
Dicky dan Fitri sudah sampai di rumah sakitnya, kemudian mereka langsung menuju ke Dokter spesialis mata, yang siang itu terlihat sepi pengunjung.
Melihat kedatangan Dicky dan Fitri, sang perawat langsung mempersilahkan mereka segera masuk ke dalam ruangan Dokter Toni, Dokter yang terlihat cukup senior karena rambut di kepalanya sudah berubah warna menjadi putih ke Abuan.
"Selamat Siang Dokter Toni!" sapa Dicky yang langsung duduk menghadap ke Dokter Toni.
"Hmm, tumben kau singgah ke ruanganku Dicky, bukankah matamu selalu bagus?" tanya Dokter Toni.
"Bukan saya Dok, tapi Fitri istri saya, tempo hari ada sedikit kecelakaan yang membuat kepala Fitri terbentur, belakangan Fitri mengeluh kalau matanya menjadi buram dan pandangannya kabur!" jelas Dicky.
"Sebentar akan ku periksa, kau duduklah di situ Fitri!" ujar Dokter Toni sambil menunjuk ke bangku khusus pasien yang akan di periksa matanya.
Dokter Toni mulai memeriksa mata Fitri. Beberapa kali menyenter dan memeriksanya dengan alat-alat medis khusus mata.
"Ada pendarahan yang menyumbat kornea matanya, itu yang menyebabkan pandangan menjadi kabur dan buram!" jelas Dokter Toni.
"Jadi bukan karena mata minus ya Dok?" tanya Fitri.
"Tentu saja bukan, mata minus tidak seperti ini, ini bisa berbahaya karena akan mengakibatkan kebutaan permanen!" jawab Dokter Toni.
"Apa Dokter? Jadi aku akan buta??" tanya Fitri terhenyak.
"Tapi bisa sembuh kan Dok?" tambah Dicky.
"Bisa saja, tapi karena Fitri sedang hamil, aku tidak bisa sembarangan memberinya obat, aku akan resepkan vitamin saja, harus rutin di minum, saranku, jangan melakukan banyak aktifitas, apalagi anda sedang hamil, istirahatkan mata dan jangan sering terkena sinar seperti dari layar ponsel, komputer atau televisi, kompres mata dengan air hangat untuk merilekskan syaraf mata!" jelas Dokter Toni.
"Baik Dokter!" jawab Dicky dan Fitri bersamaan.
Setelah selesai berkonsultasi, Dicky dan Fitri kemudian keluar dari ruangan itu dan mereka menebus obat di apotik yang ada di rumah sakit itu.
Sepanjang jalan wajah Fitri terlihat murung dan sedih. Dalam hati Dicky juga sedih, namun dia tidak ingin menunjukan di depan istrinya itu.
"Kenapa Nyonya Dicky kok murung hari ini? Ayo dong senyum Fit, kau wanita yang kuat dan hebat!" puji Dicky.
"Mas Dicky, bagaimana kalau aku jadi buta beneran?" tanya Fitri.
Dicky lalu menggenggam tangan Fitri hangat.
__ADS_1
"Aku yang akan jadi mata dan penuntun jalanmu, kenapa kau harus cemas??" bisik Dicky.
"Tapi Mas, bagaimana kalau aku tidak bisa lagi melihatmu, melihat bayi kita, padahal aku ingin sekali melihat wajah bayi kita, itulah yang selalu aku nantikan siang dan malam!" Fitri mulai menangis.
Dicky kemudian langsung memeluk Fitri. Ada setetes kristal yang jatuh dari mata Dicky, tapi cepat-cepat dia menghapusnya.
"Kau akan sembuh kok Fit, aku akan membantumu untuk selalu tepat waktu minum obat dan vitamin, pokoknya kau harus gembira Fit, ingat, kau adalah Ibu dari tiga orang anak, Dina, Dara, juga Dedek!" ucap Dicky sambil mengelus lembut perut Fitri.
Kembali perasaan hangat itu muncul dalam diri Fitri, sama seperti waktu dulu saat dia depresi dan rendah diri, Dicky hadir memberikan setetes embun dan secercah harapan, hingga Fitri bisa tersenyum kembali.
"Terimakasih Mas Dicky, berjanjilah kau tidak akan meninggalkan aku, dan anak-anak!" lirih Fitri.
