
Dicky amat terkesima melihat isi kotak pemberian dari Bu Anjani itu.
Sebuah gelang kaki yang terbuat dari emas murni, dengan sebuah berlian yang terukir indah, persis dengan gelang kaki miliknya saat dia bayi dulu, waktu di temukan oleh Bu Nuri.
"Mas Dicky kenapa?" tanya Fitri cemas karena melihat perubahan pada wajah Dicky.
"Oke Dicky, Fitri, sepertinya aku harus pamit pulang, sekali lagi selamat ya atas kelahiran baby tampan ini!" pamit Adi sambil mengelus pipi bayi mungil yang ada dalam box kaca itu.
"Iya Di, aduh mohon maaf nih kalau sambutannya kurang meriah!" kata Dicky.
"Santai Dic, lain waktu aku akan mengunjungimu lagi!" ucap Adi sambil melangkah keluar dengan melambaikan tangannya.
Dicky kembali memandang isi kotak perhiasan itu.
"Ini gelang yang desainnya sama persis dengan milikku saat bayi dulu, hanya bedanya, yang ini tidak ada namanya!" ujar Dicky.
"Masa sih Mas??" tanya Fitri.
"Benar Fit, perasaanku jadi semakin tidak enak ini, seperti ada misteri yang terselubung, sebenarnya Bu Anjani itu siapa sih? Apa dia ada hubungannya dengan masa laluku?" gumam Dicky.
"Mas Dicky, kenapa kau tidak menanyakannya langsung pada Bu Anjani?" tanya Fitri.
"Aku ... aku selalu berdebar jika dekat dengan beliau, apalagi jika aku harus berbicara padanya!" jawab Dicky.
"Kau ini Mas, kayak mau ketemu pacar saja pakai berdebar segala!" cetus Fitri.
"Lagi pula, aku bingung mau menanyakan apa, aku tidak punya bukti dan alasan yang kuat!" ujar Dicky.
"Bawa saja segala barang-barangmu saat kau bayi dulu ke hadapan Bu Anjani, tanyakan padanya apakah dia ada hubungannya dengan masa lalu mu? Atau dia tau keberadaan orang tua kandungmu? Atau jangan-jangan Bu Anjani itu adalah Ibumu Mas?" tebak Fitri.
"Tidak Fit, aku tidak berani berpikir apa-apa!"
"Mas Dicky harus menyelidiki dulu latar belakang dan anda lalu Bu Anjani, dari situ baru bisa mengambil kesimpulan, cari tau apakah dia pernah menaruh anaknya di panti atau anaknya pernah di culik atau apakah dia tau sesuatu tentangmu?" ungkap Fitri panjang lebar.
"Iya Fit, untuk sementara gelang ini ku simpan dulu, kita fokus dulu pada bayi kita yang baru lahir, dia tidak boleh mengalami apa yang pernah ku alami dulu, di tinggalkan dalam kesepian!" ucap Dicky.
__ADS_1
Oweeeek! Oweeeek
Baby Alex kembali menangis.
Dicky dengan cepat mengangkat bayi mungilnya itu dalam gendongannya.
"Cup cup cup anak Papa kenapa? haus ya sayang? Mau susu Mama?" Dicky mengajak bayinya itu bicara
Bayi itu terdiam setelah Dicky menggendongnya, seolah mengerti apa yang di ucapkan Papa nya itu.
"Sini Mas, berikan padaku, mungkin Baby Al mau menyusu!" ujar Fitri.
Perlahan Dicky mendekati Fitri dan menyerahkan Alex dalam gendongan Fitri.
"Tuh lihat Mas, mukanya persis sepertimu, tapi lebih ganteng anaknya sih!" kata Fitri sambil memandang lekat pada bayi mungil yang masih kemerahan itu.
"Iya iya, Papanya ngalah deh, gantengan anaknya, yang penting Papanya masih di sayang dan selalu mendapat jatah tepat waktu!" sahut Dicky.
"Tapi berapa bulan ke depan kau tidak di beri jatah ya, kau harus tahan Mas, puasa dulu!" celetuk Fitri.
