Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dendam Masa Lalu


__ADS_3

Untuk sesaat lamanya suasana menjadi hening. Bu Anjani terus menatap wanita di hadapannya dengan pandangan tak berkedip.


Begitu pula sebaliknya, wanita bertudung hitam dengan kain panjang yang menjuntai ke bawah juga menatap Bu Anjani dengan sorot mata yang tajam.


"Aku tidak menyangka, ternyata selama ini kita tinggal dalam satu atap Mbak Arini, selama ini ku pikir kau pergi menghilang entah kemana, ternyata memang kau tidak kemana-mana!" ucap Bu Anjani dengan tatapan lurus ke depan.


"Mana mungkin aku meninggalkan rumah itu, rumah yang seharusnya menjadi milikku! Kau telah merebutnya dariku!" cetus wanita misterius yang ternyata adalah Arini, istri pertama Pak Rahmat Pradita itu.


"Mbak Arini, kau sudah mendapat lebih banyak dari aku! Aku hanya punya rumah ini dan rumah sakit, kau masih saja tidak rela, bukankah Mas Rahmat sendiri yang mewariskannya padaku dan putraku??" tanya Bu Anjani.


"Mana mungkin aku rela, aku tau Mas Rahmat memberikanmu banyak sekali perhiasan dan emas batangan, sementara aku, hanya di berikan tanah, sawah, dan lokasi yang sama sekali tidak aku inginkan! Kau bukan hanya pelakor! Kau perampas segalanya!" sengit Bu Arini.


Bu Anjani tersenyum, kemudian maju beberapa langkah.


"Apa? Bahkan kau memanfaatkan Bram untuk merebut semuanya dariku! Kau benar-benar jahat! Kau juga kan yang berusaha melenyapkan putraku dengan memberikannya racun dalam minumannya?? Kau jahat Mbak!" seru Bu Anjani.


Bu Arini tertawa terbahak-bahak.


Beberapa orang polisi mulai berdatangan dan mengepung tempat itu, beberapa diantaranya telah menodongkan pistol ke arah Bu Arini dan Pak Bram, juga Lina yang terlihat mulai ketakutan.


Bu Anjani kemudian menoleh ke arah Bram.


"Kau juga Bram! Kau ternyata tega mengkhianati aku! Selama ini aku selalu memberikanmu fasilitas, mengangkat mu dari keadaanmu, bahkan aku juga memberikanmu kepercayaan mengelola rumah sakit itu, tapi apa balasan mu? Kau malah menusukku dari belakang! Tega kau meracuni putraku!!" sengit Bu Anjani.


"Karena kehadiran putramu itu sudah mengganggu ketenangan dan kenyamanan ku! Bahkan sudah menggeser kedudukan ku!" sahut Pak Bram.


"Kalian semua biadab!" teriak Bu Anjani.


Tiba-tiba Bu Arini mengarahkan senjata api ke arah Bu Anjani, sehingga semua orang terbelalak.


"Aku akan di tangkap, kau juga harus mati!!!" teriak Bu Arini sambil mulai menarik pistolnya.


Dooorrrrr!!!


"Ibuuuu!!"


Dicky dengan cepat berlari menjadi tameng ibunya.


Anak peluru langsung menembus dadanya, darah segar muncrat dan Dicky pun roboh.


"Dicky!!" Bu Anjani langsung bersimpuh memeluk Dicky.


Polisi dengan cepat langsung meringkus Bu Arini, juga Pak Bram dan Lina.

__ADS_1


Mereka langsung di borgol dan di bawa paksa ke kantor polisi berikut dua buah tas besar sebagai barang bukti.


Fitri yang yang sudah terlepas dari cengkraman Pak Bram langsung berlari mendapati suaminya sambil menangis.


"Mas Dicky!! Mas!!" tangis Fitri sambil memeluk suaminya itu, darah segar membasahi bajunya.


Mulut Dicky megap-megap, seolah hendak mengatakan sesuatu, namun dia begitu lemah, hingga kemudian dia pun mulai terkulai.


"Mas Dicky!! Maaaasss!!!" Fitri menjerit histeris.


Dua orang polisi datang dan langsung memberikan pertolongan pertama.


"Denyut nadinya lemah, ayo kita segera bawa ke rumah sakit, nanti dia akan kehabisan darah!" kata seorang polisi.


