Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kenangan Masa Kecil


__ADS_3

Sebuah rumah besar yang mirip seperti asrama, yang terletak di daerah puncak bogor, sudah terbentang di hadapan Dicky dan Fitri.


Siang itu mereka sudah sampai di sebuah panti asuhan yang cukup besar.


Dicky memarkirkan mobilnya di halaman Panti itu, saat Dicky keluar dari mobilnya, Beberapa anak panti menyambutnya.


"Kak Dicky! Kakak kemana saja, sudah lama lho tidak datang ke sini!" tanya Leni, salah satu anak panti yang sudah remaja.


"Maafkan Kakak Dek, kakak menunggu saat yang tepat, Oya, ini kenalin, kak Fitri istri kakak!" ucap Dicky memperkenalkan.


Fitri menganggukan kepalanya sambil tersenyum.


"Wah, kak Dicky ternyata sudah menikah!" seru Aldo.


Beberapa anak-anak itu mulai bertepuk tangan.


"Kalian mau makan apa hari ini? Nanti Kakak akan pesankan lewat online, Aldo, kau yang mencatat ya, nanti kasih ke kakak!" titah Dicky.


"Oke Kak, siap!" sahut Aldo bersemangat.


"Oya, di mana Ibu Nuri?" tanya Dicky.


"Ibu ada di dalam Kak, sedang menggendong anak baru!" jawab Leni.


"Anak Baru?" gumam Dicky.


"Iya, anak baru masih kecil, dia di tinggal di pasar, jadi Ibu Nuri yang merawatnya sampai di jemput orang tuanya, tapi sampai sekarang orang tuanya tidak datang-datang!" jelas Leni.


Dicky mengusap kepala Leni, lalu menggandeng Fitri masuk ke dalam rumah panti itu.


Seorang wanita setengah baya terlihat sedang menggendong dan menidurkan seorang anak balita yang berusia kira-kira tiga tahun.


"Bu Nuri!" sapa Dicky.


Bu Nuri menoleh, dia terkejut melihat kedatangan Dicky yang tiba-tiba itu.


"Dicky, bagaimana kabarmu Nak? Ibu kangen, sudah lama tak melihatmu!" Bu Nuri langsung memeluk Dicky.

__ADS_1


"Aku juga kangen Bu, maaf karena kesibukan, aku belum sempat menjenguk kalian!" ucap Dicky menyesal.


"Walaupun kau sibuk, tapi kau selalu tidak pernah lupa untuk mentransfer kebutuhan adik-adikmu di sini, terimakasih Dicky, kalau bukan karena rejeki darimu, mungkin sudah lama panti ini di tutup!" ucap Bu Nuri.


"Panti ini tidak akan pernah di tutup Bu, karena dari sini aku memiliki kesempatan hidup kedua, kalian adalah harta buat hidupku!" balas Dicky.


Mereka kemudian mulai berjalan-jalan mengitari panti.


"Ini Fitri istriku Bu, maaf karena suatu hal aku tidak bisa mengundang kalian datang waktu aku menikahinya, semuanya serba mendadak dan terburu-buru!" ucap Dicky.


"Ibu paham Dicky, di Jakarta kau pasti sangat sibuk, dan ibu bangga padamu, kini kau telah menjadi seorang Dokter anak sesuai dengan cita-citamu!" kata Bu Nuri sambil menepuk lembut bahu Dicky.


"Siapa anak ini Bu!?" tanya Dicky sambil menunjuk seorang anak yang kini tertidur dalam gendongan Bu Nuri.


"Dia Putri, Ibu menemukannya di pasar saat belanja, dia menangis mencari ibunya, sambil menunggu keluarganya datang, akhirnya Ibu merawatnya, padahal fotonya sudah di sebar di media, namun sampai sekarang tidak ada yang menjemputnya!" jelas Bu Nuri.


"Hmm, kasihan dia, nasibnya sama seperti aku, di tinggalkan dan dicampakkan seperti sampah, namun ada malaikat yang menemukanku, malaikat itu adalah Bu Nuri, terimakasih Bu!" Dicky kemudian memeluk Bu Nuri dari belakang, matanya mulai berkaca-kaca.


