
Seorang wanita duduk di kursi ruangan besar itu, wajahnya terlihat sendu, ada kesedihan yang dalam dari pancaran bola matanya.
Dicky dan Fitri yang baru masuk ke ruangan itu terpana melihat wanita itu yang adalah Bu Anjani berpenampilan berbeda dari biasanya.
Biasanya Bu Anjani selalu tampil menawan dan elegan, dengan pakaian yang terlihat mahal dan berkelas, juga tatanan rambut bak putri keraton.
Namun kali ini penampilannya sungguh berbeda, Bu Anjani hanya mengenakan daster batik biasa, dengan rambut yang terurai lurus ke bawah.
Wajahnya juga nampak natural dan tanpa polesan apapun, tapi tetap saja aura kecantikannya tidak pudar walau di makan usia.
"Nyonya, benar kan ucapan saya, dia pasti datang Nyonya!" ucap Mbok Jum.
"Kalian duduk saja di sini, nanti asisten yang lain akan membawakan minuman ke sini!" kata Mbok Jum sambil menoleh ke arah Dicky dan Fitri yang masih berdiri.
Perlahan Fitri membimbing tangan Dicky untuk duduk di sofa itu, di hadapan Bu Anjani.
Ada rasa canggung di antara mereka. Membuat mereka saling diam dan tanpa bicara untuk sesaat lamanya.
Dicky sangat bingung ingin memulai pembicaraan dari mana, sesungguhnya hatinya sangat gelisah dan gundah, belum pernah rasanya dia se berdebar ini sebelumnya.
"Mas, katakanlah sesuatu!" bisik Fitri.
Dicky diam saja, keringat dingin mulai kembali membasahi wajahnya.
"Terimakasih kalian mau datang ke sini!" ucap Bu Anjani.
"Terimakasih juga atas perlakuan anda terhadap saya selama ini, memberikan saya banyak fasilitas dan merayakan kelahiran putra saya!" ucap Dicky dengan suara bergetar.
"Semua itu tidak ada artinya, selain melihatmu bertumbuh menjadi pribadi yang baik, melihatmu selalu tersenyum dan di sukai banyak orang, bahkan menjadi yang terbaik dari semua yang terbaik!" ungkap Bu Anjani.
Beberapa orang pelayan berseragam mulai membawa aneka minuman dan aneka kue-kue di meja itu.
"Bu Anjani, ceritakan pada saya, mengapa anda dulu menyuruh orang meletakan putra anda di depan panti asuhan? Mengapa anda tidak berjuang untuk merawat dan membesarkan putra anda sendiri?" tanya Dicky dengan mata yang mulai memerah.
__ADS_1
Fitri menggenggam tangan Dicky seolah memberikan kekuatan dan dukungan penuh.
"Kau sungguh ingin mendengar ceritaku?" tanya Bu Anjani balik, Dicky menganggukan kepalanya.
"Baiklah, aku akan menceritakan sebuah kisah padamu, kisah di mana seorang gadis desa di pinang oleh seorang pria yang telah memiliki istri! Pria baik yang sangat ingin memiliki keturunan untuk mewarisi semua kekayaannya di masa mendatang!" kenang Bu Anjani.
#Flash back on#
Sekitar 29 tahun yang lalu, ada seorang pria keturunan ningrat yang telah memiliki seorang istri cantik yang bernama Arini.
Laki-laki itu baru saja mendirikan sebuah rumah sakit, dia adalah Rahmat Pradita, seorang Dokter yang di kenal sangat murah hati dan dermawan.
Tapi sayang, sudah hampir 8 tahun menikah, dia belum di karuniai seorang anak, padahal Rahmat sangat merindukan seorang anak untuk melanjutkan keturunannya.
Hingga akhirnya Rahmat bertemu dengan Anjani, cinta pertamanya dulu saat di desa, hanya karena perbedaan status, mereka terpaksa di pisahkan oleh orang tua mereka.
Saat itulah Rahmat meminang Anjani menjadi istri keduanya, Rahmat banyak mengajari Anjani menjadi seorang wanita ningrat dan terhormat, supaya Anjani bisa terus mendampingi Rahmat kemanapun.
