
Sejak subuh tadi Dicky dan Fitri berangkat ke Bandara dengan di antar oleh Mang Salim.
Kini mereka sudah berada dalam pesawat menuju ke Tokyo Jepang.
"Jangan pernah lepaskan genggaman tanganmu padaku Fit!" Bisik Dicky saat mereka mulai duduk di dalam pesawat.
"Iya Mas!" sahut Fitri.
Saat pesawat mulai bergerak dan naik, Fitri semakin erat memegang lengan Dicky, dan merebahkan kepalanya di bahu suami yang sangat di cintainya itu.
"Mas Dicky ..."
"Iya sayang ..."
"Aku sangat bahagia, rasanya aku tidak takut apapun saat Mas Dicky selalu ada di sampingku!" ucap Fitri.
"Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang, makanya jangan pernah melepaskan tanganmu ya, sekarang pejamkanlah matamu, nanti aku akan membangunkanmu saat kita sudah sampai!" bisik Dicky.
"Iya Mas, bayi kita bahkan sudah naik pesawat,dia kelihatan senang sekali, dari tadi tidak berhenti bergerak!" ujar Fitri sambil memegangi perutnya yang buncit.
"Masa sih, mana sini aku lihat!" Dicky kemudian mulai mengelus perut Fitri yang kini terus bergerak tak beraturan.
"Jagoan Papa Dicky tau saja kalau kita lagi jalan-jalan, kau yang tenang ya Nak, buat Mamamu tenang dan nyaman!" bisik Dicky sambil mengecup perut Fitri.
Beberapa pasang mata melihat mereka dengan pandangan takjub dan iri, bagaimana Dicky dengan begitu lembut dan manis memperlakukan istrinya.
"Malu ah Mas, jangan cium-cium depan umum!" sergah Fitri.
"Kenapa kau harus malu sayang? Harusnya kau bangga dong, jarang ada suami yang seperti aku hehehe!" sahut Dicky terkekeh.
"Bukan begitu Mas, aku hanya tidak enak saja menjadi pusat perhatian orang, sudahlah, di tunda dulu ciumnya!" tukas Fitri sambil berusaha menjauhkan wajah Dicky dari perutnya.
"Iya deh, sekarang kau tidur saja Fit, supaya saat kita tiba nanti, kau menjadi segar, aku akan mengajakmu jalan-jalan ke banyak tempat, nanti makan yang banyak ya!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.
Fitri pun kemudian mulai memejamkan matanya.
__ADS_1
Setelah menempuh perjalanan sekitar 7 jam setengah, mereka kemudian sampai di bandara Narita di Tokyo.
Dicky menggandeng tangan Fitri berjalan turun dari pesawat dan kini mereka duduk di lobby bandara.
Tak lama kemudian, seorang pemandu wisata datang menghampiri mereka.
"Apakah anda Dokter Dicky Pradita dari Indonesia bersama istri?" tanya seorang pemuda bermata sipit namun menggunakan bahasa Indonesia.
"Oh, iya benar sekali, saya Dokter Dicky, dan ini istri saya Fitri!" sahut Dicky.
"Perkenalkan, saya Ken, mahasiswa yang merangkap menjadi tour guide, senang bisa bertemu dengan anda Pak Dokter!" ujar Ken, sambil menjabat tangan Dicky dan Fitri.
"Wah, ternyata kau sangat pandai berbahasa Indonesia Ken! Aku salut padamu!" kata Dicky sambil menepuk bahu Ken.
"Ehm, pacar saya orang Indonesia Pak Dokter!" sahut Ken tersipu.
"Oya? Wah, kebetulan sekali, aku pikir aku harus terus berbahasa Jepang selama aku di sini, berarti aku beruntung bisa mendapatkan tour guide sepertimu Ken!" puji Dicky.
Ken hanya tersenyum, pemuda tampan berwajah oriental itu lalu mengulurkan tangannya mengajak Dicky dan Fitri untuk mengikutinya.
"Kita akan menuju ke hotel untuk menginap Pak Dokter, semuanya sudah di siapkan oleh Ibu Anjani!" ujar Ken.
"Ibu Anjani? Kau kenal dengan pemilik rumah sakit tempatku bekerja itu?" tanya Dicky.
