Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Dua Tahun Kemudian


__ADS_3

Alex berlari-lari kecil menghindar dari kejaran Bi Sumi yang terlihat kelelahan mengejarnya.


Sementara Alex tertawa senang melihat Bi Sumi yang nafasnya tersengal-sengal dan kini terduduk di bangku kolam renang.


"Aduh Alex, encok deh pinggang Bibi kalau begini terus! Ayo cepat habiskan makanannya!" sergah Bi Sumi.


"Bibi kejar aku dulu, ayo kejar Bi, kalau bisa tangkap aku Bibi hebat!" seru Alex sambil tertawa.


Dari jauh Fitri berjalan mendekati mereka sambil menggendong Alena, adik Alex.


"Alex, ayo cepat di habiskan sarapanmu, ini hari pertama mu masuk sekolah lho!" ujar Fitri memperingatkan.


"Yeaaay!! Sekolah! Aku sudah sekolah!" teriak Alex bersemangat.


Dengan riang anak itu berlari kembali masuk ke dalam rumahnya.


Dicky nampak sedang sarapan di meja makan, Alex dengan cepat duduk di samping Dicky.


"Papa ayo jalan!" ajak Alex.


"Lho, sarapannya sudah habis belum?" tanya Dicky.


"Belum hehehe!" Alex tertawa menyeringai, wajahnya nampak menggemaskan.


Bi Sumi masuk sambil menyodorkan piring makan Alex yang tidak habis tadi.


"Nih, Alex makan sendiri ya, kasih tau Papa kalau Alex sudah pintar makan sendiri!" ujar Bi Sumi.


Alex kemudian mulai menghabiskan makanannya sendiri sampai habis tak tersisa.


"Hmm, giliran depan Papa saja, langsung deh!" celetuk Fitri yang langsung duduk bergabung itu.


"Ma, nanti sore jadi, Ibu dan Bapak pulang ke sini?" tanya Dicky.


"Jadi dong Pa, aku sudah bilang sama Bi Sumi dan Mbok Jum untuk memasak makanan spesial hari ini, karena kita akan kedatangan tamu istimewa!" jawab Fitri.


"Baiklah, nanti Papa akan pulang lebih awal hari ini, karena keluarga besar dari Jogjakarta akan datang, pokoknya malam ini kita makan enak!" seru Dicky.


"Asyiikk! Aku ketemu sama dek Reino dong! Bisa main mobil-mobilan sepuasnya!" seloroh Alex.


Dicky dan tertawa melihat tingkah polah anak sulungnya itu.


"Ayo ayo, sudah siang, kita berangkat sekarang yuk! Asyik kan Kakak Alex di antar Mama, Papa dan Dek Alena!" ucap Fitri sambil berdiri dari tempatnya.

__ADS_1


Hari ini hari pertama Alex sekolah, dia mulai masuk ke taman bermain di sebuah sekolah taman kanak-kanak yang tidak terlalu jauh dari rumahnya.


Sejak Bu Eni menjalani pengobatan, kesehatannya sudah mulai membaik, kini dia tidak lagi duduk di kursi rodanya.


Setahun yang lalu Bu Eni dan Pak Karta memutuskan untuk tinggal di Jogjakarta menemani Donny dan Anita yang akan melahirkan.


Fitri melahirkan seorang bayi perempuan yang cantik, Dicky memberinya nama Alena Pradita.


Selang beberapa hari kemudian, Anita melahirkan seorang bayi laki-laki yang di beri nama Reino Suhardi.


Donny memutuskan untuk menetap di Jogjakarta, dia membuka sebuah lembaga kursus bimbingan belajar di rumahnya, dan kini lembaga itu maju dan berkembang serta memiliki banyak cabang.


Kehidupan perekonomian mereka juga maju pesat, hingga mereka membeli sebidang tanah dan di atas tanah itu di bangun sebuah pusat lembaga kursus terbesar di Jogjakarta.


Bu Eni kini juga sudah berubah, menjadi ibu dan mertua yang bijak, sayang terhadap para cucu dan menantunya.


*****


Sebuah mobil minibus sudah terparkir di depan rumah Dicky, Bu Eni dan Pak Karta nampak turun dari mobil perlahan, di susul oleh Donny dan anita yang nampak sedang menggendong Reino, putra mereka.


