Cinta Di Atas Luka

Cinta Di Atas Luka
Suasana Rumah Duka


__ADS_3

Di tempat kediaman Dicky masih terlihat ramai, Keluarga datang dan menginap di rumah Dicky, untuk sementara Dicky menutup kliniknya dan pasiennya di alihkan ke rumah sakit untuk penanganan lebih lanjut.


Fitri juga ijin tidak mengajar dalam beberapa hari ke depan, dia sudah pasrah jika Pak Jamal kembali menegur dan memecatnya.


Untuk saat ini, yang menjadi prioritas utamanya adalah suami dan keluarganya.


Dia harus selalu ada di samping Dicky, menjadi penolong yang terus menopang dan menguatkannya.


Apalagi Fitri sadar, saat ini hanya dirinya yang di miliki oleh Dicky, dia sudah tidak memiliki siapapun di dunia ini.


Sejak kematian Bu Anjani, Dicky berubah jadi pendiam dan agak pemurung, Fitri harus bisa mengembalikan semangat dan motivasi suaminya lagi Seperi dulu.


Rombongan dari panti asuhan Bu Nuri datang, mereka juga ikut mengucapkan berbela sungkawa atas meninggalnya Bu Anjani.


"Kau harus tunjukan di depan para adikmu, kalau kau laki-laki yang kuat Nak, selama ini kau yang selalu jadi panutan mereka!" ucap Bu Nuri saat tiba di rumah kediaman Dicky pagi itu.


"Iya Bu, tetaplah selalu menjadi Ibuku, malaikat tanpa sayap yang aku miliki di dunia ini!" balas Dicky sambil menggenggam tangan Bu Nuri.


"Pasti Nak, kau tetap anak Ibu, apalagi Ibu merawatmu dari bayi, kasih sayang Ibu padamu tetap sama seperti dulu!" ucap Bu Nuri.


Bi Sumi di bantu Bu Eni memasak banyak masakan untuk anak-anak panti, di situ juga ada Mbok Jum, sejak Bu Anjani meninggal, Mbok Jum langsung berinisiatif membantu keluarga Dicky, sekarang hanya Dicky yang menjadi majikannya.


Anita juga terlihat sibuk membantu mereka, apalagi masih banyak para tamu yang berdatangan pasca kematian Bu Anjani.


"Si Donny kemana Ta? Kok Ibu tidak melihatnya sejak tadi??" tanya Bu Eni yang terlihat sedang mengaduk sayur di panci besar.


"Lagi ngajar Bu, di sekolah!" jawab Anita yang kini sudah bisa bersuara dan berbicara kembali.


"Duh gimana sih calon mantu, calon iparnya lagi berduka dia masih saja mengajar, untung kamu sekarang bisa ngomong Ta, padahal Ibu sudah siapkan uang buat biaya operasi kamu, syukur deh jadi utuh uang Ibu!" seloroh Bu Eni.


"Bu, ini mau di taruh meja makan sekarang lauk yang sudah matang?" tanya Bi Sumi.


"Iya Bi, taruh saja! Kasihan mereka kan datang dari jauh, pasti lapar!" sahut Bu Eni.

__ADS_1


Mbok Jum nampak sedang memotong buah, dia tidak banyak bicara, raut wajahnya menyiratkan kesedihan yang dalam.


Walau bagaimana, Mbok Jum telah mengabdi pada Bu Anjani selama bertahun-tahun, bahkan sejak Dicky masih dalam kandungan Ibu nya.


"Mbok, itu rumah almarhumah Bu Sultan gimana nasibnya? Semua orang pada ngelayat ke sini, bukan kerumahnya yang besar kayak istana itu!" tanya Bu Eni.


"Rumahnya sepi Bu, hanya ada dua orang security yang berjaga, setiap kali saya di rumah itu, hati saya sedih, ingat mendiang Nyonya, makanya saya ikut Tuan muda saja di sini, amanat Nyonya supaya saya menjaga Tuan muda dan mengabdi padanya!" jawab Mbok Jum.


"Duh, senangnya si mantu ganteng jadi Tuan muda kaya, semua warisan Ibunya pasti jatuh ke tangannya, mau jatuh ke tangan siapa lagi, Dicky ... beruntungnya kau ganteng!" seru Bu Eni senang.


