Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Mulai Hidup Yang Baru


__ADS_3

Hari ini hari Sabtu, seharusnya ada acara besar di rumah kediaman Bu Anjani, seharusnya hari ini adalah hari yang paling membahagiakan, seharusnya hari ini menjadi sejarah berkumpulnya keluarga Bu Anjani, setelah terpisah sekian tahun lamanya.


Namun rumah itu nampak sepi, semua catering yang sudah di pesan di batalkan, di alihkan ke panti-panti asuhan, dekorasi dan EO juga di batalkan, padahal semuanya sudah lunas di bayar.


Bu Anjani kini memahami, ada hal yang tidak bisa di beli dengan uang, dan semua kelimpahan dan kemewahan yang selama ini dia miliki ternyata sia-sia.


Di sini, di sofa ruang keluarga yang besar ini, Bu Anjani duduk melamun.


Biasanya dia sudah menimang Alex, semua mainan dan barang-barang milik Alex bahkan masih ada di sini, semua hanya tinggal kenangan, sangat perih dan pilu hatinya.


Ruangan yang biasanya ramai kini nampak sunyi dan lengang.


"Ini wedang jahe hangatnya Nyonya, silahkan di minum!" kata Mbok Jum yang berjalan ke arah Bu Anjani dan menyodorkan secangkir wedang jahe hangat.


"Taruh saja di meja situ Mbok!" sahut Bu Anjani. Matanya masih menatap lurus ke depan.


"Lho, nanti keburu dingin Nyonya, lebih baik di minum sekarang saja!" tukas Mbok Jum.


"Aku sedang tidak ingin minum Mbok, taruh saja!" ujar Bu Anjani.


Akhirnya Mbok Jum meletakan cangkir itu di atas gelas. Lalu wanita paruh baya itu duduk bersimpuh di bawah, di dekat kaki Bu Anjani.


"Biasanya, jam segini aku sedang menimang Alex, biasanya dia senang bermain dengan mainan barunya, kenapa rumah ini sekarang jadi sepi seperti kuburan?" gumam Bu Anjani.


"Maaf Nyonya, mungkin ada yang salah sehingga mereka pergi meninggalkan Nyonya!" jawab Mbok Jum.


"Mbok, sekarang jawab aku, apa aku salah memberikan kasih sayang dan segalanya untuk cucuku?? Apa aku salah memberikan semua hak dan warisan untuk Dicky anakku? Hingga aku pun sudah mengubah namaku atas nama dia, tapi dia malah pergi meninggalkan aku!!" Bu Anjani kembali menangis.


"Tapi Nyonya, Tuan muda Dicky itu kan punya istri, mereka sudah menjadi satu, Nyonya jangan lupakan itu!" ujar Mbok Jum.


"Aku tau Mbok! Tapi walau bagaimana, aku ini Ibu kandungnya! Aku yang telah melahirkannya ke dunia ini!" ucap Bu Anjani sambil menyeka air matanya.


"Tuan Muda itu sudah punya keluarga yang selama ini ada bersamanya, kalau Nyonya mencintai Tuan muda, Nyonya pasti juga akan mencintai keluarganya!" sahut Mbok Jum.


Tiba-tiba dari arah pintu depan, masuklah seorang wanita yang ternyata adalah Keyla, tanpa basa-basi dia langsung duduk di samping Bu Anjani.


Mbok Jum lalu segera berdiri dan beranjak pergi ke belakang.

__ADS_1


"Selamat siang Tante, aku dengar, Dokter Dicky mengundurkan diri dari rumah sakit, sebenarnya apa yang terjadi?" tanya Keyla.


"Panjang ceritanya Key, sudahlah, ini urusan keluarga Tante!" jawab Bu Anjani.


"Maaf Tante, bukan bermaksud mau ikut campur, tapi yang aku dengar, Tante mencabut semua fasilitas dan hak kepemilikan rumah sakit, Kasihan Dokter Dicky dong Tante, pantas saja dia mundur!" kata Keyla.


"Biarkan saja, saat ini hati Tante begitu kecewa, dia lebih mendengarkan istrinya dari pada Tante yang adalah Ibunya, hati Tante sakit Key!" ujar Bu Anjani yang kembali berkaca-kaca.


"Yah Tante, padahal aku baru senang, bisa mendekati Dokter idolaku itu, kalau begini, bagaimana cara aku buat mendekatinya lagi!" sungut Keyla.


"Dicky tidak akan semudah itu untuk kau dekati, Tante semakin mengenal bagaimana karakternya!" ucap Bu Anjani.


****


Di tempat kediamannya, Dicky juga duduk melamun di teras depan rumahnya, beberapa tukang bangunan nampak sedang membuat pondasi di halaman depan rumahnya yang terbilang luas itu.


Di depan rumahnya itulah Dicky berencana akan membuat klinik 24 jam, dia akan membuka praktek di rumahnya sendiri.


