
Malam itu setelah Bu Nuri pulang dengan menggunakan taksi online, Dicky mulai menggendong Fitri naik menuju ke kamarnya.
Rasanya seharian ini mengobrol dengan Ibu Nuri tidak terasa, waktu terasa sangat singkat sekali.
Fitri mulai membaringkan tubuhnya di tempat tidurnya, hari ini beberapa kali Fitri mulai mengalami kontraksi ringan.
"Mas Dicky, tolong kau cek di tas bayi kita, apakah ada barang-barang yang tertinggal, nanti kalau sudah saatnya kan tinggal bawa saja Mas!" ujar Fitri.
Dicky mulai membuka kembali tas bayi besarnya itu yang akan di bawanya pada saat Fitri akan melahirkan di rumah sakit.
"Ini semuanya sepertinya sudah komplit Fit!" kata Dicky.
"Selimut dan pakaian bayi sudah Mas?" tanya Fitri.
"Sudah!"
"Kain panjang, gurita ibu, pembalut panjang dan daster ibu serta pakaian dalam sudah?"
"Sudah!"
"Pakaian Papa Dicky berikut pakaian dalamnya sudah belum?"
"Belum!" sahut Dicky.
"Tuh kan, masih ada yang kurang!' ujar Fitri.
"Kenapa pakaian dan pakaian dalamku juga masuk dalam list barang penting?" tanya Dicky.
"Ya iya lah Mas, memangnya Mas Dicky mau saat menungguiku di rumah sakit tidak ganti-ganti baju?" cetus Fitri.
"Iya juga sih, kalau begitu aku akan masukan pakaianku berikut pakaian dalamnya ke dalam tas ya!" ujar Dicky.
"Taruh di tas terpisah saja Mas, supaya tidak tercampur dan ribet karena kepenuhan!" sahut Fitri.
"Okelah kalau begitu, aku akan membawanya di tas lain saja!" ujar Dicky sambil mengeluarkan beberapa baju dan baju dalamnya dari dalam lemarinya.
Setelah semua selesai, Dicky kemudian menyusul Fitri berbaring di tempat tidurnya.
"Fit, aku pernah baca lho di sayu artikel, katanya jika menjelang kelahiran, hubungan suami istri itu di perlukan untuk memperlancar proses persalinan!" kata Dicky.
"Masa sih? Aku tidak pernah mendengar teori itu!" sahut Fitri.
"Yah, makanya menjelajah dong di internet, cairan benih laki-laki itu adalah pelumas untuk jalan lahir si bayi!" lanjut Dicky.
"Sudahlah Mas, lebih baik kita istirahat mengumpul kan tenaga, bukankah besok kita mau ke rumah sakit untuk kontrol lagi?" tukas Fitri.
__ADS_1
"Tapi kan tidak ada salahnya kalau kita praktekan Fit, setelah itu kita baru istirahat, mau ya sayang?" rayu Dicky.
"Dih Mas Dicky kalau punya mau, susah deh di tolak!" sahut Fitri pasrah.
"Nah gitu dong sayang, jadi makin cinta nih Mas sama kamu!" ujar Dicky sambil mengecup pipi Fitri.
Kemudian Dicky mulai beraksi, dia langsung mencumbui Fitri hingga mereka kemudian menyatukan tubuh mereka, tentunya dengan sangat hati-hati karena perut Fitri yang sudah amat besar.
Setelah Dicky menumpahkan hasratnya, dia nampak berguling kesamping kelelahan karena tenaga dalam yang dia keluarkan.
Tidak sampai lima menit kemudian, Dicky sudah tertidur dengan suara dengkuran halusnya yang terdengar, bahkan dia belum sempat memakai kembali pakaiannya.
"Hmm dasar! Kalau sudah puas lupa segala-galanya!" sungut Fitri.
Kemudian Fitri membersihkan milik Dicky dengan sapu tangan handuk yang sudah di basahi dengan air hangat.
Lalu dia mulai menyelimuti tubuh polos Dicky dengan selimut tebal.
Setelah mengecup kening Dicky, Fitri kemudian beranjak tidur menyusul suaminya itu.
****
Pagi itu matahari sudah menyembul dari sela-sela jendela balkon kamar Dicky.
"Mas Dicky!!" panggil Fitri.
Dicky yang mendengar teriakan Fitri langsung melonjak kaget.
