
Bi Sumi tergopoh-gopoh datang menuju ke ruang bayi, setelah Dara memanggilnya.
Dina nampak mengikuti di belakang Bi Sumi, semetara Fitri nampak duduk bersandar dinding di karpet sambil memegangi perutnya.
"Mbak Fitri kenapa? Perutnya sakit?" tanya Bi Sumi cemas sambil mengelus perut Fitri yang sangat menonjol besar itu.
"Iya Bi, rasanya seperti keram, agak mules sedikit dan aku jadi agak sesak!" jawab Fitri sambil meringis.
"Wah, jangan-jangan Mbak Fitri mulai kontraksi! Ayo sini Bibi bantu ke kamar, Mbak Fitri baringan di tempat tidur!" kata Bi Sumi yang langsung mencoba memapah Fitri di bantu oleh Dina dan Dara.
Fitri kemudian mulai berbaring di tempat tidur besar di kamarnya.
"Dina dan Dara tunggu di sini ya jaga Mama, Bibi mau buatkan minuman hangat dulu buat Mama!" titah Bi Sumi.
"Iya Bi!" sahut mereka patuh.
Dengan cepat Bi Sumi keluar kamar dan langsung menuju ke dapur untuk membuatkan minuman hangat untuk Fitri.
"Ma, aku telepon Papa ya?" tawar Dina.
"Jangan Din, Papa sedang sibuk, jangan di ganggu dulu, paling ini sakitnya cuma sebentar, tuh buktinya sudah tidak sakit lagi!" ujar Fitri.
Tak lama kemudian Bi Sumi sudah kembali dengan membawa satu gelas minuman hangat di tangannya.
"Nih Mbak Fitri minum dulu, supaya perutnya hangat dan enakan!" ujar Bi Sumi.
Fitri kemudian langsung meneguk minumannya.
"Sudah tidak sakit lagi Bi!" kata Fitri.
"Memangnya kata Dokter kapan prediksi lahirnya sih Mbak?" tanya Bi Sumi.
"Masih sekitar tiga mingguan lagi Bi, bisa lebih cepat atau lebih lambat!" jawab Fitri.
"Ooh, mungkin yang tadi itu kontraksi palsu ya, kalau begitu Mbak Fitri istirahat saja di sini, jangan kerja yang berat-berat ya, Pak Dokter perlu Bibi telepon tidak nih?" tanya Bi Sumi.
"Jangan Bi, Mas Dicky sibuk dan hari ini dia lembur, jangan di ganggu dulu!" sergah Fitri.
"Baiklah, Bibi mau lanjutin masak dulu di dapur ya, pokoknya kalau perlu apa-apa panggil Bibi saja!" ujar Bi Sumi.
"Iya Bi!" sahut Fitri.
Bi Sumi kemudian kembali ke luar kamar dan langsung menuju ke dapur.
__ADS_1
"Dara, mana sini bukunya yang tadi, kita kerjakan PR nya ya!" kata Fitri sambil menoleh ke arah Dara.
Dara menganggukan kepalanya dengan wajah cerah sambil menyodorkan bukunya yang nya yang sejak tadi di bawanya.
Semetara di dapur bawah, Bi Sumi mulai kembali memasak untuk makan malam nanti.
Tiba-tiba Mang Salim masuk ke ruang dapur itu.
"Mang Salim, dari mana saja sih kok baru keliatan?" tanya Bi Sumi.
"Di depan saja kok baru cuci mobil! Kenapa memangnya Bi!" sahut Mang Salim.
"Itu Mbak Fitri sepertinya mulai kontraksi, jangan pergi jauh-jauh makanya Mang!" ujar Bi Sumi.
"Iya siap, kalau mau kemana-mana tinggal panggil saya saja Bi!" sahut Mang Salim.
"Truss, ngapain ke dapur Mang? Makanan belum matang!" tanya Bi Sumi.
"Biasa Bi, cari kopi hehehe!" sahut mang Salim cengengesan.
"Huuu dasar Mang Salim! Majikan saja tidak pernah ngopi, Pak dokter itu beli stok kopi banyak cuma buat kita!" sungut Bi Sumi.
****
Dicky baru saja keluar dari ruangan rapat para Dokter dan staff, dia mengusap wajahnya yang lelah dan berkeringat itu, baru saja dia selesai memimpin rapat itu.
