Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Menyusun Rencana


__ADS_3

Fitri memejamkan matanya saat wanita misterius itu berjalan ke arahnya. Dia sudah pasrah jika harus ketahuan mengintai, berharap keajaiban akan datang padanya.


"Ayo cepat Mbak! Waktu kita tidak banyak!" terdengar suara Pak Bram.


"Ssst, aku lihat ada sesuatu di balik pot ini!" sahut wanita itu, suaranya terdengar parau.


Tiba-tiba sayup-sayup terdengar suara Alex yang menangis, wajah Pak Bram dan Lina nampak pucat, begitu juga wanita misterius itu, wajahnya tidak jelas terlihat karena keremangan lampu dan tertutup tudung hitamnya.


Fitri membuka matanya perlahan, mereka kini sudah tidak ada lagi di hadapannya, Fitri menarik nafas panjang.


Kemudian perlahan Fitri beringsut meninggalkan tempat itu, berjalan pelan menuju ke kamarnya.


Alex tidak terdengar lagi suara tangisannya.


Saat Fitri membuka pintu kamarnya, Dicky nampak duduk sambil menggendong Alex di sisi tempat tidurnya.


"Fitri?? Kau dari mana saja?" tanya Dicky.


Fitri berusaha setenang mungkin, dia tidak mau langsung menceritakan kejadian yang dia alami tadi pada Dicky, Fitri takut suaminya itu akan langsung emosi, yang akan membahayakan semuanya. Fitri akan mencari strategi yang baru, jangan sampai dia bertindak gegabah.


"Hei, kenapa kau malah bengong dan berdiri di situ?? Ayo kemarilah!" panggil Dicky sambil melambaikan tangannya.


Seperti tersadar Fitri lalu menutup pintu kamarnya dan berjalan mendekati Dicky, lalu duduk di sebelahnya.


"Kau kenapa Fit? Wajahmu kelihatan pucat!" tanya Dicky sambil mengusap keringat yang ada di wajah Fitri.


"Ehm, tidak Mas, aku hanya sedikit lapar, aku mencari makanan di dapur tapi Alex keburu menangis!" jawab Fitri berbohong.


"Oh, ternyata kau lapar, ibu menyusui harus makan yang banyak, supaya sehat dan nutrisi Ibu dan anak terpenuhi!" ucap Dicky.


"Iya Pak Dokter!" sahut Fitri tersenyum.


"Sekarang kau tunggu disini, susui Alex dulu, biar aku yang akan mengambilkan makananmu ke bawah!" ujar Dicky.


Dicky lalu menyerahkan Alex dalam pangkuan Fitri dan dia segera bangkit berdiri dan melangkah ke arah pintu.


"Mas Dicky!" panggil Fitri. Dicky menoleh.


"Ada apa Fit?" tanya Dicky.


"Hati-hati!" seru Fitri.


Dicky tersenyum sambil menganggukkan kepalanya.


Setelah itu dia keluar dari kamar itu.


Sambil mulai menyusui Alex, Fitri menyandarkan punggungnya yang sedari tadi tegang di dipan tempat tidurnya, masih jelas di ingatannya kejadian yang baru saja di lihatnya tadi.


Sekitar 15 menit Dicky sudah kembali ke kamarnya dnegan membawa satu piring nasi goreng.

__ADS_1


Aroma nikmat tercium dari nasi goreng yang Dicky bawa itu.


"Ini Fit, nasi goreng spesial dari Mas Dicky mu!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.


"Taruh dulu di meja Mas, aku belum selesai menyusui Alex!" sahut Fitri.


"Kau tenang saja, tetaplah menyusui Alex, aku akan menyuapimu!" kata Dicky yang mulai meniup sendok nasi goreng itu dengan bibirnya.


Hati Fitri menghangat seketika, luntur sudah ketegangannya yang sedari tadi dia rasakan.


"Mas, tadi di bawah, tidak ada hal yang aneh-aneh kan?" tanya Fitri.


"Tidak, biasa saja, suasana sepi, semua orang sudah tidur dan aku memasak sendirian di dapur!" jawab Dicky.


"Oh, syukurlah!" gumam Fitri.


"Memangnya kenapa Fit?" tanya Dicky.


"Tidak Mas, setelah makan dan menyusui Alex, aku mau tidur Mas, ngantuk!" ujar Fitri mengalihkan pembicaraan.


"Iya iya, sekarang di habiskan dulu ya nasi gorengnya, ayo buka lagi mulutnya!" ucap Dicky sambil meniup nasi goreng yang masih panas itu.


