Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Nasib Keluarga Bu Romlah


__ADS_3

Fitri berlari-lari ke gerbang rumahnya menunggu Dicky yang baru turun dari mobilnya, wajahnya kelihatan cemas Setelah dia mendengar berita bahwa toko milik Bu Romlah habis terbakar.


Dicky yang baru turun dari mobilnya heran melihat istrinya yang begitu cemas, dia pun mengerutkan keningnya Seraya merangkul istrinya itu dan mengajaknya duduk di depan teras rumahnya.


"Ada apa kau berlari-lari seperti itu sayang, seperti habis melihat hantu saja!" ujar Dicky.


"Pa, sepertinya siang ini kita tidak jadi makan di luar deh, kau sudah lihat berita di TV belum? " tanya Fitri.


"Berita di TV? Kau tahu dari tadi aku di rumah sakit, Aku begitu sibuk, mana sempat menonton TV?" sahut Dicky.


"Pa, kau tahu tidak, kalau tokonya Bu Romlah itu kebakaran? kita tidak tahu bagaimana nasib mereka sekeluarga, kasihan kan, Bagaimana kalau siang ini kita pergi ke sana untuk menjenguk mereka?" tanya Fitri.


"Apa? tokonya Bu Romlah kebakaran? Kasihan sekali mereka, Baiklah kalau begitu kita tunda saja makan di luar, siang ini kita pergi ke lokasi tempat tokonya Bu Romlah kebakaran, tolong titip anak-anak pada Bi Sumi ya!" jawab Dicky.


"Iya Pa, aku mau ngomong dulu sama Bu Sumi, setelah ini kita langsung berangkat ya!" kata Fitri sambil melangkah masuk ke dalam rumahnya dan langsung menemui Bi Sumi yang masih terlihat mencuci piring di dapur.


"Bi Sumi, aku aku dan Mas Dicky mau ke lokasi kebakaran itu, tolong titip anak-anak sebentar ya, minta tolong sama Mbok Jum juga, kami tidak akan lama kok, hanya memastikan Bagaimana keadaan mereka!" kata Fitri.


"Iya mbak, Jangan khawatir, biar anak-anak dititipkan sama saya saja nanti saya dan Mbok Jum akan menjaga Alex dan Alena, Mbak Fitri Pergi Saja Dengan Pak dokter dengan tenang!" jawab Bi Sumi.


Akhirnya siang itu, Dicky dan Fitri meluncur ke lokasi kebakaran di toko milik Bu Romlah.


Polisi sudah nampak mendatangi tempat itu, juga beberapa unit mobil pemadam kebakaran, dan di tempat itu pula sudah banyak berkerumun warga sekitar untuk melihat kejadian kebakaran itu.

__ADS_1


Dicky memarkirkan mobilnya di depan sebuah minimarket yang tidak jauh dari lokasi kebakaran itu, setelah itu Dicky dan Fitri langsung berjalan menuju ke lokasi kebakaran yang kini nampak ramai menjadi tontonan warga sekitar.


"Pa, Bagaimana ya nasib Ibu Romlah dan anak-anaknya? Kenapa tidak ada mereka di sini?" tanya Fitri cemas.


"Tenang Sayang, nanti kita tanyakan pada Pak Polisi, sekarang kita Biarkan saja mobil pemadam kebakaran menyelesaikan tugasnya, aku yakin kok kalau Bu Romlah dan anak-anaknya baik-baik saja!" hibur Dicky sambil membelai rambut Fitri untuk menenangkannya.


Setelah Fitri agak tenang, Dicky kemudian mendatangi seorang polisi yang sedang berdiri tidak jauh dari tempat itu.


"Selamat siang pak, perkenalkan saya dokter Dicky, Bagaimana keadaan pemilik toko ini dan anak-anaknya? apakah mereka baik-baik saja?" tanya Dicky.


"Selamat siang dokter, untuk sementara ini tidak ada korban jiwa, tetapi, salah satu dari anak pemilik toko ini mengalami luka bakar yang cukup parah, saat ini mereka sedang berada di rumah sakit untuk pemeriksaan lebih lanjut." jawab polisi itu.


