Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menguap Tak Tersisa


__ADS_3

Sepasang kekasih yang sebelumnya selalu terlihat harmonis dan mesra, kini terlihat saling canggung. Keduanya terdiam, tidak ada yang ingin membuka suara terlebih dahulu. Angin sepoi sore itu berhembus dengan kencang, awan mendung nampak mengepul menjadi satu, cuaca sore itu memang tengah mendung, semendung wajah Riana dan mewakilkan perasaan wanita itu.


"Siapa perempuan itu, Rai?" Akhirnya Riana tidak mampu menyimpan pertanyaan yang selama satu minggu lebih ini membayangi dirinya.


"Maaf Ri, aku harap kamu ngerti. Ini demi karir aku." Sungguh Raihan berkata seolah perbuatan pria itu tidak melukai perasaan kekasihnya. Benar-benar sudah dibutakan oleh jabatan sesaat.


Masing-masing tangan Riana mengepal di sisi pahanya. Ia tidak terima alasan seperti itu. Riana bangkit berdiri, emosinya sudah mencapai ubun-ubun. "Karir apa yang kamu mau? Demi karir, kamu tega nyakitin dan khianatin aku? Kamu anggap apa aku selama ini?!" Riana berteriak penuh dengan emosi yang memupuk.


Raihan tersentak, untuk kali pertama ia melihat kekasihnya itu berteriak kepadanya. Selama ini wanita itu selalu menurut dan lembut kepadanya.


"Ri, jangan teriak-teriak. Apa kamu mau semua orang disini ngelihatin kita?" Raihan beranjak berdiri, menyentuh kedua bahu Riana untuk menegur wanita itu.


Riana berdecak sinis, ia menepis tangan Raihan dari bahunya. "Kamu malu kita berantem di lihatin banyak orang, tapi kamu sama sekali nggak malu udah selingkuh dari aku."


Perkataan Riana sontak membuat Raihan tertunduk, tentu ia tertohok mendengar kalimat yang terlontar dari bibir kekasihnya.


"Ri, aku minta maaf." Lama terdiam, Raihan kembali menatap Riana. "Aku capek Ri sama sikap kamu, kamu terlalu manja, aku harus ngertiin kamu, sampe akhirnya aku dibuat nyaman sama perempuan itu."


Mulut Riana terkatup, matanya nampak merah menahan air mata yang siap ditumpahkan. "Jadi selama ini kamu anggap aku kayak gitu? Kamu bosen sama aku sampe akhirnya kamu selingkuh?!" Tatapan Riana menuntun jawaban dari tunangannya itu.


"Dia lebih baik dari kamu Ri. Dia dewasa, bisa bimbing aku. Dia bantuin kerjaan aku selama ini."


"Cih...." Riana berdecih, tidak habis pikir dengan otak Raihan. "Selama ini kenapa kamu diam aja? Kamu nggak pernah bilang kalau kamu nggak suka sama sikap manja aku. Kalau kamu bilang aku bisa berubah, tapi kenapa kamu cari alasan buat selingkuh dari aku?" Riana memukul dada Raihan. Sungguh sakit rasanya mendengar tunangannya itu membandingkan dirinya dengan perempuan lain. Ia memang banyak kekurangan, akan tetapi mendengar secara langsung kekurangan dirinya membuatnya merasa tidak dihargai dan tidak di inginkan.


Raihan menangkap satu tangan Riana. "Aku cuma pengen kamu ngerti Ri." Kembali ia menjelaskan, berharap perempuan yang pernah ia cintai itu mengerti apa keinginannya.

__ADS_1


"Aku kurang ngerti apalagi? Selama ini aku selalu nurut sama kata-kata kamu, Rai!" Riana yang tersulut emosi dan sekaligus sedih menepis kasar tangan Raihan. "Tapi kamu selingkuh sama perempuan nggak bener!" lanjutannya menggebu marah.


"Ri, jaga mulut kamu!" Raihan membentak Riana, ia tidak terima Riana menghina perempuan yang kini sudah singgah di hatinya.


"Terus apa sebutan buat perempuan yang ngerebut tunangan perempuan lain?!" seru Riana mengecam perbuatan perempuan selingkuhan Raihan.


"Dia nggak ngerebut Ri, perasaan kita ngalir gitu aja." Raihan kembali melunak, sebisa mungkin ia menjelaskan kepada Riana.


