
Fitri gelisah menunggu kepulangan suaminya itu, sudah jam 12 malam namun Dicky belum pulang juga, Fitri mulai gelisah.
Dia melihat ponsel Dicky tergeletak di atas meja, rupanya di pergi tanpa membawa ponsel.
Dalam hati Fitri menyesal, karena telah meminta Dicky untuk pergi membeli sate Ayam.
Kalau tau Dicky akan pulang begini larut, lebih baik Fitri menahan keinginannya itu.
Ceklek!
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, Dicky masuk dengan pakaian dan rambut yang basah, sambil membawa sebungkus sate ayam pesanan Fitri.
"Nih Fit, untung masih ada sepuluh tusuk terakhir, kau beruntung, sekarang kau makanlah, aku sudah siapkan piring dan sendok nya!" kata Dicky sambil menyodorkan bungkusan sate dengan piring dan sendok lengkap.
Fitri terperangah melihat wajah Dicky yang bonyok dan memar itu.
"Kau kenapa Mas?? Itu kenapa bibirmu sampai jontor begitu??" tanya Fitri khawatir.
Hilang sudah seleranya untuk makan sate ayam, melihat pulang-pulang kondisi suaminya yang seperti itu.
"Sudahlah, nanti saja ceritanya, aku mau mandi dulu dan ganti baju, kotor semua bajuku gara-gara si kampret!!" sungut Dicky yang langsung masuk ke dalam kamar mandi.
"Si Kampret?? Ngapain dia ketemu Pak Donny, sampai bonyok begitu lagi!" gumam Fitri.
Tak lama kemudian Dicky sudah keluar dari kamar mandi, dia lalu mulai memakai pakaian tidurnya.
Setelah selesai dia langsung menghempaskan tubuhnya di tempat tidurnya.
"Lho kok belum di makan sate nya? Katanya pengen?" tanya Dicky saat melihat sate ayamnya masih rapi terbungkus di atas piring.
"Sekarang sudah tidak pengen lagi Mas, ayo ceritakan dulu pada ku, apa yang sebenarnya terjadi padamu!" sahut Fitri yang langsung mengambil Obat di kotak obat untuk mengobati wajah Dicky yang bonyok itu.
"Tadi waktu di jalan, aku ketemu Anita di depan halte, katanya di sedang menunggu taksi, lalu aku tawarin tumpangan saja, kasihan dia, katanya si kampret belum pulang sejak pulang mengajar!" jelas Dicky.
__ADS_1
"Lalu??"
"Setelah aku sampai di rumah itu, ternyata si kampret sudah pulang dan langsung menonjok aku karena salah paham, tapi tenang saja, semua urusan dengan dia sudah selesai!" lanjut Dicky.
"Sudah selesai bagaimana?!" tanya Fitri.
"Kesalahpahaman sudah selesai, dan mudah-mudahan si Kampret tidak berulah lagi, aku sudah banyak nasehati dia, Fit, aku mohon kau bicaralah pada Ibu dari hati ke hati, kasihan si Kampret Fit, dia makin tertekan dan terpuruk jika Ibu selalu memikirkan dia!" jawab Dicky.
"Iya Mas, besok pagi-pagi aku akan bicara pada Ibu, Ibu memang orang nya begitu, suka ceplas ceplos bicaranya!" ujar Fitri sambil mengoleskan obat di bibir dan pipi Dicky. Dicky meringis menahan sakit.
"Di bicarakan saja pelan-pelan, jangan sampai Ibu tersinggung juga, karena ini perkara yang sensitif!" kata Dicky.
"Iya Mas, tapi Mas Dicky juga jangan terlalu mudah memberikan sesuatu sama Pak Donny, kasih kesempatan dia untuk berdiri di atas kakinya sendiri!" sahut Fitri.
"Iya Fit, sebenarnya maksudku itu aku hanya ingin membantunya, siapa sangka akan begini akibatnya, dia jadi di pandang rendah oleh Ibu! Kalau tau begitu, aku biarkan saja dia menjual apartemennya dulu!" ungkap Dicky.
"Sudahlah Mas, sebaiknya Mas Dicky istirahat saja, katanya besok mau kunjungan ke rumah sakit!" ujar Dicky.
