
Sore itu Dicky cepat-cepat melajukan mobilnya menuju ke rumah, tadi sehabis praktek, dia langsung ke apotik membeli pompa ASI untuk Fitri.
BI Sumi nampak sedang menyiram tanaman saat Dicky sampai di rumahnya.
"Fitri mana Bi?" tanya Dicky.
"Di atas Pak, di kamar!" sahut Bi Sumi.
"Baik, aku langsung ke atas ya Bi!" kata Dicky.
"Makanan sudah siap di meja makan ya Pak!" ujar Bi Sumi cepat.
"Iya Bi!" sahut Dicky langsung melangkah masuk dan naik ke atas menuju ke kamarnya.
Dia langsung membuka pintu kamarnya, Fitri nampak sedang duduk di tepi tempat tidur sambil membelakanginya.
"Fitri!" panggil Dicky. Fitri menoleh. Dia langsung menutup dadanya, rupanya Fitri sedang berusaha untuk mengeluarkan ASI nya dengan tangannya.
"Sakit ya Fit, ini aku sudah belikan pompa ASI!" kata Dicky sambil menyodorkan bungkusan pompa ASI.
"Dokter tau dari mana?" tanya Fitri malu.
"Tadi pagi Bi Sumi yang memberitahukan padaku!" sahut Dicky.
"BI Sumi, padahal aku sudah katakan jangan bilang-bilang ke Dokter, dia malah bilang juga!" sungut Fitri.
"Kenapa memangnya kalau bilang? Aku harus tau apa yang terjadi padamu, kau itu istriku Fit!" kata Dicky sambil duduk di sebelah Fitri.
"Aku malu!" cetus Fitri. Dicky tertawa.
"Malu? Sini Fit, aku akan mengajarkan padamu cara pemakaian pompa ASI ini, ini adalah pompa ASI elektrik, jadi kau tak perlu pakai tenaga tanganmu!" Dicky mengeluarkan Pompa ASI itu dari dusnya.
"Terimakasih Dokter!" ucap Fitri.
"Nanti kalau ASI nya banyak, kau bisa donor kan ke rumah sakit, banyak bayi-bayi yang baru lahir yang membutuhkan ASI!" ucap Dicky.
Mendengar kata bayi, tiba-tiba Fitri teringat akan bayinya.
"Dokter, aku mau ke makam bayiku!" kata Fitri.
"Ya, aku akan mengantarmu!" sahut Dicky.
"Di mana dia di makamkan?" tanya Fitri.
"Tidak jauh dari sini, di pemakaman umum!" jawab Dicky.
"Antarkan aku Dok! Aku rindu!" ucap Fitri.
Dicky menganggukan kepalanya, tangannya membelai lembut rambut Fitri.
"Iya, tapi ASI nya di pompa dulu, kasihan dadamu pasti sakit, paling tidak isinya di keluarkan dulu!" ucap Dicky.
__ADS_1
"Iya Dokter!" sahut Fitri.
"Boleh aku membantumu Fit?" tanya Dicky. Dengan sedikit ragu-ragu, Fitri menganggukan kepalanya.
"Sekarang, buka pakaianmu, hilangkan rasa malumu Fit, aku ini seorang Dokter!" titah Dicky.
Perlahan Fitri membuka handuk yang menutupi dadanya, lalu dengan menahan rasa malu dia mengeluarkan dadanya yang terlihat sangat besar dan bengkak.
Dicky terkesiap melihatnya, entah dari mana datangnya jiwa kelaki-lakiannya muncul. Namun dia harus membantu Fitri.
Perlahan Dicky mulai memasangkan pompa ASI itu di kedua dada Fitri yang langsung tersambung ke botol.
"Sakit tidak Dok?" tanya Fitri.
"Ini tidak akan sakit, tapi mempercepat keluarnya ASI!" jawab Dicky.
Dalam waktu singkat, Fitri berhasil mengeluarkan ASI nya beberapa botol, rasa nyeri di dada Fitri berangsur mereda.
Dicky membantu membersihkan dada Fitri setelah di pompa, ada sesuatu yang berdegup kencang di dadanya, juga sesuatu yang sangat sesak di bawah sana.
"Aku mau langsung mandi Fit!" kata Dicky berusaha menyembunyikan bagian tubuhnya yang mulai terlihat menonjol.
"Iya Dokter, terimakasih!" sahut Fitri yang kembali memakai pakaiannya.
Di kamar mandi, Dicky mengguyur seluruh tubuhnya dengan shower, berusaha untuk meredam setiap gejolak yang kini melandanya.
