Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Ucapan Terimakasih


__ADS_3

Bu Anjani, wanita anggun dan elegan itu menghentikan langkahnya ketika Dicky memanggilnya.


Dia lalu menoleh ke belakang ke arah Dicky.


Dicky tersenyum manis pada wanita yang sangat jarang datang ke rumah sakit itu. Selama Dicky bekerja di rumah sakit ini, kehadiran Bu Anjani boleh di hitung pakai jari.


Dia hanya akan datang pada saat momen-momen tertentu saja, segala urusan yang berkaitan dengan rumah sakit dia serahkan pada asisten pribadinya, Pak Bram yang masih ada hubungan kerabat dengan Bu Anjani.


"Selamat pagi Bu Anjani, maaf tadi saya lupa mengucapkan terimakasih atas simpati Ibu terhadap keluarga saya dengan memberikan sejumlah uang yang di titipkan waktu itu!" ucap Dicky saat sudah berdiri di depan Bu Anjani.


"Tidak masalah, Dokter kepala!" jawab Bu Anjani singkat.


"Saya sangat mengapresiasi kebaikan Ibu memberikan saya banyak fasilitas dari rumah sakit ini, sekali lagi terimakasih Bu!" lanjut Dicky.


"Kau memang layak mendapatkan itu semua Dokter!" jawab Bu Anjani.


"Kalau boleh, perkenankan saya dan istri berkunjung ke rumah Ibu untuk sekedar berbincang dan saling mengenal, supaya lebih akrab, selama ini saya sangat jarang sekali berbicara pada Ibu!" ungkap Dicky.


Bu Anjani hanya tersenyum tanpa menjawab lagi ucapan Dicky, kemudian dia membalikan tubuhnya dan kembali melangkah masuk ke dalam ruangannya.


Dicky hanya berdiri termangu menatap wanita anggun yang kini tubuhnya menghilang di balik pintu ruangan pribadinya.


"Dok? Anda di sini rupanya? Dari tadi saya mencari anda Dok! Pasien sudah menunggu!" ujar Suster Wina mengejutkan Dicky.


"Eh, kau ini membuatku kaget saja Sus! Ayo!" Dicky langsung berjalan di iringi dengan Wina menuju ke ruangannya.


"Lagian ngapain Dokter berdiri di depan ruangan Bu Anjani? Tumben amat!" tanya Wina.


"Yah, tadi hanya mengobrol sebentar!" sahut Dicky.


"Mengobrol? Tumben!" gumam Wina.


"Aku kan kepala rumah sakit ini Sus, ya kali aku jarang ngobrol sama si pemilik, sekalian ngucapin Trimakasih juga!" jawab Dicky.


"Oooh, begitu!" sahut Wina.


"Ini Si Dimas kemana lagi?! Menghilang saja kayak jalangkung!" tanya Dicky.


"Dokter Dimas kan sudah masuk duluan ke ruangannya Dok!" sahut Wina.


Benar saja, di depan ruang praktek Dicky, sudah ada beberapa pasien yang menunggunya.


"Selamat pagi Dokter!" sapa beberapa pasien yang telah menunggu di depan ruangannya.


"Pagi!" Dicky menebarkan senyum manisnya ke arah semua pasiennya.


"Wah, Dokter terlambat nih yee!" goda salah satu pasien.

__ADS_1


"Maaf Bu, kesiangan!" sahut Dicky beralasan.


Dengan cepat Dicky langsung masuk ke dalam ruangannya.


Suster Wina mulai memanggil pasien satu persatu sesuai dengan nomor antrian.


****


Sementara itu, Fitri yang sedang membantu Bi Sumi terlihat mulai lincah bergerak, pandangan nya yang pernah kabur perlahan sudah mulai pulih.


Setiap malam Dicky selalu meneteskan obat mata dari Jepang itu rutin dan tepat waktu, alhasil kini mata Fitri semakin terang.


Bukan hanya itu saja, khasiat dari obat mata yang di berikan oleh Dokter Jane juga membuat mata Fitri semakin jernih dan bening, sehingga menambah aura kecantikannya.


"Mbak Fitri jangan capek-capek, ingat lho, sebentar lagi kan mau melahirkan!" ujar Bi Sumi.


"Iya Bi, tapi bukan berarti aku akan diam saja kan!" sahut Fitri.


"Bibi takut Pak Dokter menegur Bibi lagi karena Mbak Fitri kecapean!" ujar Bi Sumi.


"Sudah tenang saja Bi, lagian Mas Dicky juga tidak melihat kota kok!" tukas Fitri.


