
Lima Bulan Kemudian
Keluarga Dicky telah menempati rumah besar peninggalan dari orang tuanya yang telah tiada.
Di rumah besar itu, tinggal juga Bu Eni dan Pak Karta, kini mereka tidak lagi tinggal di kampung, sesekali saja mereka ke Sukabumi, itupun hanya menengok rumah dan sawah juga perkebunan Pak Karta yang kini telah di kelola oleh orang yang di bayar oleh Dicky.
Rumah yang dulu begitu dingin dan sepi kini berubah ramai dan hangat.
Bi Sumi juga Mbok Jum juga masih setia mengabdi di keluarga Dicky, mereka semakin hari semakin semangat dan senang bekerja di rumah itu, karena Dicky tidak pernah memperlakukan mereka sebagai pelayan, tapi sebagai anggota keluarga.
Sementara Anita dan Donny, setelah menikah mereka menempati rumah milik Dicky dulu sebagai hadiah pernikahan dari Dicky untuk mereka.
Rumah sakit yang kini di kelola langsung oleh Dicky juga berubah semakin ramai, dan kini omset rumah sakit mengalami kenaikan drastis.
Padahal Dicky sering sekali mengadakan bakti sosial dan pengobatan gratis, tapi tetap saja, seolah rejeki dan keberuntungan berpihak pada keluarga Dicky, semakin banyak memberi, mereka malah semakin bertambah kaya dan melimpah.
Sebagai bentuk ucapan syukur, Dicky ingin merayakan ulang tahun Alex di rumah besarnya itu.
Alex yang cerdas dan lincah, dalam usianya yang hampir satu tahun dia bahkan sudah pintar berlari, pertumbuhannya bagus, di atas rata-rata anak seusianya.
Malam itu mereka menikmati santap malam bersama di sebuah meja makan besar, meja makan peninggalan dari Bu Anjani.
Bi Sumi dan Mbok Jum sudah menyiapkan beraneka hidangan di meja makan besar itu, aroma masakan yang baru matang itu menggugah selera siapa saja yang menciumnya.
"Nak Dicky, si Alex kan makin aktif, pinggang Ibu sampai encok ini kejar-kejar Alex, dia malah senang kalau Ibu tidak bisa menangkapnya!" ucap Bu Eni.
"Iya Pak Dokter, kemarin Bibi sampai ngeri, Alex lari sambil ketawa-ketawa eh malah nyemplung ke kolam ikan, untung Bibi lihat, anak itu makin aktif dan lincah saja!" timpal Bi Sumi.
"Kalian jangan khawatir, nanti aku akan carikan suster untuk Alex, yang bisa selalu menjaganya 24 jam!" kata Dicky.
"Jangan Mas, untuk apa kau cari suster untuk Alex, kan ada aku!" sahut Fitri.
"Kalau kau sedang sibuk mengajar dan memeriksa tugas murid, kau tidak akan bisa menjaga Alex terus, apalagi itu anak rasa ingin tahunya tinggi sekali, yah mungkin mewarisi sifat ku!" ujar Dicky.
"Nak Dicky benar Fit, jadi Mbok Jum dan Bi Sumi bisa fokus di tugasnya masing-masing, nah susternya Alex fokus menjaga Alex!" timpal Bu Eni.
__ADS_1
"Ya sudahlah, terserah Mas Dicky saja!" sahut Fitri akhirnya.
"lalu bagaimana dengan rencana ulang tahun Alex Minggu depan? Undangannya sudah di siapkan belum?" tanya Bu Eni antusias.
"Sudah Bu, semua anak panti asuhan di Jakarta, termasuk panti asuhan Bu Nuri sudah di undang, semua rekan Dokter dan suster juga guru-guru di sekolah Fitri juga di undang, nanti Bi Sumi dan Mbok Jum jadi seksi konsumsi ya!" jawab Dicky sambil menoleh ke arah Bi Sumi.
"Siap Pak Dokter!" sahut Bi Sumi.
"Ibu dan Bapak tidak usah repot-repot, pokoknya tinggal menikmati saja!" lanjut Dicky.
"Dokter Dimas dan Dokter Mia di undang kan Mas? Mereka kan tidak lagi bekerja di rumah sakitmu!" tanya Fitri.