"Ibu, jangan seperti itu! Kita masih berduka sekarang, jangan membicarakan warisan atau apa! Kasihan Fitri dan suaminya!" sergah Anita yang merasa risih dengan ocehan Ibu nya.


"Sudah! Kau masak saja Ta, hitung-hitung belajar jadi Ibu rumah tangga, biar makin di sayang calon suami!" cetus Bu Eni.


****


Setelah rombongan dari panti asuhan makan siang bersama, mereka kemudian pamit pulang, karena hari sudah lewat siang, apalagi mereka harus menempuh perjalanan yang cukup jauh dan melelahkan.


Wajah Dicky nampak lelah dan pucat, Selain karena kurang tidur dan istirahat, terlihat ada beban pikiran yang terus menggelayutinya.


"Minumlah Mas, kata orang coklat bisa membuat pikiran jadi fresh, dan menghilangkan stress!" ucap Fitri.


"Terimakasih Fit!" Dicky langsung meneguk minumannya itu sedikit demi sedikit.


"Mas Dicky istirahat dulu yuk di kamar, biar nanti aku yang melayani kalau ada tamu yang datang!" ajak Fitri.


Dicky menganggukan kepalanya, Fitri lalu menggandeng tangan Dicky menuju ke kamar mereka.


Dicky mulai merebahkan tubuhnya di tempat tidurnya, setelah sekian lama dia terus terjaga tanpa bisa untuk memejamkan matanya.


"Tidurlah sayang, tenangkan pikiranmu, kalau kau butuh aku, kau bisa memanggilku, sekarang aku mau turun dulu melihat Alex, tadi Dina mengajaknya bermain!" ucap Fitri sambil mengecup kening suaminya itu.


"Jangan lama-lama Fit, aku butuh di peluk!" sahut Dicky.

__ADS_1


"Iya, aku sudah bilang sama Bapak, kalau ada tamu mohon di layani dulu, Mas Dicky sudah istirahat saja!" Fitri segera menyelimuti tubuh suaminya itu, kemudian dia segera beranjak keluar dari kamarnya.


Dari arah depan, Pak Karta datang tergopoh-gopoh mencari Fitri.


"Ternyata kamu di atas Fit, ada tamu tuh yang mencari suamimu!" kata Pak Karta.


"Siapa Pak?" tanya Fitri.


"Mana Bapak tau, Bapak juga tidak kenal, tidak pernah melihat malah!" sahut pak Karta.


Fitri kemudian berjalan ke arah ruang tamu.


Matanya membulat saat melihat Pak Dirja dan anaknya Keyla sudah duduk menunggu di ruang tamu itu.


Fitri ingat, Pak Dirja ini adalah pengacara keluarga Bu Anjani. Dia yang mengurus segala macam surat dan harta warisan dari almarhum Pak Rahmat Pradita.


Melihat kedatangan Fitri, Pak Dirja dan Keyla berdiri dan menyalami Fitri.


"Kami turut berdukacita atas kepergian Bu Anjani, Oya, dimana Dokter Dicky?" tanya Pak Dirja.


"Maaf Pak, Suami saya baru saja istirahat, sejak kematian Ibunya dia belum bisa memejamkan mata sampai sekarang!' jawab Fitri.


"Oh, begitu ya, padahal ada hal yang penting yang akan saya sampaikan sama Dokter Dicky, bisakah memanggilkannya sebentar?" tanya Pak Dirja.


"Mohon maaf Pak, saya tidak tega membangunkan suami saya, dia baru saja tidur, apa tidak bisa di sampaikan ke saya saja!?" tukas Fitri.


"Hei Fitri, kau tau apa tentang hak waris? Sepertinya levelmu belum sampai dan kami khawatir kalau kau tidak mengerti tentang apa yang mau kami bicarakan!" sambung Keyla.


"Baiklah kalau begitu, saya akan membangunkan suami saya!" jawab Fitri kesal.


Dia langsung berdiri dan berjalan naik ke atas menuju ke kamarnya.


Melihat Dicky yang baru pulas tertidur, Fitri sangat tidak tega membangunkan suaminya itu, kemudian dia berbaring di samping Dicky menyusulnya tidur.

__ADS_1


Bersambung ...


****


__ADS_2