Dicky lalu menghempaskan tubuh lelahnya di kursi kebesarannya, baru sempat dia membuka tasnya dan melihat ponselnya.
Ada banyak sekali pesan masuk dan panggilan tak terjawab.
Dia lalu mulai membereskan meja dan barang-barangnya, rasanya ingin langsung cepat pulang saja.
Setelah semua beres, Dicky kemudian mulai keluar dari ruangannya dan berjalan menyusuri lorong rumah sakit menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir.
Tanpa menunggu Dicky langsung meluncur pulang ke rumahnya.
Karena sudah malam dan jalanan lengang, tidak sampai 30 menit Dicky sudah sampai di rumahnya.
Mang Salim langsung membukakan gerbang saat Dicky memencet klaksonnya.
"Selamat malam Pak Dokter!" sapa Mang salim saat Dicky turun dari dalam mobilnya.
"Malam Mang, sudah pada tidur ya semua?" tanya Dicky.
__ADS_1
"Sepertinya iya Pak Dokter, tapi tadi Bi Sumi pesan kalau Pak Dokter mau makan, makanan sudah siap di meja makan!" jawab Mang Salim.
"Terimakasih Mang!" jawab Dicky yang langsung berjalan cepat menuju ke kamarnya.
Fitri nampak berbaring miring, Dicky yang sudah kangen tak sabar langsung memeluk Fitri dari belakang.
Kemudian Dicky langsung menyesapkan kepalanya di leher Fitri hingga Fitri menggeliat kegelian.
"Mas Dicky? Kau baru pulang?" tanya Fitri.
"Iya sayang!" sahut Dicky yang masih terus memeluk Fitri sambil mulai mengelus perutnya yang terasa keras dan padat.
"Mandi dulu dong! jangan langsung ke tempat tidur!" sergah Fitri sambil perlahan mengurai pelukan suaminya itu.
"Malas Ah, tadi di ruangan juga aku sudah mandi kok pas sore!" sahut Dicky.
"Mas, kau sudah belum, makan dulu Mas, Bi Sumi sudah siapkan di ruang makan!" ujar Fitri sambil membalikan tubuhnya dan membelai rambut Dicky yang kini berbaring di sebelah nya.
"Aku belum lapar Fit, mau di sini saja, rasanya nyaman sekali, ada di samping istri dan calon anak kita!" bisik Dicky.
"Mas, sepertinya bayi kita akan lebih cepat lahir!" ujar Fitri.
"Apa? Kenapa kau bisa bilang begitu? Bukannya masih beberapa Minggu lagi?" tanya Dicky kaget.
"Iya sih Mas, tapi tadi tiba-tiba perutku seperti kontraksi gitu, sakit tiba-tiba, kata Bi Sumi kontraksi palsu, bisa jadi kan ya?" tanya Fitri.
Dengan cepat Dicky langsung mengambil ponselnya yang dia taruh di dalam tasnya.
"Mas Dicky mau telepon siapa?" tanya Fitri bingung. Namun Dicky terus saja mencari nama yang akan di teleponnya.
"Halo ..."
"Halo Mia, bisakah kau datang ke rumahku sekarang juga?? Tolong lihat kondisi istriku, katanya tadi dia sempat kontraksi!" ujar Dicky cepat.
"Kau ini Dicky!! Sudah jam berapa sekarang!! Kalau masih mulai kontraksi itu masih lama prosesnya tau!! Besok pagi saja kalian datang ke rumah sakit!!" tukas Dokter Mia.
"Pokoknya kau datang sekarang juga Mia! Kau lupa aku ini pimpinan mu, kau harus mematuhi perintah pemimpin!!" sahut Dicky.
Tak lama kemudian terdengar suara yang berbeda dari seberang telepon.
"Woooyy Dicky!!! Kau selalu mengganggu kesenangan orang saja!! Aku sedang berkencan dengan Mia tau!!" ternyata di sana ada suara Dimas.
"Nah kebetulan!! Kau antar kan sekarang juga Mia datang ke rumahku, tolong periksa kondisi istriku! Kapan bayiku akan lahir!! Jangan lupa bawa peralatan yang lengkap!!" titah Dicky sebelum mematikan ponselnya.
__ADS_1
Bersambung ...
****