"Pasti di undang lah, tapi katanya Mia sedang hamil besar, si Dimas pasti ketar ketir kalaupun datang, sudah bulannya katanya!" sahut Dicky.
"Wah, akhirnya Dokter Mia akan melahirkan juga sebentar lagi, gimana ya kabar mereka, sudah lama tidak bertemu!" gumam Fitri.
"Kabarnya biasa saja Fit, sementara Mia cuti karena hamil, si Dimas masih asyik bergelut dengan gigi orang!" ujar Dicky.
****
Hari yang di nanti tiba, perayaan ulang tahun Alex yang di langsungkan di rumah besar Dicky terlihat sangat meriah.
Para tamu undangan juga terlihat mulai ramai berdatangan, Bu Eni dan Pak Karta yang sejak tadi hanya duduk menikmati terlihat sangat bangga melihat ulang tahun cucu pertamanya itu di rayakan dengan mewah dan besar-besaran.
Anita dan Donny juga nampak duduk di antara mereka.
Alex memakai pakaian kemeja dengan Rompi jas terlihat sangat lucu dan menggemaskan.
Karena dia sangat aktif, dia tidak bisa tenang duduk di tempatnya, selalu saja jalan mondar-mandir ke sana kemari.
"Lihat tuh Pak, cucu kita si Alex, beruntungnya dia, masih kecil sudah seperti raja saja, kalah ini mah acara resepsi pernikahan!" ucap Bu Eni sambil mencolek Pak Karta.
"Iya Bu, Bapak juga bangga, semoga saja kelak si Alex bisa seperti Papanya, pintar, ganteng dan murah hati!" sahut Pak Karta.
kemudian Bu Eni menoleh ke arah Anita yang masih duduk di sebelahnya sambil memperhatikan gerak-gerik Alex yang tidak bosan-bosannya dipandangnya.
__ADS_1
"Ta, gimana? Udah ada tanda-tanda belum?" tanya Bu Eni.
"Tanda-tanda apa Bu?" tanya Anita.
"Ya tanda-tanda hamil lah, kalian menikah sudah hampir setengah tahun lho!" sahut Bu Eni.
"Belum Bu, sabar dulu sebentar lagi ya Bu, Tuhan belum kasih!" ujar Anita.
"Itu ramuan yang Ibu kasih sudah di minum belum? Dulu si Fitri Ibu kasih ramuan itu langsung tokcer!" cetus Bu Eni.
"Sudah Bu, tiap hari aku dan Donny sudah minum ramuan yang Ibu kasih, tapi ya mau gimana lagi, sabar saja dulu!" jawab Anita yang wajahnya tiba-tiba berubah mendung.
"Bu! Jangan tanya-tanya soal kehamilan lagi ke Anita, sudah berapa kali selalu itu saja yang Ibu tanya, kasihan kan Bu anak kita, lagian siapa sih yang tidak mau punya anak, tapi jangan selalu di tanyakan setiap hari soal itu!" sergah Pak Karta.
"Iya iya, Bapak selalu saja begitu deh, sebel!" sungut Bu Eni.
Para tamu undangan semakin banyak yang berdatangan, bukan hanya anak-anak, semua kalangan terlihat datang memadati rumah besar itu, bahkan tenda yang terpasang dari depan gerbang hingga ke ruang utama juga terlihat penuh.
Dicky dan Fitri terlihat bagai sepasang raja dan ratu yang menjadi pusat perhatian pada hari itu selain Alex.
Wajah mereka terlihat sangat bahagia.
"Dina, Dara, kalian sudah bilang kan sama emak kalian kalau hari ini Alex ulang tahun?" tanya Fitri pada kedua anak asuhnya itu.
Dina dan Dara saling berpandangan.
"Maaf Ma, kami lupa!" jawab Dina.
"Kenapa kalian bisa lupa? Kan Mama sudah pesan, kalau kalian ketemu sama emak kalian di sekolah, undang dia untuk datang di pestanya Alex!" ujar Fitri.
Dina dan Dara hanya menunduk mendengar teguran Fitri.
Bersambung ...
****
__ADS_1
Lanjut besok ya guys ... authornya pegel hehe butuh refreshing.
Jangan lupa dukungannya ya ... 😘😉