
Dicky sedikit terpana melihat respon Fitri terhadap dirinya dan wanita yang kini ada di hadapannya itu.
Dia sama sekali tidak menyangka bahwa Fitri akan se cemburu itu terhadapnya.
"Kenapa Papa Dicky diam? Selama ini aku memang mempercayai Papa Dicky, tapi Papa Dicky yang seolah menutupi semuanya dihadapanku, sudah cukup Pa, sekarang katakan siapa dia?" tanya Fitri sambil menyeka matanya yang mulai basah itu.
Tiba-tiba Dicky tertawa terbahak-bahak mendengar ucapan Fitri, dia memegangi perutnya yang sakit karena tertawa terpingkal-pingkal melihat reaksi Fitri yang terlihat begitu cemburu.
Fitri mengerutkan keningnya saat melihat Dicky yang menertawainya, wanita di hadapan Dicky juga tertawa, Fitri semakin kesal dan marah, wajahnya memerah.
"Fitri Fitri, kau ini lucu sekali, lihat ekspresimu! kau tidak tahu kan siapa dia? Dia ini Karina sepupuku, keponakan dari Ayahku, sepupunya Ken juga, dia lama sekolah di luar negeri, baru pulang ke Indonesia beberapa hari yang lalu, aku juga baru mengenalnya, karena Ken yang memperkenalkannya padaku, dia itu ..."
"Cukup Pa! ini sama sekali tidak lucu!!" tanpa bertanya lagi Fitri segera berlalu meninggalkan Dicky dan Karina sambil menggendong Alena.
Dicky dan Karina saling berpandangan tidak menyangka respon Fitri akan seperti itu.
Fitri segera berjalan cepat menuju ke kamarnya, hatinya benar-benar kesal dan sangat kesal, tidak seharusnya Dicky mempermainkan perasaannya.
Sementara Dicky nampak menyusul Fitri dari belakang.
"Tunggu Ma! kau jangan salah paham! dengarkan aku dulu, dengarkan penjelasan ku Ma!" Panggil Dicky.
Namun Fitri terus berjalan tanpa memperdulikan Dicky yang memanggil dibelakangnya.
Bi Sumi dan Mbok Jum yang melihatnya, hanya bisa terpana sambil menggeleng-gelengkan kepalanya. Alex masih terlihat asyik bermain puzzle di ruang keluarga itu.
Sesampainya dikamar, Fitri meletakkan Alena di atas tempat tidurnya, kemudian dia mulai mengganti pakaiannya, dan mengambil tasnya, hatinya benar-benar dongkol, tidak seharusnya Dicky mempermainkan perasaannya, siapapun wanita itu, seharusnya Dicky menjelaskannya lebih awal sehingga tidak terjadi kesalahpahaman.
"Maafkan aku Fit, sungguh aku benar-benar minta maaf padamu, kau jangan marah seperti ini Fit, aku tidak sanggup melihatmu marah seperti ini!" ucap Dicky sambil berusaha memeluk Fitri dari belakang, namun tangan Fitri menepiskan pelukan Dicky.
"Sana keluar Pa! urusi saja sepupumu itu! Toh dia lebih penting daripada aku! Ayo keluar!" sengit Fitri.
__ADS_1
"Tapi Ma, Tidakkah kau ingin mendengarkan aku menjelaskannya padamu? Please Maafkan aku, aku benar-benar menyesal, maksudku Sebenarnya bukan seperti itu Ma, dengarkan aku dulu please!" mohon Dicky.
"Papa keluar sekarang atau aku yang akan keluar!?" cetus Fitri sambil menunjuk tangannya ke arah pintu kamar itu.
"Tapi Ma, masa kau sebegitu marahnya padaku sih, ayo lah Ma, kita duduk di depan, kita ngobrol sama Karina, Ayolah Ma please!" ucap Dicky sambil mengatupkan kedua tangannya di depan dadanya sebagai tanda permohonan.
"Oh, jadi kau tidak mau keluar Pa? Baiklah kalau begitu biar aku yang keluar!" sahut Fitri sambil menggendong Alena keluar dan berjalan cepat menuruni tangga.
Dicky yang panik langsung menyusul istrinya itu.
"Ah sial! rencana ingin mengerjai dia dan memberinya kejutan sepertinya gagal total!" dengus Dicky kesal.
Fitri terus berjalan menuju ke garasi mobil mengabaikan Karina yang masih berdiri mematung di tempatnya.
"Mang Salim! Tolong antarkan saya keluar Mang!" kata Fitri pada Mang Salim yang terlihat hendak mengelap mobil.
Mang Salim nampak bingung melihat Fitri yang tiba-tiba memintanya mengajak keluar dari rumah itu padahal ini masih pagi.
