Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Keikhlasan


__ADS_3

Malam itu, setelah makan malam, Fitri mengantarkan Dina ke kamar Dara. Dina masih tidak banyak bicara, mungkin masih shock atas perlakuan Ibunya yang meninggalkannya di depan gerbang rumah Dicky.


"Malam ini, Dina tidur sama Dara ya, kalian bisa mengobrol!" kata Fitri.


"Bu, apakah Emak tidak akan datang lagi?" tanya Dina.


"Ibu juga tidak tau sayang, tapi kau jangan khawatir, kau akan aman di sini, istirahatlah, besok Bi Sumi akan membelikan mu baju-baju yang baru!" ucap Fitri.


"Terimakasih ..." lirih Dina sambil menunduk.


"Dina, ada yang mau Ibu tanya padamu, selama ini kau tinggal di mana dengan Emakmu?" tanya Fitri.


"Di rumah kontrakan Bu!" jawab Dina.


"Jadi, kalian tidak jadi pulang kampung?" tanya Fitri lagi. Dina menggelengkan kepalanya.


"Kami tidak pernah pulang kampung Bu, setiap hari aku selalu mengamen di dekat stasiun, padahal aku ingin sekali sekolah!" sahut Dina.


"Apa? Jadi kau tidak di sekolahkan??" Fitri nampak terkejut.


"Tidak Bu, kata Emak uangnya sayang untuk beli buku dan seragam!" jawab Dina.


"Ya Tuhan, keterlaluan sekali Emak kalian, sudah Din, kau tenang saja, nanti Ibu akan daftarkan kamu di sekolah SMP ya, walaupun sedikit terlambat, tapi kau jangan khawatir!" ucap Fitri sambil mengelus bahu Dina.


"Mama, apakah Kak Dina akan tinggal bersama kita terus?" tanya Dara.


"Iya sayang, Mama dan Papa Dicky akan mengurus adopsi kalian secepatnya, lewat jalur hukum, karena kalian masuk dalam kategori anak terlantar, tapi semoga kalian kelak akan menjadi manusia yang bermanfaat dan bermartabat!" ucap Fitri.


Kemudian Fitri keluar dari kamar itu dan mulai berjalan ke arah kamarnya.


Dicky masih nampak duduk di sisi tempat tidurnya sambil memainkan ponselnya.


"Mas Dicky belum mengantuk?" tanya Fitri.


"Belum Fit, belakangan aku banyak pikiran, yang membuat kepalaku jadi pusing!" sahut Dicky sambil meletakan ponselnya di atas nakas.


"Apa yang ada dalam pikiranmu Mas?" tanya Fitri.


Perlahan Fitri membantu Dicky untuk berbaring dan meluruskan kakinya yang masih nyeri.


"Aku masih kepikiran, siapa orang yang dengan sengaja ingin mencelakai ku, padahal aku merasa tidak pernah menyakiti siapapun!" jawab Dicky.


"Mas, sudahlah, kalau kau kepikiran terus nanti Mas Dicky bisa stress dan kalau stress bisa menurunkan daya tahan tubuh!" ujar Fitri.

__ADS_1


"Kau bisa saja Fit, kau cocok jadi Dokter!" kata Dicky.


"Lho, kan aku hanya meniru apa yang selalu kau katakan dulu, stress bisa menurunkan daya tahan tubuh!" lanjut Fitri sambil tersenyum.


"Belum lagi soal Bu Romlah, padahal selama ini aku sudah berusaha tulus dan ikhlas membantunya, tapi dia malah ngelunjak, bahkan meneror keluarga kita, padahal kita sudah menampung anak-anak nya!" ungkap Dicky.


Raut wajah Dicky terlihat sedih, selama ini Fitri jarang melihat Dicky serapuh ini, Dicky yang selalu memberinya semangat hidup.


Namun malam ini Dicky nampak frustasi, di tambah dengan kondisinya yang terbatas, masih kesulitan untuk berjalan dan mengurus dirinya sendiri.


"Mas Dicky ... jangan seperti ini, kita hadapi badai ini bersama-sama ya!" ucap Fitri sambil menggenggam tangan Dicky dengan hangat, untuk sekedar memberinya kekuatan.


"Maafkan aku Fit, aku merasa tidak berguna menjadi suami, yang seharusnya bisa terus menjaga dan melindungi mu, tapi malah memberimu beban dengan merawatku seperti ini!" ungkap Dicky.


"Mas Dicky, jangan bicara seperti itu, dulu Mas Dicky juga merawatku dan memberikan aku semangat hidup, mungkin sekarang giliranku yang melayani Mas Dicky!" sergah Fitri.


