
Hari ini Dicky begitu sibuk, dia harus menangani korban kecelakaan, juga memantau kinerja para Dokter, serta membuat laporan bulanan.
Bahkan dia juga tidak sempat membawa ponselnya yang sejak pagi ada di dalam tasnya yang di letakan di atas meja kerjanya.
Sebagai pimpinan tertinggi di rumah sakit ini, Dicky berkewajiban untuk mengatur semua administrasi yang berkaitan dengan seluruh bagian dalam rumah sakit ini.
Sementara yang praktek mengantikan Dicky adalah Dokter Tika, Dokter spesialis anak yang sudah terlihat senior.
Dicky merogoh saku bajunya, berniat akan mengambil ponselnya, dia baru sadar kalau ternyata ponselnya tertinggal di meja kerjanya.
"Ah sial! Bagaimana aku bisa telepon Fitri!" sungut Dicky kesal.
"Ada apa Dok?" tanya Wina yang membantu pekerjaannya hari itu.
"Ponselku ketinggalan Sus! Padahal aku mau telepon ke rumah!" sahut Dicky.
"Dokter hafal nomornya tidak? Pakai ponselku saja Dok!" tawar Wina.
"Hafal sih, ya sudah sini deh, aku pinjam ponselmu!" ujar Dicky akhirnya.
Suster Wina merogoh ponselnya di dalam saku baju putihnya. Kemudian dia langsung meyerahkan ponsel itu ke arah Dicky. Dicky langsung mengambilnya dan mulai meneleponnya.
"Halo!" terdengar suara Fitri dari sebrang.
"Halo Fit, ini Mas Dicky, pinjam ponsel suster Wina, ponselku ketinggalan di meja!" jelas Dicky.
"Oh, pantas saja tadi berapa kali aku telepon tidak di angkat, Mas Dicky sibuk ya?" tanya Fitri.
"Iya Fit, mungkin hari ini aku akan lembur, nanti kalian makan duluan saja ya, tidak usah menungguku!" ujar Dicky.
"Iya Mas, Trimakasih ya tadi Mas Dicky sudah kasih aku ke ..."
"Sudah ya Fit, aku tidak enak pakai ponsel orang lama-lama!" potong Dicky cepat sebelum menutup panggilan teleponnya.
Kemudian Dicky menyerahkan kembali ponselnya ke suster Wina.
"Sudah selesai Dok?" tanya Wina.
"Sudah Sus, terimakasih ya!" ucap Dicky.
"Iya Dok, Oya, nanti berkas ini mau di taruh di mana Dok!" tanya Wina sambil menunjuk tumpukan berkas yang sudah di periksa oleh Dicky.
"Kata Dokter Rizky, aku harus serahkan semuanya ini ke Pak Bram, semua laporan rumah sakit ini!" jawab Dicky.
__ADS_1
"Baik Dok!"
Dicky kemudian mulai berjalan ke ruangan Pak Bram, sementara Wina di belakangnya mengikuti sambil membawa tumpukan berkas.
Ruangan itu nampak sepi, Pak Bram merupakan asisten Bu Anjani yang menangani langsung segala hal yang berhubungan dengan rumah sakit.
Pak Bram sering datang dan mengontrol administrasi dan segala sesuatu yang berhubungan dengan kinerja para dokter dan staff dan karyawan seluruh rumah sakit ini.
Saat Dicky masuk ke dalam ruangan Pak Bram, dengan tersenyum Pak Bram mempersilahkan Dicky masuk.
"Saya menunggu di luar saja Dokter!" kata Suster Wina sungkan. Dicky menganggukan kepalanya.
"Dokter Dicky, sudah berapa lama anda menjabat sebagai kepala rumah sakit ini?" tanya Pak Bram.
"Baru beberapa bulan terakhir Pak!" jawab Dicky.
"Hmm, kau baru pertama kali datang padaku, biasanya Dokter Rizky yang selalu datang mengantarkan berkas laporan!" ujar Pak Bram.
Dicky kemudian duduk dan meletakan tumpukan berkas dan dokumen itu di atas meja kerja Pak Bram.
"Aku dengar reputasi mu sangat baik Dokter Dicky, Dokter Muda yang tampan, di sukai banyak orang!" lanjut Pak Bram.
"Pak Bram bisa saja, saya masih perlu belajar banyak pengalaman dari yang lebih senior!" ucap Dicky merendah.