****
"Sini Fit aku gendong turun ke bawah!" kata Dicky.
Tanpa menunggu jawaban Fitri, Dicky langsung mengangkat Fitri dalam gendongannya. Lalu dia membawanya turun ke bawah.
"Perutku sudah tidak terlalu nyeri Dokter, kau tidak perlu menggendongku terus!" sergah Fitri.
"Hmm, kau menurut saja Fit, itu sudah cukup!" sahut Dicky.
"Mau kemana Pak?" tanya Bi Sumi yang melihat Dicky dan Fitri sudah rapi di bawah.
"Aku mau ke makam sebentar!" sahut Dicky.
"Itu tidak makan dulu?" tanya Bi Sumi.
"Fit, kau mau makan? Kita makan dulu ya!" ajak Dicky.
"Aku masih kenyang Dokter, tadi siang aku makan banyak sekali!" tolak Fitri.
"Baiklah, nanti di jalan kalau kau lapar bilang ya, kita makan di luar!" ujar Dicky.
"Kalau mau ke makam cepat Pak, ini sudah sore, nanti keburu magrib!" kata Bi Sumi mengingatkan.
Dicky langsung menggandeng Fitri menuju ke mobilnya.
__ADS_1
Tidak sampai setengah jam mereka sudah sampai di sebuah pemakaman umum, setelah turun dari mobil, Dicky menggandeng Fitri menuju ke sebuah makam yang telah rapi, ada sebuah batu nisan di makam itu, Fitri langsung bersimpuh di sisi makam itu sambil menangis.
"Anakku, maafkan Mama ya, Mama lalai menjagamu, maafkan Mama!" ucap Fitri sambil mengelus batu nisan dan rumput yang tumbuh di atasnya.
Dicky yang ikut bersimpuh, langsung merengkuh bahu Fitri.
"Namanya Angel Fit, itu ada namanya di batu nisannya!" ucap Dicky.
Fitri melihat batu Nisan yang bertuliskan nama Angel.
"Kau yang memberinya nama Dokter?" tanya Fitri.
"Iya, agar dia selalu menjadi malaikat yang selalu menjagamu!" jawab Dicky.
"Kau juga yang mengurus makam anakku?" tanya Fitri lagi, Dicky menganggukan kepalanya.
Fitri menyandarkan kepalanya di bahu Dicky, merasakan setiap kelembutan dan ketulusan laki-laki itu.
"Terimakasih Dokter, bahkan anak ini bukan anakmu, tapi kau mau perduli terhadapnya!" ucap Fitri.
"Sama-sama Fitri, hari sudah sangat sore, ayo kita kembali pulang, nanti kapan-kapan kita kesini lagi!" kata Dicky.
Mereka lalu bangkit berdiri dan meninggalkan makam itu.
"Fitri, perutku lapar!" kata Dicky.
"Oh, kau lapar Dokter, maafkan aku, kau belum makan sejak pulang dari rumah sakit!" ujar Fitri cemas.
"Kita makan dulu ya!" ajak Dokter.
"Iya Dokter!" sahut Fitri.
Mereka lalu melanjutkan perjalanan mereka ke sebuah restoran.
Mereka mulai duduk dan memesan makanan, tiba-tiba ada seseorang yang menghampiri mereka.
"Hai Dokter Dicky, kau makan disini juga!" sapa seorang laki-laki yang ternyata adalah Dokter Rizky, kepala rumah sakit tempatnya bekerja.
"Wah, Dokter Rizky, kejutan bisa bertemu denganmu di sini!" ujar Dicky.
"Oya, apa kau sudah bertemu dengan Dokter Mia? Ada kasus pada saat melahirkan, seorang ibu meninggal karena hipertensi, kini bayinya sedang membutuhkan ASI, kalau kau ada informasi pendonor ASI, segera hubungi Dokter Mia!" kata Dokter Rizky.
Dicky dan Fitri saling berpandangan.
"Fitri, mau kah kau mendonorkan ASI mu untuk bayi malang itu?" tanya Dicky.
"Dengan senang hati Dokter!" sahut Fitri.
"Dokter Rizky, kau tak perlu mencari pendonor ASI lagi, Fitri bersedia mendonorkan ASI nya untuk bayi itu, besok aku akan bicara dengan Dokter Mia!" kata Dicky.
"Wah, terimakasih, akhirnya satu masalah sudah terpecahkan!" seru Dokter Rizky dengan wajah gembira.
__ADS_1
****