
Fitri terkejut melihat siapa orang yang menunggunya di ruang tamu, seseorang yang tidak pernah dia duga sebelumnya.
"Bu Romlah??" tanya Fitri terkejut.
"Selamat siang Bu Fitri, maaf Bu, saya terpaksa datang kesini, saya butuh uang Bu, buat modal usaha, sekarang di kampung sawah sudah di buat perumahan, petani banyak yang nganggur, saya jadi bingung Bu!" ungkap Bu Romlah tanpa basa basi.
"Dari mana Bu Romlah tau rumah kami?" tanya Fitri.
"Tadi saya tanya ke sekolah Bu, lalu di kasih tau alamat ini deh, dengar-dengar Pak Dokter kecelakaan, saya turut prihatin ya Bu!" jawab Bu Romlah.
Dara yang baru keluar kamar langsung berlari memeluk Bu Romlah.
"Emak!" panggil Dara.
"Dara? Ini Dara anak Emak kan? Kok jadi berubah begini? Kamu jadi kayak anak orang kaya, bajunya bagus, rambutnya wangi!" seru Bu Romlah takjub.
"Dara di sini di rawat dengan baik Bu, makanya Bu Romlah jangan khawatir!" ujar Fitri.
"Ya sudah, saya tenang kalau begitu, jadi gimana Bu Fitri? Apakah Bu Fitri bisa bantu saya? Saya butuh modal buat buka warung bakso, tidak banyak kok, 50 juta saja, nanti saya cicil bayarnya!" kata Bu Romlah.
"Hmm, maaf Bu Romlah, kalau untuk hal itu, saya harus tanya dulu dengan suami saya, karena 50 juta itu bukan uang sedikit!" ujar Fitri.
"Saya lihat rumah kalian bagus, luas, pasti uangnya juga banyak dong, masa saya hanya pinjam 50 juta saja begitu berat?" tanya Bu Romlah.
"Sebentar ya Bu, saya tanya dulu sama Mas Dicky!" Fitri kemudian beranjak menuju ke kamarnya.
Dicky nampak duduk di tepi ranjangnya, rupanya dia sudah terbangun dari tidurnya.
"Siapa yang datang Fit?" tanya Dicky.
"Itu Mas, Bu Romlah, Emaknya Dara!" jawab Fitri.
"Bu Romlah? Apakah dia mau mengambil Dara kembali?" tanya Dicky.
"Bukan Mas, dia datang ke sini mau pinjam uang, katanya sih buat modal usaha, dia pinjam 50 juta, bagaimana Mas? Aku bingung menghadapi dia!" jawab Fitri.
"Uang yang waktu itu aku kasih sudah habis? Cepat sekali ..." gumam Dicky.
"Entahlah Mas, sekarang dia masih di bawah menunggu keputusan kita!" kata Fitri.
"Bawa aku ke sana Fit, aku perlu bicara padanya!" ujar Dicky.
Fitri lalu membantu Dicky untuk naik ke kursi rodanya. Kemudian mendorongnya ke ruang tamu.
Bu Romlah masih menunggu di sana.
__ADS_1
"Selamat siang Bu Romlah, dengar-dengar mau buka usaha nih, kalau boleh, Bu Romlah tulis di kertas, apa-apa saja yang perlu di beli, biar saya beli langsung barangnya lewat online, jadi Bu Romlah bisa langsung buka usaha!" ujar Dicky.
"Yah Pak Dokter tidak percaya memangnya?" tanya Bu Romlah.
"Bukan tidak percaya Bu, katanya Bu Romlah mau buka warung bakso, tinggal tulis saja apa yang di butuhkan, kan malah enak Bu!" sahut Dicky.
"Sudah kasih mentahnya dulu Pak! Baru saya belikan barang!" tawar Bu Romlah.
"Maaf Bu, bukan saya tidak mau kasih, tapi mental kita harus tepat Bu, kalau memang Bu Romlah mau buka warung bakso, saya akan berikan langsung dengan menyiapkan barang dan bahan yang di perlukan, sama saja kan Bu!" jelas Dicky.
"Sudahlah Pak! Saya tidak jadi pinjam modal kalau caranya begitu, permisi, selamat siang!" Bu Romlah langsung berdiri dan melangkah keluar dari rumah itu.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Papa! Emak mau kemana?" tanya Dara yang melihat Emaknya pergi begitu saja.
