Broken Angel

Broken Angel
Episode 319 [SEASON 3]


__ADS_3

...HAY, WELCOME TO MY STORY..!!!...


..."BROKEN ANGEL"...


...🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷🌷...


...~Main game itu penting dan banyak manfaatnya, jadi bukan cuma banyak negatifnya aja, tapi juga banyak manfaatnya tau. Diantaranya : bisa menghilangkan stress, dapat menghibur diri dikala sedih, bisa menjadi pengganti liburan/jalan-jalan karena suasana ketika main game itu bikin tenang~...


...×××...


#BROKEN ANGEL S3 EPS. 64


...•...


...HAPPY READING....🎉🎉🎉...


...❤️❤️❤️❤️❤️...


Keesokan harinya, Lucas dan Aldi ikut datang ke kantor polisi bersama Grey serta kedua temannya untuk menemui Alex yang kini sudah dibawa ke penjara oleh Grey sebelumnya. Ya Alex sendiri memang mengakui kalau ia adalah pembunuh Saka dan ia melakukan itu atas dasar cintanya pada Grey, itulah sebabnya Lucas sangat marah dan emosi.


Lucas dan Aldi pun langsung duduk di tempat yang tersedia sembari menanti kemunculan Alex, mereka berdua sudah tidak sabar ingin melihat muka si pembunuh sahabat mereka. Terlebih Lucas yang sedari tadi juga terus saja mengepalkan tangannya menahan emosi yang memuncak, Lucas ingin sekali memberi pelajaran pada pembunuh sohibnya itu.


Grey, Kia, dan Zefora juga tampak hadir disana dengan perasaan sedihnya setelah mengetahui bahwa Alex lah yang membunuh Saka alias lelaki yang dicintai oleh Grey. Kedua gadis itu coba terus menenangkan hati sahabat mereka yakni Grey agar tidak sedih seperti itu, mereka juga tak ingin Grey terus-terusan menangis di kantor polisi itu.


"Grey, udah ya! Lu kan kemarin-kemarin udah bisa ikhlas dengan kepergian Saka, kenapa sekarang lu malah nangis lagi?" ucap Kia.


"Kia, gue emang bisa ikhlas dan terima kepergian Saka. Tapi, gue bener-bener gak nyangka kalau yang membunuh Saka itu adalah Alex! Gue gak terima, gue mau Alex dihukum seberat-beratnya!" ujar Grey.


"Iya Grey, kita yakin kok polisi pasti akan hukum Alex dengan berat dan setimpal!" ucap Kia.


"Iya, lu yang sabar aja! Persidangan Alex kan dimulai besok, jadi kita tinggal tunggu aja sampe besok apa keputusan dari hakim agung." ujar Zefora.


"Iya..." ucap Grey manggut-manggut.


Lucas dan Aldi pun mendekati Grey di meja satunya karena mereka tidak tega melihat kondisi gadis itu, ya sedari tadi mereka menyaksikan kalau Grey terus saja menangis akibat Alex yang membunuh Saka. Mereka juga tak ingin jika gadis itu terus menangis disana seperti itu, biar bagaimanapun Grey memang harus bisa mengikhlaskan kepergian Saka.


"Grey, yang dibilang temen-temen lu itu bener. Lu harus bisa ikhlas dan berhenti nangis kayak gini! Gua yakin Saka juga pasti gak terima kalau lihat lu nangis terus begini, tenang ya!" ucap Lucas.


"Iya bener, kita harus sama-sama kuat untuk mencari keadilan buat Saka! Gimanapun juga, si pembunuh itu harus dapetin balasannya!" sahut Aldi.


"Makasih Lucas, Aldi. Gue juga gak mau kalau sampe Alex cuma dihukum ringan, dia itu udah abisin nyawa Saka dengan sangat kejam dan sadis! Jadi, gue bakal terus berusaha sampai dia bisa mendapat hukuman yang setimpal dengan perbuatannya!" ucap Grey dengan raut sedih tercampur emosi.


"Lu tenang aja! Kita pasti bantu lu kok, si Alex itu akan dihukum sangat berat!" ucap Lucas.