****


Matahari pagi menyusup di celah jendela kamar Dicky, Fitri mengerjapkan matanya saat sentuhan lembut menyentuh pipinya.


Dicky yang sudah rapi nampak duduk di sisi pembaringannya sambil menatapnya hangat.


"Mas Dicky sudah bangun?" tanya Fitri.


"Iya sayang, sudah mandi malah!" sahut Dicky.


"Wah, aku kesiangan ya Mas, Alex mana?" tanya Fitri sambil celingukan.


"Alex sedang berjemur dengan Ibu, tadi Bu Sumi sudah memandikan Alex!" jawab Dicky.


"Berarti aku beneran kesiangan Mas, maafkan aku ya, aku tidak sadar!" ujar Fitri.


"Tidak apa-apa sayang, oya, lagi ini jadi kan ke kantor ekspedisi itu? Aku sudah bilang pada Bu Sumi untuk menitipkan Alex!" tanya Dicky.


Fitri tertegun, dia baru ingat kalau pagi ini dia janjian dengan Dicky untuk ke kantor ekspedisi, untuk mencari tau siapa pengirim paket yang tak jelas itu.


"Mas, ke kantor ekspedisinya di tunda besok saja ya!" kata Fitri.


"Lho, kenapa Fit?" tanya Dicky bingung.


"Kepalaku agak pusing, hari ini aku di rumah saja, kau pergi saja ke rumah sakit, besok kita batu sama-sama kenkantir ekspedisi itu!" sahut Fitri beralasan.


"Kau pusing kenapa Fit? Mana sini kepalanya yang sakit, aku akan pijitin!" ucap Dicky sambil mulai memijit kepala Fitri.

__ADS_1


"Mas Dicky berangkat saja! Aku cukup di temani oleh Bi Sumi!" tukas Fitri sambil mulai bangun dari tidurnya.


"Hmm, baiklah, hati ini aku ke rumah sakit bersama Ibu, karena akan ada polisi yang memeriksa rumah sakit!" kata Dicky.


"Apa?? Polisi??" Tanya Fitri kaget.


"Iya Fit, Ibu melaporkan soal kasus di temukan zat sianida didalam minuman aku, dan hari ini polisi akan mulai menyelidikinya!" jawab Dicky.


"Semoga kasus ini cepat terungkap ya Mas!" gumam Fitri.


Mereka kemudian keluar dari kamarnya dan mulai turun ke bawah.


Bu Anjani nampak sudah berpakaian rapi.


"Fitri, kau baru bangun ya, katanya kau kau pergi sama Dicky?" tanya Bu Anjani.


"Iya Bu, tapi tidak jadi, di tunda besok saja, urusan di rumah sakit kan lebih penting!" jawab Fitri.


"Iya Bu, kemungkinan besok baru kami akan pergi!" tambah Dicky.


"Baiklah kalau begitu, Dicky, sepertinya kita harus berangkat ke rumah sakit sekarang, aku dengar polisi sudah datang ke rumah sakit!" kata Bu Anjani.


"Baik Bu!" jawab Dicky patuh.


Bu Anjani kemudian menyerahkan Alex dalam gendongan Fitri, kemudian dia melangkah menuju ke depan di mana mobilnya sudah terparkir menunggunya.


"Aku berangkat ya sayang!" pamit Dicky sambil mengecup kening Fitri.


"Iya Mas, hati-hati ya!" sahut Fitri.


Setelah mencium Alex dan Fitri Dicky kemudian langsung masuk ke dalam mobil ibunya itu. Seorang supir kemudian melajukan mobil itu keluar dari rumah besar itu.


Setelah mobil itu menghilang di balik gerbang tinggi, Fitri langsung kembali masuk ke dalam rumah itu, dia berjalan mendekati Bi Sumi yang terlihat masih membereskan pakaian dan selimut kotor Alex dalam box bayi Yang ada di ruangan itu.


"Bi, ada sesuatu yang harus aku lakukan, aku titip Alex ya Bi!" ucap Fitri setengah berbisik.


"Ada apa Mbak Fitri?" tanya Bi Sumi.


"Nanti kalau Pak Bram dan istrinya sudah keluar dari rumah, aku ingin masuk ke dalam kamarnya, mereka tenyata orang-orang jahat Bi!" bisik Fitri.


"Apa??" Bi Sumi terbelalak mendengar ucapan Fitri.


Bersambung ...


****


Hai guys ...


Dari pada penasaran, yuk baca buku author yang lain ...

__ADS_1


Klik profile ya, dan silahkan pilih buku yang mau di baca ...Trimakasih 😘🙏


__ADS_2