
Mata Fitri mengarah pada seseorang yang sedang di kejar oleh massa, dia nyaris tak percaya pada apa yang dilihatnya.
"Mas, itu kan Bu Romlah, Emaknya Dara, kenapa dia sampai di kejar orang-orang?" tanya Fitri.
"Coba kita turun sebentar Fit, jangan pernah lepaskan tanganmu dari tanganku!" Dicky kemudian turun dari mobilnya di susul oleh Fitri.
Kemudian mereka mulai mendekati kerumunan itu.
Ternyata Bu Romlah sudah tertangkap oleh massa, dan mereka mulai memukuli Bu Romlah.
"Dasar maling!! Pantas saja barang di minimarket sering hilang! Ternyata kau malingnya!!" teriak salah seorang yang berseragam minimarket.
"Ampun Mas! Ampun! Saya butuh makan! Anak saya masih kecil-kecil!" mohon Bu Romlah dengan wajah yang biru lebam karena di pukuli warga.
"Tapi jangan pakai mencuri juga kali Bu! Dosa! Ayo kita bawa saja orang ini ke kantor polisi!!" seru salah seorang warga sekitar.
"Tunggu!!" Tiba-tiba Dicky maju dan menghentikan aksi mereka.
"Siapa anda? Dia ini pencuri! Jadi pantas di perlakukan begini!" cetus seorang warga yang lain.
"Dia itu orang tua murid saya, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Fitri.
"Ibu ini kedapatan mencuri banyak makanan di minimarket saya, saat dia keluar dari minimarket saya langsung teriak maling, supaya di kejar orang-orang, kejadian ini bukan cuma sekali Bu, minimarket kami sudah berapa kali kehilangan gara-gara Dia!" jelas pegawai minimarket itu.
"Begini saja, biar ibu ini jadi tanggung jawab kami, sekarang berapa nilai barang yang dia curi?" tanya Dicky.
Pegawai minimarket itu nampak berpikir dan menghitung.
"Kalau di total sih sekitar tiga ratus ribuan!" jawab pegawai minimarket itu.
"Baik, ini saya gantikan kerugiannya, setelah itu kalian semua boleh bubar!" ujar Dicky sambil menyerahkan uang tiga ratus ribu dari dalam dompetnya kepasa pegawai minimarket itu.
Kemudian kerumunan orang-orang itu mulai bubar sambil mengumpat dan mengoceh.
Bu Romlah nampak bangkit sambil menunduk.
"Bu Romlah, kan setiap bulan saya sudah berikan santunan sebesar satu juta? Kenapa.Bu Romlah masih mencuri?" tanya Dicky.
__ADS_1
"Pak Dokter pikir saja, untuk makan saja pas Pasan, sehari makan tiga kali, belanja 50 ribu itu sudah minim, kalikan saja 30 hari, apalagi sekarang rumah mau di gusur, sekarang pemulung sering kena razia, sudah berapa hari saya tidak memulung, hanya mengandalkan santunan dari bapak!" ungkap Bu Romlah.
Dicky nampak berpikir, mencari cara agar Bu Romlah ada pemasukan selain jadi pemulung.
"Bu, bagaimana kalau Bu Romlah jualan nasi uduk di kantin sekolah? Nanti saya akan kasih modal awal ke ibu?" usul Dicky.
"Sudah deh Pak, saya malu sama Pak Dokter juga Bu Fitri, sudah banyak bantu saya, saya mau pulang kampung saja deh, lumayan biar cuma jadi buruh tani, tapi di kampung saya masih punya rumah!" kata Bu Romlah.
"Tapi bagaimana dengan Dara dan Dina Bu? Mereka kan masih sekolah!" tanya Fitri. Bu Romlah nampak berpikir.
"Kalau Dina, saya bisa bawa ke kampung Bu, kan Dina sudah lulus SD kemarin, jadi nanti di SMP negri di kampung saja, gratis, kalau Dara ... saya juga bingung!" ungkap Bu Romlah.
"Baiklah Bu, sambil berpikir, bagaimana kalau saya antar Bu Romlah pulang ke rumah, nanti kami juga akan berpikir solusi untuk masalah Ibu, asal Ibu janji tidak akan mencuri lagi!" ujar Dicky.
