
Pagi ini, seperti biasa, Dicky dan Fitri sarapan di meja makan bersama dengan Dina dan Dara yang telah mengenakan seragam sekolah.
Dicky sudah mulai praktek di rumah sakit walaupun setengah hari, karena sedikit demi sedikit dia sudah bisa berjalan normal tanpa tongkat, walaupun agak tertatih-tatih.
"Nanti malam temanku si Adi yang pengacara itu datang, aku mau mengurus masalah adopsi Dina dan Dara!" kata Dicky di sela-sela sarapannya.
"Oya, nanti sore aku masak agak banyak dong, hari ini Mas Dicky pulang siang kan?" tanya Fitri.
"Iya sayang, nanti biar Dina dan Dara sekalian bareng pulang sekolahnya, Mang Salim kan selalu ready!" sahut Dicky.
Setelah sarapan mereka kemudian berjalan ke arah depan rumah, bersiap akan berangkat.
Mang Salim terlihat sudah menunggu di mobil.
"Kalian belajar yang pintar, jangan lupa bekalnya di habiskan ya!" ujar Fitri pada Dina dan Dara sambil mengelus kepala mereka.
"Iya Ma!" sahut keduanya.
"Mas Dicky juga, berjalan pelan-pelan saja dan jangan terburu-buru!" kata Fitri.
"Siap kapten!' sahut Dicky semangat.
"Sudah sana kalian berangkat! Nanti terlambat!" ujar Fitri.
Dina dan Dara lalu segera naik ke dalam mobil.
"Aku berangkat ya Fit!" pamit Dicky. Fitri mengangguk sambil mencium tangan Dicky.
"Hati-hati Mas!" ujar Fitri.
"Ciumnya mana?" tanya Dicky.
"Malu Mas, nanti di lihat Dina sama Dara!" sahut Fitri.
"Lho kok malu, biar mereka tau kalau orang tuanya harmonis dan saling mencintai, itu kan jadi teladan buat mereka!" kata Dicky.
"Pokoknya aku malu lah Mas, sudah sana berangkat!" sergah Fitri sambil mendorong lembut dada Dicky. Dicky tetap tak beranjak dari tempatnya.
"Sebelum di cium, aku tidak mau berangkat!" cetus Dicky cemberut.
"Iiiih ... Mas Dicky persis kayak bayi!" sungut Fitri.
Fitri lalu berjinjit dan mengecup kedua pipi dan bibir Dicky. Senyum cerah seketika tersembul dari wajah Dicky.
"Terimakasih ya sayang!" ucap Dicky sambil masuk ke dalam mobilnya.
Fitri melambaikan tangannya saat mobil itu bergerak meninggalkan rumah itu.
__ADS_1
Setelah mobil Dicky menghilang di balik gerbang, Fitri kembali masuk ke dalam rumahnya.
Kring ... Kring ... Kring
Terdengar suara telepon rumah berdering, Fitri langsung mengangkat telepon yang ada di sudut ruangan itu.
"Halo ..."
"Halo Fitri, ini Ibu Nak, gimana kabarmu?" tanya Bu Eni yang ternyata telepon itu.
"Baik Bu, Bapak gimana? Sehat?" tanya Fitri balik.
"Sehat Fit, Oya, kemarin Nak Dicky telepon Ibu, katanya kalian ingin mengadakan resepsi pernikahan, Beneran Fit?" tanya Bu Eni.
"Iya Bu, rencananya akhir bulan ini, saat kandunganku tepat tujuh bulan, sekalian tujuh bulanan!" jawab Fitri.
"Wah, bagus Fit, kalian memang pintar, nanti ibu sekalian ajak saudara-saudara kita di kampung ya Fit, Bu RT ibu ajak sekalian, supaya ibu bisa sombong nih, punya mantu Dokter!" ujar Bu Eni.
"Aduh Bu, ajak boleh, tapi jangan sombong juga, nanti ibu malah dosa!' ujar Fitri.
"Yah Fit, sesekali sombong tidak apa-apa kan, kau ingat Fit, sejak dulu keluarga kita selalu di rendahkan orang lain, ibu cuma mau tunjukan kalau sekarang kita ini orang terhormat, ibu punya mantu Dokter, tampan, kaya lagi, siapa yang tidak bangga!" ungkap Bu Eni.
"Terserah Ibu deh, tapi aku tetap tidak suka kalau Ibu sombong, Mas Dicky juga pasti akan kecewa sama Ibu, dia tidak suka orang sombong Bu!" ujar Fitri.
"Iya deh, Ibu tidak sombong, tapi sedikit pamer tidak apa-apa kan Fit, sedikit saja kok!" kata Bu Eni.