"Iya sih, tapi di makan dulu dong satenya, masa sudah jauh-jauh di belikan tidak di makan, nanti Mas Dicky mu akan sedih!" ucap Dicky.
"Mas Dicky makan juga ya!" tawar Fitri.
"Iya, tapi di suapin ya!" sahut Dicky.
"Hmm, dasar manja!" cetus Fitri yang langsung menyodorkan sate ayamnya ke mulut Dicky.
"Aww! Sakit Fit!" jerit Dicky saat sate itu menyentuh luka di bibir Dicky.
****
Pagi itu Fitri bangun lebih pagi dari biasanya, dia mengajak Bu Eni untuk mengobrol di Taman samping.
Sementara Bi Sumi dan Mbok Jum sibuk membuat sarapan di dapur, biasanya Bu Eni juga membantu di dapur, namun pagi ini, Fitri memintanya untuk tidak membantu di dapur dulu, karena ada hal yang ingin di bicarakan Fitri pada Ibunya itu.
__ADS_1
"Sebenarnya kau mau bicara apa sih Fit? Udah langsung saja ngomong jangan bertele-tele!" tanya Bu Eni.
"Begini Bu, aku cuma punya satu permintaan ke Ibu!" sahut Fitri.
"Permintaan apa? Tumben kau meminta sesuatu pada Ibu!" tanya Bu Eni heran.
"Begini Bu, aku mohon, berhenti membandingkan Mas Dicky dengan Pak Donny, kasihan Anita dan Donny kalau Ibu selalu saja tidak bisa menghargai profesi Pak Donny!" jawab Fitri.
"Apa maksudmu Fit?? Ngadu apa si Donny sama kamu??" tanya Bu Eni ketus.
"Dia tidak mengatakan apapun, tapi kan kita bisa melihat dari sikapnya, seharusnya ibu bisa menjaga ucapan Ibu, jangan terlalu ketus dan terkesan menyudutkan dia, kasihan Bu, apalagi kan rumah tangga mereka baru seumur jagung!" jawab Fitri.
"Oh, jadi kamu menyalahkan Ibu? Oke, mulai sekarang Ibu tidak peduli lagi pada kalian, terserah kalian mau buat apa, maksud Ibu ngomong begitu tuh biar si Donny sadar, dia itu laki-laki, wajarlah kalau harus bertanggung jawab terhadap keluarganya!" sengit Bu Eni.
"Bu, maksudku bukan begitu, Ibu jangan salah paham, walau bagaimana Pak Donny itu kan menantu Ibu juga, sesekali berilah dia pujian atau penghargaan, atau minimal tidak menekan perasaanya, kasihan Anita Bu!" sergah Dicky.
"Kamu juga sama saja! Sudah mulai mengatur Ibu! Mentang-mentang di sini Ibu numpang! Mendingan Ibu balik saja ke kampung, tinggal di sini selalu saja di salahkan!" sungut Bu Eni.
"Lho kok jadi malah Ibu yang tersinggung, maksudku bukan begitu Bu, aduuuuh, aku jadi bingung deh harus bicara apa lagi sama Ibu supaya Ibu mengerti!" ungkap Fitri frustasi.
"Sudah! Ibu memang tidak di anggap lagi di sini, baru bicara sedikit saja sama Donny, sudah banyak komentar, apalagi Ibu marah-marah sama dia, kalian ini sama saja!" cetus Bu Eni yang langsung berdiri dan berjalan meninggalkan Fitri.
"Bu! Tunggu Bu! Aku minta maaf kalau salah bicara, maksud ku bukan begitu Bu!" panggil Fitri.
Namun Bu Eni tidak bergeming, dia terus berjalan menuju ke kamarnya.
"Apa aku salah bicara ya? Kenapa malah Ibu yang justru jadi ngambek??" gumam Fitri sambil menggaruk kepalanya yang di rasa tidak gatal itu.
Dari arah dapur, Bi Sumi berjalan ke arah Fitri yang masih berdiri di taman.
"Mbak Fitri, kok Bu Eni membereskan barang dan bajunya ya? Memangnya dia mau pergi kemana pagi-pagi begini?" tanya Bi Sumi.
"Apa?? Ibu mau pergi??" pekik Fitri.
__ADS_1
Bersambung ....
****