"Ibu! Bapak!" Fitri berlari menyambut kedua orang tuanya itu sambil menyalami tangan mereka dan memeluk mereka.


"Fitri! Ibu kangen Nak! Mana cucu Ibu? Kangen pingin pekuk dan cium!" ujar Bu Eni.


Alex dan Alena muncul dari balik pintu depan, mereka masih nampak malu-malu menyambut Kakek Neneknya juga Om dan Tantenya.


"Hei, kenapa kalian semua ada di luar? Ayo masuk! Kita ngobrol di dalam!" ajak Dicky yang baru datang dari rumah sakit, karena jalanan yang begitu macet.


Mereka semua kemudian masuk dan duduk mengobrol di ruang keluarga.


Dalam waktu singkat, anak-anak sudah nampak akrab dan akur, mereka bermain bersama di ruang bermain.


Bi Sumi dan Mbok Jum datang membawa nampan yang berisi aneka minuman dan makanan ringan. Kemudian mulai meletakan makanan ringan dan minuman itu di atas meja besar ruang keluarga itu.


"Kalian menginap saja yang lama di sini, banyak kamar kosong dan anak-anak pasti senang!" kata Fitri.


"Maunya sih gitu Fit, tapi Ayahnya Reino kan musti mengawasi cabang, apalagi tahun ajaran baru sekarang, banyak murid yang mendaftar kursus!" ujar Anita.


"Aku senang mendengarnya, Pak Donny benar-benar maju sekarang, bukan lagi kerja sama orang, bahkan membuka lapangan kerja buat banyak orang!" puji Fitri.


"Kau bisa saja Fit, Dokter Dicky lebih hebat lagi, aku lihat di media sosial, rumah sakitnya bahkan memiliki sertifikat internasional, pelayanan terbaik di negri ini, sebagai ipar, aku turut bangga!" ucap Donny.


"Ah, dasar kampret! Kau selalu saja membuatku besar kepala!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Sudah sudah! Pokoknya menantunya Ibu dan Bapak orang-orang hebat, kami bangga pada kalian semua!" timpal Bu Eni.


Tiba-tiba Reino berlari ke arah Donny dan Anita.


"Ayah ayah! Aku mau pipis!" kata Reino sambil mengepitkan kedua kakinya, sepertinya sudah tidak tahan.


"Sini sama Bunda saja ya, Ayah sedang ngobrol, ayo Nak!" Anita lalu menuntun Reino menuju ke kamar mandi.


"Eh, Pret, kau tidak mau tambah momongan lagi?" bisik Dicky yang duduk di sebelah Donny.


"Tanpa kau suruh juga aku akan tambah momongan lah, Anita sedang hamil tiga bulan!" sahut Donny.


"Wah! Selamat Pret! Fit, kau tidak ada rencana untuk menbuat adiknya Alena, nanti aku di kalahkan sama kampret!" ujar Dicky sambil menoleh ke arah Fitri.


Pak Karta dan Bu Eni hanya bisa tertawa geli mendengar obrolan mereka.


"Hush! Papa ah!" sergah Fitri tersipu.


Mbok Jum datang menghampiri mereka yang masih asyik mengobrol.


"Makanan sudah siap di meja makan, bisa langsung di makan mumoung masih hangat!" tawar Mbok Jum.


"Ayo langsung makan! Kalian pasti lapar kan habis menempuh perjalanan jauh!" ajak Fitri.


Mereka kemudian beranjak menuju ke ruang makan.


Tiba-tiba Dicky menarik tangan Fitri.


"Ma, coba kau lihat ini!" Dicky menunjukan ponselnya pada Fitri.


"Apa itu Pa? Undangan pernikahan?" tanya Fitri.


"Iya, Ken dan Dinda akan menikah akhir bulan ini, akhirnya ya, mereka jadi menikah juga!" Ujar Dicky.


Mereka kemudian duduk di ruang makan menghadap meja makan besar dengan aneka hidangan yang aromanya tercium sangat nikmat.


Bersambung ....


****


Hai guys ...


Bagi yang bosan dengan genre roman picisan, author buat novel bergenre horor yang berjudul "Lelaki Bayangan"

__ADS_1


Yuk kepoin...


Trimakasih atas dukunganya pada Author 🥰💖


__ADS_2