"Tentu saja saya kenal Pak Dokter, Ibu Anjani itu masih saudara saya, kakak dari Ibu saya!" jelas Ken.
"Oya? Wah, ternyata dunia ini begitu sempit, berarti Ibumu asli orang Indonesia?" tanya Dicky.
"Yup! Anda benar sekali Dokter, Ayahku yang asli Jepang, tapi Ibuku orang Indonesia!" jawab Ken.
Tak lama kemudian mereka sudah tiba di salah satu hotel berbintang di Tokyo, kedatangan Dokter Dicky dan Fitri di sambut dengan begitu hormat pada seluruh karyawan di hotel itu.
Mereka menempati sebuah kamar VIP yang sangat luas dan elegan, dengan nuansa kebudayaan Jepang.
"Pak Dokter dan Ibu Fitri silahkan beristirahat dulu, nanti untuk makan malam silahkan turun ke restoran yang ada di lantai bawah, setelah itu saya akan mengajak Pak dokter dan Bu Fitri berkeliling kota Tokyo, ke menara Tokyo yang fenomenal itu, juga mengunjungi taman kota yang indah, pasti Ibu Fitri akan terkesan melihat keindahan lampion dan bunga-bunga yang indah di sana!" jelas Ken.
__ADS_1
"Wah, aku jadi tidak sabar ingin jalan-jalan!" seru Fitri antusias.
"Tenang saja Bu Fitri, kita masih punya waktu banyak di sini, kata Bu Anjani, liburan boleh di perpanjang kok, semua biaya di tanggung perusahaan hehehe!" ujar Ken terkekeh.
"Terimakasih Ken, nanti kalau tiba jadwalnya kau bisa menghubungi aku!" ucap Dicky.
"Beres Pak Dokter, ini kartu nama saya, kalau ada yang mau di tanyakan atau kalian membutuhkan saya, permisi!" kata Ken yang menyodorkan kartu namanya dan setelah itu dia berlalu dari hadapan Dicky dan Fitri.
Dicky kemudian menuntun Fitri memasuki kamar itu.
"Kau pasti akan kerasan berada di sini lama-lama sayang!" ucap Dicky sambil mengecup pipi Fitri yang wajahnya nampak berseri-seri.
"Iya Mas, ini indah sekali, tidak seperti apa yang aku bayangkan sebelumnya, ini bahkan jauh lebih indah!" ungkap Fitri saat melihat suasana kamar yang begitu mewah dan elegan dengan suara gemericik air dari kolam ikan yang langsung menuju kamar, hingga menambah keindahan suasana kamar itu.
"Sekarang kita mandi dulu ya Fit, setelah itu kita istirahat untuk mengumpulkan tenaga, karena kita akan jalan-jalan malam ini!" bisik Dicky.
"Iya Mas, kita mandi bareng yuk Mas, kok aku jadi takut ya mandi sendiri, kamar mandinya begitu luas!" ungkap Fitri.
"Ehm, bilang saja mau lihat itunya Mas ya, kangen ya, bisa modus juga istriku!" sahut Dicky sambil merengkuh Fitri dan menggendongnya menuju kamar mandi itu.
"Siapa yang modus Mas, aku memang takut berada di tempat asing sendirian, apalagi ... sekarang aku tidak terlalu jelas melihat!" lirih Fitri.
Dicky langsung memeluk Fitri erat.
"Hei hei ... jangan rusak kebahagiaan kita dengan pikiran negatif mu, percaya saja kau akan sembuh sayang, nanti di sini aku juga akan mencarikan Dokter mata yang bagus untukmu, kau tenang saja, jangan khawatir!" bisik Dicky sambil mulai membuka satu persatu pakaian Fitri.
"Tidak Mas! Kata Dokter Toni, untuk saat ini aku harus fokus saja ke kehamilanku ini, tidak baik dampaknya kalau aku mengkonsumsi obat sementara aku sedang hamil, aku akan sabar menunggu saat itu tiba!" sergah Fitri.
"Iya iya, sekarang ayo Mas mandikan, ini airnya segar sekali lho!" Dicky kemudian mengangkat Fitri menuju ke sebuah bathtub yang besar untuk tempat mereka berendam.
Mereka mulai menyabuni satu sama lain.
Bersambung ...
****
__ADS_1