
Setelah selesai dengan jadwal prakteknya di rumah sakit, Dicky bergegas melajukan mobilnya ke kantor polisi sebelum dia pulang kembali ke rumahnya.
Dia sangat tidak sabar ingin melihat dan menghajar orang yang telah berniat mencelakainya.
Namun tiba-tiba, ponselnya berdering, Dicky segera menepikan mobilnya untuk mengangkat ponselnya itu.
Ada telepon dari rumah yang meneleponnya.
"Halo!"
"Halo Pak dokter, ini Bi Sumi Pak! Pak Dokter masih lama tidak pulangnya?" tanya Bi Sumi.
"Sebenarnya aku sudah pulang sih Bi, tapi aku mau mampir ke kantor polisi dulu! Memangnya ada apa??" tanya Dicky.
"Ini lho Pak, Mbak Fitri kepalanya pusing terus, dia malah tidak bisa bangun dari tempat tidurnya, katanya pandangannya putar-putar, persis kayak kena vertigo!" jelas Bi Sumi.
"Waduh! Kalau begitu aku langsung pulang deh Bi, nanti saja ke kantor polisinya!" sahut Dicky sebelum menutup panggilan teleponnya.
Dengan cepat Dicky langsung berputar haluan, dia langsung meluncur menuju ke rumahnya.
Dia selalu cemas jika berhubungan dengan Fitri, apalagi istrinya kini tengah hamil besar, seharusnya Dicky selalu ada di samping istrinya itu.
Tidak sampai 30 menit, Dicky sudah sampai di rumah besarnya. Di depan pintu gerbang rumahnya yang tinggi itu, seseorang telah berdiri di sana.
Setelah Dicky mendekat dan mengamati, ternyata orang itu adalah Bu Romlah, wajah Dicky berubah masam.
"Selamat sore Pak Dokter Dicky! Saya dengar kabar katanya rumah Bapak habis kerampokan, saya turut prihatin Pak! Untung saja kedua anak saya selamat! Saya benar-benar kaget lho mendengarnya!" ujar Bu Romlah.
"Terimakasih Bu!" sahut Dicky singkat.
"Eh Pak, dengar-dengar Bapak habis dari liburan ke Jepang? Mana nih oleh-olehnya buat saya? Kok Bapak bisa lupain saya gitu sih??" tanya Bu Romlah sambil menadahkan tangannya.
"Ehm maaf Bu, istri saya sedang kurang sehat, saya harus menemaninya, besok saja saya siapkan oleh-oleh buat ibu!" jawab Dicky sambil menggaruk kepalanya.
"Yah Pak Dokter, saya sudah jauh-jauh datang kesini, ya sudah deh, besok pagi saja saya kembali ke sini!" ujar Bu Romlah kecewa.
"Maaf ya Bu, besok saya titip sama Bi Sumi kalau saya belum pulang!" kata Dicky.
"Iya deh Pak, Pak Dokter memang baik, saya sumpahin deh yang merampok bapak waktu itu pantatnya bisulan Segede telor ayam, biar tidak bisa tidur tenang!" seloroh Bu Romlah.
Dicky hanya tersenyum kemudian mulai masuk ke dalam rumah besarnya itu, sementara Bu Romlah segera berlalu meninggalkan rumah Dicky.
Tanpa menunggu lagi Dicky langsung beranjak masuk ke dalam kamarnya.
__ADS_1
Fitri terlihat sedang tidur terlentang dengan matanya ya g di kompres dengan sapu tangan handuk.
"Sayangku, kau kenapa? Kata Bi Sumi kepalamu pusing ya? Kita ke dokter yuk!" ajak Dicky sambil membelai rambut Fitri yang terurai.
"Tadi aku pusing sekali Mas, semuanya seperti berputar-putar, mungkin itu efek samping obat mata yang di berikan oleh Dokter Jane!" jawab Fitri.
"Kau sudah makan belum Fit? Kalau kau lapar bilang aku ya, nanti aku akan mengantarkan makanan untukmu!" ujar Dicky.
"Terimakasih Mas, tapi aku belum lapar, Mas Dicky sudah pulang saja itu sudah cukup membuatku tenang!" kata Fitri.
Dicky kemudian mulai mengecup perut Fitri yang kelihatan sangat menonjol.
"Apa kabar juniorku? Cepatlah kau lahir supaya Mamamu tidak kesepian!" ucap Dicky pada calon buah hatinya.
"Mas Dicky, aku sudah tidak pusing lagi!" ucap Fitri.
"Hmm, bilang saja mau manja nih sama Mas, nakal! Bikin orang khawatir saja!" ujar Dicky sambil mencubit hidung Fitri.