"Menanyakan bagaimana Pak? Saya saja jarang sekali ada kesempatan untuk mengobrol dengan beliau!" sahut Dicky.
"Sejak pertama kali kau bekerja di sini, beliau sudah bersimpati padamu, asal kau tau saja Dok, pengangkatanmu menjadi kepala rumah sakit ini juga adalah atas rekomendasinya, di tambah juga prestasimu tentunya!" jelas Pak Bram.
Dicky terkesiap mendengarnya, dia tidak menyangka bahwa Bu Anjani ternyata begitu baik dan perhatian padanya, entah apa yang membuatnya seperti itu.
"Oya Pak, ada lagi yang mau saya tanyakan!" ujar Dicky.
"Silahkan Dok!"
"Apakah semua kepala rumah sakit mendapat fasilitas liburan, dan selalu mengganti uang dalam jumlah besar atas setiap kejadian atau perkara yang menimpa?" tanya Dicky.
"Kalau liburan iya, tapi biasanya hanya tiket dan biaya akomodasi, di luar uang saku dan lain-lain, mengenai uang pengganti kerugian, aku rasa itu dari uang pribadi beliau, karena tidak ada laporan dari pihak rumah sakit!" jelas Pak Bram.
"Aneh juga!" gumam Dicky.
"Sudahlah Dokter, mungkin dia hanya menganggap mu seperti anaknya sendiri, karena dia telah kehilangan putranya sejak bayi, itulah yang membuat Bu Anjani sering menutup diri dan jarang bersosialisasi walaupun dia begitu di hormati oleh banyak orang!" tambah Pak Bram.
"Oh, saya baru tau kalau Bu Anjani punya seorang putra, tapi kenapa dia bisa kehilangan putranya?" tanya Dicky kepo.
__ADS_1
"Ibu Anjani itu adalah istri kedua dari Pak Rahmat Pradita suaminya, dari istri pertamanya Pak Rahmat tidak mempunyai anak, makanya dulu Bu Anjani sangat di benci oleh istri pertamanya, apalagi kelahiran putranya itu ..."
Tok ... Tok ... Tok
Tiba-tiba pintu ruangan Pak Bram di ketuk dari luar.
"Oh, Maaf Pak Bram, kalau begitu saya pamit, Trimakasih atas waktu dan sharing nya!" pamit Dicky yang langsung berdiri, di susul oleh Pak Bram.
Mereka langsung berjalan ke arah pintu, seorang Dokter telah berdiri di depan pintu ruangan pak Bram. Ternyata memang mereka sedang ada janji di luar.
Dicky kemudian kembali berjalan ke ruang perawatan, hendak kunjungan ke pasien yang di rawat di ruangan itu.
****
Sementara Fitri menata pakaian dan perlengkapan bayinya di kamar bayi, dia tersenyum senang memandang semua keperluan calon bayinya yang sudah mendekati komplit.
Tiba-tiba Dara masuk ke dalam ruangan itu.
"Ma, aku ada PR dari sekolah, aku kesusahan mengerjakan, sedangkan Pak Hardi tidak datang lagi!" kata Dara.
Fitri menoleh ke arah Dara yang masih berdiri di tempatnya.
"Pak Hardi tidak akan datang lagi sayang, sambil menunggu guru baru, yuk kita sama-sama kerjain PR nya!" ujar Fitri.
"Beneran Mama mau bantuin aku kerjain PR?" tanya Dara. Fitri menganggukkan kepalanya.
"Ambil buku mu dan bawa ke sini! Mama akan bantu PR mu!" ucap Fitri.
Dengan riang Dara berlari keluar dari ruangan itu untuk mengambil bukunya, tak lama kemudian anak itu sudah kembali lagi dengan membawa sebuah buku di tangannya.
"Ini Ma Bukunya, PR nya ada di halaman 69!" kata Dara sambil menyodorkan bukunya.
"Aduh!" Tiba-tiba Fitri memegangi perutnya.
"Mama kenapa?" tanya Dara.
"Perut Mama tiba-tiba sakit Nak, bisa minta tolong panggilkan Bi Sumi?" tanya Fitri dengan wajah yang berubah pucat.
Dengan cepat Dara kembali berlari keluar ruangan untuk memanggil Bi Sumi.
Bersambung ...
****
__ADS_1