
Hari sudah beranjak sore menjelang Magrib, setelah puas bernostalgia dengan Bu Nuri dan anak-anak panti, Dicky berniat pamit pulang kembali ke Jakarta.
"Apa kalian tidak menginap saja di sini?" tanya Bu Nuri yang terlihat berat melepaskan mereka.
"Maaf Bu, lain kali kami akan sering berkunjung ke sini, kalau kami menginap, takutnya besoknya kecapean, karena hari Senin kami sudah kembali bekerja!" jawab Dicky.
"Baiklah, di sini kau selalu di rindukan oleh adik-adikmu Dicky!" ucap Bu Nuri.
"Terimakasih Bu, ini ada sedikit rejeki, terimalah Bu, semoga bisa bermanfaat buat kebutuhan adik-adik!" Dicky menyodorkan sebuah amplop coklat ke tangan Bu Nuri.
"Lho, bulan ini kan kau sudah transfer Dicky, pakai saja untuk keperluanmu dan istrimu!" tolak Bu Nuri sungkan.
"Tidak Bu, kami masih cukup, aku hanya minta doa Ibu selalu menyertai aku!" ucap Dicky.
Bu Nuri langsung memeluk Dicky.
"Terimakasih Dicky, kau adalah malaikat yang di kirim Tuhan ke panti ini, tentu saja ibu akan selalu mendoakan mu!" ujar Bu Nuri dengan mata berkaca-kaca.
"Terimakasih Bu, aku pamit ya!" ucap Dicky.
"Iya Nak, hati-hati kalian!" sahut Bu Nuri.
"Ibu, aku juga pamit, Trimakasih telah merawat suamiku dan memberikannya kasih sayang sejak kecil!" ucap Fitri sambil mencium tangan Bu Nuri.
"Iya Nak, semoga kalian bisa cepat dapat momongan, supaya lengkap hidup kalian!" kata Bu Nuri.
"Amin, terimakasih Bu!" sahut Dicky yang langsung menggandeng Fitri untuk naik ke dalam mobilnya.
Lambaian tangan Bu Nuri dan para anak-anak panti asuhan itu mengiringi kepergian Dicky.
Dicky terus melajukan mobilnya hingga dia sampai di jalan raya, hari sudah benar-benar gelap dan beranjak malam.
Mereka terus menyusuri jalanan menurun, karena panti asuhan itu terletak di dekat puncak gunung.
Baru beberapa saat lamanya mereka berjalan, di depan nampak mobil-mobil mulai melambatkan jalannya, ternyata jalan itu macet, karena hari libur banyak sekali para wisatawan yang berlibur kepuncak dan kini pulang kembali ke Jakarta.
"Yah Mas, kita kena macet!" seru Fitri.
"Iya Fit, sabar ya, banyak orang yang turun gunung mau pulang ke jakarta!" sahut Dicky.
"Mas Dicky, aku ingin pipis!" ucap Fitri lirih.
__ADS_1
"Pipis? Tapi di sini tidak ada toilet Fit, di depan sana baru ada!" sahut Dicky.
"Aduh Mas, bagaimana ini, aku kebelet Mas!" keluh Fitri sambil memegangi perut bagian bawahnya.
"Fit, aku perhatikan kok sejak tadi kamu pipis terus? Apa kau terlalu banyak minum air putih?" tanya Dicky sambil mencari-cari sesuatu untuk menampung pipis Fitri, karena tidak mungkin dia pipis di jalanan.
"Entahlah Mas, aku juga bingung, padahal aku minum biasa saja!" sahut Fitri.
Akhirnya Dicky menemukan kantong plastik yang cukup besar untuk menampung pipis Fitri.
"Fit, tidak ada cara lain, kau pipis lah di sini, nanti setelah itu di ikat dan di buang keluar!" usul Dicky.
"Tapi Mas ..." Fitri nampak ragu-ragu.
"Tidak ada cara lain Fit, lagi pula tidak akan ada orang yang melihatmu, hanya aku, suamimu!" ucap Dicky.
