Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Alex Ingin Pulang


__ADS_3

Pagi itu Dicky dan Fitri di kejutkan oleh suara tangisan Alex.


Jarum infus yang menancap di tangannya, juga perban yang membalut kepalanya, membuat anak itu tidak nyaman.


Sejak semalam Alex juga beberapa kali bangun, hendak melepaskan perban dengan tangannya, namun Dicky dan Fitri berusaha mencegahnya, apalagi luka di kepalanya itu belum kering.


Hal itu membuat Dicky dan Fitri tidak bisa tidur dengan nyenyak meskipun suasana di kamar itu bak hotel bintang lima, tapi tetap saja tidak menjamin kenyenyakan tidur mereka.


Terlebih lagi Alex yang sering terbangun dalam tidurnya, dalam semalam saja sudah lebih dati lima kali Alex terbangun dati tidurnya karena merasa sakit di kepalanya.


"Mama mau puang! Mama puang!" teriak Alex pagi itu.


"Alex sayang, jangan menangis, sabar dulu sayang, nanti Papa akan ajak Alex pulang, tapi sabar dulu ya!" ucap Fitri sambil memeluk dan mengelus punggung Alex.


"Gak mau! Ayek Mau puang! Mau puang! Akiit!' jerit Alex sambil menggelengkan kepalanya.


Dicky lalu mengambil alih Alex dalam dekapannya, dulu biasanya dia selalu menghadapi pasien anak-anak yang sakit, rewel ataupun yang lain, tapi sekarang dia harus menghadapi anaknya sendiri.


"Anakku sayang, sini boboan sama Papa, Alex merem saja matanya ya, capek sayang sejak semalam kau selalu terbangun, Papa akan selalu menjaga Alex, Alex jangan khawatir!" bisik Dicky.


Tak lama Alex nampak kembali tertidur di dada Dicky, Dicky bersandar di ranjang Alex, tidak merubah posisinya agar Alex nyaman dengan posisinya itu.


"Kenapa Alex tidak di kasih obat penenang saja sih mas?" tanya Fitri.


"Fit, obat penenang itu di berikan pada kasus khusus, lagi pula Alex masih kecil, efek sampingnya tidak baik untuk perkembangan otaknya!" jelas Dicky sambil mengelus-elus punggung Alex.


"Oh, kau yang lebih tau Mas, kau kan seorang Dokter!" sahut Fitri.


"Makanya aku beritahu padamu Fit, supaya kau mengerti!" ujar Dicky.


Seorang perawat masuk ke dalam sambil membawakan sarapan pagi untuk Alex, juga Dicky dan Fitri.


"Selamat pagi Dokter, sarapannya saya taruh di meja saja ya!" kata suster itu sambil meletakan nampan besar di atas meja.


Dicky mengamati makanan yang suster bawa.


"Sus, ini kenapa makanan buat Alex hanya bubur putih dan susu?" tanya Dicky.


"Ini rekomendasi dari ahli gizi Dok!" sahut Suster itu.

__ADS_1


"Alex itu hanya sakit luka di kepala dan sedikit memar, pantas saja pasien banyak yang mengeluh kalau makanan di rumah sakit tidak enak, ayo ganti menunya!" titah Dicky.


"Tapi ...."


"Berikan dia nasi putih, sup jagung atau sup ayam, susu coklat dan puding buah!" titah Dicky.


"Ba-baik Dokter!" sahut Suster itu sambil kembali membawa nampan itu.


"Ini berlaku juga untuk pasien lain, jika ingin memberikan makanan, selain nilai gizi yang di perhatikan, lihat juga jenis penyakit si pasien, jangan di sama ratakan!" lanjut Dicky.


"Baik Dokter! Permisi, selamat pagi!" pamit suster itu sambil berlalu dari ruangan itu.


Sekitar 15 menit kemudian, suster itu sudah kembali dengan menu yang sesuai dengan pesanan Dicky, Dicky tersenyum senang.


"Nah, begitu dong, kalau gini kan pasien bisa betah di timah sakit, pelayanan makan persis kayak di hotel berbintang, tapi tetap harus di pertahankan nilai gizinya!" ucap Dicky.


