Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Penyesalan Bu Eni


__ADS_3

Anita langsung masuk ke dalam kamarnya saat Donny telah terlebih dahulu masuk ke dalam kamar itu.


Kemudian Donny langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.


Hilang sudah rasa laparnya yang sejak tadi dia tahan, hanya untuk makan bersama dengan istrinya.


"Don, maafkan ucapan Ibu Don, aku mohon, kau jangan seperti ini, mereka baru datang pagi tadi, bukanlah kau sendiri yang meminta pada Fitri untuk mengajak Ibu dan Bapak tinggal di sini?" ucap Anita sambil mengelus punggung suaminya itu.


Donny menoleh, menatap mata Anita yang terlihat sendu dan penuh dengan genangan air yang siap tumpah.


"Tadinya aku pikir, dengan mengajak mereka untuk tinggal bersama kita kau akan ada teman bicara dan mengobrol, tapi di hari pertama saja, dia sudah sangat tidak menghargai aku sebagai suamimu!" sahut Donny.


"Donny, maafkan aku Don, aku juga belum lama mengenal ibuku sendiri, aku tidak bisa berbuat apapun untuk mengubah dia, maafkan aku!" ucap Anita yang air matanya mulai jatuh membasahi pipinya.


Donny yang tidak tahan melihat air mata istrinya, di tambah lagi saat ini Anita sedang mengandung anaknya, langsung memeluk wanita itu dengan erat.


"Anita, bagaimana kalau kita pergi jauh saja dari sini, aku akan membawamu ke kampung halamanku, di Jogjakarta, kita akan hidup bahagia di sana, tanpa ada siapapun yang mengusik kita!" bisik Donny.


"Tapi Don, aku baru saja menemukan keluargaku, masakan aku harus pergi lagi meninggalkan mereka!" tukas Anita


"Aku takut akan menjadi khilaf seperti waktu itu, aku takut akan kembali menyakitimu karena rasa sakit hatiku!" ucap Donny.


Sesaat mereka saling berpelukkan dengan erat, seolah tidak bisa dilepaskan lagi.


"Kau pasti lapar Donny, belum makan kan? Kita makan yuk!" ajak Anita.


"Aku sudah tidak lapar lagi Ta, semua yang kau masak tadi adalah pemberian Ibu, mana bisa aku tenang memakannya!" tukas Donny.


"Aku akan memasak yang lain untukmu Don, aku tidak ingin kau lapar, kau mau ya?" Anita menatap suaminya dalam, membuat Donny mau tidak mau menganggukan kepalanya.


Anita kemudian langsung keluar dari kamarnya dan beranjak ke dapur, untuk membuat makanan buat Donny.


Sementara di meja makan, Bu Eni masih duduk sendiri, Pak Karta sudah sejak tadi meninggalkannya masuk ke dalam kamar, hidangan yang tadinya hangat kini berubah menjadi dingin, ada sedikit rasa penyesalan dalam hati Bu Eni.


Dia kemudian menyusul suami nya masuk ke dalam kamarnya.


"Pak, kok malah tidur? Kenapa semua pada tidak jadi makan?" tanya Bu Eni sambil duduk di tepi tempat tidur itu.

__ADS_1


"Kalau kau mau makan, makan saja sendiri Bu!" cetus Pak Karta.


"Iya iya Ibu salah, tapi jangan di cuekin begini juga kali, sakit Pak!" kata Bu Eni.


Pak Karta kemudian menoleh ke arah Bu Eni dan menatapnya dalam.


"Sakit katamu?? Lebih sakit mana dengan anak dan menantu kita sekarang?? Makin lama kau semakin berubah Bu! Tega kamu menyakiti hati anak dan hati menantumu sendiri, Bapak malu!!" seru Pak Karta.


"Pak! Kalau begitu, lebih baik kita pulang saja ke rumah Dicky, Ibu tidak mau tinggal di sini, sikapnya Donny tidak ada manis manisnya sama sekali!" ajak Bu Eni.


"Bapak tidak mau! Bapak mau tetap di sini menemani Anita, kalau Ibu mau balik, Ibu balik saja sendiri!" sahut Pak Karta.


"Pak! Kenapa bapak jadi begini sih?? Semua orang menyalahkan Ibu!" sungut Bu Eni.


