
Di sebuah Desa di kaki gunung, Anita nampak membantu Bu Eni menyiapkan makan malam, Pak Karta masih ada di kebunnya, menjelang magrib baru dia akan pulang.
Semilir angin senja nampak berhembus dan menimbulkan hawa dingin, beberapa kali Anita bergidik kedinginan karena dia terbiasa tinggal di daerah perkotaan yang padat penduduk.
Dia baru menyadari satu hal, keluarga kandungnya berasal dari desa ini, dan dia harus belajar beradaptasi dengan mereka, terutama dengan kedua orang tuanya yang masih utuh.
"Ta, kamu harus terbiasa tinggal di sini, memang tidak seramai di kota Jakarta, tapi Ibu malah lebih suka tinggal di desa, adem!" kata Bu Eni.
Anita hanya tersenyum dan menganggukan kepalanya, hanya itu yang bisa dia lakukan saat ini, lidahnya terasa tercekat dan sulit untuk berbicara, padahal dia sangat ingin.
"Ta, sebenarnya Ibu sangat ingin sekali mendengar kau bicara, kata Dicky mantu Ibu, kau bisa sembuh Ta, Ibu punya uang tabungan untuk biaya pengobatan mu!" kata Bu Eni.
Anita nampak menggelengkan kepalanya, sungguh dia tidak ingin membuat ibunya repot hanya karena masalah biaya untuk operasi pita suara, tiba-tiba wajah Anita berubah mendung.
"Jangan sedih Ta, kamu punya masa depan seperti Fitri saudaramu, kamu cantik kok, persis seperti Fitri, dan Ibu berharap suatu hari ibu akan punya mantu dari kamu, asalkan dia orang baik dan sangat menyayangimu, ibu pasti dukung Nak!" ujar Bu Eni.
Kreek!
Terdengar suara pintu samping di buka dari luar, Pak Karta datang sambil memanggul pacul nya.
"Sudah pulang Pak? Mandi dulu sana, nih sebentar lagi makanan Mateng!" ujar Bu Eni.
"Iya Bu, Bapak mandi dulu ya!" Pak Karta lalu menyambar handuknya dan beranjak ke kamar mandi.
"Ta, nih Ibu kasih tau ya, rahasia pasangan awet sampai tua, semuanya tergantung istri, kalau suami sudah puas sama yang di dalam, di jamin mereka tidak akan selingkuh! Gitu-gitu Bapakmu mana pernah selingkuh dari Ibu, Ibu pergi sebentar saja sudah sakit karena rindu!" ungkap Bu Eni.
Anita hanya menganggukan kepalanya mendengar cerita Bu Eni, dia harus mulai belajar mengenal karakter orang tuanya, sehingga tidak ada rasa canggung di antara mereka.
Tok ... Tok ... Tok
Terdengar suara ketukan pintu dari arah depan.
"Nih siapa sih sore-sore sudah bertamu saja! Kau lanjutkan masaknya Ta, Ibu lihat ke depan siapa yang datang!" ujar Bu Eni.
Anita Menganggukan kepalanya, kemudian Bu Eni segera bergegas menuju ke depan untuk membukakan pintu.
__ADS_1
"Selamat sore, apa benar ini rumah Bu Eni dan Pak Karta?" tanya seorang laki-laki tinggi dan tampan dengan ramah dan sopan.
"Iya benar, saya Bu Eni, anda siapa ya?" tanya Bu Eni sambil melihat dengan seksama laki-laki di hadapannya, seperti pernah melihatnya tapi entah di mana.
"Saya Donny Bu, tunangannya Anita!" jawab laki-laki yang tak lain adalah Donny itu.
"Donny? Tunangannya Anita? Memangnya Anita punya tunangan?" tanya Bu Eni tambah bingung.
"Iya Bu, panjang ceritanya, bisakah saya ketemu sama Anita?" tanya Donny balik.
"Tunggu, dari mana kau tau rumah ini? Apakah Anita yang memberitahukan mu?" selidik Bu Eni.
"Bukan Bu, saya tau dari Dokter Dicky!" sahut Donny.
"Dokter Dicky mantu Ibu yang ganteng??" tanya Bu Eni.
"Iya Bu, saya juga tidak kalah ganteng kok, calon mantu Ibu juga hehe!" Jawab Donny sambil menggaruk kepalanya.
