Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Rencana Resepsi Pernikahan


__ADS_3

Setelah menangani pasien sebentar, Dicky dan Fitri kemudian beranjak keluar dari ruangannya hendak kembali pulang ke rumahnya.


Mereka menyusuri lorong rumah sakit, lalu menuju ruang praktek Dokter Dimas yang saat itu terlihat sepi.


Dokter Dimas yang kini usianya hampir mendekati kepala tiga, namun masih mencari pelabuhan hatinya, nampak sedang duduk melamun di meja kebesarannya sambil bertopang dagu.


"Hai Dim! Siang bolong kau melamun, kesurupan lho!" ujar Dicky yang mengagetkan Dimas.


"Sial kau Bro! Membuyarkan impianku saja!" cetus Dimas cemberut.


"Kau bermimpi apa? Nikah dengan Mia! Sikat Dim! Tunggu apa lagi??" ledek Dicky sambil terkekeh.


"Nikah dengkulmu! Mia setiap kali aku ajak kencan dia selalu menolak, apa dia lebih memilih jadi perawan tua dari pada menikah denganku!" sungut Dimas.


"Sabar dulu Dim! Kau harus pakai strategi untuk menaklukan Mia, tentu saja dia menolak, kau mengajak kencan di tukang ketoprak langgananmu, sekali-kali dong pakai gajimu untuk mengajaknya ke restoran!" ujar Dicky.


"Hahaha sialan! Tau dari mana kau kalau aku ajak Mia makan ketoprak??" tanya Dimas.


"Dia yang bilang padaku Dim! Katanya kau terlalu perhitungan! Masa ulang tahun kau hanya traktir dia makan soto ayam di kantin rumah sakit, kurang romantis Dim!" sahut Dicky.


Fitri yang dari tadi hanya diam mendengarkan hanya tersenyum mendengar percakapan mereka yang terlihat akrab dan natural, seperti seorang sahabat, bukan sesama Dokter.


"Dim, aku berencana akan mengadakan resepsi pernikahanku dengan Fitri ... yah walaupun terlambat, kau tau kan, bahkan semua teman dan karyawan di rumah sakit ini tidak pernah aku undang di pernikahan dadakan ku dulu!" ungkap Dicky.


"Waaaah so sweet sekali Bro, kayaknya ajang yang bagus tuh buat aku tembak Mia!" seru Dimas.


"Nah, silahkan mainkan Dim! Aku minta tolong kau bantu aku untuk mengurus semuanya, tolong data siapa saja dokter di rumah sakit ini yang akan aku undang, beserta staf dan para perawat!" ujar Dicky.


"Siap! Jangan lupa kau pesan makanan yang enak-enak ya Bro!" sahut Dimas.


"Gampang, bisa di atur! Soal tanggal dan harinya nanti aku akan diskusi di rumah dengan istriku! Pokoknya aku mau resepsi yang meriah, untuk menebus kesalahanku karena belum mengadakan resepsi sejak dulu!" ungkap Dicky.


"Oke lah Bro, kau tenang saja, untuk masalah undangan di jamin beres!" sahut Dokter.


"Kalau begitu aku pulang dulu sekarang Dim, kalau Dokter Yudi tau aku masih di rumah sakit, habislah aku di marahi olehnya!" ujar Dicky yang kemudian berdiri.


Fitri membantu Dicky berjalan perlahan keluar dari ruangan Dimas.


"Hati-hati bro! Awas kaki kesandung!" teriak Dimas saat Dicky dan Fitri keluar dari pintu ruangan itu.


Mereka berjalan ke arah lobby, Mang Salim sudah menunggu di mobil di depan lobby.


Tanpa menunggu lama mereka segera masuk ke dalam mobil Dicky.


"Mang, kalau mobil ini di desain jadi mobil pengantin bagus tidak?" tanya Dicky.


"Wah, siapa yang mau jadi pengantin Mas?" tanya Mang Salim heran.

__ADS_1


"Ya saya lah Mang, siapa lagi?" sahut Dicky.


"Mas Dicky mau menikah lagi??" tanya Mang Salim bingung.


"Saya sudah menikah Mang, cuma resepsi belum!" jawab Dicky.


Sekitar 30 menitan karena jalanan lancar, mereka sudah sampai di rumah.


Dina dan Dara langsung menyambut kedatangan mereka.


"Papa Mama! Tadi nilai matematika aku dapat 100 lho, aku bisa mengalahkan Meira, dia dapat 95!" seru Dara dengan wajah senang.


"Oya? Wah Dara hebat! Calon anak suksesnya Papa ini!" sahut Dicky sambil mengelus rambut Dara.


"Aku baru punya sahabat baru, aku senang di sekolahku yang baru, terimakasih ya Ma, Pa!" ujar Dina.


"Iya sayang, kalian sudah makan siang belum?" tanya Fitri.


"Sudah!" sahut keduanya.


