
Pagi-pagi sekali, Dicky dan Fitri di kejutkan dengan suara ponsel Dicky yang berbunyi.
Dengan kesal Dicky meraih ponselnya yang ada di atas meja samping tempat tidur.
"Argh sial! Siapa sih yang telepon pagi-pagi begini??" sungut Dicky.
"Angkat saja sih Mas, mana tau penting!" sahut Fitri.
Dengan wajah kesal Dicky lalu mengusap layar di ponselnya itu.
"Halo, Dokter, apakah kau sibuk hari ini?" tanya suara di sebrang yang sudah tidak asing lagi di telinga Dicky.
"Dasar Kampret! Ada apa kau meneleponku! Mengganggu tidurku saja!" sengit Dicky.
"Sorry Dokter, istriku pingsan tiba-tiba, apakah kau bisa menolongku untuk memeriksanya??" tanya Donny.
Dicky langsung bangun dati posisi tidurnya.
"Apa? Istrimu pingsan?!"
Fitri yang mendengar nya langsung ikut bangun dari posisinya, padahal perutnya merasa sangat mual sekali.
"Hari ini ada sertifikasi guru di sekolah, ini kesempatanku untuk memperbaiki karirku, tapi tadi pagi Anita tiba-tiba jatuh tergeletak di dapur!" jelas Donny.
"Kenapa kau tidak langung membawanya ke rumah sakit?" tanya Dicky.
"Aku takut Dokter, aku ingat kalau iparku adalah Dokter, apa salahnya jika aku bertanya padamu dulu!" sahut Donny.
"Dasar kau! Bisanya menyusahkan saja!" sungut Dicky yang langsung mematikan panggilan teleponnya.
Kemudian Dicky mulai masuk ke dalam kamar mandi.
Tak lama kemudian dia sudah keluar lagi dari kamar mandi, dan sekarang mulai berpakaian.
"Mas Dicky mau kemana?" tanya Fitri.
"Mau ke tempatnya Si Kampret, katanya Anita pingsan, aku mau memeriksanya dulu!" jawab Dicky.
"Apa?? Anita pingsan? Aku ikut Mas!" ujar Fitri cemas.
"Tapi katanya kau pusing dan mual!" sahut Dicky.
"Pokoknya aku ikut Mas, ini menyangkut Anita saudaraku! Aku takut sesuatu terjadi padanya!" ujar Fitri yang langsung mengganti pakaiannya.
Mereka kemudian turun ke bawah, Bu Eni terlihat sedang menyuapi Alex yang sedang main mobil-mobilan.
"Kalian mau kemana pagi-pagi begini?" tanya Bu Eni.
"Mau ke tempat Anita Bu, kata Pak Donny Anita pingsan di dapur, Mas Dicky mau memeriksanya!" jawab Fitri.
__ADS_1
"Apa? Anita pingsan? Ibu ikut Fit!" kata Bu Eni yang langsung berdiri.
"Tapi Bu ... "
"Pokoknya Ibu ikut, Ibu tidak mau Anita kenapa-napa, pasti ini ulah di Donny lagi, bikin orang sakit saja!" sungut Bu Eni sambil merapikan rambutnya yang kini memutih itu.
Fitri lalu menghendong Alex dan berjalan ke arah garasi depan, Dicky sudah menyalakan mesin mobilnya.
"Lho, Ibu ikut juga?" tanya Dicky.
"Ya iyalah, Anita kan anak Ibu!" sahut Bu Eni.
Dicky lalu segera mengendarainya mobilnya keluar dari rumahnya.
Setelah mereka tiba di rumah Donny, Bu Eni dan Fitri langsung turun dan masuk ke dalam rumah itu.
Anita nampak berbaring di sofa, sementara Donny terlihat sedang memijiti kaki Anita.
"Hei! Kau apakan anakku?!" seru Bu Eni.
"Tadi dia tiba-tiba pingsan Bu!" jawab Donny.
"Bodoh! Kenapa kau tidak bawa ke Dokter? Malah di biarkan di sini terus!" ujar Bu Eni.
"Aku menunggu Dokter Dicky, dia yang mau memeriksa nya!" jawab Donny.
"Sudah Bu, aku mau memeriksanya dulu!" sergah Dicky yang langsung mengambil alat untuk memeriksa kondisi Anita.
"Bagaimana Mas?" tanya Fitri yang terlihat masih mengendong Alex.
Dicky tidak langsung menjawab pertanyaan Fitri, dia sekali lagi kembali memeriksa kondisi Anita.
