Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Tidak Di Sangka


__ADS_3

Pagi itu Dicky bersiap akan ke kantor polisi sebelum dia berangkat ke rumah sakit.


Hidangan untuk sarapan sudah tersedia di meja, Dina dan Dara juga sudah nampak duduk manis di ruang makan itu.


Kepala Fitri sudah tidak terlalu pusing lagi, kini dia bahkan sudah bisa melihat lebih jelas dari sebelumnya, setelah rutin memakai obat pemberian dari Dokter Jane saat mereka berlibur ke Jepang.


"Papa, Mama, kami masih boleh les dengan Pak Hardi tidak? Karena sudah beberapa lama tidak belajar, ulanganku jadi turun nilainya!" kata Dina.


"Nanti Papa akan Carikan guru les yang lain untuk kalian, kalian tenang saja!" sahut Dicky.


"Memangnya Pak Hardi kenapa sih? Kan dia baik, suka kasih makanan lagi!" tanya Dara.


"Hmm, gimana ya, soalnya Pak Hardi selalu pakai masker kalau mengajar, bagaimana kalau dia punya penyakit, kan bisa menular sama kita!" kilah Dicky mencari alasan.


Dina dan Dara terlihat manggut-manggut.


"Mas, aku boleh ikut tidak ke kantor polisi?" tanya Fitri tiba-tiba.


"Jangan sayang, untuk apa kau ikut ke kantor polisi? Apalagi kau sedang hamil besar begini, pokoknya aku tidak mengijinkan mu!" sahut Dicky.


"Tapi Mas, aku sangat penasaran sekali dengan penjahat itu, penjahat yang sudah berniat mencelakai suamiku bahkan merampok rumah ini!" ujar Fitri.


"Nanti Mas Foto saja deh penjahatnya, supaya kau bisa melihatnya, tapi kau jangan ikut datang ke sana ya!" ucap Dicky sambil mengelus rambut Fitri.


Wajah Fitri nampak kecewa, apalagi sekarang dia merasa sangat sehat, pandangan sudah tidak berputar-putar lagi.


Tin ... Tin ...


Mang Salim sudah membunyikan klakson mobilnya, pertanda Dina dan Dara sudah harus berangkat ke sekolah.


"Tuh sana berangkat anak-anak! Nanti kalian akan terlambat, jangan lupa bekalnya di habiskan!" ujar Fitri mengingatkan.


"Kami berangkat dulu ya Pa, Ma!" pamit Dina dan Dara sebelum berlari ke arah mobil yang telah menunggunya.


Dicky dan Fitri tersenyum sambil melambaikan tangannya.


Setelah selesai sarapan, Dicky langsung berjalan ke parkiran ke arah mobilnya yang baru.

__ADS_1


Karena kasus perampokan itu Dicky kehilangan 2 unit mobilnya, akhirnya dia membeli lagi 2 unit mobil untuk transportasinya.


Di depan gerbang, nampak Bu Romlah yang terlihat sedang berdiri menunggu, lalu dia segera menghampiri Dicky dan Fitri.


"Selamat pagi Pak Dokter, Bu Fitri, saya hanya ingin menagih janji Pak Dokter kemarin, soal oleh-oleh dari Jepang itu!" kata Bu Romlah.


"Kau masuk saja Bu, temui Bi Sumi, aku sudah titip ke dia!" sahut Dicky.


"Assyyiiikk, uhuuuy dapat oleh-oleh dari Jepang!" Bu Romlah lalu masuk dengan riangnya.


Sementara wajah Fitri terlihat murung karena Dicky tidak mengajaknya.


"Masa aku tidak boleh ikut sih Mas?" tanya Fitri merajuk.


"Maafkan aku sayang, untuk kali ini aku harus tegas padamu, kau istriku yang sangat aku cintai, apalagi kau sedang hamil anakku, aku tidak mau kau keluar rumah, semua ini demi ke amananmu sayang!" jawab Dicky sambil mengelus pipi Fitri.


"Baiklah Mas! Kau hati-hati ya!" ucap Fitri sambil mengecup tangan suaminya itu.


"Kau di rumah saja istirahat, ada Bu Sumi juga Pak Salim yang akan menjagamu, kalau ada apa-apa, lalu langsung telepon aku ya!" ujar Dicky.


Kemudian Dicky segera naik ke dalam mobilnya, dan langsung melajukannya keluar dari gerbang rumahnya itu.


Tidak sampai setengah jam, Dicky sudah memarkirkan mobilnya di kantor polisi.


Dicky langsung masuk kedalam dan bertemu dengan salah seorang polisi yang menangani kasusnya.