"Apa? Siapa yang menjadi korban kebakaran ini ini? Dina atau Dara?" tanya Dicky cemas.


"Sepertinya anak yang paling kecil, untuk lebih jelasnya silakan dokter menjenguknya saja ke rumah sakit, lagipula semua barang-barang miliknya sudah hangus terbakar!" kata polisi itu.


Setibanya mereka di rumah sakit, Mereka kemudian langsung berjalan ke ruang UGD, di depan ruangan itu nampak Dina sedang duduk sambil menangis. Dicky dan Fitri langsung mendekatinya.


"Dina, apa yang terjadi pada kalian nak? Bagaimana Emak dan Dara?" tanya Fitri sambil mengelus kepala Dina.


"Emak ada di dalam Ma, Dara kena api tangan dan kakinya karena waktu kebakaran itu Dara sedang ada di kamar mandi, lalu emak menyelamatkan Dara, kaki Emak saja sampai luka, Kasihan ma!" ungkap Dina sambil menangis.


"Kau tenang saja Dina, papa akan berusaha untuk menyembuhkan Emak Dina juga Dara, kan Papa ini dokter, Dina Masih ingat kan?" kata Dicky sambil tersenyum. Dina menganggukkan kepalanya.

__ADS_1


Kemudian Dicky segera masuk ke dalam ruang UGD itu, dia melihat Bu Romlah sedang duduk di sisi tempat tidur Dara sambil menangis, perlahan Dicky mendekati Bu Romlah lalu menepuk lembut punggungnya, Bu Romlah menoleh ke arah Dicky dengan sedikit terkejut.


"Pak Dokter?" pekik Bu Romlah.


"Bu Romlah tenang ya, Dara akan baik-baik saja, untuk masalah kerugian Jangan dipikirkan, yang penting saat ini, kesehatan yang lebih utama! " ucap Dicky.


"Terima kasih Pak dokter, Saya juga tidak menyangka, kenapa tiba-tiba toko saya terbakar, padahal saat itu itu saya tidak sedang memasak atau memakai sesuatu yang berhubungan dengan listrik, tiba-tiba saja sudah banyak asap yang mengepul, dan saya menjadi panik!" ungkap Bu Romlah.


Dara nampak berbaring lemah di tempat tidurnya, dengan jarum infus yang terpasang yang di tangannya dengan luka bakar yang terlihat di area kaki, perut sampai ke tangannya, Dara terlihat amat kesakitan, dalam hati Dicky prihatin dan sedih melihat keadaan Dara.


"Kami akan mengobati Dara semaksimal mungkin Bu, Jadi Ibu tidak perlu khawatir lagi, Kaki Ibu juga terluka dan perlu diobati, biar malam ini Dina menginap saja di rumah kami!" tawar Dicky.


"Terima kasih Pak dokter, saya berhutang banyak pada Pak dokter, juga Bu Fitri Semoga Tuhan membalas kebaikan hati Pak Dokter sekeluarga ya!" ucap Bu Romlah sambil menangis.


"Jangan sungkan Bu, bukankah kita ini keluarga? Dina dan Dara adalah anak asuh saya juga tanggung jawab saya, jadi tidak ada hutang di antara kita!" balas Dicky sambil tersenyum.


Bu Romlah hanya bisa menangis sambil mencium tangan Dicky, tidak ada lagi kata-kata yang bisa dia ucapkan, dalam hati wanita ini bersyukur bisa mengenal seorang dokter Dicky yang sampai hari ini uluran tangannya senantiasa membantu dalam Setiap kesusahan nya.


Dicky kemudian berjalan mendekati seorang dokter jaga yang berada tidak jauh dari tempat itu, kemudian dia tersenyum kepada dokter jaga itu. kebetulan rumah sakit ini ini bukan Rumah Sakit milik Dicky.


"Selamat siang dokter, Aku titip kedua orang itu itu untuk kau rawat dengan baik sampai sembuh, Kau tidak perlu menagih apapun pada mereka, semuanya biaya pengobatan aku yang tanggung! " ujar Dicky.


"Baik dokter, aku mengenalmu, kau memang luar biasa!" jawab dokter itu sambil menepuk bahu Dicky.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2