Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kembali Ke Tempat Itu


__ADS_3

Dicky memarkirkan mobilnya di parkiran sebuah sekolah internasional. Akhirnya dia kembali lagi di tempat itu.


Kali ini misinya adalah mencari informasi tentang Donny, supaya dia bisa kembali lagi ke pelukan tunangannya yang di kiranya sudah meninggal itu.


"Selamat siang Pak, ada yang bisa saya bantu?" tanya seorang security yang berdiri di depan pintu lobby sekolah itu.


"Saya mau ketemu dengan si kampret! Eh, Pak Donny Suhardi maksudnya, apakah dia masih mengajar di sekolah ini?" tanya Dicky.


"Pak Donny masih mengajar Pak, tapi hari ini dia itu tidak masuk, dengar-dengar katanya mau ziarah ke makam ibunya!" jawab security itu.


"Waduh, apakah bapak tau sekarang dia tinggal di mana?" tanya Dicky.


"Saya tidak tau Pak, tapi yang jelas bukan di rumahnya yang dulu lagi, kalau mau tau rumah Pak Donny, bisa langsung tanyakan saja pada kepala sekolah!" jawab security itu.


"Hmm, males banget nanya kepsek!" gumam Dicky.


"Atau besok datang lagi ke sini Pak, sepertinya beliau sudah masuk besok!" lanjut security itu lagi.


"Ya sudah deh, besok saja aku datang lagi, permisi, selamat siang!" pamit Dicky yang langsung beranjak meninggalkan lobby dan kembali masuk ke dalam mobilnya.


Kali ini pencariannya tidak berhasil, namun dia bertekad akan mencari nya besok di sini dan berharap dia bisa segera menemukan Donny.


Sebenarnya Dicky malas berurusan dengan Donny, semua itu di lakukan semata-mata adalah demi Fitri. Dicky tidak mau Fitri mencari Donny sendirian.


Dicky terus melakukan mobilnya menuju ke rumahnya, sekitar 20 menit perjalanan akhirnya dia sampai juga di rumahnya, sebentar lagi dia harus kembali membuka kliniknya.


Beberapa orang telah menunggu di depan klinik, Suster Wina nampak sibuk mencatat sesuatu.


Dicky kemudian langsung masuk ke dalam kliniknya itu.


"Nah, akhirnya datang juga Dokternya!" ujar seorang pasien yang mungkin sudah sejak tadi menunggu.


"Maaf ya Bapak Ibu, saya terlambat karena ada urusan!" ucap Dicky sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dada.


"Tidak apa-apa Dok, kami maklum kok kalau Dokter sibuk!" sahut beberapa pasien.


"Sibuk mencari si kampret!" batin Dicky.


"Dok, bisa kita langsung buka sekarang prakteknya?" tanya Suster Wina yang sudah melihat kedatangan Dicky.


"Sebentar Sus, aku ini baru datang lho, masih capek, keringetan, sekarang kau catat dulu keluhan dan tensi pasien, nanti aku segera kembali!" sahut Dicky yang langsung masuk menuju ke dalam rumahnya itu.


Di ruang tamu rumahnya, Bu Eni dan Pak Karta nampak sedang berkemas-kemas, besok pagi mereka rencana akan kembali ke Sukabumi.


"Eh, Nak Dicky sudah kembali, pasiennya banyak yang nungguin tuh Nak!" kata Pak Karta.


"Iya Pak, saya mau minum dulu, haus, sekalian menengok Alex sebentar!" sahut Dicky yang langsung berjalan masuk menuju ruang makan.


"Tuh Alex sedang di gendong Fitri, mungkin mau menyuapinya!" seru Bu Eni.

__ADS_1


Benar yang di katakan Bu Eni, Alex nampak sedang di gendong, tapi bukan oleh Fitri, melainkan oleh Anita.


Karena Anita masih memakai baju Fitri, Dicky mengira kalau Anita adalah Fitri.


Tanpa bertanya dia langsung memeluk Anita yang meggendong Alex itu dari belakang.


"Fitri, kau sedang apa sayang, aku kangen sama kamu juga Alex!" bisik Dicky.


Anita terkejut, dia spontan menoleh kebelakang.


Dicky yang baru menyadari kalau itu bukan Fitri istrinya langsung melepas pelukannya dan mundur kebelakang.


"Kau, ternyata kau bukan Fitri!" seru Dicky.


Anita hanya menatap Dicky sambil menggelengkan kepalanya.


Fitri yang sedang membuat bubur saring untuk Alex di dapur, berjalan menuju ruang makan sambil membawa mangkok Alex.


