Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Pulang Ke Rumah


__ADS_3

Hari ini Dicky sudah di perbolehkan pulang ke rumah. Namun dia harus tetap duduk di kursi roda, karena kakinya yang patah belum bisa untuk berjalan.


Karena secara keseluruhan Dicky sudah sehat, hanya kakinya saja yang bermasalah, makanya dia di ijinkan untuk rawat jalan.


Fitri membantu membereskan barang-barang yang akan di bawa pulang.


Ceklek!


Dokter Dimas masuk dan langsung mendekat ke arah Dicky yang masih duduk di tepi ranjangnya.


"Sudah siap Bro?" tanya Dimas.


"Sudah, kau kemana saja? Katanya mau mengantarku pulang!" cetus Dicky.


"Sorry bro, lagi ada pasien tadi, ayo sini ku bantu kau ke kursi roda!" Dimas dan Fitri membantu Dicky menaiki kursi rodanya.


"Ah, sejak kapan Dokter Dicky jadi pesakitan begini? Duduk di kursi roda dan di dorong-dorong!" keluh Dicky.


"Sabar Mas, nanti juga sembuh, itu artinya kau harus banyak istirahat!" ucap Fitri.


"Denger tuh kata istri, banyak istirahat dan banyak di belai!" goda Dimas.


"Sial kau! Bisanya menggoda orang, kau sendiri kapan mau melamar Mia? Kasihan tuh, masa kau tega membiarkan dia menunggu!" balas Dicky.


"Kau tenang saja Bro, urusan Mia itu urusanku, tinggal tunggu tanggal mainnya saja, aku juga bosan hidup menjomblo dan jadi bujang lapuk begini!" sahut Dimas. Dicky tertawa terbahak-bahak mendengar celotehan sahabatnya itu.


Mereka terus berjalan sampai ke parkiran, Dimas mengantar Dicky dan Fitri pulang ke rumahnya, karena mobil Dicky yang ringsek masih di bengkel.


"Dicky, ngomong-ngomong waktu kau kecelakaan, apa kau mengantuk atau ada masalah yang lain?" tanya Dimas sambil mengendarai mobilnya.


"Aku bukan mengantuk Dim, tapi saat akan mengerem karena ada truk yang melintas, mendadak rem ku blong!" sahut Dicky.


"Nah persis, kemarin orang bengkel yang mengurusi mobilmu bilang saat aku mengeceknya, katanya rem pada mobilnya blong dan seperti ada yang sengaja memutus kabelnya!" jelas Dimas.


Dicky terkejut mendengarnya, dia tidak pernah menyangka ceritanya akan seperti itu, Fitri juga tidak kalah terkejut.


"Kau serius Dim?" tanya Dicky tak percaya.


"Yah sejak kapan aku membohongimu bro! Seperti kurang kerjaan saja!" sungut Dimas.


"Mas Dicky, apa selama ini Mas Dicky pernah punya musuh atau masalah dengan orang lain?" tanya Fitri. Dicky menggelengkan kepalanya.


"Tidak ada Fit, aku merasa tidak punya seorangpun musuh di dunia ini, apalagi masalah dengan orang lain!" jawab Dicky.

__ADS_1


"Lalu, kalau benar kecelakaan yang menimpamu atas dasar kesengajaan, siapa orang yang tega melakukan itu?" tanya Fitri. Wajahnya mulai kelihatan cemas.


"Kalian tenang saja, nanti aku akan coba tanyakan ke bagian operator cctv, siapa tau di parkiran bisa terlihat siapa oknum yang melakukan tindak kejahatan itu!" kata Dimas mencoba menenangkan.


Tak lama kemudian mereka sudah sampai di rumah, Dimas dan Fitri membantu Dicky untuk duduk di kursi rodanya.


Dara berlarian menyambut kedatangan mereka.


"Mama! Papa sudah sembuh??" tanya Dara.


"Papa sudah sembuh, tapi belum bisa jalan, kakinya masih sakit!" jawab Fitri.


"Iya Dara, doain Papa cepat bisa jalan lagi ya, supaya bisa menggendong Dara dan Mama, juga Dedek nanti!" ucap Dicky.


"Pasti Pa, tiap malam aku selalu berdoa buat Papa!" sahut Dara.


"Anak pintar!" ucap Dicky sambil mengelus rambut Dara.


