
Jika Riana sulit melupakan Raihan, berbeda dengan laki-laki itu yang nampak bangga tanpa beban menunjukkan hubungannya dengan seorang wanita cantik yang memiliki jabatan di atasnya. Beberapa dari mereka mengucapkan selamat dan turut senang akan hubungan mereka. Rekan-rekan kerja Raihan mengetahui jika hubungannya dengan Riana sudah kandas sejak beberapa bulan yang lalu. Memang tidak ada yang mengetahui jika Raihan telah bertunangan. Sebab saat acara pertunangan berlangsung, Raihan tidak mengundang rekan-rekan kerja, hanya melibatkan beberapa keluarga terdekat saja, termasuk keluarga dirinya serta Riana.
Siang ini Riana harus menelan pil pahit ketika harus berpapasan dengan Raihan, pria yang masih bertahta di hatinya hingga sampai detik ini. Meskipun sudah dua bulan sejak pertemuan terakhir mereka, masih teringat jelas ucapan Raihan kala itu.
Bibir Riana terlihat berkerut masam, pasalnya tanpa tahu malu Raihan bergandengan tangan dengan perempuan yang ia ketahui bernama Anggun. Menyesal sudah Riana berada di gedung West, karena divisi Raihan berada di gedung tersebut. Sehingga ia harus dihadapkan dengan masa lalu yang belum usai menurutnya.
Langkah Riana mendadak ragu, ia begitu berat melanjutkan kembali langkahnya yang sudah setengah jalan itu. Tanpa sadar satu tangannya terkepal erat, pemandangan di hadapannya benar-benar menyesakkan dada. Lihatlah, laki-laki itu bercengkrama dengan kekasih barunya seolah dunia hanya milik mereka berdua.
"Ri...." Seorang laki-laki menepuk pundak Riana. Ia yang melangkah lebih dulu kembali memutar arah menghampiri Riana. "Kamu tuh kenapa diem aja sih? aku udah jalan duluan tadi, kamu masih disini aja," ujarnya menatap wajah Riana yang masih menyoroti kedua pasangan sejoli yang tengah di mabuk cinta.
Riana menoleh ke arah teman laki-lakinya, ia memaksakan senyumnya. "Iya Fan maaf, kaki aku sedikit kram tadi. Tapi ini udah enakan kok." Dan Riana berkilah, ia tidak ingin jika Fandy mengetahui alasan dirinya berdiam diri, hanya sekedar mengumpulkan keberanian untuk berhadapan dengan Raihan serta perempuan itu.
Kedua mata Fandy menyipit, tentu ia tidak percaya begitu saja. Sejak tadi ia sudah merasa ragu mengajak Riana untuk ke gedung divisi mantan tunangan Riana, namun karena menyangkut pekerjaan, tentu ia harus turut membawa Riana. Pandangan Fandy kemudian di edarkan ke segala arah, mencari sumber yang sudah membuat Riana menghentikan langkahnya. Benar saja, ia mendapati Raihan tengah duduk dan menggenggam tangan seorang perempuan.
"Ri, kamu lihatin mereka dari tadi 'kan, makanya kamu diem aja disini?" Perkataan Fandy, sontak membuat Riana kembali menatapnya.
"Salah ya Fan kalau hati aku masih ngerasain sakit. Apalagi kalau liat Rai bahagia sama perempuan barunya," lirihnya menyuarakan apa yang ia rasakan. Fandy memang sudah mengetahui perihal masalah yang terjadi dengan Riana. Ia turut prihatin dan menjadi tidak tega melihat temannya larut dalam kesedihan.
__ADS_1
"Wajar sih Ri, kamu sama Raihan nggak cuma satu tahun, tapi udah tujuh tahun kalian pacaran. Sakit sih udah pasti, nggak gampang nyembuhin sakitnya. Aku aja nggak terima Raihan kayak gitu ke kamu. Rasanya tuh pengen hajar dia tau nggak Ri." Memang sebagai sesama laki-laki rasanya tindakan Raihan keterlaluan, berkhianat dengan perempuan yang belum lama dikenalnya, dan meninggalkan perempuan yang sudah menemani sejak lama.
Mata Riana kembali berkaca-kaca, setidaknya masih ada teman-teman yang menghibur dirinya di saat hatinya dalam keadaan hancur. "Yaudah, kamu coba hajar Rai. Aku sakit hati banget lihat dia bahagia di atas penderitaan aku, Fan."
