
Sore itu Dicky memarkirkan mobilnya di garasi rumah besarnya, kemudian dia langsung masuk ke dalam, Alex nampak sedang bermain di karpet besar ruang keluarga itu di temani oleh Pak Karta dan Bu Eni.
"Selamat sore Bu, Pak, Lho Ibu tidak jadi pulang ke Sukabumi? Aku kira sudah sampai sana, baru aku mau telepon Ibu!" tanya Dicky sambil duduk di sebelah mereka.
"Eh, anu Nak Dicky, kata Pak RT di sana, lagi ada musibah tanah longsor di desa Ibu, jadi untuk lebih aman di tunda dulu pulang kampungnya!" jawab Bu Eni beralasan.
"Ooo, lagi ada musibah di kampung, oke deh, Alex mau ikut Papa ke atas atau main di sini sama kakek Nenek?" tanya Dicky sambil mengelus pipi Alex yang terlihat asyik bermain dengan mainannya.
"Alex biar di sini saja dulu Nak, kau ke kamar saja lihat Fitri, sepertinya anak itu sejak siang belum turun dari kamarnya!" ujar Pak Karta.
"Baiklah, Kalau begitu saya ke atas dulu ya, Alex main dulu di sini ya, jangan nakal!" ucap Dicky sambil mencium Pipi Alex, kemudian bergegas naik ke atas menuju ke kamarnya.
"Tuh lihat Pak! Nak Dicky, itu baru mantu kita Pak!" ujar Bu Eni.
"Bu, mantu kita itu bukan hanya Nak Dicky, tapi Nak Donny juga mantu kita, Ibu jangan lupa!" sergah Pak Karta.
"Mantu apaan tuh, mengunjungi mertua saja tidak pernah, apalagi bawa sesuatu untuk kita!" sahut Bu Eni.
"Bu, bagaimanapun Nak Donny, dia tetap mantu kita, sebagai orang tua kita harus bersikap adil Bu!" tukas Pak Karta.
"Halah! Bapak samanya tuh sama si Fitri! Sok sok nasehatin orang! Bikin sebel saja!" sungut Bu Eni yang langsung berdiri dan berjalan menuju ke kamarnya.
Pak Karta hanya geleng-geleng kepala melihat tingkah polah istrinya itu.
Sementara Dicky yang kini telah masuk ke dalam kamarnya, nampak sedikit tertegun melihat Fitri yang nampak berbaring.
Tidak seperti biasanya, sore ini Fitri terlihat begitu lemas, biasanya dia akan menyambut suaminya jika pulang.
"Fit? Kau kenapa sayang? Kepalamu pusing? Atau perutmu mual?" tanya Dicky yang beringsut mendekati Fitri dan langsung mengecup keningnya.
"Huweeeek!!" dengan reflek Fitri langsung mendorong Dicky menjauhinya.
"Hei! Kenapa kau mendorongku??" tanya Dicky bingung.
"Bau Mas! Kau bau keringat! Perutku mual dan aku ingin muntah!" sahut Fitri sambil menutup mulut dan hidungnya dengan tangannya.
Dicky kemudian mengangkat kedua tangannya dan mengendus-endus tubuhnya sendiri.
__ADS_1
"Aku masih wangi kok, walaupun belum mandi aku masih wangi dan ganteng, lagian biasanya juga baru pulang aku langsung di cium, kau ini aneh Fit!" ujar Dicky.
"Bau Mas! Sudah sana mandi! Atau aku akan muntah lagi seperti tadi!" ujar Fitri.
Akhirnya Dicky segera mengambil handuknya dan langsung masuk ke kamar
mandi.
Di awal kehamilannya saat tau dirinya positif, Fitri tidak menunjukan gejala seperti pada umumnya, namun sekarang gejala mual dan pusing kembali melandanya.
Tak lama kemudian Dicky sudah selesai mandi dan kini mulai berpakaian.
"Kata Bapak kamu belum turun sejak siang, kenapa Fit? Kau pusing? Itu wajar untuk wanita yang sedang hamil!" kata Dicky.
"Iya Mas, aku juga bingung, padahal kemarin-marin, aku biasa saja, malah keinginan makan bertambah, tapi siang ini aku jadi pusing dan mual terus!" ungkap Fitri.