"Makasih!" ucap Grey tersenyum tipis.


Tak lama kemudian, Damini serta Jericho muncul di kantor polisi tersebut setelah sebelumnya mereka mendapat info dari Lucas kalau pelaku pembunuhan anak mereka telah tertangkap. Ya keduanya tampak histeris dan emosi begitu mengetahuinya, itulah sebabnya mereka langsung datang kesana untuk bertemu dengan si pembunuh yang kejam itu.


"Lucas!" ucap Jericho dengan suara lantang.


Sontak Lucas serta semua orang yang ada disana langsung menoleh ke asal suara, mereka terkejut lantaran kedua orang tua Saka itu sudah datang dan dalam keadaan emosi sekali. Lucas pun bergerak menghampiri Jericho dan juga Damini disana untuk coba menenangkan mereka, bagaimanapun ini adalah kantor polisi dan mereka tak boleh emosi.


"Om, tante? Syukurlah om sama tante udah datang! Kita sebentar lagi akan bisa bertemu dengan Alex, si pembunuh Saka yang kejam dan keji itu!" ucap Lucas sembari mencium tangan mereka.

__ADS_1


"Iya Lucas, om sudah tidak sabar ingin melihat wajah pembunuh itu! Malahan kalau bisa, om ingin sekali menghajar dia dengan tangan om sendiri!" ucap Jericho dipenuhi emosi dan dendam.


"Sabar om! Kita tidak boleh anarkis disini, karena ini kantor polisi." ucap Lucas mengingatkan.


Sementara Grey juga ikut bangkit dari duduknya begitu melihat kedatangan Damini dan Jericho, ya ia pun menghampiri Damini yang memang sudah lebih dekat dengannya sejak Saka meninggal. Grey tak kuasa menahan air matanya saat berhadapan dengan Damini sang ibu dari Saka, ia juga amat sangat merasa bersalah karena pembunuhan Saka ini terjadi akibat ulah Alex yang adalah temannya.


"Tante, aku minta maaf! Aku—"


"Ssshhh! Udah sayang, kamu gak perlu minta maaf kayak gitu! Ini semua bukan kesalahan kamu, jangan nangis lagi ya!" potong Damini dengan cepat dan lalu memeluk tubuh gadis itu disana sambil menangis.


Kia dan Zefora tampak terharu melihat momen saat sahabat mereka berpelukan dengan Damini, mereka bahkan juga ikut menangis menyaksikan Grey dan Damini yang saling memeluk dan menangis. Tak ada yang bisa tahan memang ketika melihat secara langsung adegan tersebut, akibatnya Kia serta Zefora pun sama-sama berpelukan juga disana.


"Tante, pembunuh Saka udah ketemu. Semoga setelah ini Saka bisa tenang disana dan kita juga bisa ikhlasin kepergian dia!" ucap Grey.


"Iya sayang, tante juga senang banget akhirnya si pembunuh itu bisa ditemukan. Makasih sayang, kamu udah berhasil temuin pelakunya itu dan bawa dia ke kantor polisi!" ucap Damini.


"Iya tante, sekali lagi aku minta maaf karena motif pembunuhan ini karena aku." ucap Grey menyesal.


"Kamu gak perlu minta maaf! Kamu itu gak salah, yang salah si pembunuh itu dan dia wajib dihukum mati atau penjara seumur hidup supaya bisa adil dengan apa yang dia perbuat itu! Tante gak terima, kalau dia hanya dihukum ringan!" ucap Damini.


"Tenang aja, tante! Kita semua disini pasti bakal usahain buat cari keadilan untuk Saka, aku yakin Alex pasti bisa mendapat hukuman yang setimpal dan dia memang pantas dapetin itu!" ucap Grey.


"Kalian benar! Om sendiri juga tidak akan pernah rela jika pelaku pembunuh anak om itu hanya dihukum ringan, dia harus mendapatkan balasan atas semua perbuatan yang dia lakukan! Kalau polisi tidak bisa melakukan itu, biar om saja yang memberi hukuman untuk dia secara langsung!" ucap Jericho.