"Iya Pak, saya malu, apalagi saya sudah ketahuan mencuri bahkan sampai di pukuli warga, saya menyesal Pak, saya juga malu sama Pak Dokter dan Bu Fitri!" ungkap Bu Romlah dengan raut wajah penuh penyesalan.
"Bagus kalau Bu Romlah sudah bertobat dan menyadari kesalahan Ibu, sekarang lupakan yang sudah lewat, kita maju berpikir ke depan!" ujar Dicky.
Mereka kemudian mulai masuk ke dalam mobil, lalu mengantar Bu Romlah pulang ke rumahnya.
****
Tiba-tiba ada tangan berbulu yang melingkar di pinggang Fitri.
"Mas Dicky ..." gumam Fitri sambil mengusap tangan suaminya yang da di pinggangnya itu.
"Kau sedang memikirkan apa Fit?" tanya Dicky.
"Mas, aku kok masih kepikiran soal Bu Romlah ya, kalau dia jadi pulang kampung, lalu Dara bagaimana?" ungkap Fitri.
"Kok pikiranmu bisa sama dengan pikiranku Fit? Dari tadi aku juga berpikir begitu!" timpal Dicky.
"Mas ... Bagaimana menurutmu kalau kita mengadopsi Dara?" tanya Fitri sambil menoleh ke arah Dicky. Dicky nampak berpikir.
"Mengadopsi Dara? Aku malah senang kau punya pikiran seperti itu, paling tidak kita bisa memberikan Dara kehidupan yang lebih layak!" jawab Dicky.
Fitri kemudian membalikan tubuhnya dan mulai memeluk Dicky.
__ADS_1
"Terimakasih Mas, aku tidak menyangka hatimu begitu lembut dan mulai, tadinya aku pikir kau keberatan kalau mengadopsi Dara!" ujar Fitri.
Dicky lalu mengecup kening Fitri dengan lembut.
"Siapa bilang aku keberatan, dengan kasih sayang kita bisa mengubah hidup orang lain menjadi lebih baik!" ucap Dicky.
"Kenapa Mas Dicky bisa berkata begitu?" tanya Fitri.
"Karena ... aku juga adalah anak adopsi, di adopsi oleh seorang malaikat tanpa sayap yang bernama Ibu Nuri, dengan kasih sayang beliau, aku bisa menjadi seperti yang kau lihat sekarang ini!" ucap Dicky.
Fitri semakin erat memeluk suaminya itu, ada rasa hangat dan bahagia yang dia rasakan, perasaan kagum pada sosok Dicky kian bertambah.
"Terimakasih Mas, besok kita bicarakan niat hati kita dengan Bu Romlah, mudah-mudahan saja dia tidak keberatan kalau kita mengadopsi Dara!" kata Fitri.
"Hmm, baiklah sayang, sekarang kita masuk yuk, anginnya dingin, nanti kau masuk angin!" ujar Dicky sambil menggandeng tangan Fitri masuk ke dalam kamarnya.
Fitri mulai membaringkan tubuhnya, seperti biasa, Dicky akan bermain-main di perut Fitri sambil mengajak bayinya bicara.
"Cepatlah kau lahir Nak, ramaikan rumah ini dengan tawa dan tangisanmu, Papa sudah tidak sabar!" bisik Dicky.
"Dengar tuh Dek, Papa tidak sabar melihatmu, nanti kau akan mirip siapa ya, kalau laki-laki pasti tampan seperti Papa!" tambah Fitri.
"Wah Dek, Mamamu bilang Papa tampan, kenapa dia tidak sejak dulu mengatakannya?" gumam Dicky.
"Sudah sejak dulu aku mengatakannya!" sergah Fitri.
"Kapan? Kenapa aku tidak pernah dengar?!" tanya Dicky.
"Tentu saja kau tidak pernah dengar, aku kan mengatakannya dalam hati!" sahut Fitri.
Dicky tersenyum kemudian tangannya mulai beralih naik ke wajah Fitri, dia mulai membelai dan kemudian mencium bibir Fitri dengan lembut.
"Mas Dicky ah, ini masih sore!" sergah Fitri.
"Tidak perduli mau sore atau malam, atau pagi sekalian, aku kangen Dedek, boleh tengok sebentar?" bisik Dicky menggoda.
Wajah Fitri langsung memerah seketika.
__ADS_1
*****