"Nanti deh Fit, tunggu Bapakmu pulih benar, pokoknya sebelum akhir bulan kami sudah datang!" jawab Bu Eni.
"Baiklah Bu, titip salam buat Bapak, jangan lupa minum vitamin dan jangan terlalu capek bekerja!" ucap Fitri.
"Ya, kau juga Fit, jaga baik-baik cucu Ibu, jangan terlalu mengurusi kedua anak angkatmu, mereka sudah besar!" ujar Bu Eni sebelum menutup teleponnya.
Setelah mengangkat teleponnya, Fitri kemudian beranjak ke dapur, Bi Sumi nampak sedang membereskan dapur dan menyiangi sayuran.
"Bi Sumi, nanti sore kita masak agak banyak, ada teman Mas Dicky yang akan datang!" kata Fitri.
"Iya Mbak, menunya apa ya?" tanya Bi Sumi.
"Menunya apa ya? Hmm ... kita buat sayur sop daging, ayam goreng, telur balado dan perkedel, juga es buah untuk minuman penutup!" jawab Fitri.
"Baik Mbak, kalau begitu Bibi ijin mau belanja dulu ke pasar!" ujar Bi Sumi.
"Aku ikut Bi! Bosan juga aku di rumah terus!" kata Fitri.
"Jangan Mbak, nanti kalau Pak dokter tau Bibi yang di tegur, seperti waktu itu, saat Mbak Fitri hamil besar, kita ke pasar untuk beli bahan ayam asam manis, tapi ..." Bi Sumi menghentikan ucapannya.
Tiba-tiba Fitri teringat akan kejadian dulu yang menimpanya, hingga dia kehilangan bayinya, saat itu hatinya begitu hancur.
__ADS_1
"Baiklah Bi, aku tidak jadi ikut!" ucap Fitri. Kemudian dia melangkah menuju ke kamarnya.
****
Sementara itu, Dicky yang kini duduk di ruangannya mulai memeriksa beberapa lembar rekam medis milik beberapa pasiennya, sudah berapa lama ini dia absen praktek karena kecelakaan yang menimpanya.
Suster Wina juga nampak sibuk menyusun dokumen di rak yang ada di sudut ruangan itu.
"Suster, selama aku absen, siapa saja Dokter yang menggantikan aku?" tanya Dicky.
"Hanya Dokter Tika, kadang di bantu oleh Dokter umum!" jawab Suster Wina.
"Aku harus banyak berterimakasih pada Dokter Tika, kalau tidak ada dia, kasihan juga pasien-pasien kita ini!" ujar Dicky.
"Iya Dok!" sahut Suster Wina.
Ceklek!
Tiba-tiba pintu ruangan di buka dari luar. Dokter Mia masuk dengan memakai jas putihnya.
"Hai Mia! Tumben kau berkunjung ke ruanganku!" sapa Dicky.
"Kau jangan Ge Er dulu Dicky, aku hanya ingin menyampaikan sesuatu soal istrimu!" ujar Dokter Mia sambil duduk di hadapan Dicky.
"Soal apa?" tanya Dicky.
"Oya, kata Dimas kau akan mengadakan resepsi pernikahan ya?" tanya Dokter Mia.
"Iya, kau jangan lupa datang ya, kau datang ke sini hanya ingin menanyakan itu?" tanya Dicky balik.
"Dicky, aku membuka kelas senam khusus untuk Ibu hamil, tapi kan Fitri ada riwayat Caesar, makanya aku tidak pernah mengundangnya, tapi setelah aku lihat kondisi terakhirnya, sepertinya dia memungkinkan untuk melahirkan normal!" jelas Dokter Mia.
"Aku juga merasa istriku bisa lahir normal kok, walaupun jarak dengan yang pertama belum dua tahun!" jawab Dicky.
"Tapi tetap ada resiko Dicky, lebih aman memang di Caesar, tapi aku kembalikan lagi ke kalian!" ujar Dokter Mia.
"Selama aku ada di sisi nya, kau jangan khawatir Mia, support suami itu penting saat istri akan melahirkan, dan aku akan melakukan segalanya untuk istriku itu!" jelas Dicky.
Tiba-tiba Dokter Mia terdiam, dia menatap ke arah Dicky.
"Betapa beruntungnya istri yang suaminya seperti kamu Dicky!" ucap Mia.
"Kau juga beruntung jika mulai membuka hati untuk Dimas, setiap laki-laki punya banyak cara untuk mencintai pasangannya!" balas Dicky.
"Yah kau benar, aku juga mau belajar membuka hatiku untuk sebuah cinta, yah walaupun sedikit terlambat!" ujar Mia yang langsung berdiri dari duduknya dan melangkah keluar dari ruangan Dicky.
Bersambung ...
__ADS_1
****