Dia terkejut melihat Dicky dan Anita ada di ruangan makan itu.


"Mas Dicky? Mas Dicky sudah pulang?" tanya Fitri.


"Su-sudah Fit!" sahut Dicky gugup.


Sementara Anita langsung menyerahkan Alex ke dalam gendongan Fitri dan langsung kembali ke ruang depan.


"Tidak apa-apa Fit, Oya, aku haus sekali, ambilkan aku minuman dingin dong Fit!" sahut Dicky yang langsung duduk di kursi depan meja makan itu.


Fitri lalu menaruh mangkok Bubur di meja, meyerahkan Alex ke pangkuan Dicky, dan mulai membuatkan minuman dingin untuk suaminya itu.


"Mas Dicky tadi dari mana? Kasihan pasien yang mengantri nungguin Mas!" tanya Fitri yang langsung menyodorkan minuman itu ke arah Dicky.


Dicky langsung meneguknya sampai habis.


"Aku tadi habis dari sekolah si kampret mengajar!" jawab Dicky.


"Oh, lalu, apa kau sudah menemukan informasi mengenai Pak Donny?" tanya Fitri.


"Ya belum lah, katanya hari ini dia ijin ke makam ibunya!" sahut Dicky.


"Lalu kenapa kau tidak tanya di mana alamat rumahnya?" tanya Fitri.


"Malas ah, ngapain juga nanya-nanya si kampret, nanti makin besar kepala dia, besok saja aku balik lagi!" sahut Dicky.


"Kok Mas Dicky gitu sih? Ya sudah deh, terimakasih ya sudah membantu mencarikan informasi, sekarang Mas Dicky mau makan apa?" tanya Fitri yang mulai menyuapi Alex.


"Buatkan aku mie instan dong!" sahut Dicky.


"Bi Sumi yang buatkan ya?"

__ADS_1


"Jangan, kamu saja Fit, sini Alex biar aku suapi!" Dicky mengambil alih mangkok yang ada di tangan Fitri dan mulai menyuapi Alex yang duduk di bangku bayinya.


Fitri kemudian kembali ke dapur dan membuatkan mie instan untuk Dicky.


Sekitar 10 menit Fitri sudah kembali dengan semangkok mie instan yang asapnya masih terlihat mengebul.


Dicky langsung melahap nikmat mie instannya itu.


"Tuh kan bener, kalau istri yang buatkan pasti rasanya beda!" ujar Dicky.


"Mas Dicky bisa saja! Di mana-mana yang namanya mie instan sama saja rasanya!" tukas Fitri.


"Fit, memangnya Bapak dan Ibu mau pulang ke Sukabumi?" tanya Dicky tiba-tiba.


"Iya Mas, bapak masih kepikiran sawah sama kebunnya yang di tinggal!" jawab Fitri.


"Lalu, si Tata bagaimana?" tanya Dicky.


"Sementara ini, Tata ikut Bapak sama Ibu, supaya tau kampung halaman, tapi nanti dia kembali ke Jakarta!" jawab Fitri.


"Lho kok kembali ke Jakarta??"


"Lah kan dia belum ketemu sama Pak Donny? Misi kita kali ini adalah mempertemukan mereka, kalau Anita di kampung kan jadi sulit ketemunya, apalagi ...." Fitri mengehentikan ucapannya.


"Apalagi apa??" tanya Dicky.


"Aku takut Mas, si Agus akan mengejar Anita di kampung, secara Agus juga ingin pendekatan sama Anita!" jawab Fitri.


"Kau tenang saja Fit, si Sontoloyo itu tidak akan ke kampung dalam waktu dekat!" ujar Dicky.


"Lho kok Mas Dicky tau?"


"Orang kakinya patah, wajah besut-besut mana mungkin pulang kampung!" sahut Dicky.


"Tau dari mana kaki patah??"


"Kemarin kan dia jadi korban tabrak lari, cuma sudah aku lempar ke rumah sakit besar, jadi aman si sontoloyo tidak lama-lama ada di sini!" jelas Dicky.


"Oalaa Mas ... Mas!"


Suster Wina masuk dengan tergopoh-gopoh ke ruang makan itu.


"Dokter! Dokter bagaimana sih? Ini antrian sudah 220 orang, masa Dokter belum mulai juga prakteknya? Malah santai di sini lagi!!" seru Wina.


"Alamak!! Aku lupa kalau harus praktek!!" Dicky langsung memakai jas putihnya dengan cepat dan setengah berlari menuju ke klinik.


Bersambung ...


****

__ADS_1


__ADS_2