"Jahat kamu Rai. Segitu sukanya kamu sama perempuan itu." Riana mendorong bahu Raihan, melampiaskan sakit hatinya.


"Namanya Anggun, dia manager keuangan di divisi aku. Aku suka sama dia, aku nyaman sama dia. Jadi aku mohon jangan ganggu aku lagi."


Riana tertawa getir, menertawakan nasibnya. Tunangannya itu secara terang-terangan memperkenalkan selingkuhannya dan terparahnya Raihan memuji perempuan itu di hadapannya.


"Kamu cuma mikirin perasaan kamu sendiri. Tapi kamu nggak mikirin mama kamu... mamaku. Kamu pikir dong, apa mereka nggak kecewa sama sikap kamu?!" Riana membentak Raihan yang selama ini selalu memikirkan dirinya sendiri, tanpa berpikir jika bukan hanya dirinya saja yang terluka dan kecewa. Tetapi Mama Nina dan Mama Linda pasti akan turut terluka dengan perbuatan laki-laki itu.


"Aku bisa jelasin sama Mama kalau kita udah nggak cocok lagi."


Air mata Riana meluruh, ia tidak percaya mendengar perkataan Raihan yang menyepelekan perasaannya. Padahal Riana berharap, Raihan akan sadar dan berpikir ulang untuk segera memutuskan perempuan itu.


"Jadi kamu lebih milih dia dari pada aku, Rai?" Riana mencoba menahan dadanya yang bergemuruh, ia harus siap mendengar keputusan laki-laki di hadapannya itu.


Raihan mengangguk dan itu cukup mewakilkan jawaban laki-laki itu. Riana menangis, menjerit di dalam hati mendengar keputusan Raihan.


"Aku minta maaf Ri. Aku harap kamu ngerti, aku sayang sama Anggun dan aku juga nyaman sama dia. Dan berkat dia karir aku lebih baik sekarang."

__ADS_1


Riana tidak mampu mengeluarkan sepatah katapun, hatinya benar-benar di patahkan oleh laki-laki yang begitu ia cintai dengan segenap jiwa raganya.


"Jahat kamu Rai." Riana terisak, ia meluapkan sakit hatinya dengan memukuli bahu Raihan. Namun hal itu tetap saja tidak membuat hatinya membaik dan justru semakin hancur. "Selama ini aku udah jadi yang kamu mau, kita juga udah sering ngelakuin itu tapi kamu ninggalin aku demi perempuan lain yang menurut kamu lebih baik dari aku."


"Ri...." Perkataan Raihan menggantung lantaran Riana mengangkat telapak tangannya agar Raihan tidak kembali bicara.


"Nggak usah ngomong lagi Rai, kamu udah bener-bener nyakitin aku."


"Aku cuma pengen kamu ngerti Ri. Seterusnya kamu nggak usah ganggu aku lagi, aku nggak mau Anggun salah paham."


"Rai....." Sungguh Riana tidak dapat berkata-kata. Laki-laki itu begitu tega terhadapnya.


"Kita udah putus, jadi anggap kita nggak saling kenal di lingkungan perusahaan. Masalah Mama, kamu tenang aja, aku bisa jelasin ke Mama kalau hubungan kita nggak bisa di lanjutin." Sorot mata Raihan penuh ketegasan, seolah laki-laki itu telah mantap dengan keputusannya.


Ya, perasaan tidak bisa dipaksakan bukan? Ia berhak mencari kebahagiaan yang lain, karena sudah tidak merasakan kebahagiaan pada hubungannya dengan Riana.


"Aku pergi Ri. Kamu jaga diri baik-baik." Raihan selalu tidak suka jika melihat Riana yang menangis. Ia muak karena senjata kekasihnya itu, ralat mantan tunangan itu menangis dan hanya menangis. Berbeda dengan Anggun yang menurutnya lebih dewasa dari Riana, perempuan itu tidak hanya cantik, tetapi juga memiliki jabatan yang lebih tinggi darinya.


Dengan perasaan yang lega sudah memutuskan Riana secara langsung, Raihan berlalu pergi meninggalkan Riana yang masih terisak. Ia bahkan tidak menoleh, seolah rasa cintanya terhadap wanita itu benar-benar sudah menguap tak tersisa.


Bersambung


...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...


...Always be happy 🌷...

__ADS_1


...Instagram : @rantyyoona...


__ADS_2