Ceklek!


Pintu kamar di buka dari luar, Anita masuk ke dalam kamar itu.


"Ibu, maafkan aku kalau aku dan Donny tidak bisa menerima pemberian Ibu tadi, bukanya apa-apa Bu, Donny merasa kalau Ibu tidak pernah menghargainya!" ujar Anita.


"Iya, Ibu ngaku salah deh, Ibu minta maaf!" sahut Bu Eni.


Tiba-tiba Bu Eni berdiri dan langsung memeluk Anita.


"Maafkan Ibu Anita, Ibu memang keterlaluan, Ibu salah! Ibu menyesal! Tolong sampaikan permohonan maaf Ibu pada suamimu, Ibu benar-benar menyesal!" ucap Bu Eni yang kini nampak menangis.


Anita juga menangis sambil menganggukkan kepalanya.


"Selama ini, Ibu merasa Fitri adalah anak tunggal yang selalu di nomor satukan, Hingga saat kau ternyata ada dalam hidup kami juga, tetap Fitri yang selalu Ibu lihat, maafin Ibu Nak!" ucap Bu Eni.


"Ah, syukurlah akhirnya kau bisa juga mengakui kesalahanmu Bu, Bapak jadi lega!" ujar Pak Karta.


"Bu, aku akan bilang pada Donny, kalau Ibu sudah berubah, dia pasti senang Bu!" kata Anita.


"Biarkan saja suamimu menumpahkan segala kekesalan nya pada Ibu, memang Ibu yang salah kok, terlalu cerewet dan mengatur ini itu!" sahut Bu Eni sambil menyeka wajahnya yang basah.


****

__ADS_1


Sementara di tempat kediamannya, Dicky dan Fitri baru saja selesai mandi bersama, setelah pulang dari menjenguk bayinya Dimas.


Menjelang jam sepuluh malam mereka baru pulang ke rumah, Alex sudah tidur sejak di dalam perjalanan pulang, jalanan malam ini begitu macet dan melelahkan.


Setelah selesai mandi, Dicky langsung menghempaskan tubuh lelahnya di tempat tidur, wajahnya kelihatan puas, karena saat mandi bersama tadi, dia sempat menumpahkan hasratnya.


Huweeeek!!


Fitri yang baru mandi itu langsung kembali ke kamar mandi, mengeluarkan semua isi perutnya.


"Yah Fitri, kok di muntahkan lagi, sayang tuh tadi kita baru makan spaghetti cuma numpang di muntahin doang!" ujar Dicky yang langsung bangun dan memijiti tengkuk Fitri.


Kemudian Dicky menuntun Fitri ke tempat tidurnya dan membalurkan tubuhnya dengan minyak kayu putih.


"Duh, adiknya Alex kelihatannya manja sekali ini, jangan-jangan dia perempuan Fit!" ujar Dicky.


"Mas Dicky sok tau ah!" sungut Fitri.


"Yah namanya juga menduga-duga, tapi ngomong-ngomong, trimakasih ya tadi servisnya di kamar mandi, sangat memuaskan Fit, rasanya ketagihan dan ingin nambah lagi, tapi kasihan si Dedek!" ungkap Dicky.


"Mas Dicky ah! Bisa diam tidak??" cetus Fitri.


"Kenapa sih kau masih malu begitu, kayak baru kenal saja, padahal aku tau banget kau tadi menggelepar kayak ikan kurang air hahahah!" goda Dicky sambil tertawa.


"Bisa diam tidak?? Atau aku akan tidur di kamar Alex kalau kau masih bicara!" cetus Fitri.


"Iya iya, ampun boss! Galak banget sih jadi istri!" ledek Dicky sambil mencubit gemas pipi Fitri.


Tring ... Tring ... Tring ...


Suara ponsel Fitri berbunyi, tangan Fitri lalu meraih ponselnya dan mengusap layar ponselnya dnegan pengeras suara.


"Halo Anita, ada kabar apa Ta?" tanya Fitri saat Anita meneleponnya.


"Fitri ... Ibu Fit ... Ibu hiks ... Ibu Fit!" Anita nampak menangis di sebrang telepon.


Dicky dan Fitri saling berpandangan satu sama lain.

__ADS_1


Bersambung ...


__ADS_2