Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Semoga Bahagia


__ADS_3

Adi sedikit terkejut mendengar bisikan Dicky. Dicky dan Fitri memang sudah mengenal calon istrinya itu.


"Bu Sita? Jadi calon istri anda Bu Sita Pak Adi?" tanya Fitri tak percaya.


Bu Sita yang memang terlihat mendampingi Adi nampak tersenyum ke arah Fitri dan Dicky.


"Hai Bu Fitri, lama kita tak jumpa, sekarang kau tau kan, kalau aku kini adalah calon istri seorang pengacara, jadi kau jangan meremehkan aku lagi!" ujar Bu Sita dengan senyum penuh kebanggaan.


"Syukurlah kalau Bu Sita akhirnya menemukan pendamping hidup, semoga kalian di lancarkan selalu prosesnya!" ucap Fitri.


"Rupanya kalian sudah saling mengenal, baguslah, jadi aku tak perlu memperkenalkannya lagi!" kata Adi.


"Kalau Bu Sita sih, bukan hanya kenal, tapi ... " Dicky tak melanjutkan ucapannya.


"Dia rekan sesama guru waktu aku mengajar di sekolah!" sambung Fitri.


"Oooh, begitu rupanya, aku baru mengenal Sita beberapa bulan terakhir, entah mengapa kami saling cocok, dan kebetulan Sita ini kan janda tanpa anak, jadi aku bebas saja untuk mendekatinya!' jelas Adi.


"Aku ikut senang, semoga kalian bisa menjadi pasangan yang saling melengkapi dan mengubah satu sama lain!" ucap Dicky.


"Baiklah Dicky, aku sudah lapar, kalau kita terlalu lama mengobrol, bisa kehabisan makanan aku!" ujar Adi.


"Silahkan Di, jangan takut, stok makanan di jamin tidak kurang!" sahut Dicky.


Adi kemudian menggandeng tangan Bu sita berjalan turun dari pelaminan dan mulai menikmati sajian makan malam.


"Aku tidak menyangka, Adi ternyata bisa kepincut juga dengan Bu Sita!" gumam Dicky.


"Bagus dong Mas, jadi Bu sita bisa berubah dan tidak selalu berburuk sangka lagi pada kita!" sahut Fitri.


"Yah semoga saja!" ujar Dicky.


Tak lama kemudian, keluarga Kevin dan Tania naik ke atas pelaminan untuk mengucapkan selamat pada Dicky dan Fitri.


Mereka membawa tiga orang anak, Kevin menuntun Meira dan Kevano, sementara Tania menggendong si Bungsu Malaika.


"Selamat Dokter, semoga keluarga kalian selalu sehat sejahtera dan bahagia!" ucap Kevin.


"Ah, aku melihat keluargamu yang nampak bahagia dan harmonis, aku bahkan iri padamu!" sahut Dicky.


"Kau bisa saja Dokter, sebentar lagi kalian juga akan menyusul kami, tidak sabar ingin melihat bayi kalian lahir!" timpal Tania.


"Bu Fitri tidak mengajar lagi?" tanya Meira tiba-tiba.


"Tidak sayang, Bu Fitri kan sebentar lagi mau ada Dedek!" jawab Fitri sambil mengelus kepala Meira.


"Tapi aku boleh kan main ke rumah Om Dokter? Ingin main dengan Dara, kata Dara, sekarang dia punya kamar yang bagus dan mainan yang banyak, sekarang Dara jadi saingan aku di kelas!" celoteh Meira.


"Tentu saja kau boleh main ke rumah Om Dokter, Dara juga pasti akan senang!" sahut Dicky.


"Sekarang Dara mana Om Dokter?" tanya Meira.


"Mungkin dia sedang makan es krim di bawah, nanti Meira cari saja!" jawab Dicky.

__ADS_1


"Aku kagum padamu Dokter, aku dengar kau mengadopsi dua anak sekaligus, itu menunjukan kau memiliki jiwa yang besar!" ucap Kevin sambil menepuk bahu Dicky.


"Ah, kau terlalu berlebihan Pak Kevin!" balas Dicky.


"Kalian pasti akan berbahagia, Fitri, kau juga nampak berubah, tidak seperti Fitri yang aku lihat dulu pertama kali!" ujar Tania.


"Iya, semua ini berkat ... suamiku, dia yang terlalu sabar mengurus aku!" jawab Fitri tersipu.


"Tapi hasilnya berbuah manis kan?" goda Tania.


Mereka kemudian mulai turun ke bawah dan berbaur dengan para tamu dan undangan yang lainnya.


****


Hari sudah semakin malam, para tamu terlihat mulai pulang ke tempatnya masing-masing.


Wajah Fitri dan Dicky juga terlihat lelah, karena aktifitas seharian yang mereka lakukan.


Mereka kemudian mulai turun dari pelaminan dan duduk di bangku meja VIP untuk makan bersama keluarga.


Bu Nuri nampak mendekati Dicky dan Fitri.


"Dicky, Ibu dan anak-anak yang lain mohon pamit ya!" ucap Bu Nuri.


"Bu, kenapa buru-buru? Ibu dan adik-adik sudah makan belum?" tanya Dicky.


"Sudah Dicky, kau tau jarak dari sini ke puncak lumayan jauh, nanti kami malah kemalaman di jalan!' jawab Bu Nuri.


"Bu Nuri, jika ibu berkenan, menginaplah di hotel ini bersama adik-adik, tidak usah memikirkan biaya atau apapun!" ucap Dicky.


"Jangan sungkan Bu, kau lupa kalau aku ini adalah anakmu? Dan adik-adik panti itu adalah saudaraku?' tanya Dicky sambil menatap lembut ke arah Bu Nuri.


"Dicky, kau baik sekali, Ibu bangga padamu Nak!" sahut Bu Nuri dengan mata yang mulai berkaca-kaca.


"Sudahlah Bu, jangan pernah sungkan padaku, sebaiknya Ibu dan adik-adik beristirahat di kamar, pasti kalian semua lelah!" ujar Dicky.


"Iya Nak, Ibu doakan keluargamu selalu bahagia lahir batin!" ucap Bu Nuri sambil berlalu meninggalkan Dicky dan Fitri.


Dicky kemudian menoleh ke arah Fitri yang sejak tadi diam saja.


"Kau kenapa sayang?" tanya Dicky.


"Tidak apa-apa Mas, aku merasa beruntung memiliki suami seperti dirimu, tanpa mampu mengatakan apapun!' ungkap Fitri.


Dicky tersenyum kemudian menggenggam tangan Fitri.


"Kita lanjutkan nanti malam di ranjang pengantin kita ..." bisik Dicky sambil mengedipkan sebelah matanya.


****


Hai Readers ...


Ini dia visual para tokoh yang ada di kisah ini, hanya sekedar bayangan Author saja ...

__ADS_1



Dokter Dicky Pradita





Fitri





Ranti





Bu Eni





Pak Karta





Bu Romlah





Dimas


__ADS_1



__ADS_2