"Ya sudah, habis ini kita ke rumah si Dimas!" kata Dicky.
"Ngapain ke rumah Dimas Mas?" tanya Fitri.
"Ya periksa kandungan lah, kan si Mia Dokter kandungan!" jawab Dicky.
"Ya sudah deh, nanti aku cari Dokter yang terbaik untukmu, sekarang ayo kita turun, kita makan di bawah, kasihan perutmu kalau kosong terus gara-gara muntah!" ucap Dicky.
"Iya deh, tapi jangan dekat-dekat dulu sama aku ya Mas, masih sensitif ini penciumanku, kalau dekat Mas Dicky bawaannya mual!" kata Fitri.
Dicky menganggukan kepalanya dan dia jalan duluan keluar dari kamarnya di susul oleh Fitri.
Mereka langsung berjalan menuju ruang makan.
Bu Eni dan Pak Karta nampak sudah duduk di ruang makan itu, dengan Alex yang ada di sebelahnya.
"Kamu kenapa Fit? Kok wajahmu pucat?" tanya Bu Eni cemas.
"Aku sedikit pusing dan mual Bu!" jawab Fitri.
"Waduh, biasanya kalau begitu tanda-tanda kehamilan tuh, kau sudah periksa belum?" tanya Bu Eni lagi.
__ADS_1
Fitri terdiam, tadinya dia ingin menyembunyikan kehamilannya itu pada ibu dan Bapaknya, tapi Bu Eni kelihatannya sudah tau kalau Fitri hamil.
"Fitri memang sedang hamil Bu! Kalian akan mendapat cucu lagi!" celetuk Dicky tiba-tiba.
Fitri reflek mencubit pinggang Dicky yang keceplosan bicara itu.
"Walah, benarkah?? Pak, kita bakal punya cucu lagi Pak, hebat memang Nak Dicky, si Donny malah belum bisa Joss kayak mantu kita yang satu ini!" ujar Bu Eni bangga.
"Ibu! Jangan bilang begitu, kasihan mereka Bu, mereka hanya belum di kasih kesempatan saja!" sergah Fitri.
"Iya nih Ibu, jaga mulut Bu! Ingat umur kita sudah tua! Eling Bu!" timpal Pak Karta.
Bu Eni terdiam seketika, semakin dia berbicara maka dia akan semakin di tentang.
"Bu, Si kampret itu hebat lho, dia dapat predikat guru teladan di sekolah, kepala sekolah sendiri yang bilang padaku!" ucap Dicky mencairkan suasana.
Bu Eni belum menjawab ucapan Dicky, tiba-tiba Bi Sumi datang menghampiri mereka dengan membawa bungkusan di tangannya.
"Ini tadi ada ojek online datang, katanya ada makanan buat bapak dan Ibu, ini makanan nya!" ujar Bi Sumi sambil meletakan kotak bungkusan itu di atas meja.
"Dari siapa ini Bi?" tanya Fitri.
"Katanya dari Pak Donny Mbak!" jawab Bi Sumi yang langsung berlalu dari tempat itu.
"Tuh Bu, kurang perhatian apa Pak Donny sama Ibu dan Bapak!" kata Fitri sambil membuka bungkusan makanan itu.
Ada dua kotak martabak manis dan dua kotak martabak telur, aromanya tercium nikmat seantero ruangan itu, sangat menggugah selera.
"Wah Bu, ini kan kesukaanmu, martabak telor, ayo Bu di cobain!" tawar Pak Karta sambil mencomot martabak itu dan langsung memakannya, di susul oleh Dicky dan Fitri.
Bu Eni hanya terdiam sambil menelan ludah menatap makanan yang ada di hadapannya itu, rasanya malu jika dia harus ikut mencomot juga, padahal dalam hatinya sangat ingin, secara itu adalah makanan kesukaannya.
"Ayo Bu di makan! Kok malah bengong!" ujar Pak Karta.
Akhirnya dengan sedikit menyingkirkan rasa malu, Bu Eni mengambil martabak yang ada di hadapannya itu lalu memakannya.
Bersambung ...
__ADS_1
****