"Ada apa Fit?? Kebakaran? Atau ada maling?" tanya Dicky sambil mengucek kedua matanya yang masih setengah terbuka.
"Bukan Mas! Ini! Lihat ini, ada air dan darah yang mengalir! Aku takut Mas!" ucap Fitri yang masih berdiri, tidak berani beranjak dari tempatnya.
Dicky langsung mendekat ke arah Fitri, kemudian dia meraba sesuatu yang basah di sana, laku memeriksanya.
"Ya ampun Fit! Itu air ketuban! Air ketubanmu sudah pecah Fit!" seru Dicky, wajahnya tak kalah cemas.
"Lalu aku harus bagaimana Mas? Ini banyak sekali mengalirnya!" kata Fitri yang hampir menangis.
"Tenang sayang, itu artinya kau akan melahirkan sebentar lagi, sekarang aku akan membawamu ke rumah sakit!" sahut Dicky cepat sambil langsung memakai pakaiannya dan membopong Fitri turun ke bawah menuju ke mobilnya.
Tas yang sudah di siapkan nya malah ketinggalan karena panik.
Fitri kemudian langsung di baringkan di jok tengah mobil, sementara Dicky tanpa menunggu langsung masuk ke dalam mobil dan dengan cepat melajukan mobil itu.
Bi sumi yang terkejut karena Dicky menggendong Fitri dengan panik hanya bisa memandangnya dari kejauhan sampai mobil Dicky menghilang di balik gerbang.
__ADS_1
"Mas Dicky ... tas bayinya ketinggalan!" ujar Fitri.
"Halah biarkan saja, itu bisa di ambil kapan-kapan yang penting perutmu aman Fit?" sahut Dicky.
"Tapi perutku belum mulas Mas, kita masih bisa kembali!" sahut Fitri.
"Sudah tidak usah! Nanti aku akan telepon Bi Sumi untukengantarkan tas itu!" ujar Dicky.
Setelah mereka sampai di rumah sakit, tanpa menunggu Dicky langsung menggendong Fitri ke poli kandungan.
Suasana pagi itu masih sepi, pasien juga belum terlihat mengantri, Dicky langsung masuk ke dalam ruangan itu.
"Hei, kalau masuk bisa kan mengetuk pintu dulu?!" Sengit Dokter Mia yang pagi itu sedang menulis di komputernya.
"Maaf! Aku buru-buru! Mia, tolong kau lihat istriku, air ketubannya sudah pecah! Aku tidak ingin terjadi apa-apa dengannya dan bayiku!!" ungkap Dicky.
"Oke, baringkan dia sana, aku akan memeriksanya!" ujar Mia.
Dicky lalu membaringkan Fitri di ranjang pasien, Dokter Mia mulai memeriksa perut Fitri melalui USG dan pemeriksaan dalam.
"Iya benar, ini air ketubannya sudah pecah, mau tidak mau, bayinya harus segera di lahirkan! Memangnya kalian habis apa sehingga Fitri bisa jebol begini? Seperti tertusuk benda tumpul!" ujar Mia.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Apakah dia bisa melahirkan normal??" tanya Dicky mengalihkan.
"Tergantung, kalau kondisi fisiknya kuat bisa saja dia melahirkan normal, ini karena air ketubannya sudah pecah, jadi Fitri harus di rawat inap!" ujar Mia.
"Lakukan apapun Mia, asal Ibu dan anak selamat!" kata Dicky.
"Fitri harus di pasang induksi untuk membantu pembukaannya supaya lebih cepat, juga merangsang kontraksinya tetap stabil!" jelas Mia.
"Memangnya saya sudah pembukaan berapa?" tanya Fitri yang masih berbaring.
"Masih pembukaan satu, prosesnya masih panjang Fit, apalagi ini pertama kalinya kau melahirkan normal!" jawab Mia.
Sejak tadi Dicky tak henti-hentinya menggenggam tangan Fitri.
"Kau jangan takut Fit, aku akan selalu berada di sampingmu, tetaplah berjuang untuk melahirkan bayi kita!" bisik Dicky.
Fitri menganggukan kepalanya sambil menangis, menangis bukan karena sakit, tapi karena Dicky terlihat sangat tulus mencintainya, wajahnya menyiratkan kecemasan walaupun dia tidak menunjukannya.
Bersambung ...
****
__ADS_1