Akhirnya Fitri mulai membuka pakaian dalamnya, lalu mulai pipis di kantong plastik itu, dia terlihat risih dan malu di hadapan Dicky.
"Sudah Mas!" kata Fitri yang terlihat mengikat kantong plastik itu, kemudian membuangnya keluar lewat jendela kaca mobilnya.
Pada saat Fitri hendak kembali mengenakan pakaian dalamnya, tiba-tiba Dicky menahan tangannya.
Kemudian Dicky mulai mengeluarkan tissue basah, lalu membersihkan milik Fitri.
Darah Fitri berdesir seketika saat Dicky menyentuh bagian yang membuatnya bergetar luar biasa.
Fitri berusaha menahannya sekuat mungkin agar suaranya tidak keluar dari mulutnya.
"Nah, sudah bersih Fit, kau boleh memakai lagi pakaian dalam mu!" ujar Dicky.
"Ba-baik Mas, terimakasih!" ucap Fitri lirih.
Kemudian dengan cepat, Fitri kembali mengenakan pakaian dalamnya.
"Kalau kau lapar, bilang saja ya Fit, nanti kita akan melipir ke kedai atau rumah makan yang menjual makanan!" ucap Dicky.
"Iya Mas!" sahut Fitri.
Mobil itu terus bergerak tersendat, hingga tak sadar waktu sudah menunjukan pukul sepuluh malam, udara dingin dari AC mobil mulai terasa sangat dingin, karena cuaca di luar sudah mulai dingin karena mereka masih berada di area puncak.
Beberapa kali Dicky menguap karena menahan rasa kantuknya, apalagi seharian ini Dicky banyak kegiatan dengan anak-anak panti yang membuatnya nampak kelelahan.
__ADS_1
"Mas Dicky istirahat dulu kalau capek, jangan di paksa Mas, kita berhenti dulu!" kata Fitri yang mulai cemas melihat kondisi suaminya itu.
"Tidak apa-apa Fit, aku hanya sedikit mengantuk, mungkin karena macet sepanjang jalan membuatku agak jenuh!" jawab Dicky.
"Mas, apa yang bisa kulakukan untuk membantumu?" tanya Fitri.
"Fit, bisakah kau mengambil minyak kayu putih di dalam tasku, lalu kau pijit sedikit leherku?" tanya Dicky balik.
Dengan cepat Fitri mengambil sebotol kecil minyak kayu putih, lalu dia mulai pindah ke posisi belakang kemudi dan mulai memijiti kepala dan leher Dicky.
"Bagaimana Mas?"
"Sudah enakan sayang, mungkin aku sedikit masuk angin!" jawab Dicky.
Fitri lalu mengeluarkan obat masuk angin yang selalu dia bawa di dalam tasnya, kemudian membukanya, lalu mulai menyodorkannya pada Dicky.
"Minumlah Mas!" ucap Fitri.
Dicky kemudian meminum obat masuk angin itu.
"Terimakasih ya Fit!" ucap Dicky.
"Sama-sama Mas!" balas Fitri.
Kini mobil mereka sudah bisa berjalan lebih cepat walaupun masih padat merayap.
pada saat mereka sudah berada di bawah kaki gunung, Dicky lalu berhenti sebentar dan kemudian memarkirkan mobilnya masuk ke dalam sebuah hotel.
Fitri terlihat kaget dan heran.
"Lho Mas, kok kita malah ke sini, ini jalanan sudah mulai lancar lho!" sergah Fitri.
"Fit, kita pulang besok pagi ya?" tanya Dicky. Fitri melotot heran.
"Tapi kenapa? Kan jalannya sudah tidak terlalu macet lagi, paling dua jam kita sudah sampai rumah!" ujar Fitri.
"Anu Fit, aku ... aku sedang ingin melakukan pelepasan, rasanya sesak sekali sedari tadi, itulah kenapa tadi aku agak pusing dan sedikit mengantuk!" ucap Dicky sambil menggenggam tangan Fitri.
Perlahan Fitri menoleh ke arah bawah, benar saja, sudah ada sesuatu yang berdiri tegak di sana, seperti gunung api yang siap menumpahkan larvanya.
****
__ADS_1