"Hmm, kapan terakhir kau datang bulan?" tanya Dicky pada Anita.
"Aku lupa Dicky, selama ini memang aku tidak teratur datang bulan!" jawab Anita.
"Menurut diagnosa ku, Anita tidak sakit apapun, dia hanya mengalami pusing berlebihan di tambah kondisinya yang kurang fit, sehingga membuat dia pingsan!" jelas Dicky.
"Hanya itu?" tanya Donny cepat.
"Menurut pemgamatan ku sekilas, kelihatannya Anita sedang mengandung, untuk lebih jelasnya bisa langsung datang ke Dokter kandungan, untuk pemeriksaan yang lebih akurat lagi!" jelas Dicky.
"Apa? Anita hamil maksudmu??" tanya Donny sambil mengguncangkan bahu Dicky dengan kedua tangannya.
"Lepaskan kampret! Kau ini tidak percaya saja, sudah untung aku memeriksanya!" sungut Dicky.
"Sorry Dokter, aku bukan tak percaya, tapi hatiku terlalu bahagia!" ujar Donny.
"Wah, akhirnya ... aku juga tidak mengira kalau Anita sedang hamil, Pak Donny, sepertinya kau harus segera membawanya ke Dokter kandungan, Mas Dicky ini kan bukan Dokter kandungan!" ucap Fitri yang kemudian langsung memeluk Anita.
__ADS_1
"Terimakasih Fit, kalau itu benar, aku akan sangat bahagia sekali, rasanya ini seperti impi!" ucap Anita dengan mata berkaca-kaca.
Sementara Bu Eni hanya duduk mematung di tempatnya, tanpa tau harus berbuat apa.
"Bu, Ibu akan mendapat cucu dari Anita, kenapa Ibu diam saja?" tanya Fitri.
"Selamat ya Ta, akhirnya kamu hamil juga, dan mudah-mudahan benar-benar positif!" ucap Bu Eni.
"Terimakasih Bu!" sahut Anita.
"Nah, sekarang sudah jelas kan, aku sarankan kau tunda dulu datang ke sekolah, prioritaskan istrimu dan bawa di ke dokter kandungan!" ujar Dicky.
"Ya, aku akan membawanya sekarang juga, ayo sayang, nanti kita makan seafood kesukaanmu ya di pinggir pantai!" bisik Donny sambil menuntun istrinya berjalan ke arah mobil ya yang terparkir di garasi rumahnya itu.
"Bu, aku dan Mas Dicky mau langsung pulang, Ibu bagaimana? Menurutku, Ibu ikut Anita dan Pak Donny saja, ini kehamilan pertama Anita, pasti dia butuh banyak bertanya pada Ibu!" kata Fitri.
"Tapi ..."
"Ibu mau pikir apalagi? Nanti kan pulangnya pasti di antar dong sama Pak Donny, iya kan Pak Donny?" tanya Fitri.
"Siap Bu, saya akan antar Ibu pulang nanti!" jawab Donny.
Akhirnya Bu Eni tidak ada pilihan, dia lalu ikut bersama dengan Donny dan Anita ke Dokter kandungan.
Sementara Dicky dan Fitri juga naik ke dalam mobilnya hendak kembali pulang ke rumah.
"Akhirnya ya Mas, aku lega Anita bisa hamil, semoga masalah yang terjadi di antara mereka bisa selesai dengan manis!" ungkap Fitri dalam perjalanannya pulang ke rumah.
"Oya Fit, semoga Ibu juga bisa bersikap lebih baik sama si Kampret, walaupun dia kampret, tetap saja dia itu saudara iparku!" sahut Dicky.
"Mas ..."
"Ya sayang?"
"Bisa tidak berhenti memanggil kampret? Tidak enak aku mendengarnya Mas!" tanya Fitri.
"Aku alergi Fit, kalau aku menyebut namanya, mungkin karena dari dulu dia suka menyebalkan seperti kampret! Tapi kau jangan khawatir, itu kan hanya panggilan saja, yang penting aku tidak membencinya lagi sekarang!" jawab Dicky.
"Hmm, oke lah, aku percaya padamu, Oya Mas, apakah kau tau kabar terakhir Ken?" tanya Fitri.
"Ken? Kenapa kau tiba-tiba menanyakan dia?" tanya Dicky.
"Ehm, waktu itu Dinda mencarinya, kasihan dia Mas, masa tidak tau kabar kekasihnya sendiri!" sahut Fitri.
Dicky terdiam, seperti sedang memikirkan sesuatu.
Bersambung ...
*****
__ADS_1