Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Untukmu Ibu


__ADS_3

Fitri Terus Berlari mengejar ibunya yang kini telah hampir sampai di makam Pak Karta.


Guyuran air hujan membasahi seluruh tubuh mereka. Fitri berusaha untuk memeluk Bu Eni, sehingga dia tidak melangkahkan kakinya lagi menuju ke makam itu yang terlihat sangat becek dan licin.


"Sudah Bu cukup! Bapak sudah tenang di sana, untuk apa ibu menangisi bapak terus?! itu hanya akan membuat Bapak sedih di alam sana!" seru Fitri sambil memegangi ibunya itu.


"Lepaskan Fit! Ibu hanya ingin menemani Bapak, di sini sepi, gelap, dingin, Kasihan bapak!" sahut Bu Eni.


"Bapak sudah tidak merasakan apa-apa lagi Bu! Lebih baik Ibu pulang bersamaku, Besok aku akan mengantarkan Ibu ke makam bapak, tapi jangan malam ini Bu, aku mohon!" ucap Fitri.


Bu Eni lalu menangis dia bersimpuh di tanah itu, punggungnya bergetar, suara tangisannya seiring dengan suara derasnya air hujan malam itu.


Fitri kemudian merengkuh punggung wanita yang sudah melahirkannya itu, dia ikut menangis, turut merasakan apa yang ibunya rasakan.


Fitri juga mungkin akan bersikap sama seperti ibunya, seandainya dia kehilangan suami yang sangat dicintainya.


Tiba-tiba Fitri Fitri teringat Dicky, laki-laki yang sangat dicintainya, Fitri juga tidak sanggup jikalau dia harus kehilangan Dicky.


Dia mungkin pasti akan melakukan lebih dari apa yang dilakukan oleh ibunya ini, dia tidak bisa menghakimi Bu Eni, sesungguhnya dia juga rapuh, kalau dia harus kehilangan suami seperti ibunya saat ini.


Cahaya sinar lampu dari mobil yang datang dari kejauhan, dan berhenti di depan mereka, menyilaukan mata mereka.


Mobil itu adalah mobil Dicky yang datang menyusul mereka, Dicky turun dari mobilnya, dengan membawa payung, kemudian berjalan mendekati Bu Eni dan Fitri yang bersimpuh di tanah saling berpelukan.


"Ibu, Fitri, ikutlah pulang bersamaku, aku janji besok aku akan mengantar Ibu ke makam bapak, tapi malam ini pulanglah ke rumah, cucu-cucu Ibu sudah menunggu di sana!" ucap Dicky lembut.


Tanpa bicara lagi, Bu Eni langsung bangkit dan berjalan ke arah mobil Dicky disusul oleh Fitri, mereka kemudian naik ke dalam mobil itu, Dicky kemudian mulai masuk dan kembali melajukan mobil itu pulang ke rumahnya.


Sesampainya di rumah, Anita dengan Sigap membantu Bu Eni masuk ke dalam dan membantu membersihkan tubuhnya.


Sementara Dicky juga langsung menggendong Fitri naik ke atas menuju ke kamarnya.


Dicky memandikan istrinya itu dengan air hangat, menyabuni nya dengan sabun dan mencuci rambutnya dengan shampo, sampai benar-benar bersih, kemudian Dicky menghanduki tubuh Fitri, membalurkan nya dengan minyak kayu putih, agar tubuh istrinya itu hangat.


Kemudian dia memakaikan pakaian tidur di tubuh istrinya itu, dan mulai membaringkannya di tempat tidurnya, lalu menyelimutinya.

__ADS_1


"Maafkan aku sayang, seharusnya aku tidak pulang terlambat malam ini, sehingga membiarkanmu sendiri mengurus ibu!" ucap Dicky.


"kenapa kau harus minta maaf padaku pa? Sudah kewajiban aku untuk mengurus Ibu, aku kan anaknya, apalagi saat ini Ibu masih tenggelam dan berlarut dalam kesedihan!" jawab Fitri.


"Sekarang kau tidur lah sayang, kau tahu ini sudah jam berapa? Ini sudah jam 10 malam, anak-anak juga sudah tidur, kau tidur saja dengan tenang!" ucap Dicky sambil mengecup kening Fitri.


Fitri kemudian mulai memejamkan mata, ada perasaan nyaman yang dia rasakan, saat suaminya itu membelai lembut wajahnya dan berbaring di sampingnya, menemani dalam tidurnya.


Fitri tidak pernah membayangkan akan mendapatkan suami penyayang dan selembut Dicky, dan dia juga tidak sanggup kalau dia harus kehilangan sosok suaminya itu, yang selalu menemani hari-harinya.