Melihat momen itu, tanpa sadar Fitri meneteskan air matanya.


"Iya Bu!" jawab Fitri.


Kemudian Bu Nuri segera beranjak meninggalkan mereka.


Dicky lalu menuntun Fitri duduk di bangku taman menghadap kolam ikan yang berair jernih itu, dengan ikan-ikan yang berenang kian kemari, menambah keindahan suasana di tempat itu.


"Dulu Mas Dicky tinggal di sini?" tanya Fitri.


"Iya Fit, sejak kecil aku tinggal disini, aku bahkan tidak pernah mengenal siapa orang tua kandungku, saat aku baru lahir aku sudah berada di depan pintu panti, Bu Nuri yang menemukanku, selama ini dialah yang menjadi ibuku!" tutur Dicky.


"Aku ... aku sangat terharu dengan kehidupanmu Mas!" ucap Fitri lirih.


"Aku tau aku adalah anak yang di tolak, aku mengalami kepahitan hidup, walau Bu Nuri menyayangiku, tapi saat di sekolah aku sering menerima bulian dan tekanan karena aku yatim piatu, dulu panti tidak sebesar ini, Bu Nuri hanyalah seorang guru SD, gajinya pas-pasan, harus menghidupi beberapa anak yang terlantar, walau di bantu beberapa donatur, tetap saja kebutuhan semakin besar!" lanjut Dicky.


"Tapi sekarang, Mas Dicky ku ini sudah menjadi Dokter yang hebat, aku bangga padamu Mas!" ucap Fitri.


Fitri mulai menyandarkan kepalanya di bahu suaminya itu.

__ADS_1


"Setiap bulan, aku rutin mentransfer 30 persen dari penghasilanku untuk kelangsungan panti ini, kau tidak keberatan kan sayang?" tanya Dicky sambil menggenggam hangat tangan Fitri.


"Tentu saja tidak Mas, aku malah mendukungmu, aku beruntung bisa memiliki suami yang berhati mulia sepertimu!" jawab Fitri.


"Terimakasih sayang, jadi makin cinta sama kamu!" goda Dicky.


"Hmm, mulai lagi deh!" rajuk Fitri.


Aldo, yang masih duduk di bangku kelas 6 SD itu nampak berlari menghampiri Dicky dan Fitri.


"Kak Dicky, ini daftar makanan yang mau di pesan, kita semua kompak mau makan nasi rendang! Minumannya jus Alpukat!" kata Aldo bersemangat.


"Nasi rendang? Semuanya?" tanya Dicky.


"Iya Kak, kan Kak Dicky yang ajarin kita, satu makan tempe semua makan tempe, satu makan daging semua makan daging, walau harus dibagi-bagi!" Jawab Aldo dengan lugas dan jelas.


"Hahaha kalian makin pintar saja! Baiklah, kakak akan pesankan nasi rendang untuk kalian semua!" Ujar Dicky sambil mengelus rambut Aldo.


Kemudian Dicky mulai mengambil ponselnya dan memesan makanan yang mereka pilih tadi melalui online.


"Terimakasih kak!" sahut Aldo yang kemudian berlari kembali bergabung dengan semua saudara-saudaranya.


"Mereka itu lucu-lucu ya, jadi ini ya tempat yang mau Mas Dicky tunjukan padaku?" tanya Fitri.


"Iya Fit, supaya kau tau asal usul ku yang sebenarnya, aku ini anak panti asuhan, di sekolahkan sampai SMA, setelah itu aku bekerja di hotel sebentar untuk membiayai kuliahku, beruntung ada yang menawari aku beasiswa, makanya aku bisa seperti yang kau lihat sekarang ini!" jawab Dicky.


"Kau luar biasa Mas, ngomong-ngomong di mana toilet ya? Aku mau ke toilet Mas!" tanya Fitri.


"Oh, ayo ikut aku, aku akan mengantarmu!" Dicky kemudian mulai menggandeng Fitri kembali masuk ke dalam rumah itu.


****


Hai hai Guys ....


Jika kalian menyukai kisah ini, dukung author dong melalui Like, komen dan vote, supaya author tetap semangat buat update cerita selanjutnya.


Terimakasih 🙏😉😘❤️

__ADS_1


__ADS_2