Wajahnya nampak sendu, sebenarnya ada rasa rindu pada sosok Ibu yang telah melahirkannya, namun secara tidak sengaja, Dicky telah menggoreskan luka di hati Ibunya.


"Mas Dicky melamun apa? Ini kopi dingin Mas, untuk mendinginkan pikiranmu!" kata Fitri yang tiba-tiba datang sambil menyodorkan segelas kopi dingin capuccino.


"Terimakasih Fit, Alex mana?" tanya Dicky.


"Alex sedang tidur Mas, tuh lagi di jagain sama kakak-kakaknya, Dina dan Dara!" jawab Fitri.


"Fit, kalau misalnya nanti penghasilanku sedikit, karena aku baru mulai membuka praktek, tidak apa-apa kan?" tanya Dicky.


"Mas Dicky kok ngomongnya begitu sih? Memangnya Mas Dicky pikir, aku mau sama Mas Dicky di saat senang saja? Berapapun rejeki yang di hasilkan suamiku, dengan senang hati aku akan menerimanya!" jawab Fitri.


"Fitri, terimakasih Fit, kau benar-benar istri yang baik dan pengertian!" ucap Dicky sambil mengecup jemari istrinya itu.


"Mas Dicky tidak usah merasa bersalah, selama ini, Mas Dicky lah yang selalu menopang kehidupan kami, dan aku yakin akan ada rejeki yang kita tidak tau datang dari mana!" ucap Fitri.


"Terimakasih Fit, aku benar-benar terharu!" balas Dicky.


"Mas, aku ada ada usul, bagaimana kalau aku mengajar lagi di sekolah tempatku dulu? Alex ada Bi Sumi yang akan menjaga, sementara aku bisa di antar jemput oleh Mang Salim, jadi kau tak perlu khawatir lagi!" kata Fitri.

__ADS_1


"Tapi Fit, kenapa kau ingin mengajar lagi? Apakah aku sungguh tidak mampu untuk menafkahimu? Juga memenuhi kebutuhanmu dan anak-anak? Aku masih mampu Fit!" ujar Dicky yang nampak sedikit terkejut.


"Eh, dengar dulu Mas, maksudku bukan begitu, kau tau kan kalau aku ini guru dan sangat suka mengajar? Bukan karena butuh uang semata, tapi aku ingin mendedikasikan ilmu ku pada setiap murid, sama denganmu yang menolong setiap pasien yang membutuhkan!" jelas Fitri.


"Tapi Fit ..."


"Kita punya tujuan yang sama Mas untuk kemanusiaan, kau mendedikasikan keahlianmu untuk menyembuhkan orang, sedangkan aku menyumbang ilmu ku untuk mencerdaskan anak bangsa! Kita sama-sama punya pekerjaan yang mulia, itu lebih tinggi nilainya dari pada uang!" ungkap Fitri.


Dicky terdiam beberapa saat lamanya, dia nampak berpikir, berat rasanya hatinya untuk melepaskan Fitri kembali mengajar, namun alasan Fitri tidak salah juga.


"Nanti aku akan pikirkan lagi Fit!" lirih Dicky.


"Tidak ada yang harus kau khawatirkan lagi Mas, Pak Donny sudah tidak ada, masalah transportasi sudah ada Mang Salim yang mengantar jemput, jadi tidak ada alasan lagi untuk aku tidak mengajar lagi di sekolah itu!" ungkap Fitri.


Dicky terdiam untuk beberapa saat lamanya.


Tiba-tiba dari arah depan, datang sebuah mobil yang langsung terparkir di halaman rumah itu, lalu turunlah seorang pria sambil menuntun seorang anak balita.


Pria itu datang dan mendekat ke arah Dicky dan Fitri yang masih duduk di teras rumahnya.


"Dio?!" pekik Dicky dan Fitri bersamaan.


Dio, suaminya Ranti nampak tersenyum pada mereka, dia langsung duduk di hadapan Fitri dan Dicky.


"Apa kabar Dokter? Lama kita tidak berjumpa!" sapa Dio sambil menjabat tangan Fitri dan Dicky.


"Ayo Chika, kasih salam sama Om Dokter dan Tante Fitri!" titah Dio pada Chika anaknya.


Chika, yang masih berusia dua tahun lebih nampak mengulurkan tangannya untuk bersalaman.


"Anak pintar!" ucap Dicky sambil mengelus kepala Chika.


"Dokter, kedatanganku ke sini adalah untuk mengembalikan ini padamu, Trimakasih atas bantuanmu waktu itu, kalau bukan kau memberikan aku pinjaman modal, tentu aku tidak bisa seperti sekarang ini, sekarang perusahaanku maju Dokter!" kata Dio sambil menyodorkan sebuah kartu ATM milik Dicky.


Dicky terpana memandang kartu itu, padahal dia sendiri juga lupa, waktu itu sudah membantu Dio meminjamkan modal yang jumlahnya cukup banyak untuk membatu Dio membangkitkan usahanya, kini Dio telah berhasil dan mengembalikan uang itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2