
Seorang laki-laki tampan sebaya Dicky sudah duduk di ruangan lama Dicky sambil tersenyum ke arahnya.
"Adi! Tak menyangka kau akan datang mengunjungiku!" seru Dicky sambil memeluk Adi, sahabat lamanya sesama di panti dulu.
"Aku sudah banyak mendengar berita tentangmu Dic, tak di sangka juga ternyata kau anak pemilik rumah sakit ini, dunia memang penuh misteri!" kata Adi sambil menepuk bahu Dicky.
Mereka kemudian duduk saling berhadapan di ruangan itu.
"Bagaimana kabarmu Di? Kadang kau muncul kadang kau hilang, seperti jalangkung saja!" tanya Dicky.
"Yah, seperti yang kau lihat sekarang, aku datang ke sini karena ada yang mau aku bicarakan padamu!" jawab Adi.
"Oya? Tentang apa?" tanya Dicky balik.
"Kau tau kan Dic, aku telah memutuskan hubunganku dengan Sita, karena aku memang berbeda jalan dengan dia!"
"Lalu?"
"Saat ini ada wanita yang menarik hatiku, aku mulai jatuh cinta padanya, hidupnya begitu rapuh dan menderita, aku jadi ingat dirimu saat dulu kau menikahi istrimu, dia juga dalam keadaan depresi bukan?" tanya Adi sambil menatap Dicky.
"Yah, kau benar Di, dulu Fitri memang depresi dan rapuh, tapi cinta yang akan mengubah segalanya, aku belajar dari pengalaman hidup, cinta bisa menyembuhkan luka sedalam apapun!" jawab Dicky.
"Aku salut padamu Dic, kau berani berdiri atas nama cinta, saat ini, wanita itu ada di rumahku, dia begitu sedih dan kasihan, harapan nya seolah lenyap, aku ingin memberikan dia setitik cahaya dan harapan!" ungkap Adi.
"Kau jangan lama-lama menyimpan wanita dalam rumahmu, itu bahaya Di, kenapa tidak langsung kau nikahi saja dia?" tanya Dicky.
"Tidak mungkin aku menikahinya sekarang Dic, dia masih istri orang!" sahut Adi.
"Apa?? Wah, kau bermain api!" cetus Dicky.
"Dia sangat mencintai suaminya itu, sedangkan suaminya mencintai wanita lain, yang tak lain adalah madunya sendiri!" lanjut Adi.
"Hmm, kelihatannya rumit, tapi bukankah kau seorang pengacara hebat? Kau bisa membantunya untuk bercerai dengan suaminya itu!" usul Dicky.
"Itu tidak mudah Dic, karena hatinya masih terpaut pada suaminya itu!" tukas Adi.
"kau percaya padaku Di, kalau kau tulus mencinta nya, kau pasti akan bisa meluluhkan hatinya, ingat, cinta bisa menyembuhkan luka!" ujar Dicky.
"Baiklah Dic, kalau begitu aku pamit, ada kasus yang harus aku selesaikan, klienku sudah menunggu!" pamit Adi sambil beranjak berdiri dari tempatnya.
"Oke, lain waktu aku akan mampir ke rumahmu, kenalkan aku pada wanita yang sudah mencuri hatimu itu!" ucap Dicky.
"Siap! Sampaikan salamku pada istri dan anakmu ya! Mungkin Minggu depan aku akan berkunjung ke panti, aku ingin minta restu dari Bu Nuri!" ucap Adi.
"Yah, aku doakan niat baikmu terlaksana Di, jangan lupa undang-undang kami!" sahut Dicky sambil menepuk bahu Adi.
__ADS_1
Adi kemudian mulai melangkah keluar dari ruangan itu.
Dicky juga menyusul keluar dari ruangannya itu.
Di depan ruangan, nampak beberapa orang pasien sudah duduk mengantri. Semetara Suster Wina duduk di meja depan sambil mencatat sesuatu.
"Sus! Ini kenapa semua dokter anak belum datang??" tanya Dicky.
"Maaf Dokter, jadwal praktek kan jam 9, ini baru jam 8.45!" jawab Suster Wina.
"Seharusnya Dokter sudah siap sebelum pasien datang! Lain kali katakan pada semua dokter, wajib datang 30 menit sebelum praktek di mulai!!" tegas Dicky.
"Baik Dokter!" sahut Suster Wina menunduk.
