
Seorang perawat kemudian melepas selang oksigen yang menutupi sebagian wajah Dicky.
Fitri perlahan mendekati wajah suaminya itu, perlahan Dicky mulai membuka matanya.
"Mas Dicky ... Mas Dicky sudah sadar?" tanya Fitri dengan raut wajah senang.
"Aduh ... sakit ... sakit sekali!" terdengar suara rintihan Dicky.
"Suster! Tolong suntikan obat pereda rasa nyeri! Masukan ke dalam infusannya!" titah Dokter Yudi.
"Baik Dokter!" sahut suster itu.
"Mas Dicky, ini aku Mas, istrimu!" bisik Fitri.
"Fitri ... Fitri maafkan aku Fit, maaf aku tidak bisa makan bersamamu!" lirih Dicky dengan suara parau.
"Sudahlah Mas, yang penting sekarang Mas Dicky cepat sembuh ya, aku tidak akan meninggalkan Mas Dicky!" ucap Fitri sambil mengelus pipi Dicky.
"Syukurlah masa kritis Dokter Dicky sudah lewat, sekarang tinggal penyembuhan luka fisiknya saja, Bu Fitri tolong kasih support suaminya supaya bisa makan banyak untuk mempercepat proses pemulihannya!" ujar Dokter Yudi.
"Iya Dokter, saya tidak akan kemana-mana, saya akan menjaga suami saya kok!" sahut Fitri.
"Baguslah kalau begitu, saya mohon pamit, silahkan lanjutkan istirahatnya!" pamit Dokter Yudi sambil melangkah meninggalkan ruangan itu.
Fitri tersenyum menatap wajah Dicky yang kini mulai kemerahan.
"Haus Fit!" lirih Dicky.
"Ya haus lah, sejak kemarin bahkan kau belum minum apapun!" ucap Fitri sambil menyodorkan sedotan di botol air mineral ke mulut Dicky.
Dicky meminumnya hampir setengah botol.
Kemudian Fitri membersihkan bibir dan wajah Dicky dengan tissue.
"Fit, seluruh tubuhku sakit semua, kepalaku pusing!" keluh Dicky.
"Iya Mas, banyak tulangmu yang retak dan patah, Mas Dicky tidak bisa banyak bergerak dulu!" ujar Fitri.
"Fit, aku pikir aku tidak bisa bangun lagi, aku pikir aku akan mati, tidak bisa melihatmu juga Dedek, aku takut Fit!" ucap Dicky.
Telapak tangannya menggenggam tangan Fitri.
"Aku malah takut kau akan lupa ingatan Mas, aku takut saat kau membuka matamu kau tidak ingat aku, kau ingat yang lain!" bisik Fitri.
"Tidak mungkin aku melupakanmu fit, kau istriku, satu-satunya, bahkan di dalam alam bawah sadarku, hanya dirimu yang aku ingat!" ucap Dicky.
Bu Eni yang terbangun dari tidurnya terkejut saat melihat Fitri sudah bercakap-cakap dengan Dicky.
__ADS_1
Kemudian dia segera mendekati ranjang Dicky.
"Mantu Ibu yang ganteng sudah sadar? Syukurlah Nak, akhirnya kau bisa sadar juga!" ujar Bu Eni.
"Ibu, memangnya Mas Dicky tidak bisa sadar?" sungut Fitri.
"Bukan begitu Fit, sebelum dia sadar, wajahnya itu sangat mencemaskan, pucat dan terlihat seperti orang yang sedang koma saja, bagaimana tiba-tiba Dicky jadi sadar?" tanya Bu Eni bingung.
"Aku juga bingung Bu, aku merasa aliran darahku seperti berdesir, seperti ada sentuhan lembut yang menyapu seluruh tubuhku!" ungkap Dicky lirih.
Fitri diam saja tidak berkomentar apapun, hanya wajahnya yang merah yang mewakili perasaannya.
"Sekarang sudah malam, sudah jam 12 malam lho, kalian tidurlah, supaya besok pagi bisa bangun dengan tubuh yang segar!" ujar Bu Eni.
"Iya Mas, Mas istirahat lagi ya!" ucap Fitri.
"Iya sayang, tapi Mas mau di temani Fitri, Fitri bobo sini ya di samping Mas Dicky!" ucap Dicky.
"Jangan Mas, nanti ada bagian tubuhmu yang tersentuh yang akan membuatmu sakit!" sergah Fitri.
"Mas butuh di peluk Fitri! Muat kok!" sahut Dicky.
