Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menghadapi Sikap Bu Eni


__ADS_3

Fitri langsung berjalan cepat ke arah dalam rumahnya setelah mendengar laporan dari Bi Sumi.


Bu Eni nampak baru keluar kamar sambil membawa sebuah tas besar, sementara Pak karta mengikuti di belakanganya.


"Bu! Mau kemana Bu? Kenapa Ibu tiba-tiba ngambek seperti ini? Semuanya kan bisa di bicarakan dengan kepala dingin Bu!" sergah Pak Karta.


"Ibu mau pulang Pak ke Sukabumi, kalo Bapak mau ikut ayo cepat siap-siap, mending di kampung bebas, tidak ada yang usil, komentar, ngomongin, nyakitin hati!" sahut Bu Eni sambil ngedumel.


"Lho, di kampung juga mau ngapain? Semua sawah dan kebun sudah di harap sama orang-orang nya Dicky, mendingan di sini bisa main sama cucu dekat sama anak!" ujar Pak Karta.


"Ya sudah, kalau Bapak mau di sini Ibu pulang saja sendirian, siapa takut!" sengit Bu Eni.


Dicky yang baru turun dari atas dan sudah terlihat berpakaian rapi nampak heran, pagi-pagi sudah ada keributan di bawah.


"Ada apa ini??" tanya Dicky.


"Mas, kelihatannya Ibu marah dan tersinggung saat aku menasihati dia tadi, aku jadi bingung ini Mas, tidak sangka Ibu akan sesensitif ini!" jawab Fitri.


"Tolong kau tangani dulu sayang, aku sudah keburu ada janji sama beberapa Dokter baru yang akan ikut training, doakan Mas mu ini, rumah sakit kita akan pendapat penghargaan menjadi rumah sakit terbaik di negri ini!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.


"Ya sudah deh Mas, Mas Dicky berangkat saja, biar aku coba bujuk Ibu lagi!" sahut Fitri.


Dicky kemudian langsung berjalan menuju ke tempat dimana mobilnya terparkir.


Bu Eni nampak berdiri di depan gerbang dengan tas besar yang sudah di bawanya itu.


Pak Karta terlihat sedang membujuk Bu Eni yang berniat akan pergi.


Fitri lalu langsung berjalan mendekati Bu Eni, sedangkan Dicky melajukan mobilnya melewati gerbang itu.


"Ngapain Bu di situ?" tanya Dicky saat melewati Bu Eni dengan mobilnya.


"Ibu mau pulang kampung!" sahut Bu Eni.


"Mau pulang kampung? Memangnya Ibu sudah rindu kampung halaman? Nanti saja Bu pulang kampungnya, sekalian kita liburan di sana, sama Alex!" kata Dicky.


"Siapa yang rindu kampung halaman? Ibu sedang kesal, semua omongan Ibu salah di mata anak, semua sudah pintar! Tidak ada lagi yang mau mendengarkan omongan orang tua!" sungut Bu Eni.


"Oh, begitu ya Bu, ya sudah deh, Ibu hati-hati ya, saya juga mau pamit ke rumah sakit Bu, dah Ibu!" ujar Dicky sambil melambaikan tangannya dan melajukan mobilnya keluar dari gerbang rumah Ibu.


"Dicky!! Kok kamu tidak larang Ibu pulang kampung sih!! Nyebelin!!" teriak Bu Eni.

__ADS_1


Pak Karta langsung menarik tangan Bu Eni kembali masuk ke dalam rumah.


"Sudah Bu! Malu dilihat orang-orang! Kasihan kan Nak Dicky juga malu mertuanya teriak-teriak begitu!" sergah Pak Karta.


"Ah! Bapak sama saja! Semua Ibu yang salah, ya sudah kalau Bapak tidak mau ikut, Ibu bisa kok pulang ke Sukabumi sendirian naik bus!" cetus Bu Eni.


Tiba-tiba Fitri datang dan mendekati Bu Eni.


"Bu, aku minta maaf ya kalau salah bicara sama Ibu, tapi sungguh Bu, aku tidak bermaksud menjelekan Ibu apalagi menyalahkan Ibu!" ucap Fitri.


"Sudahlah Fit, kepala Ibu pusing! Pokoknya hari ini Ibu mau pulang ke Sukabumi titik!" cetus Bu Eni.


"Bu, sabar dulu, nanti Alex akan mencari neneknya, nanti rumah ini jadi sepi Bu, aku mohon Ibu pikir-pikir dulu ya, jangan cepat-cepat mengambil keputusan!" ujar Fitri.


