Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Malam Penuh Misteri


__ADS_3

Ini adalah malam pertama keluarga Dicky tidur di rumah Bu Anjani.


Setelah menyusui Alex, Fitri tidak bisa langsung memejamkan matanya, padahal tubuhnya sangat lelah sekali, mungkin karena dia masih merasa asing tinggal di rumah besar ini.


Dicky sudah nampak lelap tertidur, laki-laki itu begitu lelah seharian ini, mengatur barang dan mengurus segala sesuatu, nyaris tanpa istirahat.


Fitri membetulkan letak selimut Dicky yang agak berantakan, kemudian dia berjalan keluar kamar sekedar mencari angin.


Suasana penerangan lampu rumah malam itu terlihat remang-remang, sepi dan sunyi, hanya terdengar suara jam yang berdetak tiap detik, menambah hening nya suasana malam itu.


Waktu sudah menunjukan jam 11 malam, namun sepertinya seluruh penghuni rumah ini sudah lelap tertidur, termasuk para pelayan.


Fitri terus berjalan menuruni tangga, ketika dia sampai di bawah, dia menyibakkan tirai jendela, dua orang security terlihat sedang berjaga-jaga di pos pintu gerbang.


Kamar Dina dan Dara masih terang, sepertinya dua anak itu belum tidur, Fitri lalu bergegas masuk ke dalam kamar itu.


Fitri terkejut saat melihat Dara menangis sambil memeluk Dina, Dina berusaha menenangkan adiknya itu.


"Dara?? Apa yang terjadi padamu Nak? Kenapa kau menangis?" tanya Fitri.


"Itu Ma, Dara takut dia tidak bisa tidur!' sahut Dina.


Fitri kemudian berjalan mendekati kedua anak angkatnya itu.


"Ayo cerita sama Mama, apa yang membuat Dara takut?" tanya Fitri sambil membelai rambut Dara.


"Aku haus Ma, aku minum, tapi dapurnya jauh, di luar juga gelap, aku takut!" jawab Dara.


"Oalaa, ternyata Dara haus ya, ya sudah Mama ambilkan minum ke belakang ya, kalian tunggu sini, lain kali siapkan botol minuman kalian di dalam kamar, jadi kalian tidak akan kehausan!" ujar Fitri sambil beranjak keluar dati kamar itu.


Dina dan Dara hanya menganggukkan kepalanya.


Fitri lalu berjalan ke dapur, kamar Mbok Jum dan Bi Sumi juga gelap, begitu juga dengan para pelayan yang lain.


Rumah besar ini jadi terlihat angker kalau malam hari, Fitri kemudian mulai mengambil dua botol air mineral di dapur besar itu.


Tiba-tiba ada yang menyentuh bahu Fitri, Fitri terperanjat kaget.

__ADS_1


Dia langsung menoleh dan mundur ke belakang, Lina istrinya Pak Bram sudah berdiri di hadapannya sambil tersenyum.


"Kau belum tidur? Ngapain malam-malam di dapur?" tanya Lina.


"Eh Mbak Lina, aku mengambilkan air minum untuk Dina dan Dara!" jawab Fitri.


"Bukankah di setiap kamar sudah ada dispenser air minum? Kenapa kau begitu repot?" tanya Lina.


"Maaf Mbak, saya tidak perhatikan apakah ada dispenser atau tidak, kalau begitu permisi, saya mau ke kamar anak saya!" Fitri kemudian beranjak pergi dari tempat itu.


Dalam hati Fitri berpikir, semua orang sudah tidur, tapi apa yang di lakukan Lina malam-malam begini? Fitri buru-buru menepiskan rasa curiganya.


Setelah sampai di kamar Dina dan Dara, Fitri langsung menyodorkan air minum ke arah mereka.


"Ini minumlah, setelah itu kalian tidur dan istirahat, jangan mengobrol lagi!" ujar Fitri.


"Iya Ma!" sahut Dina dan Dara sambil meneguk minuman mereka.


"Ma, aku lebih suka tinggal di rumah Papa Dicky yang lama!" celetuk Dara.


"Iya Ma, aku juga, di sini serem, kita tidak bebas bermain seperti di rumah lama, di sini orangnya juga banyak, kita kan jadi sungkan!" tambah Dina.


