Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Kejutan Untuk Donny


__ADS_3

Hari ini hari libur nasional, Donny yang kini tinggal di sebuah apartemen yang tidak jauh dari sekolah internasional tempatnya mengajar, nampak dengan malas beranjak dari tempat tidurnya.


Sejak kematian Ibunya, Donny tidak berani lagi tinggal di rumah lamanya di kawasan padat penduduk itu, dia tidak mau bayangan Ibu kandungnya yang dia rawat selama ini terus membayanginya.


Dia merasa dalam hidupnya dia sudah kehilangan dua kali orang yang di kasihnya, pertama tunangannya, sekarang Ibunya.


Dengan segan Donny mengambil handuknya yang tergantung kemudian dia mulai beranjak mandi.


Setelah selesai mandi dan berpakaian Donny duduk di sofa ruang tamu yang minimalis itu, di dinding ruangan itu masuk terlihat foto tunangannya yang masih saja terus di kenangnya.


"Seandainya kau masih hidup, tentunya aku tidak merasa se sepi ini sekarang, pasti saat ini kita sudah bahagia merajut mimpi-mimpi kita!" gumam Donny.


Sekilas dia mengingat kenangannya bersama Anita, seorang gadis sederhana yang manis yang menarik hatinya.


Pertama kali mereka bertemu di sebuah taman bunga, Anita sangat menyukai bunga, saat itu Donny baru saja menyelesaikan kuliahnya.


Pertemuan pertama itu berlanjut ke pertemuan berikutnya, hingga mereka semakin dekat dan akrab.


Kedekatan berbuah cinta, tidak mau menunggu lama, Donny melamar Anita pada Ibu Acih, mereka pun sudah menentukan tanggal pernikahan mereka.


Mereka mulai merajut mimpi dan harapan mereka untuk masa depan.


Namun takdir berkata lain, saat mereka menikmati liburan bersama sebelum hari itu tiba, mereka mengalami kecelakaan maut yang naas di jalur puncak.


Donny selamat dan hanya mengalami luka ringan di tubuhnya, namun Anita hilang dan sampai saat ini tidak ada kabar beritanya.


Semua orang mengatakan kalau Anita sudah meninggal, bahkan saat itu, Bu Acih juga langsung pindah dan menghilang setelah kejadian itu.


Ting ... Tong ...


Suara bel pintu apartemen membuyarkan lamunan Donny.


Donny segera bangkit dan berjalan untuk membukakan pintu apartemennya.

__ADS_1


Dia terkesiap saat melihat seseorang yang kini ada di hadapannya.


"Kau?? Mau apa lagi kau datang padaku??" tanya Donny saat melihat Dicky yang datang menemuinya.


"Bisakah kita bicara sebentar?" tanya Dicky.


"Kau mau bicara apa lagi?? Apa kau masih mau menuduhku mengirim paket pada istrimu itu? Aku sudah bosan Dokter, bisakah kau membuat hidupku tenang?!" seru Donny.


"Oke, aku juga malas bicara padamu, kalau bukan aku tidak ingin istriku yang menemui mu, aku cuma mau katakan satu hal, kalau Anita tunangan mu itu masih hidup!" ujar Dicky to the point.


"Kau jangan mengarang cerita Dokter! Lebih baik kau pergi saja, jangan membuat aku semakin frustasi!" sahut Donny.


"Terserah kau mau percaya atau tidak, tapi asal kau tau, Fitri istriku itu memiliki saudara kembar, dia adalah Anita, Anita tidak meninggal dalam kecelakaan itu, tapi dia hanya bersembunyi darimu!" jelas Dicky.


"Apa maksudmu??"


"Setelah kejadian kecelakaan itu, Anita menjadi bisu, di tidak percaya diri dan mencoba untuk melupakanmu, tapi aku tau, kau tidak pernah bisa melupakan Anita!" sahut Dicky.


Donny terdiam mendengar penjelasan Dicky, antara percaya dan tidak dengan apa yang di ucapkan Dicky.


Donny yang baru tersadar langsung berlari mengejar Dicky.


"Tunggu Dokter!" panggil Donny.


Dicky yang baru mau naik lift menghentikan langkahnya dan menoleh ke arah Donny.


"Ada apa lagi?? Aku masih ada urusan lain!" tanya Dicky.


"Kalau Anita masih hidup, katakan padaku di mana keberadaannya? Ayo katakan padaku! Aku ingin membuktikan perkataanmu itu dokter!" sahut Donny.


"Oke, aku beritahu kau, ini adalah alamat orang tua Fitri dan Anita di kampung, kau boleh datang ke sana untuk menemuinya, ingat Bung, semua ini tergantung kau mau mengambil kesempatan atau tidak!" ujar Dicky sambil menyodorkan secarik kertas lalu menepuk bahu Donny.


Setelah itu Dicky langsung masuk kedalam lift yang telah terbuka lebar itu, meninggalkan Donny yang masih berdiri mematung di tempatnya.

__ADS_1


Dicky kemudian langsung berjalan menuju ke tempat di mana mobilnya terparkir, Fitri sudah menunggunya di sana, di dalam mobil itu bersama dengan Alex.


"Bagaimana Mas?" tanya Fitri.


"Aku sudah menyampaikan apa yang harus aku sampaikan, selanjutnya terserah dia!" sahut Dicky yang langsung menyalakan mesin mobilnya itu.


"Lho kok begitu?" tanya Fitri.


"Ya iya lah, memangnya aku mau ngapain lagi, aku ini sepet lihat wajahnya tau, sampai kapanpun aku tak kan pernah bisa berdamai dengannya!" sahut Dicky.


"Tapi kalau nanti pak Donny jadi dan berjodoh dengan Anita, dia akan menjadi iparmu Mas!" ujar Fitri.


"Biarkan saja! Memangnya apa untungnya memiliki ipar seperti kampret itu, menyebalkan!" sungut Dicky.


"Mas Dicky Ah! Rubah kata-katamu, jangan panggil dia kampret lagi! Aku kan tidak enak sama Tata!" sergah Fitri.


"Biarkan saja, toh hanya di depanmu aku memanggilnya kampret, aku jijik memanggil namanya!" sahut Dicky.


"Sekali lagi Mas Dicky panggil dia kampret, aku akan marah!" ancam Fitri.


Dicky langsung terdiam, takut istri nya itu akan benar-benar marah.


"Kok diam Mas? Bagaimana? Masih mau memanggilnya Kampret??" tantang Fitri.


"Tergantung!" sahut Dicky.


"Tergantung apa??"


"Kalau aku pas ingat ya aku tidak panggil dia kampret, tapi kalau aku lupa, ya jangan salahkan aku!" sahut Dicky.


"Hmm, kau ini, sudah! Fokus saja menyetir, nanti keburu siang, kasihan Ibumu sudah menunggu untuk melihat cucunya!" ucap Fitri.


"Siap Boss!!" seru Dicky yang langsung meluncur menuju ke rumah sakit untuk menjenguk Bu Anjani.

__ADS_1


Bersambung ....


****


__ADS_2