Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Surat Pengunduran Diri


__ADS_3

Malam itu, Fitri mulai mengetik surat pengunduran diri yang akan dia ajukan besok ke sekolah, terkait kejadian yang baru saja menimpanya.


Beberapa kali Dicky meminta Fitri untuk resign dari sekolah, karena kehamilannya semakin lama semakin membesar.


Sebenarnya Fitri sangat berat meninggalkan anak-anak didiknya, apalagi jiwa pendidiknya yang begitu tinggi, menjadi guru adalah impiannya sejak dulu.


Namun kini, demi sebuah kebaikan bersama, Fitri harus mengorbankan salah satu impiannya, yaitu menjadi seorang guru.


Beberapa kali Fitri menyeka air matanya yang terus menetes karena menulis surat itu.


Perlahan Dicky merengkuh bahu Fitri, kemudian memeluknya dengan erat.


"Jangan sedih sayang, melihatmu seperti ini hatiku sangat sakit, kalau kau masih berat meninggalkan sekolah, tidak apa-apa, aku yang akan terus menjagamu!" ucap Dicky.


"Tidak Mas, selama ini Mas Dicky sudah banyak berkorban buat aku, walaupun hatiku berat, tapi aku tidak menyesal membuat surat ini!" kilah Fitri.


"Tapi mendung di wajahmu tidak bisa bohong Fit, aku tau betapa cintanya dirimu dengan semua murid-muridmu itu!" lanjut Dicky.


"Mas, tapi sesekali, bolehkan aku datang ke sekolah untuk menengok murid-murid?" tanya Fitri sambil menatap wajah teduh Dicky.


"Tentu saja boleh sayang, semua hal yang membuatmu senang dan bahagia aku pasti akan mendukungmu!" ucap Dicky sambil mengecup puncak kepala Fitri.


Lalu kemudian Fitri melanjutkan kembali mengetik suratnya.


****


Pagi itu, Dicky mengantar Fitri untuk menemui Pak Jamal, terkait rencana pengunduran diri Fitri untuk mengajar di sekolah.


Suasana di ruang kepala sekolah terlihat ramai, para guru mulai berkumpul di sana, seperti ada sesuatu yang luar biasa yang mereka bicarakan.


Fitri yang batu datang langsung mendekati Bu Erna yang berdiri di depan pintu ruangan Pak Jamal.


"Ada apa Bu Erna? Kok tumben ramai sekali pagi-pagi!" tanya Fitri.


"Ini lho Bu Fitri, pagi ini ada berita Mengejutkan!" sahut Bu Erna.


"Ada berita Mengejutkan apa Bu?" tanya Fitri.


"Pak Donny tiba-tiba mengundurkan diri tanpa sebab, hanya suratnya yang datang, saat di hubungi, ponselnya sudah tidak aktif lagi, kami semua tidak ada yang tau kabarnya lagi!" jelas Bu Erna.

__ADS_1


"Apa? Jadi ... Pak Donny sudah tidak mengajar lagi di sini??" tanya Fitri kaget.


"Iya Bu, terhitung mulai hari ini, Pak Jamal sampai kewalahan mencari guru pengganti, akhirnya di alihkan ke wali kelas masing-masing!" tambah Bu Erna.


Fitri terdiam, ternyata Pak Donny kini bahkan sudah tidak ada di sekolah ini lagi, padahal kemarin dia baru saja melihatnya.


"Semua guru banyak yang merasa kehilangan, semasa kerjanya, Pak Donny itu guru teladan, sikapnya sangat baik dan sportif, tapi sayang ... entah apa yang menyebabkan dia pergi begitu saja!" gumam Bu Erna.


Para guru satu persatu sudah mulai meninggalkan ruang kepala sekolah.


"Mas Dicky, ayo masuk!" ajak Fitri. Mereka kemudian langsung masuk ke ruang Pak Jamal, Pak Jamal nampak duduk termenung di kursi kebesarannya.


"Selamat Pagi Pak Jamal!" sapa Fitri. Mereka mulai duduk di hadapan Pak Jamal.


"Selamat pagi, ada apa Bu Fitri?" tanya Pak Jamal.


"Begini Pak, saya ingin mengajukan pengunduran diri dari sekolah, karena kondisi saya yang hamil, suami menghendaki saya di rumah saja, sampai bayi kami lahir!" ucap Fitri.