Akhirnya Fitri berusaha naik ke atas ranjang yang sempit itu, Fitri mulai tidur sambil memeluk tubuh Dicky perlahan.
****
Seorang perawat membuka tirai jendela di kamar perawatan Dicky.
Dicky masih nampak memejamkan matanya.
Perlahan Fitri turun dari ranjang Dicky, lalu segera duduk di bangku samping ranjang itu.
"Selamat Pagi Bu Fitri!" sapa perawat itu.
"Pagi Suster!" sapa Fitri.
Seorang perawat yang lain masuk sambil membawa handuk dan satu baskom air hangat.
"Maaf Bu Fitri, tubuh Dokter Dicky minta ijin untuk di seka dan di bersihkan!" kata Suster itu.
Fitri tertegun mendengar ucapan suster itu.
"Suster, saya saja yang menyeka dan membersihkan tubuh suami saya!" sergah Fitri yang merasa tidak ikhlas kalau suster melihat tubuh suaminya.
"Tapi Dokter Dicky tidak boleh di sentuh sembarangan, masih tentan dan sensitif karena banyak tulangnya yang geser!" tukas suster itu.
"Iya Suster, saya tau!" sahut Fitri.
__ADS_1
"Ini Dokter Dicky mau di pasang kateter atau popok dewasa, karena tubuhnya masih belum boleh bergerak!" jelas suster.
Tiba-tiba Dicky bangun dan membuka matanya.
"Suster, aku tidak perlu di pasang kateter atau popok dewasa, ada istriku yang selalu melayani aku!" ucap Dicky.
"I-Iya Dokter, kalau begitu saya akan meletakan alat-alat ini di sini, saya permisi keluar!" kata suster itu.
Dicky lalu tersenyum ke arah Fitri yang sejak tadi berdiri mematung.
"Ayo Bu Fitri, silahkan membersihkan dan menyeka tubuh suamimu ini, bukankah hanya kau yang berhak untuk melihatnya!" goda Dicky. Fitri jadi salah tingkah.
"Bukan begitu maksudku Mas ..." lirih Fitri.
"Aku bahagia karena kau ternyata sangat sayang padaku Fit, walaupun dari mulutmu aku jarang mendengarnya!" ucap Dicky.
"Mas Dicky apaan sih, baru juga sadar kenapa bicara jadi lancar begini!" gumam Fitri.
"Entah mengapa berada di dekatmu membuat aku semakin sehat Fit, rasanya semua sakit ku hilang tergantikan oleh senyum dan kesetiaan mu!" ucap Dicky.
Tiba-tiba Bu Eni masuk sambil membawakan sekantong makanan.
"Kalian sudah bangun rupanya, Fit, ini kau sarapan dulu, Dicky juga tuh, Ibu belikan bubur ayam enak untuk kalian, supaya makin sehat dan kita bisa pulang, Ibu bosan juga lama-lama di rumah sakit!" ungkap Bu Eni sambil menaruh kantong itu di atas nakas.
"Terimakasih Bu!" ucap Dicky.
"Iya mantu ganteng, makan deh yang banyak biar makin ganteng, Ibu suntuk mau jalan-jalan dulu keluar, Fitri kalau perlu Ibu, telepon saja ya!" ujar Bu Eni sambil kembali melangkah keluar meninggalkan ruangan itu.
Fitri hanya tersenyum geli sambil menggelengkan kepalanya melihat tingkah Ibunya itu.
"Maafin Ibu ya Mas, kadang sikapnya suka berlebihan dan norak!" ujar Fitri.
"Biar bagaimana Ibumu adalah Ibuku Fit, jadi kau jangan sungkan padaku!" jawab Dicky.
"Terimakasih Mas, kau sangat baik dan selalu menghargai orang lain!" ucap Fitri.
"Sudahlah sayang, sekarang bisakah kau membantuku?" tanya Dicky yang tiba-tiba berubah air mukanya.
"Ada apa Mas? Mas Dicky ingin apa?" tanya Fitri cemas.
"Anu Fit, aku terlalu banyak minum, aku ingin pipis!" sahut Dicky.
"Oh, sebentar Mas, aku cari plastik dulu buat menampung air pipismu!" Fitri kemudian membuka laci nakas, lalu mengeluarkan sebuah kantong plastik.
Perlahan Fitri mulai membantu Dicky untuk pipis.
"Ah, leganya, terimakasih sayang!" ucap Dicky.
__ADS_1
Setelah membersihkan milik Dicky dan menyeka tubuh Dicky yang masih rentan itu, Fitri kemudian mulai kembali menyelimuti tubuh Dicky.
****