Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mulai Penyelidikan


__ADS_3

Berita tentang di temukan nya zat sianida di minuman Dokter Dicky sontak menggegerkan seisi rumah sakit, mereka mulai menduga-duga, siapakah yang menaruh zat berbahaya itu di dalam minuman Dokter Dicky?


Seluruh office boy dan office girl di kumpulkan, tidak satupun ada yang mengaku memberikan minuman itu pada Dicky.


Apalagi mereka mengenakan seragam yang sama, memakai masker adalah hukum wajib bagi para office boy atau office girl di rumah sakit ini.


Rekaman cctv pun mulai di kerahkan,dari setiap ujung rumah sakit, di dapur dan di pantry, namun tidak di temukan orang mencurigakan yang menaruh sesuatu ke dalam minuman Dicky.


Anehnya lagi, cctv yang berada di depan ruangan Dicky tidak berfungsi, mungkin karena ruangan itu masih baru, sehingga tidak di ketahui dari mana datangnya office boy gadungan itu.


"Sudah jelas bahwa ada yang berniat untuk membunuh Dokter Dicky, kau harus hati-hati Dok!" ujar Dokter Mia yang pada saat itu ada di dalam ruangan Dicky bersama dengan Dokter yang lain.


"Mulai sekarang perketat penjagaan, tenaga security harus di tambahkan, atau akan terjadi korban selanjutnya!" ujar Dokter Toni.


"Dokter Dicky, sepertinya rumah sakit ini tidak aman bagi anda untuk sementara waktu, aku sarankan kau jangan terlalu sering datang, apalagi kita masih belum tau pelaku sebenarnya dan apa motif si pelaku untuk menghabisi anda!" ucap Dokter Tika.


"Baik, terimakasih atas semua perhatian rekan-rekan, semua saran dan masukan akan saya pertimbangkan, termasuk menambah jumlah security!" ujar Dicky.


"Hati-hati Bro, kemungkinan ada orang yang iri padamu!" cetus Dimas.


"Baiklah, sekarang kalian boleh melanjutkan tugas dan pelayanan kalian, biar nanti masalah ini aku sendiri yang akan menyelesaikannya!" ucap Dicky.


Beberapa Dokter dan perawat mulai keluar dari ruangan Dicky itu.


Dicky kembali menghempaskan tubuhnya di sofa ruangan pribadinya itu.


"Aku tak habis pikir, apa kesalahanku sehingga ada orang yang begitu amat membenciku!" gumam Dicky.


"Yah itu sih wajar saja, apalagi kau baru di umumkan sebagai pemilik rumah sakit ini menggantikan Bu Anjani, tidak semua orang yang bisa menerima itu!" ujar Dimas yang masih tinggal di ruangan itu.


"Aku mulai mencurigai seseorang!" ucap Dicky lirih.


Dimas langsung beringsut mendekati Dicky.


"Siapa Bro??" tanya Dimas kepo.

__ADS_1


"Tapi ini hanya dugaan sementara, kau juga jangan berkoar dibluar sana!" sahut Dicky.


"Siap lah, kau lupa kalau aku ini berjiwa detektif, bakat ku menjadi Intel, bukan dokter gigi!" cetus Dimas.


"Lalu kenapa kau jadi Dokter gigi!" tanya Dicky.


"Dulu aku dendam pada dokter gigi, saat gigiku berlubang semua dan dengan seenaknya dokter gigi mencabut gigiku, mulai saat itu aku bertekad ingin jadi dokter gigi, supaya aku bisa merasakan bagaimana mencabut gigi orang!" jawab Dimas.


Dicky tersenyum kecut, dia kembali teringat Pak Bram yang belakangan ini sedikit mencuri perhatiannya.


"Dim, bantu aku untuk menyelidiki Pak Bram, sejak Ibuku memberikan hak sepenuhnya padaku rumah sakit ini, sikap pak Bram berubah dingin dan aneh, aku tau dia pasti tidak suka padaku, apalagi kini aku sekeluarga sudah pindah ke rumah Ibuku!" ungkap Dicky.


