Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mencari Anak Yang Hilang


__ADS_3

Pagi-pagi benar, Fitri dan kedua orangtuanya telah bersiap-siap untuk ke lokasi rumah kontrakan Mak Acih.


Mereka akan segera membuktikan, bahwa Tata alias Putri adalah keluarga mereka.


Fitri juga nampak berdebar, tidak pernah terbayangkan sebelumnya kalau dia mempunyai saudara kandung, yang terpisah sejak lahir.


"Fit, suamimu mana? Katanya dia mau ikut kita?" tanya Bu Eni.


"Iya Bu, sebentar aku lihat di kamar, tadi sih waktu aku turun dia belum mandi!" kata Fitri yang langsung bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.


Fitri membulatkan matanya saat di lihatnya Dicky masih tidur berselimut sambil mendengkur.


"Ya ampun ini orang! Kirain sudah mandi, taunya masih tidur!" sungut Fitri yang langsung mengguncang tubuh suaminya itu hingga Dicky kaget dan langsung mengucek matanya.


"Ada apa Fit?" tanya Dicky bingung.


"Ada apa kepalamu!! Sudah jam berapa sekarang Mas? Katanya mau ikut ke tempat si Tata, mau antar aku dan Bapak Ibuku!" sengit Fitri.


"Oh iya ya, maaf Fit, aku lupa! Tadi barusan aku sedang mimpi, kau langsung bangunkan saja! kaget tau!" keluh Dicky yang mulai beranjak bangun dari tidurnya.


Dicky kemudian membuka lemari pakaiannya dan langsung mengambil pakaiannya, kemudian mengganti piyamanya dengan pakaian yang baru di ambil nya tadi.


"Lho Mas, kok kamu tidak mandi??" tanya Fitri bingung.


"Kelamaan Fit kalau mandi! Lagi pula tidak akan ada yang tau kalau aku belum mandi!" sahut Dicky yang kemudian menyisir rambutnya.


"Iiih jorok!! Apa salahnya mandi sebentar biar bersih dan wangi!" sungut Fitri.


"Fit, aku masih wangi tau! Coba saja sini kau cium aku, ayo sini!" tantang Dicky.


Fitri segera maju dan mencium wajah Dicky, benar saja, walaupun dia belum mandi, tapi masih tetap tampan dan wangi.


"Benar kan aku masih wangi? Di luar sana perempuan pasti juga akan terpesona melihat aku walaupun belum mandi!" bisik Dicky sambil mencolek pipi Fitri.


"Ya sudah, ayo cepat turun! Bapak dan Ibu sudah menunggu kita!" ujar Fitri yang langsung keluar dari dalam kamarnya mendahului Dicky.


Di bawah di ruang makan, Pak Karta dan Bu Eni nampak sudah selsai sarapan dan menunggu Fitri dan Dicky turun.


"Bi Sumi, tolong siapkan bekal untuk Dina dan Dara ya Bi, jangan lupa di ingatkan untuk mengecek perlengkapan sekolah mereka!" ujar Fitri saat melewati dapur dekat ruang makan.


"Iya Mbak, tenang saja!" sahut Bu Sumi yang nampak masih sibuk mencuci piring.

__ADS_1


"Ayo Fit, kita berangkat sekarang!" ajak Bu Eni yang terlihat sangat tidak sabar.


"Sebentar dulu lah Bu, mereka kan belum sarapan!" sergah Pak Karta.


"Sarapan kan bisa di jalan, ini perasaan Ibu tidak enak Pak, memangnya Bapak tidak kangen bertemu anak yang sudah lama hilang, dari lahir lagi!" sahut Bu Eni.


"Bu benar Pak, kita jalan sekarang, nanti aku dan Fitri juga bisa beli makanan di jalan untuk sarapan, banyak tukang roti lewat atau makanan yang lain, ayo berangkat!" ucap Dicky sambil meraih kunci mobilnya di gantungan dan berjalan ke arah parkiran depan.


"Mang Salim, tolong antar Dina dan Dara ke sekolah ya, kami mau pergi dulu keluar!" kata Dicky.


"Siap Pak Dokter!" sahut Mang Salim yang terlihat sedang mengelap mobil.


Mereka kemudian langsung berangkat menuju ke lokasi. Alex ikut bersama mereka.


