Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tanggung Jawab Dicky


__ADS_3

Fitri terperanjat kaget saat di lihatnya hari sudah malam, langit sudah terlihat sangat gelap di luar.


Fitri langsung bangun dari tidurnya, dan menutup jendela kamarnya yang masih terbuka itu.


Dicky terlihat masih nyenyak tertidur, Fitri membiarkannya saja, apalagi wajah Dicky yang terlihat sangat lelah, membuat Fitri tidak tega jika harus membangunkannya.


Fitri kemudian keluar dari kamarnya, suasana rumah yang tadinya ramai kini berubah sepi, hanya terdengar suara obrolan Bapaknya dan Ibunya, juga Anita dan Donny di ruang keluarga.


Alex nampak tenang dalam pangkuan Bu Eni, sementara Dina dan Dara terlihat duduk belajar di meja ruang keluarga itu.


Donny nampak sedang mengajari Dina dan Dara.


"Mama!" panggil Dara saat melihat Fitri yang berjalan mendekat ke arah mereka.


Fitri tersenyum lalu dia duduk bergabung dengan mereka.


"Ma, tau nggak, Pak Hardi itu ternyata Pak Donny guru kita dulu lho, aku senang deh, akhirnya bisa belajar lagi sama Pak Donny!" seru Dina.


"Iya, kalian bisa bertanya apa saja sama Pak Donny, lagi pula sebentar lagi kan Pak Donny jadi Om kalian!" sahut Fitri.


"Yeeeayy!!" seru Dina dan Dara senang.


"Kamu dari mana saja Fit? Tadi ada Bapak yang marah-matah karena kau lama sekali tidak turun-turun, Bapak sudah memanggil kalian tapi kalian tidak dengar!" kata Pak Karta.


"Maaf Pak, tadi aku ketiduran sama Mas Dicky, sampai lupa kalau ada tamu yang menunggu!" sahut Fitri.


"Akhirnya karena kesal, dia dan putrinya itu langsung pulang, tapi sebelum pulang dia menitipkan ini untuk Nak Dicky!" Pak Karta menyodorkan satu map besar yang berisi berkas-berkas.


"Apa ini Pak?" tanya Fitri sambil mengamati map itu.


"Tadi kata orangnya, cuma Dicky yang boleh membuka isi map itu, hargai saja permintaan dia Nak, biar suamimu saja yang membukanya!" jawab Pak Karta.


Fitri menganggukan kepalanya. Dia kemudian kembali berjalan ke atas menuju ke kamarnya untuk menyimpan map itu.


Dicky sudah nampak bangun dari tidurnya, rambutnya berantakan dan matanya masih merah menahan kantuk yang masih tersisa.


"Kau dari mana Fit? Kan aku bilang aku tidur ingin di peluk olehmu!" sungut Dicky.

__ADS_1


"Dari luar Mas, kan tidak enak kita di sini terus sementara keluargaku sedang kumpul mengobrol di bawah!" jawab Fitri.


"Tapi kan aku sendirian di sini!" sahut Dicky.


"Tadi aku sudah menemanimu tidur lho Mas, sudah aku peluk, sudah aku cium, cuma karena kau terlalu nyenyak, makanya tidak terasa!" ujar Fitri.


"Masa sih?"


"Hmm, terserah deh kalau tidak percaya, nih ada dokumen dari Pak Dirja, tidak tau isinya apa, kau buka saja!" ujar Fitri.


"Memangnya tadi Pak Dirja datang ke sini?" tanya Dicky.


"Iya Mas, dia datang sama Keyla, tadinya aku di suruh membangunkan Mas Dicky, tapi aku mana tega membangunkan tidurmu yang lelap itu, eh malah aku ikut ketiduran juga, alhasil Pak Dirja marah-marah dan menitipkan ini sama bapak!" jelas Fitri.


Dicky kemudian mulai membuka map yang berisi beberapa dokumen penting itu.


Dia mengerutkan dahinya saat membaca apa isi dari berkas-berkas itu.


