maafin aku, yuk senyum yuk sayang!" ucap Aldi.


Kania menghela nafas sejenak, lalu tersenyum ke arah Aldi sesuai permintaan pria tersebut. Kania terpaksa melakukan itu agar Aldi bisa berhenti merengek di depan rumahnya dan membiarkan ia masuk ke dalam untuk istirahat, karena saat ini juga telah malam dan ia takut suara Aldi itu mengganggu tetangganya atau bahkan Valen abangnya itu.


"Udah kan?" tanya Kania.


"Hehehe, iya udah sayang. Makasih ya! Kamu jangan khawatir jangan risau, aku pasti ganti yang kamu yang tadi buat nombokin itu!" ucap Aldi.


"Iya...."


"Yaudah, kalo gitu gue mau masuk ke dalam dulu ya? Lu pulang aja gih sana kan besok mau sekolah juga! Kalo lu masih disini, besok telat loh kayak si Alan sama Nur tadi pagi!" ucap Kania.


"Iya sayang, nanti aku telpon lagi ya?" ujar Aldi.


Setelahnya, Aldi pun pergi dari rumah Kania dengan motornya sambil tersenyum melambaikan tangan ke arah gadisnya itu.


...~Bersambung~...

__ADS_1


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...


__ADS_2