Rahmat sangat mencintai Anjani di bandingkan Arini, itulah sebabnya Arini sangat membenci Anjani, Arini selalu bersikap kurang baik dan selalu menekan Anjani.
Mendengar istri keduanya hamil, Rahmat sangat bahagia, dia lalu membuat pesta perayaan kehamilan Anjani, mengundang hampir semua rekan seprofesinya dan seluruh warga rumah sakit.
Anjani semakin di manja oleh Rahmat, apalagi sejak dulu memang Rahmat mencintai Anjani, apapun akan Rahmat berikan untuk Anjani, hingga tanpa sadar dia mengabaikan Arini, istri pertamanya.
"Aku akan wariskan seluruh aset rumah sakit ini untuk calon anak kita nanti!" ucap Rahmat suatu hari.
"Jangan terburu-buru Mas, bahkan anak kita saja belum lahir!" jawab Anjani.
"Mumpung masih ada umur, aku akan cari pengacara untuk mengurus ini semua!" ujar Rahmat.
"Lalu bagaimana dengan Mbak Arini, Mas Rahmat harus bersikap adil bukan?" tanya Anjani.
"Kau tenang saja, aku sudah membaginya untuk dia, juga untukmu! Tapi untuk rumah sakit ini, aku hanya ingin mewariskan pada anakku nanti! Aku ingin anakku juga menjadi seorang Dokter, mengikuti jejak ku!" jawab Rahmat.
__ADS_1
Selama masa kehamilan Anjani, Rahmat selalu menjaganya dengan ekstra, Di berikannya makanan yang sehat dan bergizi untuk tumbuh kembang janin yang ada di perut Anjani.
Semakin hari Arini semakin membenci Anjani, karena telah menganggap Anjani telah merebut hati suaminya, di tambah lagi Anjani bisa memberikan seorang anak untuk Rahmat.
Hingga pada saat Anjani melahirkan anaknya, Rahmat sangat bahagia karena Anjani melahirkan seorang putra, mereka berdua sepakat memberi nama Dicky Pradita pada anaknya itu, namun nama Dicky Pradita baru akan di publikasikan di usianya yang ke 35 hari nanti.
Ada rencana jahat Arini untuk melenyapkan Dicky, rencana itu di ketahui oleh Mbok Jum, asisten rumah tangga Rahmat dan Anjani.
Mbok Jum memberitahukan pada Rahmat dan Anjani, mengenai rencana Arini yang secara tak sengaja di dengarnya.
Rahmat langsung murka dan saat itu juga langsung menceraikan Arini.
Arini yang sakit hati lalu bersumpah akan membunuh Dicky, dan dia mulai menyusun rencana jahat lainnya.
"Aku titip Putra kita, dia harus tetap hidup sampai dewasa, kalau aku sudah tidak ada umur lagi!" ucap Rahmat saat tau Arini berniat jahat terhadap putranya.
Rahmat yang terus kepikiran akhirnya jatuh sakit, dia terkena struk dan komplikasi, dan akhirnya dia meninggal dunia di usia Dicky yang baru dua Minggu.
Beberapa kali Arini mencoba menculik Dicky karena tidak rela Rahmat memberikan warisan yang sangat banyak untuk Dicky. Padahal Arini sudah resmi di ceraikan oleh Rahmat.
Demi menyelamatkan putranya, Anjani terpaksa menyuruh Mbok Jum untuk menaruhnya di depan Panti, sengaja supaya tidak ada orang yang tau kalau Dicky adalah putra Rahmat dan Anjani.
Karena kalau sampai di ketahui bahwa Dicky adalah putra Rahmat dan Anjani, Arini pasti akan mengejarnya.
"Dia sudah aman sekarang Nyonya! Ada Ibu panti yang baik yang akan mengasuhnya!" ucap Mbok Jum setelah meletakan bayi itu di depan panti.
"Terimakasih Mbok, biarlah aku hanya bisa melihatnya dari kejauhan saja, supaya dia tetap selamat sampai dia dewasa kelak!" ucap Anjani dengan air mata yang terus mengalir di pipinya.
Kenapa sekian lama Anjani tidak pernah menunjukan dirinya? Juga tidak pernah mengambil putranya? Karena Arini masih hidup sampai sekarang.
#Flash back off#
Bersambung ...
__ADS_1
****