"Sekarang kalian istirahat siang dulu di kamar, kan capek habis pulang sekolah, setelah itu baru belajar dan mengerjakan tugas!" titah Dicky.


"Iya Pa!" sahut Dina dan Dara yang langsung beranjak menuju ke kamar mereka.


Bi Sumi datang menghampiri mereka yang masih berdiri di ruang tamu itu.


"Terimakasih Bi, ayo sayang, kita makan siang dulu, setelah itu kita istirahat!" ajak Dicky.


Fitri lalu menuntun Dicky ke meja makan yang sudah di siapkan oleh Bi Sumi, aneka hidangan sudah tersaji dengan aroma yang nikmat.


Dengan telaten Fitri mengambilkan Dicky makanan di piringnya.


"Wah, ada ikan balado kesukaanmu Mas!" kata Fitri.


"Iya sayang, Bi Sumi tau saja makanan kesukaanku!" sahut Dicky senang.


Mereka mulai menyantap makan siang mereka.


"Fit, kira-kira kapan ya bagusnya kita buat resepsi pernikahan kita?" tanya Dicky.


"Nanti saja pas kandunganku berusia tujuh bulan Mas, sekalian merayakan tujuh bulanan!" jawab Fitri.


"Bagus, aku setuju Fit, mudah-mudahan aku juga sudah bisa berjalan normal kembali! Nanti setiap orang yang datang tidak usah membawa amplop atau hadiah apapun, aku yang akan membuat souvenir untuk para tamu nanti!" ujar Dicky.


"Souvenir nya apa Mas?" tanya Fitri.


"Voucher berobat gratis!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Waduh, boleh juga tuh Mas, unik dan bermanfaat!" kata Fitri senang.


"Tentu saja, suaminya siapa dulu!" cetus Dicky bangga.


"Mudah-mudahan Bapak juga sudah sehat Mas, aku ingin sekali mengajak Bapak dan Ibu, mereka pasti akan sangat senang!" ucap Fitri.


"Iya Fit, pasti aku akan mengajak mereka, mereka kan prioritas utama kita, aku juga ingin mengundang Bu Nuri dan anak-anak panti, walau bagaimana, mereka adalah masa kecilku, masa laluku!" ungkap Dicky.


"Aku akan senang jika mereka semua datang Mas, tapi ... aku malu!" tiba-tiba Fitri menundukan wajahnya.


"Kau malu kenapa Fit?" tanya Dicky bingung.


"Perutku sudah gendut, pasti aku akan jelek memakai gaun apapun! Aku malu!" jawab Fitri.


Dicky malah tertawa terpingkal-pingkal mendengar pengakuan Fitri.


"Hahahaha Fitri ... Fitri ... ini kan hanya resepsi sayang, kita itu sudah sah dari dulu menjadi suami istri, anggap saja ini adalah acara syukuran kita, jadi mau perutmu gendut tidak akan ada masalah bukan??!" ujar Dicky sambil terus tertawa.


"Terus saja Mas Dicky mentertawakan aku!" cetus Fitri cemberut.


"Habisnya kau itu lucu dan menggemaskan sih Fit, terkadang kita memang harus berterimakasih terhadap takdir, kalau bukan karena takdir, mungkin saat ini ... kita bukan siapa-siapa!" ungkap Dicky yang kini mulai menatap dalam dan lembut wajah Fitri.


Tatapan itu sangat dekat dan hangat, hingga Fitri kembali menundukkan wajahnya, tidak tahan menatap bola mata indah milik suaminya itu.


"Di resepsi kita nanti, aku ingin dengan sungguh-sungguh mengungkapkan isi hatiku padamu Fit, bukan karena terpaksa atau keadaan, tapi murni dari lubuk hatiku yang paling dalam!" lanjut Dicky.


Ada perasaan bergetar dalam dada Fitri, dia menyadari kalau dulu mereka menikah hanya karena sebuah status.


Tidak ada ungkapan apapun, bahkan pada saat mereka menikah dulu, semua serba cepat dan terburu-buru.


Ada yang menggeliat dalam perut Fitri, yang membuat dia mengelus lembut perutnya.


"Apa yang kau rasakan Fit?" tanya Dicky yang mulai menggenggam tangan Fitri.


"Bayi kita, dia bergerak terus!" jawab Fitri.


"Itu artinya, dia bahagia melihat Mama dan Papanya bahagia!" ucap Dicky lembut.


Perlahan Dicky mulai mendekatkan wajahnya ke wajah Fitri, Fitri yang berdebar keras langsung memejamkan matanya.


Ada yang lembut dan hangat yang Fitri rasakan menyentuh bibirnya, rasanya begitu manis.


****


Hai guys ...


Kalau mau datang di acara resepsi Dokter Dicky, jangan bawa amplop katanya ... jadi amplopnya kasih Author saja wkwkw 😉😁

__ADS_1


__ADS_2