"Ini Mang Salim kemana lagi? Kok tumben amat mengantar anak-anak belum balik ke rumah!" gumam Bi Sumi.


"Memangnya kenapa Bi?" tanya Fitri.


"Pesan online saja Bi, sekarang kan ada tuh belanja di pasar tapi melalui online, nih lihat, ada di aplikasi ponsel, nanti aku ajarin deh Bi, tuh kan banyak pilihannya, sekarang jaman sudah canggih Bi!" Fitri menunjukan aplikasi di ponselnya dan gambar-gambar kebutuhan pokok rumah tangga.


Bi Sumi tertegun melihat ada begitu banyak aneka barang dan bahan pokok kebutuhan dasar manusia.


"Wah, ini bagaimana cara pesannya ini, enak dong Mbak, jadi hemat waktu kalau begini!" ujar Bi Sumi.


"Iya dong Bi, sekarang Bibi tinggal klik saja mana yang mau di beli, nanti kalau sudah selesai aku bantu untuk proses pembayarannya!" jelas Fitri sambil menyodorkan ponselnya itu.


Dengan antusias Bi Sumi langsung memilih apa saja yang mau di belinya.


Ting ...Tong ...Ting ...Tong


Terdengar suara bel dari depan gerbang, karena mang Salim belum datang, Bi Sumi langsung bergegas menuju ke pintu depan untuk membukakan pintu.


Sementara Fitri masih duduk menunggu Bu Sumi datang.


Tidak lama kemudian, Bi Sumi sudah datang kembali dengan membawa banyak sekali bingkisan.


"Mbak Fitri, tadi kurir ternyata, cuma mau antar paket ini!" kata Bu Sumi.


"Apa itu Bi?" tanya Fitri.

__ADS_1


"Tidak tau Mbak, belum di buka soalnya!" sahut Bi Sumi.


"Ya sudah kita buka saja!" ujar Fitri.


Mereka kemudian mulai membuka bingkisan itu.


Fitri terkesiap setelah melihat isi dari bingkisan itu.


Semua perlengkapan dan pakaian bayi bernuansa biru ada dalam bingkisan besar itu.


"Lho, siapa yang mengirimkan ini Bi?" tanya Fitri.


"Tadi Bibi sudah tanya kurir, katanya kurir juga tidak tau, cuma pakai inisial D dari Jakarta!" jawab Bi Sumi.


"Aneh, siapa sih? Bikin penasaran aja, dan ini semua barang bagus-bagus lho Bi, jangan-jangan Mas Dicky mau kasih kejutan ke aku!" gumam Fitri.


"Bisa jadi Mbak, yang tau calon anaknya Mbak Fitri laki-laki kan cuma Pak dokter, siapa tau Pak dokter mau kasih surprise ke Mbak Fitri, supaya Mbak Fitri senang!" tambah Bi Sumi.


"Kalau begitu aku telepon Mas Dicky deh, aku senang juga ternyata Mas Dicky bisa kasih kejutan juga sama aku, selama ini dia selalu terang-terangan kalau kasih hadiah!" Fitri kemudian mulai mengambil kembali ponselnya.


Dengan senyum yang merekah di wajahnya, dia mulai menekan nomor suaminya itu.


Beberapa kali menelepon tidak ada jawaban, Fitri mulai kesal.


"Huh! Mas Dicky kemana sih, tumben sekali teleponku tidak di angkat!" sungut Fitri.


"Lagi banyak pasien kali Mbak, coba saja telepon ke ruangannya!" usul Bi Sumi.


Fitri kemudian menelepon ke ruangan Dicky.


"Halo, dengan saya Wina asistennya Dokter Dicky, ada yang bisa di bantu?" tanya Wina dari sebrang telepon.


"Eh, Suster Wina, ini saya Fitri, istrinya Dokter Dicky, apakah dia ada di ruangan?" tanya Fitri.


"Maaf Bu Fitri, Dokter sedang di UGD, barusan tadi ada anak yang mengalami kecelakaan, jadi mungkin dia tidak bisa di hubungi dulu!" jawab Wina.


"Hmm, baiklah, nanti siang saya akan kembali menelepon, Trimakasih ya Sus!" ucap Fitri sebelum menutup panggilan teleponnya.


Fitri kembali memandang bingkisan itu, kemudian meraba pakaian bayi mungil yang bentuknya sangat lucu, membayangkan bayinya kelak akan memakainya.


Bersambung ...


****


Ini Fitri dengan mata yang mulai jernih dan bersinar hehehe ☺️


__ADS_1


Jangan lupa dukungannya guys ...


__ADS_2