"Trimakaksih Dokter, kalau begitu saya permisi dulu!" pamit suster yang langsung melangkah keluar dari ruangan itu.


"Sini biar aku yang menyuapi Alex Mas!"' kata Fitri.


"Sebentar lagi Fit, kasihan Alex masih tidur, saat ini yang jadi prioritasnya hanyalah istirahat!" tukas Dicky.


"Baiklah, tapi letakan saja Alex di tempat tidurnya, nanti Mas Dicky legal jika menggendong Alex terus!" ujar Fitri.


Dalam hati ada perasaan hangat yang Fitri rasakan, betapa suaminya ini begitu lembut dan penyayang, bukan hanya pada dirinya dan orang yang lebih tua.


Namun terhadap anak kecil, Dicky mampu menciptakan perasaan nyaman, tak heran jika banyak pasien yang menyukainya, dia menjadi Dokter favorit semua anak-anak.


Fitri memandang suaminya itu dengan mata berkaca-kaca, beruntung bisa memiliki suami seperti dia, bukan hanya elok wajahnya, tapi juga lembut sikapnya.


Sorotan matanya yang mampu menyihir siapa saja yang menatapnya, mampu memberikan sejuta perlindungan dan kasih sayang, dengan seulas senyum yang selalu tersungging di bibirnya.


"Hei, kenapa kau menatapku seperti itu? Apa aku terlihat aneh?" tanya Dicky.


"Tidak Mas, aku bilang apa-apa, hanya ucapan terimakasih yang mampu ku ucapkan!" sahut Fitri.


"Terimakasih untuk apa?" tanya Dicky.


"Karena sudah menyayangi aku dan Alex!" jawab Fitri. Dicky tertawa mendengarnya.

__ADS_1


"Hahaha kau baper rupanya, jangan baper Fit, semua yang aku lakukan untuk kalian tulus dari lubuk hatiku yang paling dalam, kehadiranmu dan Alex, juga calon adik Alex, memberikan warna dalam hidupku!" ucap Dicky.


Perlahan dia menarik dagu Fitri, lalu mengecup bibir Fitri dengan lembut, tidak bisa maksimal karena dia sedang memeluk Alex.


Fitri juga maju dan membalas setiap kecupan Dicky, sudah lama dia tidak merasakan bibir lembut itu, yang selalu membuatnya bergairah dan bahagia.


Sesaat mereka hanyut dalam suasana, sementara Alex masih pulas tertidur di antara pelukan mereka.


Ceklek!


Tiba-tiba pintu ruangan di buka dari luar, Pak Dirja masuk bersama dengan Keyla putrinya untuk menjenguk Alex.


"Ehem!!" Pak Dirja berdehem.


Spontan Fitri Dan Dicky melepaskan cumbuan mereka satu sama lain.


"Eh, Pak Dirja, maaf!" ucap Dicky yang langsung merubah posisinya.


Fitri juga langsung duduk di samping Dicky, wajahnya memerah karena malu.


"Maaf mengganggumu Dokter! Kami datang ke sini adalah untuk menjenguk putramu!" kata Pak Dirja.


Sementara Keyla menaruh parsel buah-buahan di atas meja.


"Kenapa Alex bisa jatuh, memangnya Mamanya kemana?" sindir Keyla.


"Namanya juga anak-anak, apalagi dia sedang aktif-aktifnya, Mamanya kan mengajar di sekolah!" sahut Dicky.


"Hmm, kalau aku jadi Mamanya Alex, aku tidak akan bekerja di manapun, aku akan jadi ibu rumah tangga yang baik, mengurus suamiku dan anakku dengan sepenuh hati, juga melayani suamiku dengan maksimal!" ujar Keyla.


Fitri hanya diam saja mendengar sindiran Keyla yang memang sejak awal sudah sentimen terhadapnya.


"Oya Dicky, aku ingin mengajakmu kerja sama!" kata Pak Dirja.


"Kerja sama apa Pak?" tanya Dicky.


"Aku ingin menanam saham di rumah sakit ini, bagaimana menurutmu? Apakah bisa aku proses langkah selanjutnya?" tanya Pak Dirja balik.


Dicky terdiam dan nampak seperti sedang berfikir sesuatu.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2