Dicky kemudian di gotong oleh security dan dua polisi tadi ke dalam sebuah mobil, kemudian langsung di larikan ke rumah sakit.


Isah yang ternyata sudah meninggal, ikut di bawa ke rumah sakit untuk keperluan otopsi sambil menunggu keluarganya datang.


Rumah itu kini menjadi sangat ramai, menjadi tontonan publik. Banyak media dan wartawan yang mendatangi rumah itu.


Fitri memeluk Alex yang menangis kehausan, karena sudah beberapa lamanya dia tidak menyusu.


"Mbak Fitri tenang dulu, Pak dokter sudah di bawa ke rumah sakit, sekarang ayo kita masuk dulu Mbak, susui Alex!" kata Bu Sumi.


Bi Sumi menyodorkan segelas air putih pada Fitri.


"Minumlah Mbak, Mbak Fitri tidak perlu takut lagi, semua penjahatnya sudah tertangkap!" ujar Bi Sumi.


"Tapi mas Dicky Bi, Mas Dicky bagaimana? Aku ingin melihat Mas Dicky!" tangis Fitri.


"Nanti Mbak Fitri bisa datang ke rumah sakit untuk melihat Pak dokter, sekarang minumlah, setelah itu susui Alex, kasihan dia kehausan sejak tadi!" hibur Bi Sumi.


Fitri kemudian meneguk perlahan minumannya, setelah itu dia mulai menyusui Alex.


Namun air mata Fitri masih saja jatuh membasahi pipinya.


Seorang pelayan datang mendekatinya.


"Maafkan Nyonya Fitri, karena kejadian tadi, makan siang jadi agak terlambat!" ujar Sang pelayan.


"Tidak apa-apa, aku juga tidak lapar!" cetus Fitri.


Beberapa orang polisi nampak naik ke atas menuju ke kamar Pak Bram, mereka hendak melakukan pemeriksaan di sana.

__ADS_1


Fitri tidak ingin tau dan penasaran, perasaanya berubah, kini yang ada di kepalanya adalah Dicky suaminya.


Dina dan Dara nampak masuk ke dalam rumah batu pulang sekolah dengan Mang Salim, mereka tidak tau apa yang terjadi di rumah, dan heran melihat rumah begitu ramai di kerumuni orang-orang.


"Mama! Kenapa rumah kita jadi ramai? Kok di kasih pita kuning dan banyak orang?" tanya Dara.


"Ssst! Jangan ganggu Mama! Kalian langsung istirahat saja di kamar ya, nanti Di antar makanannya ke kamar oke! Jangan keluar kamar kalau tidak penting!" tukas Bi Sumi.


Dina dan Dara mengangguk patuh, lalu mereka segera berjalan dan masuk ke dalam kamar mereka.


Seorang polisi datang menghampiri Fitri yang masih menyusui Alex, Fitri spontan menutupi dadanya dengan kain.


"Maaf Bu Fitri, kami akan melakukan penggeledahan di rumah ini guna penyidikan, jadi untuk sementara rumah ini dalam pengawasan polisi, mohon maaf atas ketidak nyamanan nya!" ujar Polisi itu.


"Ya Pak, lakukan saja yang terbaik sampai tuntas!" sahut Bu Sumi. Karena Fitri terus menangis sedari tadi.


"Bi, aku titip Alex ya, aku mau ke rumah sakit!" kata Fitri.


"Lho, nanti kalau Alex haus bagaimana Mbak? Kan kasihan Alex!" sahut Bi Sumi.


"Kalau begitu aku akan pompa ASI ku sekarang, tolong antar aku ke kamar Bi!" pinta Fitri.


Bi Sumi kemudian bangkit dan mengantarkan Fitri ke kamarnya untuk memompa ASI nya.


Tiba-tiba seorang security datang menghampirinya.


"Maaf Nyonya Fitri, ini ada paket untuk Nyonya!" kata security itu.


Fitri menepuk jidatnya sendiri, lagi-lagi paket.


"Pak, silahkan buka paket itu, isinya buat bapak atau istri bapak!" ujar Fitri sambil melangkah menuju ke kamarnya.


Bi Sumi mengikuti di belakanganya.


Bersambung ...


****


Hai guys ...


Bagi yang belum membaca karya author yang lain, bisa baca ya sambil menunggu up, author banyak membuat judul buku.


Klik profile ya ... (Edisi Promo 😉)

__ADS_1


Trimakasih ...🙏😘


__ADS_2