"Hmm, menarik, baiklah, aku akan membantumu menyelidiki orang itu, lagi pula dia itu kan bukan Dokter, tentu saja kau yang lebih berhak mengatur rumah sakit ini dari pada dia!" sahut Dimas.


"Bagus Dim, kau kan hampir sepanjang hari di rumah sakit, jadi kau bisa terus mengintainya, aku takut akan ada korban selanjutnya!" ucap Dicky.


"Memangnya kau yakin kalau Pak Bram itu pelaku yang menaruh zat sianida itu ke dalam minuman mu?" tanya Dimas.


"Aku tidak mau menuduh, tapi ... dia punya alasan kuat melakukan itu!" jawab Dicky.


"Kalau begitu aku akan cari bukti akurat, kita tidak bisa menuduh seseorang tanpa bukti, kau tenang saja Bro!" ujar Dimas.


"Siap Boss!"


Dimas segera melangkah keluar dari ruangan Dicky.


****


Siang itu, Fitri duduk di teras rumah Bu Anjani sambil memangku Alex, dia menunggu kedatangan Dina dan Dara dari sekolah.


Makanan untuk makan siang sudah terhidang di meja makan, namun belum ada satu pun orang yang menyentuhnya.


Sejak jam 10 tadi Bu Anjani sudah keluar dari rumahnya bersama dengan supir pribadinya, karena mendengar kabar dari rumah sakit kalau ada orang yang hendak meracuni Dicky.


Sebagai seorang Ibu, rasa cemas mulai melanda Bu Anjani, apalagi dia baru saja mendapatkan kembali putranya itu, setelah sekian lama sengaja di sembunyikan.

__ADS_1


Di rumah ini, meskipun besar dan bebas tapi Fitri merasa sungkan, entah mengapa, tidak seperti di rumah Dicky yang lama.


Tiba-tiba seorang security datang menghampirinya.


"Selamat siang Nyonya muda, ini ada paket untuk Nyonya muda!" kata security itu sambil menyodorkan sebuah bungkusan kotak sebesar kotak sepatu.


"Siapa yang mengirimkan ini Pak?" tanya Fitri.


"Maaf Nyonya, tidak ada nama pengirimnya, tapi nama dan alamat tujuan jelas!" jawab security itu.


Fitri mengamati bungkusa yang kini ada di tangannya itu, dia teringat di rumah lamanya, banyak paket menumpuk dat ia orang tak di kenal.


"Siapa sih yang mengirimkan paket ini? Masa iya sama dengan yang mengirimkan di rumah lama dulu, kok dia tau ya aku pindah kesini!" gumam Fitri.


Fitri kemudian masuk ke dalam rumah, Alex di letakan nya di dalam box bayinya yang ada di ruangan itu, dia mulai membuka paket itu karena penasaran.


Matanya terbuka lebar saat di lihatnya sepasang sepatu yang sangat indah ada di dalam bungkusan paket itu, ukurannya sama persis dengan sepatu Fitri.


"Itu apa Mbak Fitri?" tanya Bi Sumi yang melihat Fitri membuka sebuah bungkusan.


"Bi, siapa ya yang selalu mengirimkan paket-paket ini? Lalu apa tujuannya? Masa iya Pak Donny yang mengirim ini semua?!" ucap Fitri dengan wajah cemas.


"Wah, kalau Pak Dokter tau, dia pasti akan sangat marah Mbak!" ujar Bi Sumi.


"Aku jadi takut Bi! Seolah-olah orang itu sangat dekat denganku dan tau saja aku berada di mana!" kata Fitri.


"Mbak Fitri tenang saja, selama isi paket itu bukan hal yang membahayakan, nanti Bibi akan Bantu cari tau siapa orang yang mengirimkan ini, sudah jangan cemas!" hibur Bi Sumi.


Fitri menganggukan kepalanya sambil kembali mengangkat Alex dalam gendongannya.


"Bi Sumi, temani aku yuk ke kamar!" ajak Fitri.


"Lho, tidak jadi menunggu Dina dan Dara?" tanya Bu Sumi.


"Biar saja deh Bi, nanti juga mereka akan mencari aku, ada sesuatu yang mau aku ceritakan pada Bibi!" ucap Fitri. Bi Sumi menganggukan kepalanya.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2