"Ini surat kepemilikan rumah sakit, semuanya sudah di alihkan atas namaku Fit, juga ada beberapa sertifikat tanah dan bangunan, semuanya sudah di ganti nama atas namaku!" seru Dicky.


"Benarkah? Waktu itu, Ibu juga memberikanmu sertifikat rumah besar itu atas namamu, juga kotak perhiasan yang dia berikan untukku, Mas, kenapa kau mendadak jadi konglomerat??" tanya Fitri.


Fitri terdiam, dia menyadari bahwa setelah kematian Bu Anjani, maka otomatis semua kekayaan dan aset milik Bu Anjani akan jatuh ke tangan Dicky, ini berarti semakin besar tanggung jawab yang harus di pikul suaminya itu.


Dicky mau tidak mau juga harus kembali memimpin dan mengelola rumah sakit yang sempat dia tinggalkan beberapa saat lamanya.


Belum lagi masalah rumah besar itu, Dicky masih belum bisa memikirkan akan jadi apa rumah besar itu sepeninggal Bu Anjani, karena rumah itu adalah rumah satu-satunya peninggalan Ayahnya yang harus dia jaga dan dia rawat dengan baik.


"Kepalaku pusing Fit!" keluh Dicky saat membaca satu persatu dokumen yang tenyata sangat banyak itu.


Dicky tidak pernah menyangka bahwa kekayaan almarhum Ayahnya akan sebanyak ini, ternyata Ayahnya memiliki banyak aset dan saham di banyak perusahaan.


Belum lagi tentang harta tak bergerak lainnya, seperti perkebunan, persawahan, hotel dan masih banyak lagi yang baru Dicky ketahui setelah Ibunya meninggal.


"Mas, dari pada kau pusing di sini, kita turun ke bawah yuk, gabung sama yang lainnya!" ajak Fitri.


"Fit, sepertinya aku memang harus bertemu dengan Pak Dirja untuk membicarakan masalah ini, besok aku akan cari waktu ke rumahnya!" ujar Dicky.

__ADS_1


"Aku ikut Mas!" cetus Fitri.


"Jangan Fit, tidak enak sama Bapak dan Ibu kalau kau ikut aku terus, masa tidak ada yang menemani mereka!" cegah Dicky.


"Hmm, bilang saja supaya kau bisa melihat si Keyla dengan bebas!" sungut Fitri yang langsung bangun dan berjalan keluar dari kamarnya.


"Eh, bukan itu maksudku Fit!" teriak Dicky yang langsung mengejar istrinya itu.


Fitri terus berjalan menuruni tangga dan langsung duduk bergabung di ruang keluarga karena di ruangan itu masih terlihat ramai.


Dicky langsung menghentikan langkahnya saat melihat Donny ada di antara mereka.


"Hmm, ada si kampret di sini!" sungut Dicky.


"Eh, kau sudah bangun Nak, sini duduk dekat Ibu, kau kan baru saja kehilangan Ibumu, kau tenang saja Nak, Ibu akan berikan kasih sayang yang berlimpah untukmu!" Bu Eni langsung menarik tangan Dicky untuk duduk di sebelahnya.


"Wajahmu sudah kelihatan lebih cerah Dokter!" ujar Donny.


Dicky diam saja tidak menimpali ucapan Donny.


Sebenarnya dia juga masih gengsi untuk memulai pembicaraan dengan calon iparnya itu.


Bi Sumi datang dengan membawa satu nampan besar berisi beberapa gelas minuman hangat. Bu Eni dan Pak Karta langsung meneguk minuman hangat itu dengan semangat.


Ting ... Tong


Terdengar suara bel dari arah depan, Pak Karta langsung berjalan ke depan untuk membukakan pintu.


Seorang laki-laki dan seorang wanita sudah berdiri di depan pintu rumah Dicky.


"Selamat malam Pak, bisakah saya bertemu dengan Dokter Dicky?" tanya laki-laki itu.


"Oh, ada, silahkan masuk, sebentar ya saya panggilkan dulu ke dalam!" jawab Pak Karta mempersilahkan masuk.


Mereka kemudian masuk dan duduk di ruang tamu itu.


Bersambung ...

__ADS_1


*****


__ADS_2