"Sabar om! Kita serahin aja semuanya ke polisi, kita juga berdoa semoga ada keadilan untuk Saka!" ucap Lucas menenangkan Jericho.


Ya disaat suasana sedang panas seperti ini, hadirlah sosok Alex sang pembunuh Saka yang muncul disana bersama dua orang polisi yang memeganginya untuk menemui mereka. Ya Alex tampak murung dan terus menunduk, ia seperti menyesal karena sudah melakukan tindakan di luar nalarnya dan membunuh seorang Saka.


Namun, Lucas dan Aldi dengan cepat menahan tubuh Jericho agar tidak melakukan itu kepada Alex disana. Ya biar bagaimanapun mereka harus bisa menahan emosi, supaya tak terjadi sesuatu yang tidak diinginkan dan membuat mereka justru diusir dari sana oleh para polisi karena dianggap telah membuat kerusuhan atau kekacauan.


...•••...


Disisi lain, Sahira dan Nur juga masih tak menyangka kalau kejadian pembunuhan terhadap Saka itu dilakukan atas dasar kecemburuan Alex yang juga mencintai Grey. Mereka tak mengira jika manusia di bumi sekarang makin bertambah kejam dan bisa dengan mudahnya saling membunuh, walau sebenarnya masalah itu bisa dibicarakan baik-baik.


Kini keduanya masih berada di dalam rumah bersama dengan Nawal yang hadir ke bumi, ya memang di hari Minggu seperti ini Nawal sering sekali mampir ke bumi menemui Sahira dan Nur. Mereka bertiga pun selalu melakukan aktivitas bersama ketika hari Minggu telah tiba, karena Nawal juga bingung harus melakukan apa jika di nirwana.


"Nur, apa yang bisa kita lakukan untuk mengubah pola pikir manusia di bumi ini?" tanya Sahira.


"Tidak ada. Yang bisa melakukan itu hanyalah Tuhan dan juga itu tergantung si orangnya sendiri, jika dia mau berubah pasti akan lebih mudah baginya untuk terhindar dari perbuatan jahat itu. Tapi, kalau dia sendiri yang ingin melakukannya maka itu sangat sulit untuk dirinya berubah menjadi lebih baik!" jawab Nur sambil menikmati kue bikinan mereka.


"Aku tak mengerti, mengapa mereka begitu? Padahal aku yakin bumi ini pasti lebih makmur dan damai, jika orang-orangnya baik dan tidak seperti ini." ucap Sahira terheran-heran.


"Sudahlah! Jangan bahas gituan mulu!" ujar Nawal.


Sontak Sahira serta Nur menoleh lalu memberikan tatapan sinis ke arah Nawal disana, ya terlihat bidadari muda itu tengah asyik memakan kue dengan kedua tangannya tanpa berhenti. Mereka bingung dengan tingkah laku Nawal yang masih saja sulit untuk dirubah, namun itulah memang yang menjadi ciri khas Nawal sejak dulu dibanding para bidadari lainnya yang sudah agak lebih dewasa.


"Nawal, kuenya jangan dihabisin dong! Itu kan kita bikinnya bertiga loh, masa kamu mau makan sendirian aja sih?" ujar Sahira.


"Tau ih! Kamu tadi juga bantuin nya cuma sedikit doang, eh pas giliran makan langsung lahap banget hampir semuanya habis sama kamu!" sahut Nur.


"Apaan sih? Aku baru makan dikit loh, kalian kalo mau makan ya udah tinggal ambil aja itu!" ujar Nawal sambil lagi-lagi melahap kue disana.


"Haish, emang bener-bener ya kamu! Kalau bukan karena ratu, udah aku hajar kamu!" ucap Nur.

__ADS_1


"Hah? Ya jangan dong, Nur! Kalau kamu hajar aku, nanti ratu marah! Mending kita bersamaku aja seperti bidadari yang lainnya, lagian aku juga cinta damai kok dan gak suka ribut!" ucap Nawal.


"Hilih cinta damai apaan?!" ujar Nur.


"Ya udah lah! Kamu abisin aja tuh semua kuenya, jangan sisain buat kita! Biar aku sama Nur nanti makan ban mobil aja, puas?" ucap Sahira.