"Selamat pagi Pak Dokter, pelaku kejahatan tindak kriminal sekarang ada di tahanan, silahkan jika Pak Dokter ingin melihatnya!" kata Polisi itu.


"Antarkan saya ke sana Pak, dan ijinkan saya untuk menghajarnya, supaya hati saya sedikit lega, untuk selanjutnya biar hukum yang bertindak!" ujar Dicky.


"Silahkan Pak Dokter!" jawab Polisi itu sambil beranjak berdiri dari tempatnya.


Mereka kemudian masuk ke dalam dan berjalan mengurusi lorong menuju ke sel tahanan yang paling ujung.


Ada ruang khusus untuk bertemu tahanan dan pengunjung di ujung lorong itu.


Dicky terhenyak melihat ketiga orang pelaku kejahatan terhadapnya. Dia sangat mengenal mereka, bukan saja mengenal, bahkan Dicky pernah menghajarnya habis-habisan.

__ADS_1


"Ternyata kalian!! Kapan iblis dalam hati kalian akan hilang?? Apakah kalian layak di sebut sebagai manusia??" sentak Dicky.


"Maaf Pak Dokter, apakah Pak Dokter pernah mengenal mereka sebelumnya?" tanya Pak Polisi.


"Tentu saja aku mengenal mereka! Mereka adalah orang-orang biadab yang telah memperkosa istriku! Ternyata hukuman penjara tidak membuat mereka jera, mereka bahkan telah melakukan hal yang lebih keji dengan mencoba membunuhku dan merampok rumahku!!" seru Dicky.


Bughh!!!


Dicky menonjok ke tiga orang pelaku kejahatan itu dengan tangannya dengan membabi buta, Pak polisi terpaksa menengahinya karena ketiga orang itu sudah terlihat babak belur dengan darah yang mengucur dari mulut mereka.


"Katakan padaku sekarang! Apa yang membuat kalian begitu jahat terhadap aku dan keluargaku!!" sentak Dicky.


"Kami sangat membencimu Pak Dokter! karena saat dulu kau melaporkan kami ke kantor polisi, kami jadi kehilangan pekerjaan, dikucilkan keluarga, tidak bisa menikah karena tidak ada yang mau dengan napi seperti kami! Itu semua gara-gara kau Dokter!!" seru salah seorang pelaku.


"Kalian memang pantas mendapatkan hukuman itu!! Kalian sudah merusak kehormatan istriku!! Lalu kenapa kalian kembali melakukan kejahatan??" tanya Dicky.


"Saat kami bebas, tidak ada satupun yang menerima kami bekerja, saat itu kami sangat dendam padamu! Masa depan kami suram, sementara kau malah naik jabatan dan jadi terkenal!! Makanya kami sangat ingin membunuhmu! Tapi ternyata kau malah selamat!!" tambah pelaku yang lainnya.


"Kami hidup luntang lantung di Jakarta hanya bisa mengamen dan mencopet, sementara kau bergelimang harta, makanya kami merencanakan perampokan saat kami tau kau akan pergi ke Jepang! Sudah lama kami mengincar kesempatan itu!!" sengit pelaku yang lain dengan penuh kebencian.


Dicky ngos-ngosan habis menghajar ketiganya, dia tidak menyangka bahwa hal kecil yang pernah dia lakukan dulu mengakibatkan kasus besar dalam hidupnya.


"Sekarang kalian kembali mendekam di penjara!! Baguslah!! Semoga kalian cepat bertobat!!" cetus Dicky sebelum melangkah pergi meninggalkan tempat itu.


Seorang polisi kembali memasukan ke tiga pelaku kejahatan itu ke dalam sel tahanan.


"Pak Dokter, kami sudah mengamankan dua unit mobil Pak Dokter yang di rampok, juga masih ada beberapa harta benda yang kami amankan!" kata Pak Polisi.


"Berikan saja semua harta itu untuk panti asuhan yang ada di sekitar tempat ini, aku tak memerlukannya lagi, bagiku asal keluargaku baik-baik saja itu sudah cukup!" jawab Dicky.


"Terimakasih Pak Dokter!" ucap Pak Polisi itu sambil menjabat tangan Dicky.


Kemudian Dicky segera pamit dan pergi meninggalkan kantor polisi.


Selama perjalanan nya, Dicky banyak merenung tentang semua yang terjadi dalam hidupnya.


"Sebelum ke rumah sakit, aku harus ke sekolah internasional itu, tempat Pak Hardi mengajar!" gumam Dicky sebelum dia kembali mengendarai mobilnya menuju ke sebuah sekolah internasional yang besar di kota itu.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2