Dicky kemudian kembali melangkah menuju ke ruangan barunya, siang ini dia berencana mengadakan rapat kepada semua tim Dokter, untuk meningkatkan kinerja dan pelayanan terhadap masyarakat.
Sejak Dicky tidak lagi memegang praktek untuk pasien, jumlah pasien menurun, padahal sebelumnya pasien Dicky adalah pasien yang terbanyak dari semua Dokter.
Dicky lalu membuka pintu ruangan yang kini menjadi ruangan pribadinya itu.
Matanya terbelalak saat melihat ada dua ekor cicak yang mati di atas meja di dekat cangkir kopi susunya yang belum sempat di sentuhnya itu.
"Cicak mati? Kenapa ada cicak mati di sini?" gumam Dicky.
Tiba-tiba Dicky bangkit dan membawa cangkir itu ke laboratorium yang letaknya tidak terlalu jauh dari ruangannya.
"Suster! Tolong bersihkan meja kerjaku! Ada dua cicak mati di sana!" titah Dicky pada seorang Suster yang di jumapainya di lorong.
"Baik Dokter!" sahut Suster itu.
Dicky terus berjalan menuju ke laboratorium, hingga dia sampai dan langsung masuk tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu.
"Eh, ada Dokter Dicky!" seru seorang Dokter yang bertugas di bagian laboratorium.
"Dokter Widya, tolong periksa kopi ini, ada kandungan apa di dalamnya?!" ujar Dicky.
"Baik Dokter, segera akan di periksa, nanti hasilnya mau di tunggu atau di antar ke ruangan Dokter?" tanya Dokter Widya.
"Di antar saja! Cepat ya jangan pakai lama!" sahut Dicky.
"Baik Dokter, sekitar 15 menitan ya!" sahut Dokter Widya yang langsung masuk ke dalam ruang tes laboratorium.
Kemudian Dicky kembali berjalan menuju ke ruangannya.
Matanya melihat ruangan Pak Bram yang terletak di ujung lorong, ruangan itu sudah terang, menandakan Pak Bram sudah tiba di rumah sakit.
__ADS_1
Dicky kemudian melanjutkan langkahnya hingga sampai di ruangannya kembali.
Dua ekor cicak yang mati tadi sudah di bereskan oleh suster, Dicky lalu mulai menghempaskan tubuhnya di sofa yang ada di sudut ruangan nya itu.
Telolet ... Telolet ...
Terdengar suara ponsel Dicky, ada video call dari Fitri.
Dengan cepat Dicky mengusap layar ponselnya itu. Ada Fitri sedang bersama Alek yang sedang menatapnya.
"Halo kesayangan Papa! Maaf belum sempat telepon tadi!" ujar Dicky.
"Tidak apa-apa Mas, kami tau kok kau pasti sibuk dan banyak yang di kerjakan dia sana!" ucap Fitri.
"Kapan-kapan kalian ikut menemaniku di sini ya, supaya aku lebih semangat, Alex nanti temani Papa kerja ya!" ujar Dicky.
"Iya Papa!" sahut Fitri menirukan gaya suara anak kecil.
"Alex jaga Mama ya, juga Oma!" lanjut Dicky.
"Siap Papa, Papa mau makan apa nanti malam? Biar di pesankan sama pelayan nanti!" tanya Fitri.
"Apa saja lah, yang penting ada kalian menemaniku, aku sudah cukup bahagia!" sahut Dicky.
"Kalau begitu lanjutkan kerjanya ya Mas, ini Alex minta menyusu lagi!' pamit Fitri.
"Hei Alex! Sisakan susunya buat Papa ya! Jangan di habiskan!" seru Dicky.
Fitri hanya tertawa setelah itu dia menutup layar ponselnya.
Ceklek!
Dokter Widya membuka pintu ruangan Dicky dan langsung masuk, lalu duduk di hadapan Dicky.
"Hasil lab nya sudah keluar Dokter, ini hasilnya!" Dokter Widya menyodorkan lebaran kertas print out ke hadapan Dicky.
Dicky membacanya dengan seksama, kemudian dia membulatkan matanya.
"Apa? Jadi ada kandungan zat sianida di dalam kopi tadi??" tanya Dicky seolah tak percaya.
"Benar Dokter, dan Dokter tau kan zat itu sangat berbahaya, dan bisa mematikan!" sahut Dokter Widya.
Bersambung ...
****
__ADS_1