"Hah? Emang kalian kuat makan ban yang keras dan gede itu? Nanti gigi kalian pada copot loh, masih pada muda kok giginya udah ompong? Gak malu apa sama ratu?" ucap Nawal.


"Haish, kayaknya kamu perlu dikasih obat deh biar sakitnya gak kumat!" ucap Sahira kesal.


"Aku gak perlu obat, Sahira! Lagian obat apa coba yang bisa bikin aku sembuh? Secara kan sikapku ini udah mendarah daging dan gak bisa dihilangkan, kalian harus banyak-banyak sabar ya kalo ketemu sama aku!" ucap Nawal.


"Iya, kalo kita gak sabar mau kamu udah jadi sup bidadari dari kemarin-kemarin!" ucap Nur geram.


"Hah? Emang ada ya?" tanya Nawal kaget.


Sahira dan Nur hanya bisa menepuk jidat mereka dengan kelakuan Nawal yang super duper menyebalkan dan bikin emosi.


...•••...


Sementara itu di alam bidadari, ratu Keira masih tampak gelisah dan tidak bisa tenang lantaran ia belum berhasil menemukan keberadaan Sofia yang sudah membunuh adiknya itu. Ya sejak kemarin ratu Keira memang terus saja berusaha mencari Sofia dengan menggunakan kolam ajaib miliknya, namun tak ada satupun petunjuk yang bisa ia temukan.


Raja Lingga serta Nuril yang kebetulan masih ada disana pun heran dengan sikap Keira, mereka tak mengerti mengapa ratu itu terlihat gelisah dan tidak bisa tenang saat duduk di singgasana nya. Akhirnya raja Lingga pun berdiri dari kursinya lalu menghampiri ratu Keira di depan, ia penasaran dengan apa yang sebenarnya dipikirkan putrinya itu.


"Keira...." ucap raja Lingga memanggil putrinya.


"Ah iya ayah, kenapa?" ujar Keira terkejut.


"Kamu itu kenapa? Daritadi ayah lihat kamu selalu gelisah dan tidak bisa tenang, apa yang sedang kamu pikirkan sebenarnya?" tanya raja Lingga.


"Aku hanya bingung ayah, aku masih belum bisa menemukan keberadaan Sofia." jawab Keira.


"Apa? Jadi sampai sekarang kamu masih saja ingin mencari ratu Sofia yang jahat itu? Memangnya apa yang kamu mau jika kamu berhasil menemukan Sofia, ha? Apa kamu masih ingin balas dendam atas kematian adikmu Wilona, iya?" tanya raja Lingga.


"Maaf ayah! Tapi sungguh, aku masih belum bisa terima dengan kematian Wilona itu. Aku ingin Sofia juga merasakan hal yang sama!" ucap Keira.


"Keira! Hapus pikiran jahat mu itu dan kembalilah berpikiran suci, kamu tidak boleh memiliki dendam sedikitpun di dalam hatimu! Atau kamu bisa berubah menjadi ratu yang jahat seperti Sofia!" ujar Lingga.


"Entahlah ayah, aku tak bisa." ucap Keira.


Raja Lingga yang diliputi emosi langsung naik ke singgasana putrinya dan mendekati Keira, ya raja Lingga sepertinya ingin menyadarkan putrinya itu dari pikiran yang negatif seperti balas dendam. Biar bagaimanapun, ia tak ingin nantinya ratu Keira bisa berubah menjadi sosok yang jahat hanya karena rasa dendamnya itu kepada Sofia saat ini.


"Ayah, ayah mau apa?" tanya Keira cemas.


"Kamu diam saja! Ayah akan lakukan apa yang seharusnya ayah memang lakukan, kamu tidak bisa terus didiamkan seperti ini atau nirwana bisa rusak karena kelakuan mu itu!" ucap Lingga.


"Tapi ayah, aku—"


"Diam kamu!" potong Lingga dengan cepat dan langsung mengarahkan telapak tangannya ke arah kepala sang ratu Keira.


...~Bersambung~...


...JANGAN LUPA LIKE+KOMEN YA GES YA!!!...

__ADS_1


__ADS_2