"Kemana saja lah Mang, yang penting keluar dari rumah ini!" sahut Fitri sambil langsung masuk ke dalam mobil dengan menggendong Alena.
Tiba-tiba Dicky juga ikut masuk ke dalam mobil dan duduk disebelah Fitri.
"Papa papa papa ikut, Papa ikut!" seru Alena senang saat melihat papanya yang masuk ke dalam mobil itu, Alena langsung berdiri dan melompat ke pangkuan Dicky.
"Papa apa-apaan sih? Sudah sana turun! Aku mau pergi!" cetus Fitri sambil mendorong tubuh Dicky, namun Dicky tidak beranjak dari tempatnya.
"Kau mau pergi ke mana Sayang? Kau semakin marah semakin menggemaskan, lihatlah, Alena saja ingin aku ikut, masa kau tidak ingin!" ucap Dicky.
Tiba-tiba Dicky melambaikan tangannya ke arah Karina, menyuruhnya masuk ke dalam mobil itu.
Tak lama kemudian Karina mendekat dan dia duduk di depan kemudi di samping Mang Salim yang juga ikut masuk ke dalam mobil.
__ADS_1
"Karina, sepertinya usaha kita gagal total, sudahlah, kita langsung pergi saja ke sana, Mang Salim, ikuti arahan Karina kita berangkat sekarang!" titah Dicky.
Fitri semakin bingung apa yang hendak dilakukan suaminya itu.
Dari arah dalam rumah, Bi Sumi datang sambil menuntun Alex, kemudian Dicky segera membuka pintu mobil dan membawa Alex ikut beserta bersama dengan mereka.
Mang Salim kemudian langsung mengemudikan mobilnya keluar dari rumah itu.
"Ehm Fitri, maafkan aku ya, sebenarnya aku dan dokter Dicky itu sepupuan, kebetulan aku baru beberapa hari tiba di Indonesia, Dicky berkonsultasi padaku, hendak memberikanmu sesuatu kejutan, tapi siapa sangka malah jadi salah paham begini, sekali lagi aku minta maaf ya!" ucap Karina.
Fitri diam saja tanpa tahu harus berkata apa pada Karina, dalam hati dia malu karena sudah ketahuan terlalu cemburu pada suaminya itu, tapi Dicky sendiri juga bersikap aneh belakangan ini, yang membuat Fitri Jadi curiga dan salah paham.
"Benarkan Ma, kalau Karina itu adalah sepupuku, dia itu adalah anak pengusaha tambang, ayahnya memiliki beberapa koleksi berlian yang langka, mewah dan mahal harganya, aku aku bermaksud membeli cincin berlian untukmu Ma, makanya Pagi ini aku janjian pada Karina untuk pergi ke rumahnya, melihat cincin berlian pesananku, tapi kau malah sudah cemburu duluan, aku memang tidak pandai bersandiwara, akting ku terlalu jelek!" tambah Dicky.
"Kenapa Papa Dicky tidak bilang dari awal?! Buat orang malu saja!" sungut Fitri sambil memukul Dicky dengan tangannya.
"Ampun Ma! Memangnya kau lupa hari ini hari apa?" tanya Dicky dengan mimik wajah yang serius, Fitri tampak berpikir.
Tak lama kemudian mereka sudah sampai di sebuah rumah mewah yang tidak jauh dari rumah besar Dicky, Mang Salim lalu segera memarkirkan mobilnya itu di halaman rumah mewah itu mereka segera turun dari mobil itu.
Karina kemudian mengajak mereka semua masuk kedalam rumahnya itu, mereka duduk di sebuah sofa ruangan yang sangat besar, kemudian Karina masuk kedalam dan tak lama kemudian dia kembali lagi dengan membawa sebuah kotak perhiasan.
"Nah Dicky, ini cincin berlian pesananmu, pokoknya semuanya sesuai gambar kan!" kata Karina sambil menunjukkan satu kotak perhiasan itu ke arah Dicky, kilauan cincin berlian yang maha Indah menyilaukan mata membuat Fitri terkesiap.
Dicky lalu mengambil kotak cincin itu dan mengambil cincinnya, lalu dia langsung menyematkan cincin itu di jari manis Fitri.
"Happy anniversary sayang, maafkan aku ya, gagal memberikan kejutan yang indah padamu, karena kau sudah duluan cemburu padaku!" ucap Dicky sambil mengecup jemari Fitri dengan lembut.
Fitri tidak tahu lagi harus berkata apa dan berpikir apa pada suaminya yang kini ada di hadapannya itu.
Dia juga baru ingat kalau hari ini adalah hari ulang tahun pernikahannya dengan Dicky.
__ADS_1
Bersambung ...