****


Pagi itu Dicky bangun lebih pagi dari biasanya, Fitri terlihat masih tertidur. Dicky kemudian keluar dari kamarnya dan turun ke bawah.


Di meja ruang keluarga sudah ada beberapa bingkisan yang sengaja disiapkan Dicky.


Dicky kemudian melangkah ke arah depan Mang Salim nampak sudah selesai mencuci mobil dan mesin mobil juga sudah terdengar menyala.


"Apakah semua barang-barangnya sudah ditaruh di dalam mobil Mang?" tanya Dicky.


"Baik, kalau begitu Mang Salim bisa berangkat sekarang, lebih cepat lebih baik, sampaikan salamku untuk ibu Nuri dan adik-adikku di Panti!" ucap Dicky.


"Iya Pak Dokter, kalau begitu saya pamit, mau berangkat sekarang mengantarkan barang pemberian dokter ini!" sahut Mang Salim yang langsung bergegas masuk ke dalam mobil itu, dan tak lama kemudian mobil itu sudah berangkat meninggalkan rumah itu.


Setelah Mang Salim berangkat, Dicky kemudian mengambil salah satu bingkisan di atas meja itu, lalu membawanya ke kamar Bu Eni.


Anita terlihat sibuk membantu Bi sumi dan Mbok Jum di dapur, sementara Bu Eni masih duduk di balkon kamarnya itu. Perlahan Dicky mendekati Bu Eni, lalu dia berdiri disampingnya.


"Selamat pagi ibu, ini ada sedikit pemberian saya untuk ibu, terimalah Bu, walau tidak seberapa, tapi saya tulus memberikannya!" ucap Dicky sambil menyodorkan bingkisan itu.


"Apa ini Nak?" tanya Bu Eni.


"Ini kain batik Bu, juga ada beberapa pakaian untuk ibu, semoga ibu berkenan menerima pemberian saya!" ucap Dicky.


"Terima kasih nak, di sini Ibu merepotkanmu, kau malah memberi Ibu hadiah, Ibu jadi malu!" kata Bu Eni.

__ADS_1


"Jangan sungkan Bu, aku ini kan anakmu juga, hari ini adalah hari yang spesial untuk ibu, pasti ibu lupa kalau hari ini adalah hari ibu!" ucap Dicky.


"Wah iya, Ibu memang lupa, terlalu larut dalam kesedihan, maafkan Ibu Nak, dan terima kasih atas pemberianmu ini!" sahut Bu Eni.


"Sama-sama Bu, kalau begitu aku pamit, mau ke kamar dulu, aku juga ingin memberi kejutan untuk Fitri istriku!" pamit Dicky yang segera beranjak meninggalkan kamar itu, lalu dia naik ke atas menuju ke kamarnya.


Di kamarnya, Fitri masih nampak berbaring di tempat tidurnya, mungkin karena kemarin dia begitu lelah, sampai dia bangun kesiangan.


Dicky mendekati Fitri, dan langsung mengecup bibir wanita itu, sehingga Fitri kaget dan langsung mengerjapkan matanya.


"Ah Papa Dicky mengagetkan saja, pagi-pagi sudah main cium-cium saja!" ujar Fitri yang kini telah membuka matanya sempurna.


"Selamat hari ibu sayang, hari ini kau jangan melakukan apapun untukku, biar aku yang melakukannya untukmu!" ucap Dicky sambil mengeluarkan sesuatu dari dalam saku celananya, sebuah kotak kecil berwarna merah.


"Papa Dicky ingat saja, apa itu Pa? cincin lagi? Di jariku sudah ada dua cincin kamu mau tambah dimana lagi?" tanya Fitri.


"Ini bukan cincin sayang, ini adalah sebuah kalung berlian, aku membelinya dari Karina, aku harap kau pakai ini, yang lama kan sudah terlihat kusam, pakailah untukku, aku ingin kau memakai ini!" jawab Dicky sambil menatap lembut istrinya itu.


Senyum cerah terpancar di wajah Fitri.


"Terima kasih pa!" ucap Fitri.


"Iya sayang, hari ini aku mau mengantar Ibu ke makam bapak, sekalian aku juga ingin berziarah ke makam ibuku, kau mau menemaniku kan?" tanya Dicky.


Fitri menganggukan kepalanya, dan kemudian langsung memeluk Dicky laki-laki yang memberikannya kebahagiaan itu.


Bersambung...


****


Selamat hari Ibu buat semua pembaca wanita novel ini ...


Novel ini akan tamat di akhir tahun tanggal 31 Desember guys ... yuk tetap dukung, dan dapatkan giveaway dari author untuk pembaca setia.


Trimakasih...

__ADS_1


__ADS_2