"Lho tadi memang aku pusing kok Mas, tanya saja sama Bi Sumi!" sahut Fitri.
"Iya iya, aku kan cuma bercanda Fit!" ucap Dicky.
Tok ... Tok ... Tok
Dicky segera bangun dan bergegas membukakan pintu.
"Lho, Bi Sumi? Ada apa Bi?" tanya Dicky saat melihat Bi Sumi yang sudah berdiri di depan pintu kamarnya.
"Ini Pak, tadi Pak Hardi, guru lesnya Dina dan Dara datang, dia membawa kue untuk Pak dokter dan Bu Fitri!" kata Bi Sumi.
"Sekarang di mana Pak Hardi?? Aku mau menemuinya!" tanya Dicky.
"Dia baru saja pulang, katanya cuma mau mengantar kue saja, kuenya sudah Bibi potong di meja makan!" jawab Bi Sumi.
"Oh, baiklah Bi, sebentar lagi kami akan turun, tolong bilang Dina dan Dara untuk makan!" ujar Dicky.
Bi Sumi menganggukan kepalanya sebelum beranjak pergi dari tempat itu.
Dicky lalu kembali masuk ke dalam kamarnya.
"Siapa Mas?" tanya Fitri.
"Bi Sumi, katanya tadi Pak Hardi datang, mengantarkan kue untuk kita, aneh! Saat aku datang ke alamat di kartu namanya, rumahnya sudah di gusur dan di bangun lapangan bulu tangkis!" ungkap Dicky.
__ADS_1
"Sudahlah Mas, mungkin dia mengantar kue sebagai tanda simpati saja pada kita, karena kita habis kena musibah!" kata Fitri.
"Tapi dia aneh Fit, penampilannya, gerak geriknya, semuanya mencurigakan!" sahut Dicky.
"Tapi apa yang mendasari jikalau Pak Hardi punya niat jahat? Toh selama ini dia selalu bersikap baik terhadap Dina dan Dara, bahkan Dina dan Dara pun suka belajar dengan Pak Hardi!" ungkap Fitri.
Dicky menarik nafas panjang, kemudian dia menghempaskan tubuhnya yang lelah itu di tempat tidurnya.
"Mungkin kau benar Fit, sudahlah, sementara kita lupakan saja dulu Pak Hardi, aku tadi di beritahu Dimas, kalau KTP pelaku sudah di temukan, sebentar lagi kita akan tau siapa pelaku kejahatan yang memutuskan kabel rem ku!" jelas Dicky.
"Benarkah? Syukurlah kalau akhirnya semua bisa terungkap, aku jadi lega!" ujar Fitri.
Drrrt ... Drrtt
Ponsel Dicky kembali bergetar, Dicky langsung mengambil ponselnya dan mengusap layar ponselnya itu, ada nomor tak di kenal yang meneleponnya.
"Halo, ini dengan Dokter Dicky Pradita?" tanya suara di sebrang.
"Iya benar, saya Dokter Dicky, ini dari mana ya?" tanya Dicky balik.
"Kami dari kantor polisi Pak, ingin menginformasikan kalau pelaku kejahatan terhadap Bapak sudah di tangkap siang tadi!" jelas Sang polisi.
"Apa?? Sudah di tangkap??" tanya Dicky tak percaya.
"Benar Pak Dokter, ternyata pelakunya itu sama dengan pelaku perampokan di rumah Bapak yang terjadi tempo hari, besok Bapak bisa ke kantor polisi untuk melihatnya!" jawab Pak Polisi.
"Baik Pak! Besok pagi-pagi saya akan datang ke sana, terimakasih atas kerjasamanya Pak, ternyata kepolisian bertindak sangat cepat!" puji Dicky.
"Sama-sama Pak Dokter, tetaplah waspada, selamat sore!" ucap Pak Polisi sebelum menutup panggilan teleponnya.
Dicky langsung menoleh ke arah Fitri sambil tersenyum.
"Fit, akhirnya pelaku yang menyebabkan aku celaka sudah di tangkap, bukan hanya itu saja, pelakunya itu juga adalah yang telah merampok rumah kita!!" ujar Dicky.
"Ya Tuhan, cepat juga ya kerja polisi, aku jadi penasaran, siapa orang yang begitu dendam dan membencimu Mas!" sahut Fitri.
"Sekarang kita makan ya Fit! Lupakan dulu para penjahat itu, biarlah polisi yang menghakiminya, aku lapar!!" cetus Dicky sambil langsung mengangkat Fitri ke dalam gendongannya.
Kemudian dia turun ke bawah menuju ke ruang makan.
Bersambung ...
****
__ADS_1