Bu Eni nampak berpikir, semua nama dan bukti sudah di sebutkan Donny, Bu Eni tidak bisa lagi mengelak kedatangan Donny yang mencari Anita.
"Baiklah, kalau begitu kau silahkan duduk di teras dulu, Ibu akan panggilkan Anita!" kata Bu Eni yang bergegas kembali masuk ke dalam rumahnya.
"Ta, di depan ada yang mencarimu? Cepat kau temuilah dia, ganteng Lho Ta, ya mudah-mudahan juga banyak duitnya kayak si Dokter mantu Ibu!" ujar Bu Eni.
Anita nampak tertegun seperti sedang berpikir sesuatu, dia nyaris tak percaya dengan apa yang di ucapkan oleh Ibunya itu.
"Ayo sana! Kau tunggu apa lagi? Kalau dia jelek sih sudah Ibu usir dari tadi!" ujar Bu Eni.
Anita lalu beranjak dari tempatnya dan melangkah perlahan menuju ke teras depan.
Matanya membulat saat melihat siapa orang yang datang menemuinya. Sesaat pandangan mereka beradu.
Donny langsung berdiri dari tempatnya dan kini berdiri tepat di hadapan Anita.
"Anita ... benarkah kau ini Anita ku yang hilang? Benarkah kau masih hidup? Katakan padaku, kau benar Anita kan, bukan Fitri istrinya Dokter sombong itu?!" tanya Donny dengan mata yang berkaca-kaca.
__ADS_1
Anita terdiam tanpa mampu untuk mengucapkan apapun, hanya tatapan matanya dan butiran bening yang kini mengalir mewakili perasaanya saat ini.
"Kenapa kau diam? Katakan padaku satu kata saja, maka aku benar-benar yakin kalau kau adalah Anita ku!" ucap Donny sambil memegang kedua bahu Anita.
Tiba-tiba Donny teringat, Dicky pernah mengatakan kalau Anita kini bisu dan tidak dapat bicara, dan karena kebisuannya itu Anita memilih pergi dan menghilang dari kehidupan Donny.
Tanpa bertanya lagi Donny segera memeluk Anita dengan erat sambil menangis.
Anita tak dapat berbuat apapun, dia juga tidak mungkin lagi berlari dan menghilang dari Donny.
Anita juga menangis, betapa selama ini dia begitu rindu pada sosok Donny, tunangannya yang sangat dia cintai.
"Kenapa kau pergi dariku Anita? Kau pikir cintaku padamu serendah itu? Hanya karena kau tidak dapat bicara ... ku mohon jangan lagi kau pergi dariku Anita, kau tau betapa selama ini aku begitu menderita karenamu?" bisik Donny dengan suara bergetar.
Anita tak dapat menjawab, hanya terdengar isakan tangisnya yang terdengar begitu sedih bercampur haru.
"Aku tidak perduli kau bisa bicara atau tidak, semuanya itu tidak sedikitpun mengubah perasaanku padamu, mulai hari ini, kita rajut kembali mimpi kita yang sempat hilang, berjanjilah kau tak akan pergi lagi meninggalkanku!" ucap Donny.
Anita hanya bisa menganggukan kepalanya sambil menangis.
Kemudian Donny menangkupkan wajah Anita dengan kedua tangannya, di tatapnya mata itu dengan sangat dalam, mata yang selama ini selalu di rindukannya.
"Ijinkan aku kembali melamarmu Anita, kini aku akan melamarmu langsung pada kedua orang tua kandungmu!" ucap Donny.
Di balik tirai jendela, Bu Eni dan Pak Karta mengintip dua insan yang baru saja bertemu, setelah sekian lama berpisah.
Tanpa sadar, Bu Eni menyeka air matanya saat melihat Anita dan Donny yang saling melepas rindu.
"Calon mantu kita itu Pak!" bisik Bu Eni.
"Iya Bu, syukurlah akhirnya putri kita yang satu ini bisa mendapat jodohnya yang terbaik!" ucap Pak Karta.
"Mudah-mudahan dia juga banyak duit ya Pak, seperti si Dicky mantu kesayangan kita!" lanjut Bu Eni.
"Hush! Duit saja yang ada di otakmu!" sergah Pak Karta yang langsung menjitak kepala istrinya itu.
__ADS_1
Bersambung ...
****