Fitri lalu mulai menyelimuti tubuh Dicky, malam sudah semakin larut. Dicky terlihat belum dapat memejamkan matanya.


"Mas, untuk Dina, rencana aku akan daftarkan dia di SMP, kasihan dia tidak sekolah, karena keegoisan emaknya!" ujar Fitri.


"Iya Fit, aku setuju, kita adopsi saja mereka berdua, nanti aku akan hubungi si Adi, pengacara itu!" sahut Dicky.


"Adi? Pengacara?" tanya Fitri bingung.


"Iya, Adi itu dulu temanku sesama di panti, sekarang dia sudah jadi pengacara handal, aku ingin mengadopsi Dina dan Dara dengan resmi, sehingga nama mereka bisa ada di dalam kartu keluarga kita!" jawab Dicky.


Tok ... Tok ... Tok


Terdengar suara pintu kamar mereka di ketuk dari luar.


Fitri langsung beranjak dari tempat tidurnya dan berjalan ke arah pintu kamar lalu membukanya.


Bu Eni sudah berdiri dengan mata yang sembab seperti habis menangis.


"Ibu? Ada apa Bu?" tanya Fitri cemas.


"Fit, Ibu harus pulang ke kampung, tadi pak RT telepon, katanya Bapak sakit, kasihan tidak ada yang mengurus!" kata Bu Eni sedih.


"Bapak sakit? Sakit apa Bu?" tanya Fitri lagi.


"Tidak tau Fit, kata pak RT Bapak habis jatuh terus demam sampai sekarang, ibu mau pulang kampung saja, tapi bingung mau naik apa!" jawab Bu Eni.


"Ibu naik taksi online saja mau?" tanya Dicky tiba-tiba dari tempat tidurnya.

__ADS_1


"Dari Jakarta ke Sukabumi naik taksi pasti mahal Nak Dicky!" sergah Bu Eni.


"Tidak apa-apa Bu, yang penting ibu nyaman dan sampai dengan selamat di Sukabumi, kasihan bapak sendirian!" kata Dicky.


"Ya sudah deh, besok subuh Ibu berangkat, terimakasih ya Nak Dicky, Ibu doain mantu Ibu ini tambah ganteng dan tambah banyak rejekinya!" ucap Bu Eni.


"Amin Bu, kalau ganteng sudah dari lahir Bu, doain saja anak Ibu makin cinta sama aku!" sahut Dicky sambil melirik ke arah Fitri.


Bu Eni hanya tersenyum, lalu dia segera melangkah meninggalkan kamar mereka.


"Mas Dicky nakal ah, kenapa juga harus bilang begitu sama Ibu, buat malu saja!" sungut Fitri.


"Biar malam ini aku di kasih jatah lagi sama istri, ayolah Fit, siapa tau hilang stress mas mu ini kalau kau memberikan aku jatah harian!" ucap Dicky.


"Hmm, kumat lagi deh modusnya!" gumam Fitri.


Malam itu dengan ikhlas Fitri memberikan Dicky jatah, walaupun dia harus berpegal ria karena posisi Dicky yang masih belum bisa bergerak normal.


Saat Dicky mulai terkulai karena hasratnya yang sudah memuncak, tiba-tiba ponselnya berdering.


"Huh! Mengganggu saja!" dengus Dicky kesal.


"Angkat lah Mas, siapa tau penting!" ujar Fitri.


"Penting apa Fit? Satu rumah sakit tau kalau aku off praktek karena sedang sakit, ya kali ada yang minta operasi dadakan!" tukas Dicky.


"Ya angkat dulu lah, mana tau ada kabar yang lain!" sergah Fitri.


Dicky lalu meraih ponselnya di atas nakas, ada panggilan video di ponselnya, lalu melihat siapa orang yang meneleponnya. Ada gambar Dokter Mia di sana.


"Mia, tumben dia video call, ada apa sih!" gumam Dicky. Lalu dia segera mengusap layar ponselnya itu.


"Halo Mia! Ada apa malam-malam kau menggangguku?!" tanya Dicky.


"Dicky, kau kenal orang ini? Dia datang mencarimu, katanya kau adalah suaminya!" kata Mia.


Dicky melotot melihat orang yang ada di samping Dokter Mia, seketika itu tubuhnya bergetar hebat.


Bersambung ...


*****


Hai guys ...

__ADS_1


Bagi yang pernah baca novel sebelum novel ini, pasti tau jawaban siapa yang ada di ponsel Dokter Mia.


Jangan lupa dukungannya guys ...


__ADS_2