"Dara main di kamar dulu ya, atau kerjakan PR nya! Emak tidak apa-apa kok!" ucap Fitri sambil mengusap rambut Dara.
Dara menganggukan kepalanya sambil berjalan menuju ke kamarnya.
"Aneh Bu Romlah, aku jadi kurang yakin kalau dia benar-benar pulang kampung!" ujar Dicky.
"Aku juga tak habis pikir Mas, katanya dia mau buka usaha, tapi tidak mau di belikan barang!" timpal Fitri.
"Kita harus lebih berhati-hati Fit, bisa jadi dia bisa memanfaatkan kita untuk meraih keuntungan!" ujar Dicky.
Mata Dicky mengarah pada perut Fitri yang kini terlihat membuncit itu.
Kemudian perlahan tangannya mengusap perut Fitri, ada gerakan-gerakan halus yang di rasakan nya.
"Kau baik-baik di sana ya dek!" bisik Dicky sambil mencium perut Fitri.
"Kata Dokter Mia, kelahiran ini kemungkinan besar melalui operasi Caesar, padahal aku sangat ingin merasakan melahirkan normal!" ungkap Fitri.
"Berapa bulan lagi bayi kita lahir ya?" tanya Dicky.
"Sekitar tiga bulanan lagi mas!" jawab. Fitri.
"Hmm, belum dua tahun sih dengan yang pertama dulu, tapi kalau kondisi memungkinkan, kau bisa saja melahirkan normal Fit!" ujar Dicky.
"Dari mana kau bisa yakin?" tanya Fitri.
"Kau lupa kalau suamimu ini seorang Dokter?" Dicky mencubit pipi Fitri.
"Tapi kan kau Dokter anak Mas!" tukas Fitri.
__ADS_1
"Tapi aku juga pernah belajar tentang kandungan, kau tenang saja Fit, aku akan terus memantau mu, percayalah padaku!" ucap Dicky.
Fitri tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.
Bu Eni lalu muncul dari arah dapur.
"Maaf Fitri, tadi tidak sengaja ibu mencuri dengar pembicaraanmu dengan tamu tadi, dia itu ibunya si Dara ya? Hati-hati Fit, kalian bisa di manfaatkan, apalagi si Dara bersama kalian!" kata Bu Eni.
"Iya Bu, Ibu tenang saja!" sahut Fitri.
"Ya sudah, kalian istirahat lagi deh, mantu ganteng, Ibu baru buatin bubur kacang hijau lho, mau ya Ibu ambilkan?" tawar Bu Eni.
"Terimakasih Bu, boleh saja Bu!" jawab Dicky.
"Lho, aku tidak di tawari Bu?" protes Fitri.
"Kalian makan semangkok berdua saja! Biar lebih romantis!" cetus Bu Eni sambil beranjak ke arah dapur.
Fitri dan Dicky tertawa dan saling menatap satu sama lain.
"Maafin Ibu ya Mas!" ucap Fitri.
"Sudahlah Fit, bersyukur saja kalau kita masih mempunyai orang tua, bagaimanapun dia, Ah ... aku jadi kangen sama Bu Nuri!" gumam Dicky.
"Bu Nuri? Ibu panti?" tanya Fitri.
"Iya Fit, Bu Nuri, malaikat tanpa sayap yang di siapkan Tuhan untukku!" jawab Dicky.
"Nanti kapan-kapan sebelum lahiran, kita boleh mengunjungi beliau Mas, dia pasti senang, apalagi sebentar lagi Mas Dicky ku akan punya bayi!" ucap Fitri.
Drrtt ... Drrt ... Drrt
Ponsel Dicky bergetar, di layarnya ada gambar Dimas, Dicky langsung mengusap layar ponselnya itu.
"Halo Dim!! Kau mengganggu momen aku berdua dengan istriku saja! Menyebalkan!" sungut Dicky.
"Sorry Bro! Kapan kau kontrol ke rumah sakit lagi, soal kakimu itu?" tanya Dimas.
"Mungkin besok Dim! Kenapa?"
"Aku sudah dapat cctv soal mobilmu itu bro! Besok kau bisa melihatnya!" ujar Dimas.
"Apa?? Jadi benar ada yang sengaja mencelakai ku Dim??" tanya Dicky.
"Sudah kau jangan cemas, besok saja kau lihat sendiri!" jawab Dimas sebelum mematikan ponselnya.
__ADS_1
Bersambung ...
****