****
Di sebuah rumah mewah nan megah, seorang wanita anggun sedang duduk termenung di sebuah teras rumah besarnya yang luas itu. Dia adalah Ibu Anjani, pemilik rumah sakit besar yang ada di kota Jakarta.
Seorang wanita yang terlihat sepuh datang menghampirinya dengan membawa sebuah minuman di nampan yang di pegangnya.
"Di minum dulu wedang jahenya Nyonya!" ujar Mbok Jum, pelayan setia Ibu Anjani yang sudah bekerja dengannya selama puluhan tahun.
"Terimakasih Mbok!" ucap Bu Anjani sambil meminum minumannya itu.
"Belakangan Nyonya selalu melamun, apa yang sedang Nyonya pikirkan?" tanya Mbok Jum.
"Aku rindu putraku Mbok, sangat rindu, tapi apa yang harus aku lakukan? Seandainya Mas Rahmat masih ada, tentunya aku tak akan segalau ini!" ungkap Bu Anjani.
"Mungkin sudah waktunya Nyonya, sudah waktunya Nyonya kembali mengambil anak itu, dia adalah milik Nyonya, peninggalan dari Tuan Rahmat satu-satunya!" ucap Mbok Jum.
__ADS_1
"Tapi aku takut Mbok!" tukas Bu Anjani.
"Apa yang Nyonya takutkan?" tanya Mbok Jum.
"Aku takut anak itu akan membenci aku, akan menganggap kalau aku adalah Ibu yang tak bertanggung jawab, aku takut dia tidak bisa menerima keberadaanku, aku takut Mbok!" Bu Anjani mulai menangis.
Mbok Jum kemudian duduk di samping Bu Anjani.
"Dia tidak akan seperti itu, bukankah kata Nyonya dia sangat baik dan santun? Dia begitu tenang dan berwibawa!" ucap Mbok Jum.
"Selama ini , hanya aku dan Mbok Jum yang tau rahasia dan kebenaran tentang keluargaku, dan aku juga tidak tau sampai kapan rahasia ini akan terus berlangsung, sementara aku sendiri tidak sanggup menahan rindu!" Isak Bu Anjani.
"Katakan saja terus terang Nyonya, lagi pula, ada begitu banyak peninggalan Tuan Rahmat untuknya, mau sampai kapan Nyonya akan bertahan menjaga rahasia ini, dia sudah dewasa Nyonya!" ucap Mbok Jum.
"Kau benar Mbok, selama ini aku juga sudah lelah mengikuti perkembangannya, mulai dari dia kecil, remaja, dan kini menjadi laki-laki yang tampan dan berhasil, aku sangat ingin memeluknya dan mengatakan kalau aku sangat menyayanginya!" Air mata Bu Anjani semakin deras mengalir.
Mbok Jum, pelayan yang setia itu laku mulai memeluk majikannya itu dengan erat sambil menepuk halus pundaknya.
Hanya Mbok Jum yang paling mengerti perasaan wanita yang kini ada di hadapannya itu, wanita yang selalu tertutup dan tersembunyi, wanita yang tidak mau di publikasikan, wanita yang menyimpan segudang duka dalam hatinya.
"Nyonya sangat baik, tidak mungkin dia akan menolak Nyonya!" tukas Mbok Jum.
"Tapi aku telah membuangnya Mbok! Walaupun aku punya seribu alasan untuk melakukan itu, tetap saja dia akan berpikir bahwa aku telah menelantarkannya!" ucap Bu Anjani dengan suara bergetar.
"Saya akan membantu Nyonya!' kata Mbok Jum.
"Apa yang akan kau lakukan Mbok?" tanya Bu Anjani.
"Saya akan datang padanya dan menjelaskan semua rahasia ini, juga alasan Nyonya menitipkan dia di panti itu, saya yakin dia akan dapat memahami posisi Nyonya!" jawab Mbok Jum.
"Baiklah Mbok, tapi aku mohon jangan sekarang, dia baru saja merayakan hari kebahagiaannya, tidak terasa kini aku sudah memiliki cucu darinya!" ucap Bu Anjani.
"Baik Nyonya, Nyonya tenang saja!" sahut Mbok Jum sambil tersenyum.
Bersambung ...
__ADS_1
****