Setelah tiba di lokasi gedung perkantoran, Dicky lalu memarkirkan mobilnya di parkiran perkantoran itu.


Setelah itu mereka berjalan kaki ke kios bunga yang nampak berjejer di jalan itu. Fitri lalu berhenti di kios Bunga Pak tua tempat Tata bekerja.


"Selamat pagi Pak!" sapa Fitri.


"Pagi Mbak, lho, kok bawa rombongan sekarang? Maaf Mbak pesanan bunga yang kemarin itu belum sempat di kirim, harusnya hari ini, tapi sejak subuh si Tata belum datang, jadi telat semua deh nih pesanan!" keluh Pak Tua.


"Kau memesan bunga untuk siapa Fit?" bisik Dicky.


"Jadi si Tata belum datang pak? Ini kan sudah siang?" lanjut Fitri.


"Iya Mbak, saya mau panggil ke rumahnya tapi nih Toko tidak ada yang menjaga!" sahut Pak Tua.


Tanpa bertanya lagi Fitri lalu berjalan cepat ke jalan sempit yang ada di belakang gedung tinggi.


Yang lain mengikuti langkah Fitri.


Mereka terus berjalan hingga sampai di sebuah kontrakan kecil tempat Mak Acih dan Putri tinggal.


Fitri kemudian mengetuk pintu kontrakan itu, beberapa kali mengetuk tidak ada jawaban.


"Buka saja pintunya!" kata Dicky tak sabar.


Pak Karta mendorong pintu itu, ternyata memang tidak di kunci.


Mereka sangat terkejut saat di dapatinya rumah kontrakan itu telah kosong.

__ADS_1


"Ya Tuhan, rumah ini sudah kosong!" seru Fitri.


Wajah Pak Karta dan Bu Eni nampak sedih.


"Pak, anak kita Pak! Si Putri hilang lagi! Huuu ... bagaimana ini Pak!" Bu Eni langsung menangis di tempat.


"Tenang Bu, kita kan bisa mencarinya lagi!' hibur Pak Karta.


Fitri kemudian langsung keluar, menuju ke kios sembako yang ada di dekat rumah itu.


"Bu, maaf mengganggu lagi, itu Mak Acih sama anaknya kok tidak ada ya?" tanya Fitri.


"Mereka sudah pindah Mbak, mendadak pindahnya tadi subuh, saya juga tidak tau mereka pindah kemana!" sahut si Ibu pemilik kios yang kebetulan ada di depan itu.


Seluruh tubuh Fitri langsung lemas. Baru saja kemarin dia melihat Tata dan Mak Acih, sekarang mereka sudah tidak ada lagi, pergi entah kemana.


Bu Eni nampak menangis di pelukan Pak Karta.


"Kalian jangan khawatir, untuk kasus ini, kita bisa laporkan ke polisi!" kata Dicky berusaha menenangkan mereka.


"Mau lapor polisi bagaimana Nak, kita tidak punya bukti apa-apa!" tukas Pak Karta.


"Mereka tidak akan pergi jauh, kemarin pemilik toko bunga bilang kalau Mak Acih itu sakit-sakitan, tidak mungkin orang sakit bisa berjalan atau pergi jauh-jauh!" ujar Fitri tiba-tiba.


"Kau benar Fit, mungkin mereka hanya bersembunyi, dan kita harus berpikir, di mana keberadaan mereka!" timpal Dicky.


"Padahal kita sudah jalan sepagi mungkin, tetap saja keduluan mereka pergi, Putri ... Ibu kangen Nak!" Bu Eni kembali menangis.


"Kurang ajar bidan Acih! Aku tidak akan mengampuninya lagi untuk kali ini!" geram Pak Karta.


Fitri terhenyak seketika, Pak Karta yang biasanya lembut dan sabar, kini wajahnya memerah menyiratkan kemarahan yang amat dalam, mungkin selama ini, Pak Karta memendam dalam hatinya.


Sekarang dia bisa mengungkapkan segalanya, bahkan meluapkan perasaan marahnya.


Mereka kemudian mulai kembali berjalan menuju ke tempat di mana mobil terparkir.


"Fit, sepertinya aku tau cara bagaimana bisa cepat menemukan mereka!" ujar Dicky Tiba-tiba.


"Cepat katakan Mas, bagaimana caranya?!" tanya Fitri tak sabar.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2