Pak Jamal nampak terkejut, tiba-tiba ada raut kesedihan di wajahnya.


"Bu Sita sudah aku berhentikan, Pak Donny mengundurkan diri secara tiba-tiba, sekarang Bu Fitri malah mau mengajukan pengunduran diri juga, kasihan sekali sekolah ini!" gumam Pak Jamal frustasi.


"Pak Jamal jangan khawatir, saya akan membantu Bapak mencari guru-guru yang berkompeten, saya juga tidak terus menerus mengekang Fitri istri saya, sesekali dia juga dengan sukarela akan membantu mengajar di sini, iya kan sayang?" tanya Dicky sambil menoleh ke arah Fitri.


"Benar Pak, menjadi guru adalah panggilan hati saya, jadi saya tidak benar-benar meninggalkan sekolah ini, saya pasti akan datang kembali!" ucap Fitri.


"Baiklah, kalau itu memang sudah jadi keputusan Bu Fitri dan suami, apa boleh buat, saya terima surat pengunduran diri ini!" kata Pak Jamal dengan suara bergetar.


Setelah saling berjabat tangan, Dicky dan Fitri kemudian bergegas keluar dari ruangan Pak Jamal, mereka terus berjalan ke arah lobby.


"Bu Fitri!" panggil seorang anak. Fitri dan Dicky menoleh kebelakang.


"Dara! Kau tidak masuk ke kelas?" tanya Fitri sambil memegang kedua bahu Dara.


"Apakah Bu Fitri tidak mengajar lagi? Lalu siapa yang akan mengajar kami?" tanya Dara balik.


"Dara, sebentar lagi akan ada guru pengganti buat kalian, kalian sabar dulu ya, Bu Fitri hanya perlu istirahat, supaya dedek bayinya sehat, nanti ibu janji akan sering mengunjungi kalian!" jawab Fitri.


Dara mulai meneteskan air matanya dari bola matanya yang mungil.

__ADS_1


"Tidak ada guru sebaik Bu Fitri, kalau tidak ada Ibu, mungkin aku masih mengamen di jalan Bu!" ujar Dara.


"Dara, kau harus rajin belajar ya Nak, supaya kau bisa sukses, untuk mengangkat derajat keluargamu, kau anak pintar!" ucap Fitri sambil mengelus kepala Dara, kemudian Fitri memeluk dara.


Karena tidak tahan dan sedih, Fitri langsung menarik tangan Dicky menuju ke parkiran, setelah itu Fitri menangis di pelukan Dicky.


"Menangislah Fit, kalau itu bisa membuat hatimu lega!" ucap Dicky.


Fitri terus menangis tanpa mampu untuk mengucapkan sepatah katapun.


"Bu Fitri!!" terdengar suara teriakan beberapa orang anak dari lantai dua.


Fitri mendongak ke atas, anak-anak kelas satu melambaikan tangan ke arah Fitri.


"Selamat tinggal Bu Fitri!! Jangan lupain kami ya!!" seru mereka.


Fitri juga melambaikan tangannya dan berusaha untuk tersenyum.


"Kalian anak-anak yang hebat!" seru Fitri.


Tak lama kemudian, Fitri langsung naik ke dalam mobilnya dan di susul oleh Dicky.


"Ayo jalan Mas!" ujar Fitri.


Kemudian mobil yang mereka tumpangi itu mulai bergerak perlahan meninggalkan gedung sekolah itu.


"Maafkan aku Fit, mungkin karena permintaanku, kau mengorbankan salah satu impianmu!" ucap Dicky lirih.


"Tidak Mas, hidup adalah pilihan, aku memang senang mengajar, tapi untuk saat ini, aku juga ingin melayani Mas Dicky dengan sepenuh hatiku, sambil menantikan kelahiran buah hati kita!" jawab Fitri.


Dicky mulai menggenggam tangan Fitri dengan lembut dan hangat.


Tiba-tiba Dicky mendadak menghentikan mobilnya, Fitri terkejut.


"Fit! Itu ada orang yang di kejar-kejar massa, coba kau lihat, sepertinya aku mengenal orang itu!" seru Dicky.


Fitri mengamati orang yang di kejar massa itu, seketika itu matanya langsung membola saat dia melihat dan mengenali siapa orang itu.


Bersambung ...

__ADS_1


****


__ADS_2