"Iya sayang, tanpa aku harus berjanji, aku tidak akan pernah meninggalkanmu dan anak-anak kita, kalian adalah prioritas dalam hidupku!" jawab Dicky.
****
Malam itu setelah selesai makan malam, Dina dan Dara datang menghampiri Dicky dan Fitri yang sedang duduk di sofa ruang keluarga itu.
"Mama, aku ada PR, tapi kesusahan untuk mengerjakannya, bisakah Mama membantuku?" tanya Dina.
"Pr apa sayang?" tanya Fitri.
Fitri mulai membaca soal di buku itu, namun lagi-lagi pandangannya kabur dan buram sekali, dia lalu mengucek matanya.
Dengan cepat Dicky lalu mengambil buku yang ada di tangan Fitri.
"Biar Papa saja yang bantu, sejak dulu Papa jago matematika lho, makanya bisa jadi Dokter!" ujar Dicky.
"Memangnya jadi Dokter harus pintar matematika?" tanya Dara.
"Tentu saja, kalau mau jadi dokter itu jurusannya harus IPA, dan kalau IPA wajib ada matematika, Fisika dan Kimia!" jawab Dicky.
"Maafin Mama Dina, Dara, sepertinya Mama akan kesulitan untuk membantu kalian belajar!" ucap Fitri menyesal.
"Tidak masalah, tugas Mama bukan untuk mengajari Dina dan Dara, tapi menemani bermain, menyiapkan kebutuhan kalian, juga melayani Papa!" kata Dicky sambil mengelus rambut Fitri.
"Jadi kalau kalian ada kesulitan pelajaran, tanya saja sama Papa ya!" lanjut Dicky.
__ADS_1
"Iya Pa!" sahut Dina dan Dara bersamaan.
"Mas ... kau kan juga capek praktek di rumah sakit, kadang ada jadwal operasi dan harus sampai malam, apalagi sekarang sudah jadi kepala rumah sakit, apa masih sempat mengajari Dina dan Dara?" tanya Fitri.
"Mulai besok, aku akan datangkan guru les privat untuk anak-anak, jadi kau jangan khawatir lagi Fit, aku akan datangkan guru yang berkualitas, untuk bimbingan belajar anak-anak!" jawab Fitri.
"Terimakasih Mas, Ayo Dina, Dara, bilang terimakasih sama Papa!" titah Fitri.
"Terimakasih Papa!" ucap Dina dan Dara.
Setelah jam menunjukan pukul 9 malam, Dina dan Dara bergegas masuk ke dalam kamar mereka.
Dicky juga langsung menggendong Fitri masuk ke dalam kamarnya.
Mereka kemudian berbaring di tempat tidur itu. Hening.
Mereka bergumul dengan pikirannya masing-masing.
"Fit, besok aku mau cuti dari rumah sakit!" kata Dicky.
"Kenapa kau cuti Mas?" tanya Fitri.
"Aku hanya ingin memastikan istriku baik-baik saja!" jawab Dicky.
"Mas Dicky jangan berlebihan! Hanya karena aku kau mengabaikan pasienmu! Aku tidak setuju!" ujar Fitri.
"Tapi Fit ... " Dicky menghentikan ucapannya, sebenarnya dalam hati Dicky sangat khawatir, terutama dengan sakit yang kini Fitri derita di matanya, yang menyebabkan dia kesulitan melihat jelas.
Tapi Fitri pasti akan bertambah down, jika Dicky terlalu berlebihan mengkhawatirkannya.
"Aku akan mengirimkan suster dari yayasan, suster pribadi khusus untukmu Fit!" ucap Dicky.
"Mas, kau sudah terlalu banyak pengeluaran, Bi Sumi, Mang Salim, kebutuhan Dina dan Dara, di tambah calon bayi kita, guru private untuk Dina dan Dara, masa kau masih mau menambah suster untukku!" ungkap Fitri.
"Tidak masalah sayang, apapun akan kulakukan untukmu, supaya aku juga bisa tenang bekerja!" bisik Dicky sambil merengkuh Fitri dalam dekapannya.
"Mas, asalkan kau selalu ada di sisiku, aku masih bisa mendengarkan suaramu, walaupun aku tidak bisa melihat, tapi aku akan menjadi wanita paling beruntung, karena mendapatkan cinta dan ketulusanmu!" balas Fitri sambil membelai bulu-bulu halus yang tumbuh di dada bidang Dicky.
__ADS_1
****