Mendengar perkataan Riana, Fandy sempat tertegun. Biasanya Riana akan menahan dirinya dan masih membela laki-laki berengsek itu. Akan tetapi kali ini ia mendengar sendiri jika Riana ingin ia menghajar laki-laki itu.
"Bener Ri, aku boleh ngehajar dia? Nanti kamu nangis lagi liat mantan kamu di gebukin gitu." Fandy mencoba untuk menggoda Riana, ia sangat yakin jika Riana tidak bersungguh-sungguh. Mulut dan hati perempuan itu sudah pasti tidak sejalan.
Bibir Riana mencebik sebal karena Fandy dapat menebaknya. "Iya sih. Nanti malah kalian jadi berantem." Entahlah, yang pasti ia memang tidak tega jika seandainya Fandy benar-benar menghajar Raihan.
"Laki-laki sih wajar aja berantem. Apalagi buat kasih pelajaran laki-laki kayak Raihan. Nggak cuma aku yang semangat, Rama juga pasti nggak akan segan-segan hajar mantan kamu." Fandy berseru sembari terkekeh, ia teringat akan Rama, saat masa-masa sekolah menengah, ia dan Rama selalu membuat keributan antar kelas.
"Jangan ngajak Rama macem-macem deh Fan. Dia lagi sibuk cari uang, kasian kalau sampai mikirin masalah aku juga. Lagian dia pasti mikir jelek, selama ini aku jarang bales chat dia, tapi waktu ada butuhnya malah bawa-bawa dia," tutur Riana. Sungguh ia tidak ingin melibatkan siapapun dalam masalahnya. Terlebih Rama yang dikenalnya selalu membuat rusuh sejak usia mereka menginjak 15 tahun.
Fandy terkekeh-kekeh mendengar celoteh Riana. Ia dan Rama memang berteman sejak duduk di bangku sekolah menengah, sehingga apapun yang terjadi dengan Riana, selalu ia ceritakan kepada temannya itu. Namun sayangnya Riana meminta padanya untuk merahasiakan apa yang terjadi dengan perempuan itu.
"Jangan sampai Rama tau masalah aku ini Fan. Cukup kamu aja yang tau." Riana kembali mengultimatum permintaannya. Ia tidak ingin semakin banyak orang yang tahu tentang kandasnya hubungannya dengan Raihan.
__ADS_1
"Iya... iya... kamu tenang aja, aku nggak bakalan ngomong apa-apa sama Rama." Lebih baik Fandy mengiyakan saja, tetapi entah beberapa hari ke depan. Ia pasti akan membocorkannya kepada Raihan. Tidak mungkin ia diam saja, terlebih Rama selalu mengorek informasi apapun mengenai Riana darinya ketika mereka bertemu saat futsal.
"Yaudah yuk, kita jalan lagi. Kamu nggak usah peduliin Raihan. Anggap aja kamu nggak kenal sama dia," imbuhnya ingin segera berlalu dari sana.
Riana hanya mengangguk saja. Ia kemudian menarik napas dalam lalu membuangnya secara perlahan. Benar apa yang dikatakan oleh Fandy, ia harus bisa bersikap biasa saja seolah ia dan Raihan tidak saling mengenal.
Keduanya berjalan beriringan, melewati segerombolan rekan-rekan kerja Raihan. Entah kenapa semua mata tertuju kepada Riana dan Fandy, tak terkecuali Raihan sendiri. Laki-laki itu terkejut dengan adanya Riana yang berada di gedung divisinya.
Riana? batinnya.
Pandangannya berusaha mencuri-curi celah untuk menatap mantan tunangan itu. Riana masih tetap sama, cantik dan menggemaskan. Namun sayangnya itu semua mudah tergantikan oleh sosok Anggun yang dewasa dan mandiri. Entah kenapa melihat Riana berjalan dengan laki-laki lain dan tertawa seperti itu membuat hatinya memanas tidak terima.
Bersambung
...Yoona minta dukungan kalian untuk like, vote, follow, fav, hadiah dan komentar kalian 💕 terima kasih banyak 🤗...
...Always be happy 🌷...
__ADS_1
...Instagram : @rantyyoona...