"Fitri benar Bu, kalau Ibu berbuat ulah begini, kan kasihan sama mantu dan cucu kita, mereka nanti yang kena imbasnya, apalagi Alex sedang dekat-dekaynya sama neneknya!" tambah Pak Karta.


Bu Eni terdiam saat Pak Karta menyebut Alex, belakangan Alex memang dekat dengan neneknya itu, Bu Eni juga sebenarnya tidak tega pergi beneran dari rumah ini.


Tapi kalau Bu Eni mengurungkan niatnya, dia malu juga karena sudah berkoar-koar mau balik kampung.


Apalagi dia sudah pamit pada Dicky. Dan Dicky juga kelihatan nya tidak keberatan Bu Eni pulang kampung.


Di sini Bu Eni jadi dilema.


"Bu Fitri, ada yang ingin bertemu dengan Ibu nih!" kata security itu.


Pak Karta lalu menarik Bu Eni kembali masuk ke kamarnya karena ada tamu.


Fitri tersenyum saat melihat siapa gadis cantik yang menemuinya.


"Dinda?? Kau apa kabar? Sudah lama sekali ya kita tidak ketemu!" kata Fitri.


Mereka kemudian duduk di teras depan rumah itu.


"Waktu Alex ulang tahun, aku minta maaf ya Mbak, tidak sempat datang!" ucap Dinda.


"Oh, tidak apa-apa Din, kau dari mana?" tanya Fitri.


"Baru mau berangkat mengajar Mbak, Mbak Fitri sendiri masih mengajar di sekolah Pak Kevin kan?" tanya Dinda balik.


"Iya Din, cuma hari ini sedang ada pelatihan khusus untuk guru-guru, aku tidak ikut!" jawab Fitri.

__ADS_1


"Oh ... Begitu ..."


Hening


Mereka saling diam sesaat lamanya.


"Mbak, boleh aku tanya sesuatu?" tanya Dinda.


"Apa yang mau kamu tanyakan Din, kalau aku tau aku akan jawab kok!" sahut Fitri.


Mbok Jum datang sambil menggendong Alex, dengan cepat Fitri mengambil Alex dari gendongan Mbok Jum.


"Tadi dia cari Mamanya!" kata Mbok Jum.


"Trimakasih mbok, tolong bilang ke Bi Sumi, buatkan minuman dan cemilan buat Dinda!" pinta Fitri.


"Baik!" Mbok Jum segera masuk kembali ke dalam.


"Oya Dinda, tadi apa ya gau kau tanyakan?" tanya Fitri.


"Apakah Mbak Fitri tau kabarnya Ken?" tanya Dinda.


"Ken? Bukankah kau ini adalah pacarnya Ken? Kenapa bertanya padaku?" wajah Fitri terlihat bingung.


"Ehm, belakangan ini, aku selalu kesulitan untuk menghubungi Ken, biasanya dia yang selalu menghubungiku duluan, tapi sudah hampir beberapa Minggu ini, dia seperti menghilang begitu saja!" ungkap Dinda.


Fitri terdiam, dia dan Dicky memang pernah memergoki Ken jalan dengan wanita lain, tapi dia tidak mungkin tega mengatakan itu pada Dinda, apalagi kini Ken ada di Jepang.


"Maaf Dinda, sejak Ibu mertuaku meninggal, tidak lama kemudian Ken kembali ke Jepang, sejak saat itu aku tidak tau kabar nya lagi, tapi Mas Dicky seperti ya menyimpan nomor ponselnya!" jawab Fitri.


"Oh, begitu ya Mbak, baiklah, nanti aku akan tanyakan saja sama teman-temannya, karena sekarang ponselnya juga tidak aktif!" kata Dinda.


Fitri menatap ke arah wajah cantik Dinda. Wanita di hadapannya ini begitu polos, sampai saat ini dia tidak curiga sama sekali soal perselingkuhan Ken.


"Dinda, apakah kau hanya bisa mencintai Ken? Maksudku, tidakkah hatimu terbuka dengan cinta yang lain?" tanya Fitri.


"Maksud Mbak Fitri apa ya?"


"Maksudku, apakah hanya Ken saja yang saat ini ada di dalam hatimu, bagaimana kalau kalian ternyata tidak berjodoh?"


Dinda hanya terdiam mendengar ucapan Fitri tanpa bisa berkata apa-apa lagi.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2