"Ayo kita masuk yuk!" ajak Fitri sambil menggandeng tangan Dara. Sementara Dimas mendorong kursi roda Dicky.


Mereka kemudian duduk di ruang tamu yang luas itu.


Bu Eni muncul dari arah dapur dengan wajah cerah.


"Hei, ayo langsung makan siang! Hari ini Ibu dan Bi Sumi masak spesial lho!" kata Bu Eni.


"Iya Pak Dokter, masakan Ibu enak lho, di jamin nagih deh!" tambah Bu Eni.


"Aduh Tante, tidak sempat aku, sebentar lagi ada jadwal praktek, aku langsung balik deh ya, kalau kau butuh apa-apa jangan sungkan hubungi aku Bro!" tukas Dimas yang langsung berdiri dari duduknya.


"Lho, kok buru-buru?" tanya Fitri.


"Yah begitulah kalau sudah jadi tugas negara! Aku pamit ya Dicky, Fit, Tante!" pamit Dimas yang langsung melangkah keluar dari ruangan itu.


"Terimakasih Dim!" teriak Dicky. Dimas hanya mengacungkan kedua ibu jarinya.


****


Setelah Dicky dan Fitri makan siang, Fitri langsung mengantar Dicky untuk beristirahat di kamar, kini kamar mereka pindah ke bawah, karena kaki Dicky masih belum bisa digunakan untuk berjalan, apalagi naik tangga.


"Aku bantu baringan di tempat tidur ya Mas!" kata Fitri sambil mencoba memapah suaminya itu dan membantunya berbaring di ranjang.


"Aku memang suami tak berguna! Menyusahkan istri yang sedang hamil, seharusnya kau tidak boleh mengangkat beban berat!" ucap Dicky menyesal.

__ADS_1


"Mas, dalam hubungan suami istri itu ya harus saling mengisi, selama ini kan Mas Dicky yang selalu menggendongku naik turun tangga, gantian lah Mas!" sahut Fitri.


"Tapi tetap saja aku malu Fit!" ujar Dicky.


"Malu kenapa sih? Kalau kau memamerkan juniormu di depanku kau tidak malu, sekarang aku hanya membantumu kau malah malu!" goda Fitri.


"Itu kan hal yang berbeda Fit, kau jangan samakan dong!" kilah Dicky.


Dicky berbaring sambil memandang langit-langit kamar, Fitri menyelimuti tubuh Dicky lalu menyusulnya berbaring.


"Kau sedang berpikir apa Mas?" tanya Fitri.


"Perkataan Dimas tadi, apa benar ada orang yang sengaja membuat aku celaka?" tanya Dicky.


"Sudahlah Mas, kita tunggu saja info dari Dimas, kau jangan kepikiran terus, nanti malah makin lama sembuhnya!" sergah Fitri.


"Tapi aku takut Fit!" ujar Dicky.


"Takut kenapa?"


"Bukan cuma aku yang menjadi incarannya, tapi keluargaku!" gumam Dicky.


"Mas Dicky tidur saja deh, jangan bicara yang aneh-aneh, kalau bicara lagi aku keluar nih dari kamar!" ancam Fitri.


"Jangan Fit, tetaplah di sisiku, ayo temani aku tidur!" Dicky menggenggam tangan Fitri, lalu mulai mencoba untuk memejamkan matanya.


Dalam hati Fitri ada terbersit kekhawatiran, namun dia berusaha menutupi di depan suaminya itu, dia harus berusaha setenang mungkin dalam menyikapi masalah. Apalagi kondisi Dicky kini terbatas, belum bisa banyak melakukan aktifitas.


Tok ... Tok ... Tok ...


Terdengar suara ketukan dari luar kamar, Fitri melirik Dicky yang kini sudah tertidur pulas karena lelah.


Kemudian dia melangkah menuju pintu dan hendak membukakan pintu.


Bu Eni sudah berdiri di depan pintu kamar itu.


"Ibu? Ada apa Bu?" tanya Fitri.


"Itu di luar ada tamu Fit, sana kau temui dulu!" jawab Bu Eni.


"Tamu siapa??" tanya Fitri.


"Mana Ibu tau? Ibu tidak kenal Fit!" sahut Bu Eni.

__ADS_1


Fitri lalu melangkah menuju ke ruang tamu, matanya melotot saat melihat siapa orang yang datang untuk mencarinya itu.


****


__ADS_2