Setelah mereka sudah berbaring di ranjang masing-masing, Fitri kemudian mematikan lampunya dan segera beranjak keluar dari kamar itu.


Kemudian Fitri melangkah hendak menaiki tangga untuk menuju ke kamarnya.


Fitri berhenti saat di lihatnya lampu kamar Pak Bram dan istrinya masih terang benderang, ada terdengar suara orang bercakap-cakap.


Fitri menajamkan telinganya, suara orang yang bercakap-cakap itu terdengar lebih dari dua orang, lalu siapa lagi orang yang ada di kamar itu selain Pak Bram dan Lina?


Ini bahkan sudah larut malam, saat semua penghuni rumah sudah lelap tertidur, namun di kamar itu masih terang dan ramai, apakah setiap hari Pak Bram dan istrinya tidur selarut itu?


Fitri buru-buru beranjak pergi dari tempat itu, dia tidak ingin dirinya terciduk melihat ada yang aneh di kamar Pak Bram.


Oweeek ... Oweeeek


Terdengar suara tangisan Alex, Fitri langsung berjalan cepat menuju ke kamarnya lalu masuk ke dalam kamarnya itu.

__ADS_1


Dicky nampak sedang menggendong Alex dan berusaha untuk menenangkan putranya itu.


"Fitri, dari mana saja kau? Alex terbangun mencarimu!" tanya Dicky.


"Aku, tadi tidak bisa tidur Mas, maka nya aku jalan-jalan keluar, Dina dan Dara juga tidak bisa tidur, mereka kehausan ingin minum dan takut mengambil minuman sendiri!" jelas Fitri.


"Oh, kau membuat aku khawatir saja Fit, tadi saat Alex bangun, aku kaget melihatmu tidak ada di kamar!" ujar Dicky.


"Maafkan aku ya Mas, sini Alex biar aku susui!" Fitri kemudian mengambil Alex dari gendongan Dicky, kemudian mulai menyusuinya.


Dicky yang melihat dada Fitri tidak tahan juga, dia juga beringsut mendekati Fitri dan menyusu seperti Alex.


"Lepas Mas, malu sama anak!" sergah Fitri.


"Suruh siapa membuka dada di depanku! Jangan salahkan aku kalau aku tiba-tiba jadi on!" sahut Dicky.


"Sudah Mas Dicky tidur saja sana, nanti kau akan pusing kalau tidak tidur!" cetus Fitri.


"Justru aku akan pusing kalau ini tidak di selesaikan!" sahut Dicky sambil menunjuk ke arah juniornya yang kembali mengembang.


Fitri diam tanpa membantah lagi, kalau sudah seperti itu biasanya Dicky tidak pernah mundur, dia pasti akan terus berusaha sampai hasratnya terpenuhi.


Setelah selesai menyusui Alex dan Dicky. Fitri kemudian mulai merasa ngantuk yang sangat luar biasa, beberapa kali dia menguap.


"Mas, aku ngantuk, aku tidur dulu, entah kenapa di rumah ini semua orang begitu cepat tertidur, kecuali Pak Bram dan istrinya!" ungkap Fitri sambil menguap.


"Apa maksudmu?" tanya Dicky.


"Mas, kita harus berhati-hati dengan Pak Bram dan istrinya, aku merasakan ada gelagat yang tidak baik dengan mereka, tapi aku sendiri tidak tau itu apa!" ujar Fitri.


"Iya Fit, aku juga merasa begitu, tapi kita belum bisa bicara apapun, karena kita tidak punya bukti apa-apa!" tambah Dicky.


"Aku takut Mas, saat makan malam Bu Anjani dengan tegas mengalihkan kepercayaan nya padamu, mengenai rumah sakit yang selama ini di kendalikan oleh Pak Bram!" ucap Fitri.


"Jangan khawatir sayang, selama kita selalu bersama, aku yakin kita tidak akan mengalami hal yang buruk, tidak ada yang lebih buruk selain tidak ada cinta di antara kita, bersabarlah sebentar lagi!" bisik Dicky yang mulai mengecup bibir Fitri dengan lembut.


Bersambung ....

__ADS_1


****


__ADS_2